Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Pengaruh Penkes Tentang Thypoid Terhadap Tingkat
Pengetahuan Pada Pasien Thypoid Di RS XXX
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya
sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta memiliki perencanaan
kesehatan dan pembiayaan terpadu dengan justifikasi kuat dan logis yang
didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid. Penyakit infeksi
masih memerlukan perhatian besar dan sementara itu telah terjadi peningkatan
penyakit-penyakit tidak menular. Kemajuan
transportasi dan komunikasi, membuat penyakit dapat berpindah
dari satu daerah atau negara ke negara lain dalam waktu yang relatif singkat
serta tidak mengenal batas wilayah administrasi. Kemudian berbagai penyakit baru (New emerging diseases) ditemukan, dan memiliki kecenderungan meningkatkan kembali beberapa
penyakit yang selama ini sudah berhasil dikendalikan (Re-emerging diseases)
(Kepmenkes RI Nomor 1116, 2003).
Salah satu penyakit yang sering timbul adalah demam tifoid. Demam
tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik memiliki sifat akut pada usus halus yang disebabkan oleh
Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi) (Widoyono, 2002). Demam
tifoid ditandai dengan adanya gejala demam satu minggu atau lebih dan disertai gangguan di saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (Soedarmo,
dkk, 2002). Penyakit ini masih sering dijumpai secara luas di berbagai negara
berkembang terutama yang terletak di daerah tropis dan subtropik. Penularan
Tifus Abdominalis secara langsung hanya sekitar 10%. Makanan dan minuman yang menjadi
sumber penularan adalah makanan dan minuman yang tidak dimasak dengan baik
(kurang matang). Makanan yang sudah dimasak dengan baik juga dapat menularkan
Tifus Abdominalis jika kontak dengan tangan yang kotor atau air yang mengandung
Bakteri Salmonella Thypi (Djauli, 2009).
Dari laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2003, didapat 17 juta kasus demam
tifoid per tahun di dunia dengan jumlah kematian mencapai 600.000
kematian dengan Case Fatality Rate (CFR
= 3,5%). Angka kejadian diagnosa penyakit demam tifoid di daerah endemis
berkisar antara 45 per 100.000 penduduk per tahun sampai 1.000 per 100.000
penduduk per tahun. Demam tifoid terutama ditemukan di negara
sedang berkembang dengan kepadatan penduduk tinggi, serta kesehatan lingkungan
yang tidak memenuhi syarat (Lestari, 2011).
Demam tifoid merupakan penyakit yang tersebar
di seluruh dunia. Pada tahun 2000, kejadian demam tifoid di Amerika Latin 53
per 100.000 penduduk dan di Asia Tenggara 110 per 100.000 penduduk (Harahap,
2011). Data WHO tahun 2003 memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam
tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun
(Pramitasari, 2013).
Di Negara Indonesia penyakit Tifus Abdominalis bersifat endemik.
Berdasarkan data pada kasus di rumah sakit besar di Indonesia, penyakit Tifus Abdominalis
memperlihatkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun
dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate (CFR)
antara 0,6-5% atau 3-25/100.000 (Kepmenkes RI No. 364, 2006).
Angka kejadian thypoid di Dinas kota sukabumi pada tahun 2017 berjumlah
10801 jiwa dan pada tahun 2018 didapatkan data 5656 jiwa. Sedangkan angka
kejadian di RS XXX pada bulan desember tahun 2018 ada urutan ke 4 penyakit
terbanyak yang dirawat di RS XXX, sedangkan pada bulan maret 2019 didapatkan
kasus thypoid 136 pasien.
Penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Herawati dan Ghani (2007) tentang hubungan faktor determinan
dengan kejadian tifoid di Indonesia diperoleh bahwa prevalensi Tifus
Abdominalis klinis nasional sebesar 1.600/100.000 (rentang:
300/100.000-3.000/100.000).
Tiga Insidensi demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya
terkait dengan sanitasi lingkungan. Di daerah Jawa Barat terdapat 157 kasus per
100.000 penduduk yang berhubungan dengan kebiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) yang rendah. Hal ini sama dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yang diteliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes) bersama prevalensi PHBS Jawa Barat sebesar 37,4% di bawah
standar nasional yang mencapai 38,7%.
Kelompok usia 15-20 tahun termasuk dalam tahap perkembangan akhir usia
remaja yang pada saat ini berada pada tahap pendidikan. Pada masa ini, remaja
sangatlah labil dan mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya baik itu
dari orangtua ataupun dari teman sebaya. Fenomena yang terjadi di masyarakat,
masih banyak warga yang tidak menerapkan perilaku higiene perseorangan meskipun
tingkat pengetahuan dan sikap mereka tentang kesehatan sudah cukup baik. Hal
yang demikianlah yang menyebabkan jumlah penderita demam tifoid meningkat
setiap tahunnya. Pihak instansi kesehatan telah melakukan upaya promotif dan
penyuluhan tentang pentingnya perilaku higiene perseorangan serta kesehatan
lingkungan untuk mencegah dan menanggulangi penularan penyakit. Namun, upaya
ini tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran tiap individu untuk merubah
perilaku. Masyarakat dapat menjadi sehat dengan memulai kesadaran diri sendiri
untuk berperilaku higiene yang sehat. Pasien Tifus Abdominalis sangat
dianjurkan dirawat di rumah sakit karena penyakit ini relatif mudah menular
kepada anggota keluarga lain (Tambayong, 2000).
Penularan demam tifoid dapat terjadi akibat adanya binatang perantara
(vector dan reservoir), kebiasaan jajan, pengelolaan makanan yang tidak bersih,
serta perilaku hygiene perseorangan yang tidak memenuhi syarat. Dari beberapas
aspek tersebut, perilaku individu merupakan aspek utama yang berperan dalam
penularan demam tifoid. Menurut Slamet (2007 : 74 ) perilaku hygiene
perseorangan seperti memelihara kebersihan tangan, kuku, gigi dan mulut,
pakaian, rambut, sehingga tidak ada agent penyakit, merupakan aspek penting
yang dapat mempengaruhi kesehatan individu.salah satu factor yang mempengaruhi
penerapan memelihara kebersihan diri adalah pengetahuan.
Menurut Surajiyo (2007) pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap
sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya,
hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Faktor-faktor yang
mendukung pengetahuan diantaranya pendidikan, pekerjaan, umur, minat,
pengalaman, kebudayaan lingkungan sekitar dan informasi (Mubarak, 2013).
Penyampaian informasi dapat dilakukan melalui promosi kesehatan (Notoatmodjo,
2010). Didukung oleh teori model keperawatan Pender bahwa dalam promosi
kesehatan terdapat faktor yang dapat mempengaruhi proses peningkatan kesehatan
yaitu pendidikan tentang kesehatan karena pendidikan akan mempengaruhi
pengetahuan yang merupakan faktor dapat dirubah di dalam diri setiap individu
(Berman, 2012). Kurang pengetahuan
tentang kesehatan akibat terbatasnya informasi akan mempengaruhi kebiasaan
hidup sehat sehingga mudah terserang penyakit menular seperti tifoid
(Ngastiyah, 2005). Dampak dari kurang informasi akan menyebabkan kurang
pengetahuan dan berpengaruh pada tindakan, ketika tindakan yang dilakukan tidak
mendukung peningkatan kesehatan, maka tidak akan tercipta budaya perilaku
sehat.
Berdasarkan studi pendahuluan tanggal 12 dan
13 April 2019 hasil wawancara dengan beberapa pasien thypoid yang dirawat di RS
XXX didapatkan 10 dari pasien demam
thypoid yang pengetahuan tentang penyakit demam thypoid yang baik hanya 2
orang, pengetahuan cukup 5 orang dan yang kurang 3 orang.
Berdasarkan konsep pemikiran di atas maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang pengaruh penkes tentang thypoid terhadap tingkat
pengetahuan pada pasien thypoid diruang rawat inap RS XXX.
1.2
Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh Penkes tentang thypoid terhadap tingkat
pengetahuan pada pasien thypoid di RS XXX.
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh Penkes tentang thypoid terhadap tingkat pengetahuan
pada pasien thypoid di Ruang Rawat inap RS XXX.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan sebelum
diberikan intervensi penkes tentang thypoid pada pasien thypoid di ruang rawat
inap RS XXX.
2. Mengindentifikasi tingkat pengetahuan sesudah
diberikan intervensi penkes tentang thypoid pada pasien thypoid di ruang rawat
inap RS XXX
3. Menganalisis Perbedaan tingkat pengetahuan
sebelum dan sesudah diberikan penkes tentang thypoid pada pasien thypoid di
ruang rawat inap RS XXX.
1.4
Ruang lingkup penelitian
1.4.1
Lingkup Sasaran
Penelitian ini ditujukan kepada pasien Thypoid yang dirawat di Ruang
rawat inap RS XXX.
1.4.2
Lingkup Lokasi
Penelitian
dilakukan di RS XXX
1.5
Manfaat Penelitian
1.5.1
Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan evaluasi dalam meningkatkan pelayanan
keperawatan melalui pendidikan kesehatan.
1.5.2
Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dalam referensi pengaruh penkes
terhadap tingkat pengetahuan pasien.
1.5.3
Bagi Peneliti Lain
Sebagai referensi dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut terkait factor
lain yang mempengaruhi terjadinya thypoid.
1.5.4
Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang didapat di bangku
kuliah serta menambah wawasan dan pengalaman dalam mengadakan sebuah penelitian
tentang pengaruh penkes tentang thypoid terhadap pengetahuan pasien thypoid.
1.5.5
Bagi
responden
Sebagai sarana dalam menambah pengetahuan tentang penyakit thypoid
dimana responden bisa mencegah agar tidak terulang terkena thypoid.
Comments
Post a Comment