Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Demam Typoid Dengan Kejadian Typoid Di Ruang XXX RS XXX Kota XXX Tahun
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demam typoid merupakan suatu penyakit infeksi
pada usus halus yang di sebabkan oleh Salmonella
thypoid dimana penularannya terjadi melalui makanan,minuman dan mulut yang
terkontaminasi oleh kuman Salmonella
thyposa. Gejala yang timbul pada kasus demam typoid sangat bervariasi,
Dalam minggu pertama keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut
seperti muncul gejala demam ,nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual
muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut dan batuk. Pada
minggu kedua gejala timbul lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah
kotor, hepatomegali, splenomegali, gangguan kesadaran bahkan menyebabkan
kematian. (Riyadi dan Suharsono,2010).
Demam typoid masih merupakan masalah kesehatan
yang penting di berbagai Negara sedang berkembang. Menurut data World Health Organization (WHO) tahun
2013 memperkirakan angka kejadian di seluruh dunia terdapat sekitar 17 juta per
tahun dengan 600.000 orang meninggal karena penyakit ini dan 70% kematiannya
terjadi di Asia. Diperkirakan angka kejadian dari 150/100.000 per tahun di
Amerika Selatan dan 900/100.000 per tahun di Asia. Salah satu Negara di Asia
Tenggara dengan kasus demam typoid yang tinggi adalah Kamboja, di Kamboja demam
thypoid banyak ditemukan pada anak. Prevalensi kasus demam typoid dari 11,36
per 1.000 penduduk, terjadi pada anak usia kurang dari 15 tahun. (Ilmiah 2016).
Demam typoid ini bersifat endemik (penyakit
yang selalu ada di masyarakat sepanjang waktu walaupun dengan angka kejadian
yang kecil). Di Indonesia prevalensi nasional untuk demam typoid (berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan) adalah 1,60%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi
demam typoid diatas prevalensi nasional yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (2,96%),
Bengkulu (1,60%), Jawa Barat (2,14%), Jawa Tengah (1,61%), Banten (2,24%), NTB
(1,93%), NTT (2,33%), Kalimantan Selatan (1,95%), Kalimantan Timur (1,80%),
Sulawesi Selatan (1,80%), Sulawesi Tengah (1,65%), Gorontalo (2,25%), Papua
Barat (2,39%), dan Papua (2,11%). Prevalensi demam typoid banyak ditemukan pada
kelompok umur sekolah (5-24 tahun) yaitu 1,9%, dan tertendah pada bayi yaitu
0,8%. (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013).
Menurut DEPKES RI (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia) penyakit ini menduduki urutan kedua sebagai penyebab
kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan (Irawati &
Hanriko, 2016). Dari survei kasus dibeberapa rumah sakit besar, kasus tersangka
demam typoid menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun dengan
rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dengan kematian antara 0,6%-5,0%
(Rampengan, 2013). Ditjen Bina Upaya Kesehatan Masyarakat Departemen kesehatan
RI tahun 2010, melaporkan demam typoid menempati urutan ke-3 dari 10 pola
penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia (41.081
kasus) (Setiatiet al., 2014). Total kasus demam typoid mencapai 41.081 penderita
yaitu 19.706 jenis kelamin laki-laki, 21.375 permpuan 274 penderita meninggal
dunia. Case fatality rate (CFR) demam typoid pada tahun 2010 sebesar 0,6%
(Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan provinsi Jawa Barat pada tahun
2009, insidens rate demam typoid pada
masyarakat di daerah semi urban adalah 357,6 per 100.000 penduduk per tahun.
Insiden demam typoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan
sanitasi lingkungan. Di daerah Jawa Barat terdapat 157 kasus per 100.000
penduduk, sedangkan di daerah urban di temukan 760-810 per 100.000 penduduk.
(Simanjuntak,C.H., 2009).
Berdasarkan penelitian Siti Nur Cholifah
tahun 2018, angka kejadian demam typoid di puskesmas balerejo kabupaten madiun
yang dilakukan pada 20 responden menunjukan bahwa 15 responden (75%) sudah
terkena demam typoid. Hasil analisa kuesioner menunjukan bahwa 15 responden
tersebut terjadi demam typoid karena kurangnya informasi dan belum melakukan
pencegahan, dan sebagian kecil sebanyak 5 responden (25%) tidak terjadi demam
typoid. Sedangkan hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan dengan
kejadian demam typoid pada orang dewasa di puskesmas balerejo kabupaten madiun
menunjukan bahwa tingkat pengetahuan rendah terjadi demam typoid sebanyak
80,0%. Tingkat pengetahuan sedang terjadi demam typoid sebanyak 84,6% dan
tingkat pengetahuan tinggi 100% tidak mengalami kejadian demam typoid (Monjelat et
al., 2018).
Berdasarkan data yang di dapat dari Dinas
Kesehatan Kota XXX tahun 2018 tentang demam typoid dapat diketahui bahwa demam
typoid pada tahun 2018 termasuk 10 terbesar pada seluruh kalangan usia dengan
jumlah 5.656 jiwa, dari jumlah total 64.448 jiwa. Sedangkan pada kalangan usia
anak demam typoid dengan jumlah 1.482 jiwa. (Data dinkes kota XXX, 2018).
Data rekafitulasi Laporan yang di peroleh
dari RS XXX kota XXX tahun 2019 tentang demam typoid yaitu, pada bulan januari dan februari tahun
2019 termasuk ke dalam 10 penyakit terbesar di urutan ke-3. Di dapatkan data jumlah penderita demam
typoid pada bulan januari-februari tahun 2019 sebanyak 436 jiwa dari semua
kalangan usia yaitu dari jumlah total 3.033 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak
4.117 jiwa dalam semua kalangan usia. Sedangkan demam typoid pada anak yang
terjadi di ruang XXX dari bulan januari-maret tahun 2019 sebanyak 138 jiwa.
Berdasarkan studi pendahuluan pertama di
ruang XXX RS XXX kota XXX tahun 2019, dari hasil wawancara dengan kepala
ruangan XXX mengatakan, demam typoid merupakan salah satu penyakit yang sering
terjadi pada anak dengan peringkat ke-1 dari 10 terbesar penyakit pada anak di
ruang XXX. Menurut survei yang dilakukan di ruang XXX dengan melihat status
bulan Januari-maret 2019 didapatkan data 138 jiwa yang positif menderita demam
typoid. pada bulan januari terdapat 44 kasus, bulan februari 50 kasus dan bulan
maret 44 kasus. (Rekam Medik ruang XXX, 2019). Setelah dilakukan wawancara
langsung pada tanggal 09 April 2019 terhadap 7 responden yang anaknya dirawat
di ruang XXX, dari 7 responden di dapatkan 5 responden memiliki tingkat
pengetahuan kurang tentang demam typoid, 1 responden memiliki tingkat
pengetahuan cukup dan 1 responden memiliki tingkat pengetahuan baik.
Undang-undang nomor 6 tahun 1962 telah
mencantumkan demam typoid tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini
merupakan infeksi yang mudah menular kepada banyak orang sehingga menimbulkan
wabah. Berdasarkan kelompok umur, beberapa buku menjelaskan bahwa angka
kejadian demam typoid sebagian besar
terjadi pada usia 3-9 tahun. Kelompok umur ini merupakan kelompok khusus di
masyarakat yaitu anak sekolah,yang kemungkinan besar sering jajan di sekolah
atau di tempat lain diluar rumah. (Anonimous, 2012).
Penularan demam typoid yaitu melalui fecal
dan oral yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi (Mogasale, 2016). salah satu faktor risiko penyakit demam typoid
adalah kontak langsung dengan pasien typoid, sanitasi lingkungan termasuk minum
air yang kurang bersih dan memakan berbagai makanan seperti es krim dan makanan
jajanan dipinggir jalan yang kurang higienis dalam pengolahan maupun
lingkungannya. Selain itu juga saluran pembuangan limbah maupun pembuangan air
kotor yang tidak memenuhi syarat kesehatan juga merupakan faktor utama terkena
penyakit demam typoid. Hal ini perlu penanganan khusus karena dapat
mengakibatkan masalah pada anak-anak maupun pada orang dewasa untuk mudah
tekena penyakit typoid. Peningkatan hygiene perorangan adalah salah satu dari
program pencegahan yakni perlindungan diri terhadap penularan typoid. (Depkes
RI 2010 dalam Nurvina, 2013).
Dalam hal pencegahan tertular demam typoid pada
anak, sangat dibutuhkan partisipasi orangtua dalam menjaga perilaku dan kebiasaan
anak terkait dengan faktor resiko untuk terjangkit demam typoid tersebut. Teori
pembelajaran sosial menunjukan bahwa perilaku orangtua menjadi contoh bagi anak
mereka sehingga mereka mengaplikasikannya ke dalam pola yang sama dengan
perilaku kesehatan yang di turunkan kepada mereka, oleh karena itu, untuk
menunjang perilaku positif orangtua terutama ibu untuk menjaga anak mereka dari
kebiasaan buruk seperti jajan sembarangan, sekaligus memberikan pembelajaran
mengenai pencegahan demam typoid maka seharusnya orangtua terutama ibu
diperlukan pengetahuan yang cukup tentang demam typoid.
Salah satu upaya pencegahan demam typoid yakni
dengan memberikan penyuluhan kesehatan pada orangtua terutama ibu. Informasi
yang terkait pencegahan dengan penyuluhan Kesehatan pada ibu dapat dilakukan
dengan berbagai metode. Salah satu upaya dalam pencegahan penyakit typoid
memberikan pengetahuan yang cukup baik tentang penyakit typoid pada ibu, untuk
meningkatkan pengetahuan dengan cara memberikan penyuluhan kesehatan pada ibu.
Penggunaan metode ceramah juga sering dipakai dalam penyampaian materi
penyuluhan Kesehatan. Metode ceramah bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
Beberapa buku menjelaskan bahwa tingkat pengetahuan
seseorang di pengaruhi oleh beberapa hal antara lain adalah pekerjaan,
pengalaman, pendidikan,sosial ekonomi dan keterdapatan informasi. (Rachmawati E
dan Arikunto,S 2009), sedangkan uji statistik penelitian sebelumnya menunjukan
faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan ibu adalah tingkat
pendidikan ibu. Sedangkan yang tidak berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan
ibu adalah umur dan status pekerjaan ibu. (sastroasmoro S, Ismael S 2009).
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik
ingin melakukan penelitian tentang “Hubungan
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Demam Typoid
Dengan Kejadian Typoid Di Ruang XXX RS XXX Kota XXX Tahun 2019”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan penelitian
ini adalah “apakah terdapat hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang demam typoid dengan kejadian typoid di ruang XXX
RS XXX kota XXX tahun 2019?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang demam typoid dengan kejadian typoid di ruang XXX RS XXX kota XXX tahun
2019.
1.3.2
Tujuan khusus
a.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang demam typoid di ruang XXX
RS XXX kota XXX tahun 2019.
b.
Untuk mengetahui kejadian demam typoid di ruang XXX RS XXX kota XXX
tahun 2019.
c.
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang demam typoid dengan
kejadian typoid di ruang XXX RS XXX kota XXX tahun 2019.
1.4 Ruang Lingkup
Penelitian ini hanya untuk mengetahui sejauh
mana hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang demam typoid dengan kejadian typoid di ruang XXX RS XXX kota XXX tahun
2019. Sebagian ibu mengatakan tidak mengetahui tentang demam typoid. Penelitian
ini dilakukan di ruang XXX RS XXX kota XXX pada bulan April-Juni tahun 2019, populasi
pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang anaknya di rawat di ruang XXX,
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan sample
menggunakan teknik total sampling..
1.5 Kegunaan penelitian
1.5.1
Guna teoritis
1.
Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini di harapkan dapat di
jadikan sebagai bahan referensi yang bermanfaat bagi peneliti selanjutnya dalam
metode yang berbeda khususnya bagi mahasiswa program studi DIII Keperawatan
Poltekes Yapkesbi XXX.
2.
Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi sebagai data awal bagi penelitian selanjutnya dengan
penangganan tingkat terjadinya demam typoid.
1.5.2
Guna praktis
1.
Bagi responden
Hasil penelitian ini di harapkan dapat
menambah informasi mengenai demam typoid khususnya pada ibu yang mempunyai anak
sekolah yang berada di ruang XXX RS XXX kota XXX, dan di jadikan acuan bagi
ibu untuk lebih meningkatkan pengetahuan
ibu tentang pencegahan dan penangganan demam
typoid khususnya dalam pengawasan makanan.
2.
Bagi RS
Sebagai bahan masukan untuk lebih
meningkatkan pelayanan di bidang perawatan kesehatan dan meningkatkan bagi
perawat untuk merencanakan pemberian pendidikan kepada masyarakat, khususnya
bagi para ibu tentang kesehatan pada anaknya dengan pencegahan demam typoid,
melalui penyuluhan pada ibu atau masyarakat di ruang agar mampu melakukan
kesehatan kepada anaknya. Selain itu, sebagai tindakan preventif dan promotif
untuk mencegah tingginya tingkat terjadinya demam typoid.
Comments
Post a Comment