Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Pengaruh Kompres Hangat
Terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Lansia di Wisma XXX Kota XXX
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat
menjadi seorang yang frail dengan berkurangnya
sebagian besar cadangan system fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap
berbagai penyakit dan kematian (Setiati, 2009).
Semakin meningkatnya populasi lansia, maka akan
meningkatkan adanya permasalahan-permasalahan kesehatan lebih banyak terjadi
pada lansia, salah satunya adalah rematik pada lansia.
Rematik adalah penyakit auto imun yang disebabkan karena adanya peradangan atau
inflamasi yang dapat menyebabkan kerusakan sendi dan nyeri. Nyeri dapat muncul
apabila adanya suatu rangsangan yang mengenai reseptor nyeri. Penyebab
aethritis rheumatoid belum diketahui secara pasti, biasanya hanya kombinasi
dari genetic, lingkungan, hormonal, dan factor system produksi. Namun factor
pencetus terbesar adalah factor infeksi seperti bakteri, mikroplasma dan virus
(Yuliati, et.a., 2013).
Penyakit rematik adalah penyakit yang menyerang
persendian dan struktur di sekitarnya. Penyakit rematik sering kali dihubungkan
dengan terminology arthritis yang
berhubungan lebih dari 100 penyakit termasuk rheumatoid arthritis, osteoarthritis, gouty arthritis,
spondiloarthritis, lopus eritematosus, dan lain-lain (American College of
Rheumatology, 2013).
Kompres hangat merupakan pemberian sensasi hangat
dengan suhu 37ºc- 40ºc dengan tujuan memberikan relaksasi otot, mengurangi rasa
sakit dan dilakukan selama 5-10 menit (Potter dan Perry, 2010).
Menurut
Tamsurin nyeri dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi
seseorang dan eksistensinya bila seseorang pernah mengalaminya. Dalam hirarki
kebutuhan Maslow kenyaman merupakan kebutuhan dasar, setelah kebutuhan fisik,
sehingga pemenuhan kebutuhan rasa nyaman terganggu apabila seseorang mengalami
nyeri.
Menurut World
Health Organization (WHO), penyakit rematik menyebabkan inflamasi,
kekakuan, pembengkakan, dan rasa sakit pada sendi, otot, tendon, ligamen dan
tulang. Penyakit ini dapat dikategorikan secara luas berupa penyakit sendi,
keterbatasan fisik, gangguan tulang belakang dan kondisi yang disebabkan oleh
trauma. Penderita Rheumatoid
arthritis di seluruh dunia sudah mencapai angka 335 juta, dan di perkirakan
jumlah penderita akan terus mengalami peningkatan (WHO, 2016)
Di Indonesia jumlah penderita rematik pada tahun 2011
di perkirakan prevelensinya mencapai 29,35% pada tahun 2014 prevelensi di
Sulawesi Utara sebanyak 24,7%. Berdasarkan data proyeksi penduduk, tahun 2017
terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Diprediksi tahun
2020 (27,08 juta) (Kementerian Kesehatan RI)
Peningkatan taraf hidup dan umur harapan hidup atau angka
harapan hidup merupakan rata-rata tahun hidup yang dijalani seseorang yang
telah mencapai usia tertentu dan pada tahun tertentu dalam situasi mortalitas
yang berlaku dilingkungan masyarakat. Peningkatan umur harapan hidup
mengakibatkan terjadinya transisi epidemiologi dalam bidang kesehatan yang
merupakan akibat dari peningkatan jumlah angka kesakitan penyakit degeneratif
(Kemenkes RI. 2013)
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia pada
tahun 2013, prevelensi penyakit sendi adalah 24,7%. Prevelensi di Jawa Tengah
11,2%, Yogyakarta 5,6% dan Jawa Timur 11,1%. Hasil Riset Kesehatan Dasar
(RisKesDas) pada tahun 2018 umur 55-64 adalah 15,5% , umur 65-74 adalah 18,6% ,
dan umur 75 ke atas adalah 18,9%. Untuk penderita penyakit paling banyak adalah
perempuan 8,5% dan laki-laki 6,1%. (RiskesDes RI)
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh
peneliti pada tanggal 10 April 2019 di Wisma XXX Kota XXX terdapat 53 orang lansia.
Di dapatkan 6 penyakit terbesar diantaranya, yang
mengidap penyakit Gastritis pada bulan Januari terdapat 17 lansia, Februari 15
lansia, Maret 13 lansia dan April terdapat 18 lansia. Penyakit Osteoporosis
pada bulan Januari terdapat 15 lansia, Februari 12 lansia, Maret 12 lansia dan
pada bulan April terdapat 16 lansia yang mengidap Osteoporosis. Penyakit
Katarak pada bulan Januari terdapat 15 lansia, Februari 12 lansia, Maret 9
lansia dan pada bulan April terdapat 16 lansia. Penyakit Hipertensi pada bulan
Januari terdapat 25 lansia, Februari 23 lansia, Maret 21 lansia dan pada bulan
April yang mengidap penyakit Hipertensi ada 26 lansia. Insomnia pada bulan
Januari terdapat 11 lansia, Februari 10 lansia, Maret 8 lansia dan pada bulan
April 13 lansia. Penyakit Rematik pada bulan Januari terdapat 11 lansia,
Februari 10 lansia, Maret 10 lansia sedangkan pada bulan April terdapat 13
lansia yang mengidap penyakit Rematik.
Meskipun rematik bukan penyakit yang terbesar di Wisma XXX,
namun pada studi pendahuluan peneliti menemukan lansia yang menderita rematik
ini mengalami nyeri sendi hingga mengakibatkan kesulitan untuk beraktivitas.
Peneliti akan melakukan sebuah observasi eksperimen yaitu
kompres hangat terhadap 13 lansia untuk penurunan skala nyeri rematik. Oleh
karena itu peneliti tertarik mengambil judul “ Pengaruh Kompres Hangat Terhadap
Penurunan Skala Nyeri pada Lansia di Wisma XXX Kota XXX”
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “ Adakah pengaruh kompres hangat terhadap
perubahan skala nyeri rematik pada lansia di Wisma XXX Kota XXX’?.
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui pengaruh kompres hangat terhadap penurunan skala nyeri rematik pada
lansia di Wisma XXX Kota XXX 2019
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Untuk mengetahui skala nyeri sebelum dilakukan kompres hangat pada
lansia di Wisma XXX Kota XXX.
2.
Untuk mengetahui skala nyeri setelah dilakukan kompres hangat pada
lansia di Wisma XXX Kota XXX.
3.
Untuk mengetahui pengaruh kompres hangat terhadap
penurunan skala nyeri rematik pada lansia di Wisma XXX Kota XXX.
1.4
Ruang Lingkup
Ruang
lingkup penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompres hangat terhadap
penurunan skala nyeri rematik pada lansia di Wisma XXX Kota XXX. Penelitian ini
akan dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019, populasi pada penelitian ini
adalah seluruh lansia yang mengalami rematik di Wisma XXX Kota XXX.
Metode
yang digunakan pada penelitian ini adalah Eksperimen (Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, 2010). Pemilihan sampel dengan purposive sampling dengan populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
1.5
Manfaat Peneliti
1.5.1
Teoritis
1.
Bagi Peneliti
Diharapkan
penelitian ini menambah wawasan sejauh mana pengetahuan tentang pengaruh
kompres hangat terhadap penyakit rematik dan sebagai pengalaman dalam
melaksanakan dan mengaplikasikan teori dengan praktek di lapangan.
2.
Bagi Institusi
Hasil
penelitian ini menjadi dasar ilmu pengetahuan dan menambah beragam hasil dalam
dunia pendidikan serta dapat dijadikan referensi bagi pembaca yang lain.
1.5.2
Praktisi
1.
Bagi Responden
Meningkatkan
pengetahuan dan dapat mempraktekan untuk lahan tentang kompres hangat terhadap
penurunan skala nyeri rematik lansia
2.
Bagi Lansia
Hasil
penelitian ini dapat digunakan untuk mempraktekan kompres hangat untuk
mengurangi rasa nyeri rematik
Comments
Post a Comment