Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Pengaruh
Tekhnik Distraksi Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gawat Tidak Darurat Di
Ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) XXX
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Menurut World
Health Organization rumah sakit adalah suatu organisasi sosial berfungsi
sebagai pemberi pelayanan baik secara preventif, kuratif, maupun komperehensif
kepada masyarakat. Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan elemen penting di
rumah sakit yang berperan dalam memberikan penanganan pertama terhadap pasien
sakit maupun cedera dengan kondisi akut
yang membutuhkan pertolongan segera (Ashour et al, 2012).
Instalasi Gawat
Darurat (IGD) rumah sakit mempunyai tugas menyelenggarakan pelayanan asuhan
medis dan asuhan keperawatan sementara, serta pelayanan pembedahan darurat bagi
pasien yang datang dengan gawat darurat medis, IGD memiliki peran sebagai
gerbang utama masuknya penderita gawat darurat (Ali, 2014).
Unit ini memiliki
tujuan utama yaitu untuk menerima, melakukan triase, menstabilisasi, dan
memberikan pelayanan kesehatan akut untuk pasien, termasuk pasien yang
membutuhkan resusitasi dan pasien dengan tingkat kegawatan tertentu (Australian
College for Emergency Medicine, 2014).
Triase adalah
pengelompokan pasien berdasarkan berat cideranya yang harus di prioritaskan ada
tidaknya gangguan airway, breathing,
dan circulation sesuai dengan sarana,
sumberdaya manusia dan apa yang terjadi pada pasien (Siswo, 2015).
Sistem triase
yang sering di gunakan dan mudah dalam mengaplikasikanya adalah mengunakan
START (Simple triage and rapid treatment) yang
pemilahanya menggunakan warna. Warna merah menunjukan prioritas
tertinggi yaitu korban yang terancam jiwa, jika tidak segera mendapatkan pertolongan pertama.
Warna kuning menunjukan prioritas tinggi yaitu koban moderete dan emergent.
Warna hijau yaitu korban gawat tetapi tidak darurat meskipun kondisi dalam
keaadaan gawat ia tidak memerlukan
tindakan segera. Terakhir adalah warna hitam adalah korban ada tanda-tanda
meninggal (Ramsi, IF. dkk ,2014)
Kunjungan pasien di
instalasi gawat darurat (IGD) terus bertambah setiap tahunnya. Peningkatan
terjadi sekitar 30% di seluruh IGD rumah sakit dunia (Bashkin et al, 2015)
Data kunjungan
masuk pasien ke IGD di Indonesia adalah 4.402.205 pasien (13,3%) dari total
seluruh kunjungan di rumah sakit umum (Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Data kunjungan
pasien ke IGD RSUD XXX pada tahun 2018 berjumlah 33.282 orang pasien (Rekam
Medik RSUD 2018).
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Wellem dan Oktovina pasien yang masuk Rumah
Sakit sering mengalami kecemasan dari kecemasan tingkat ringan sampai berat
(Wellem, 2013:5).
Kecemasan merupakan suatu kondisi yang tidak menyenangkan
yang dapat mempengaruhi perilaku pasien yang melakukan perawatan (Gracia,
2012).
Menurut Suprajitno (2012) Kecemasan
dapat timbul dengan intensitas yang berbeda-beda, tingkatan ini terbagi menjadi
kecemasan ringan, sedang, berat hingga menimbulkan kepanikan dari individu itu
sendiri, terkadang dapat menimbulkan halangan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Kecemasan dapat memperburuk kondisi
kesehatan fisik dan mental pasien. Respon kecemasan umumnya di tandai dengan
gejala nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, muka berkerut, terlihat
tidak tenang dan juga sukar tidur (Hawari, 2013).
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
mengurangi kecemasan pada pasien, salah satunya yaitu distraksi.
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan
kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal lain sehingga pasien
akan lupa terhadap cemas yang dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan
menyebabkan pelepasan endorphin yang bisa menghambat stimulus cemas yang
mengakibatkan lebih sedikit stimuli cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter
& Perry, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Analia &
Moekroni (2016), salah satu teknik koping yang selama ini terbukti efektif
mengatasi kecemasan yaitu teknik distraksi dan relaksasi. Teknik distraksi
merupakan pengalihan fokus perhatian ke stimulus yang lain. Salah satu teknik
yang efektif yaitu seperti mendengarkan musik (terapi musik). Musik dapat
membantu seseorang menjadi lebih tenang, mengurangi stress, menimbulkan rasa
aman dan sejahtera, melepaskan rasa sedih, membuat jadi gembira, dan membantu
serta melepaskan rasa sakit.
Meditasi, relaksasi dan teknik distraksi dapat
digunakan untuk mengaktivasi saraf simpatis sehingga dapat digunakan dalam
tindakan keperawatan untuk menurunkan stres, kecemasan, nyeri fisiologis dan
depresi (Jerath, R., et al. 2015 & Mitchell M. 2012)
Hal ini didukung dengan hasil penelitian oleh Kil KH.,
et al. (2012), bahwa sebelum dilakukan distraksi audio mayoritas responden
mengalami cemas sedang (63,8%) setelah diberikan distraksi audio mayoritas pasien
mengalami penurunan kecemasan yaitu menjadi kecemasan ringan (83%)
Berdasarkan survey
pendahuluan yang dilakukan di ruang IGD Rumah Sakit XXX melalui metode wawancara,
dari 10 orang pasien, 5 orang diantaranya mengalami kecemasan sedang, 3 orang
mengalami kecemasan ringan, dan 2 orang lagi mengalami kecemasan berat.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh tekhnik distraksi terhadap
tingkat kecemasan pada pasien
gawat tidak darurat di Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD XXX.
1.1 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh tekhnik distraksi
terhadap tingkat kecemasan pada pasien gawat tidak darurat di ruang IGD Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) XXX?’’
1.2 Tujuan
Penulisan
1.
1.1.
1.2.
1.3.
1.3.1 Tujuan
Umum
Untuk mengetahui pengaruh teknik distraksi
terhadap tingkat kecemasan pada pasien gawat tidak darurat di ruang IGD Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) XXX.
1.3.2 Tujuan
Khusus
1. Mengetahui tingkat kecemasan pada pasien
gawat tidak darurat sebelum dilakukan
tekhnik distraksi
2. Mengetahui tingkat kecemasan pada pasien
gawat tidak darurat setelah diberikan tekhnik distraksi.
3. Mengetahui perbedaan tingkat kecemasan
sebelum dan sesudah diberikan tekhnik distraksi pada pasien gawat tidak darurat.
1.4
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian akan membahas “PENGARUH TEKHNIK
DISTRAKSI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN GAWAT TIDAK DARURAT DI RUANG IGD RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
XXX”. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.
Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019.
1.5
Kegunaan Penelitian
1.5.1 Guna
Teoritis
1. Bagi
peneliti
a.
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai pengaruh tekhnik distraksi
terhadap tingkat kecemasan pada pasien gawat tidak darurat sehingga dapat
digunakan untuk penelitian lebih lanjut.
b.
Bermanfaat
untuk kedepannya pada saat terjun ke lapangan (Rumah Sakit) dengan
mempraktekannya kepada pasien.
2. Bagi
Institusi pendidikan
Sebagai sumbangan ilmiah dan masukan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang pengaruh tekhnik distraksi
terhadap tingkat kecemasan pada pasien gawat tidak darurat yang mengalami
kecemasan, serta dapat digunakan sebagai bahan pustaka atau bahan perbandingan
untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2 Guna
Praktis
1. Bagi
Responden
Pasien dapat mengurangi kecemasan yang
dirasakan sehingga pasien menjadi lebih tenang, menimbulkan rasa
aman dan sejahtera, melepaskan rasa sedih, dan membuat jadi gembira.
2. Bagi
RSUD XXX.
Sebagai masukan bagi pelayanan keperawatan, dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami kecemasan.
3. Bagi
Profesi Perawat
Memberikan masukan
kepada perawat tentang pengaruh tekhnik distraksi terhadap tingkat kecemasan
untuk mengurangi kecemasn pasien yang dirawat di Rumah Sakit.
Comments
Post a Comment