Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Malpresentasi, Malposisi, Chepalopelvic Disproportion (CPD)
A. MALPRESENTASI
1. PRESENTASI PUNCAK KEPALA
a. Definisi
Presentasi puncak kepala adalah keadaan dimana puncak
kepala merupakan bagian terendah, hal ini terjadi apabila derajat defleksinya
ringan. Presentasi puncak kepala adalah presentasi kepala dengan defleksi/ ekstensi minimal dengan
sinsiput merupakan bagian terendah. Presentasi puncak kepala adalah bagian
terbawah janin yaitu puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang
paling rendah, dan UUB sudah berputar ke depan (Muchtar, 2002).
Pada persalinan normal, saat melewati jalan lahir kepala janin dalam
keadaan flexi dalam keadaan tertentu flexi tidak terjadi, sehingga kepala
deflexi. Presentasi puncak kepala disebut juga preesentasi sinput terjadi bila
derajat deflexinya ringan, sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah.
Pada presentasi puncak kepala lingkar kepala yang melalui jalan lahir adalah
sikumfrensia fronto oxipito dengan titik perputaran yang berada di bawah
simfisis adalah glabella.
b. Etiologi
Menurut statistik hal ini terjadi pada 1% dari seluruh
persalinan. Letak defleksi ringan dalam buku synopsis Obstetri Fisiologi dan
Patologi (2002) biasanya disebabkan:
1) Kelainan
panggul (panggul picak)
2) Kepala
bentuknya bundar
3) Anak
kecil atau mati
4) Kerusakan
dasar panggul
Sedangkan sebab lainnya yaitu: Penyebabnya keadaan–keadaan yang memaksa terjadi
defleksi kepala atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala.
1) Sering
ditemukan pada janin besar atau panggul sempit.
2) Multiparitas,
perut gantung
3) Anensefalus,
tumor leher bagian depan.
c. Patofisiologi
Pada kehamilan normal, kepala janin pada waktu
melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi tetapi pada kasus ini fleksi
tidak terjadi sehingga kepala dalam keadaan defleksi, jadi yang melewati jalan
lahir adalah sirkum ferensia
fronto oksipitalis dengan titik perputaran yang
berada di bawah simfisis ialah glabella (Sarwono, 2005).
Dengan posisi seperti itu mengakibatkan terjadinya
partus lama dan robekan jalan lahir yang lebih luas selain itu karena partus
lama dan moulage yang hebat maka mortalitas perinatal agak tinggi (9%)
(Moctar,2002).
d. Diagnosis
Pada pemeriksaan dalam didapati UUB paling rendah dan
berputar ke depan atau sesudah anak lahir caput terdapat di daerah UUB.
Diagnosis kedudukan : Presentasi puncak kepala
1) Pemeriksaan
abdominal
a) Sumbu panjang
janin sejajar dengan sumbu panjang ibu
b) Di atas
panggul teraba kepala
c) Punggung
terdapat pada satu sisi, bagian-bagian kecil terdapat pada sisi yang berlawanan
d) Di fundus
uteri teraba bokong, Oleh
karena tidak ada fleksi maupun ekstensi maka tidak teraba dengan jelas adanya
tonjolan kepala pada sisi yang satu maupun sisi lainnya.
2)
Auskultsi
Denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadran
bawah perut ibu, pada sisi yang sama dengan punggung janin
3)
Pemeriksaan vaginal
a) Sutura
sagitalis umumnya teraba pada diameter transversa panggul,
b) Kedua
ubun-ubun sama-sama dengan mudah dapat diraba dan dikenal. Keduanya sama tinggi
dalam panggul.
c) Pemeriksaan
sinar- X
d) Pemeriksaan
radiologis Presentasi Puncak Kepala membantu dalam menegakkan diagnosis
kedudukan dan menilai panggul.
e. Penanganan
1) Dapat
ditunggu kelahiran spontan
2) Episiotomi
3) Bila 1
jam dipimpin mengejan tak lahir, dan kepala bayi sudah didasar panggul, maka
dilakukan ekstraksi forcep. Usahakan lahir pervaginam karena kira-kira 75 %
bisa lahir spontan. Bila ada indikasi ditolong dengan vakum/forsep biasanya
anak yang lahir di dapati caput daerah UUB (Mochtar, 2002).
f. Komplikasi
1)
Ibu : Robekan jalan lahir yang lebih luas
2)
Anak: Karena partus lama dan molase hebat sehingga mortalitas anak agak
tinggi.
g. Mekanisme persalinan
Mekanisme
persalinan sama dengan POPP, perbedaannya : pada presentasi puncak kepala tidak
terjadi fleksi kepala yang maksimal, sedangkan lingkaran kepala yang melalui
jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang
berada dibawah simpisis adalah glabella.
2. PRESENTASI DAHI
a. Definisi
Persentase dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala
berada diantara fleksi maksimal,sehingga dahi merupakan bagian terendah. Pada
umumnya presentasi dahi ini hanya bersifat sementara, dan sebagian besar akan
berubah menjadi presentasi muka atau belakang kepala. Kepala memasuki panggul dengan dahi melintang/ miring pada waktu putar
paksi dalam, dahi memutar kedepan depan dan berada di bawah arkus pubis,
kemudian terjadi flexi sehingga belakang kepala terlahir melewati perinerum
lalu terjadi deflexi sehingga lahirlah dagu Presentasi dahi adalah posisi
kepala antara flexi dan deflexi, sehingga dahi merupakan bagian terendah.
Posisi ini biasanya akan berubah menjadi letak muka/letak belakang kepala.
b. Etiologi
Sebab terjadinya presentasi dahi pada dasarnya sama
dengan sebab terjadinya presentasi muka yaitu:
1)
Panggul sempit
2)
Janin besar
3)
Multiparitas
4)
Kelainan janin (Ex : ansefalus)
5)
Kematian janin intra uterin
c. Patofisiologi
Karena kepala turun melalui pintu atas panggul dengan
sirkumferensia maksilloparietalis (35cm) yang lebih besar daripada lingkar
pintu atas panggul maka janin dengan berat dan besar normal tidak bisa lahir
secara pervaginam kecuali janin yang kecil masih mungkin lahir spontan. Hal itu
bisa mengakibatkan persalinan lama, robekan jalan lahir yang lebih luas dan
kematian perinatal.
d. Diagnosis:
1)
Pemeriksaan luar seperti pada presentasi muka, tapi bagian belakang
kepala tidak seberapa menonjol.
2)
DJJ terdengar dibagian dada, disebelah yang sama dengan bagian-bagian
kecil janin.
3)
Pada persalinan : kepala janin tidak turun ke dalam rongga panggul bila
pada persalinan sebelumnya normal.
4)
Periksa dalam : meraba sutura frontalis, ujung satu teraba UUB dan ujung
lain teraba pangkal hidung dan lingkaran orbita., mulut dan dagu tidak teraba.
e. Penanganan
Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang
normal, tidak akan dapat lahir spontan per vaginam, sehingga harus dilahirkan
dengan seksio sesarea. Pada janin yang kecil dan panggul yang luas pada garis
besarnya sikap dalam mengahadapi persalinan presentasi dahi sama dengan sikap
dalam menghadapi presentasi muka.Bila persalinan menunjukkan kemajuan, tidak
perlu dilakukakn tindakan. Demikian pula bila harapanpresentasi dahi dapat
berubah menjadi presentasi belakang kepala atau presentasi muka.Jika pada akhir
kala I kepala belum masuk kedalam kedalam rongga panggul, dapat diusahakan
mengubah presentasi dengan parasat thorn, tetapi jika tidak berhasil, sebaiknya
dilakukan SC. Meskipun kepala sudah masuk ke rongga panggul, tetapi bila kala
II tidak mengalami kemajuan sebaiknya dilakukan SC. Penanganan lain yaitu jika janin mati dan pembukaan
lengkap dilakukan kraniotomi.
f. Mekanisme Persalinan
Kepala masuk melalui PAPdengan sirkumferensia maksilo-parietalis dan
dengan sutura frontalis melintang/miring. Setelah terjadi moulage dan ukuran
terbesar kepala telah melalui PAP, dagu memutar ke depan. Setelah dagu didepan
dengan fosa kanina sebagai hipomoklion terjadi fleksi sehingga UUB dan belakang
kepala melewati perineum. Kemudian terjadi dfleksi sehingga mulut dan dagu
lahir dibawah simpisis. Yang, menghalangi presentasi dahi untuk menjadi
presentasi muka, biasanya terjadi karena moulage dan kaput sucsedaneum yang
besar pada dahi waktu kepala memasuki panggul, sehingga sulit terjadi
penambahan defleksi.
3. PRESENTASI MUKA
a. Definisi
Letak muka adalalah letak kepala dengan defleksi
maksimal, hingga occiput mengenai punggung dan muka terarah kebawah. Presentasi
muka dikatakan primer apabila sudah terjadi sejak masa kehamilan, dan dikatakan
sekunder bila baru terjadi pada waktu persalinan.
Disebabkan oleh terjadinya ekstensi yang penuh dari kepala janin. Yang
teraba muka bayi = mulut, hidung, dan pipi. Presentasi ini disebut Primer bila
terjadi sejak kehamilan, sekunder bila terjadi pada proses persalinan.
b. Diagnosis
1)
Tubuh janin dalam keadaan fleksi, sehingga pada pemeriksaan luar dada
akan teraba punggung.
2)
Bagian kepala menonjol yaitu belakang kepala berada di sebelah yang
berlawanan dengan letak dada.
3)
Didaerah itu juga dapat diraba bagian-bagian kecil janin dan DJJ lebih
jelas.
4)
Periksa dalam meraba dagu, mulut, hidung, pinggir orbita.
5)
Janin ansefalus dan tumor di leher bagian depan
c. Etiologi
Pada umumnya penyebab terjadinya presentasi muka
adalah keadaan-keadaan yang memaksa terjadinya defleksi kepala atau
keadaan-keadaan yang menghalangi terjadinya defleksi kepala. Yaitu karena:
1) Panggul
sempit
2) Janin
besar
3) Multiparitas
4) Perut
gantung
5) Kelainan
janin (anensefalus)
6) Lilitan
tali pusa.
Dagu
merupakan titik acuan dari posisi kepala, sehingga ada presentasi muka dagu
anterior dan postorior.
1)
Presentasi muka dagu anterior posisi muka fleksi
2)
Presentasi muka dagu posterior posisi muka defleksi max
d. Patofisiologi
Pada umumnya persalinan pada presentasi muka
berlangsung tanpa kesulitan. Hal ini dapat dijelaskan karena kepala masuk ke
dalam panggul dengan sirkumferensia trakeloparietal yang sedikit lebih besar
dari pada sirkumferensia suboksipitobregmatika. Tetapi kesulitan dapat terjadi
karena adanya kesempitan panggul dan janin besar yang merupakan penyebab
terjadinya presentasi muka karena kepala menagalami defleksi.
e. Penanganan
1)
Dagu anterior
a)
Bila pembukaan lengkap
•
Lahirkan dengan persalinan spontan pervaginam
•
Bila kemajuan persalinan lambat lakukan disitoksin drip
•
Bila kurang lancar, lakukan forseps
b)
Bila pembukaan belum lengkap
Tidak
didapatkan tanda obtuksi, lakukan oksitosin drip. Lakukan evaluasi persalinan
sama dengan persalinan verteks
2)
Dagu Posterior
a)
Bila pembukaan lengkap maka SC
b)
Bila pembukaan maka lengkap, lakukan penilaian penurunan rotasi, dan
kemajuan persalinan, jika macet maka SC
c)
Jika janin mati maka Kraniotomi
f. Mekanisme Persalinan
Kepala
turun melalui PAPdengan sirkumferensiatrakelo-parietalis dan dengan dagu
melintang / miring.Setelah muka mencapai dasar panggul terjadi PPD, sehingga
dagu memutar kedepan dan berada di bawah arkus pubis.Dengan daerah submentum
sebagai hipomoklion kepala lahir dengan gerakan fleksi sehingga dahi, UUB,
belakang kepala melewati perineum.Setelah kepala lahir terjadi PPL dan badan
janin lahir seperti pada presentasi kepala.kalau dagu bedara dibelakang pada
waktu putaran dalam dagu harus melewati jarak yang jarak yang lebih jauh supaya
dapat berada di depan. Kadang dagu tidak memutar ke depan dan tetap berada di
belakang.Keadaan ini disebut posisi mento posterior persisten dan janin tidak
dapat lahir spontan, kecuali bila janin mati atau kecil.Hal ini karena kepala
sudah berada dalam fleksi maksimal dan tidak mungkin menambah defleksinya lagi,
sehingga kepala dan bahu terjepit dalam pangguldan persalinan tidak akan maju.
4. PRESENTASI OCCIPITO POSTERIOR
a. Definisi
Pada letak belakang kepala biasanya ubun- ubun kecil
akan memutar ke depan dengan sendirinya dan janin lahir secara spontan. Kadang
-kadamg UUK tidak berputar kedepan tetapi tetap berada di belakang, yang
disebut POSITIO OCIPUT POSTERIOR. Dalam mengahadapi persalinan d imana UUK
terdapat di belakang kita harus sabar, sebab rotasi kedepan kadang-kadang baru
terjadi di dasar panggul.
Pada persalinan presentasi belakang kepala, kepala janin turun melalui
PAP dengan sutura sagitalis melintang/miring, sehingga ubun-ubun kecil dapat
berada di kiri melintang, kanan melintang, kiri depan, kanan depan, kiri
belakang/kanan belakang. Dalam keadaan flexi bagian kepala yang pertama mencapai
dasar panggul adalah Occiput. Occiput akan memutar kedepan karena dasar panggul
dan muculus levator aninya mementuk ruangan yang lebih sesuai dengan occiput.
1)
Diameter antero posterior panggul lebih panjang dari diameter transversa
Ex : panggul antiopoid
2)
Segmen depan Menyempit Ex : panggul android
3)
Otot-otot dasar panggul yang lembek pada multi para
4)
Kepala janin yang kecil dan bulat
b. Etiologi
1) Sering
dijumpai pada panggul andropoid, endroid dan kesempitan midpelvis.
2) Letak
3) punggung
janin dorsoposterior
4) Putar
paksi salah satu tidak berlangsung pada :
5) Perut
gantung
6) Janin
kecil atau janin mati
7) Arkus
pubis sangat luas
8) Dolichocephali
9) Panggul
sempit
c. Patofisiologi
Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil dibelakang
menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum, hal ini disebabkan
karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah
fleksinya lagi. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal,
sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis
yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia suboksipito bregmatika.
Oleh sebab itu persalinan pada umumnya berlangsung lama, yang mengakibatkan
kerusakan jalan lahir lebih besar, dan kematian perinatal lebih tinggi bila
dibandingkan dengan keadaan di mana ubun- ubun kecil berada di depan.
d. Diagnosis
1)
Pemeriksaan abdomen
Bagian bawah perut mendatar, ekstremitas janin teraba
anterior.
2)
Auskultasi
DJJ terdengar di samping
3)
Pemeriksaan vagina
Fontanella posterior dekat sakrum, fontanella anterior
dengan mudah teraba jika kepala dalamkeadaan defleks.
e. Penanganan
1)
Bila pembukaan lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase pengeluaran,
ulangi apakah ada obstruksi. Bila tidak ada tanda obstruksi oksitosin drip
2)
Bila pembukaan lengkap dan kepala masuk sampai tidak kurang 1/5 atau (0)
maka E.V atau forseps
3)
Bila ada tanda obstruksi/gawat janin maka SC Lakukan pengawasan dengan
seksama dengan harapan dapat lahir sontan pervaginam
4)
Tindakan baru dilakukan jika kalla II terlalu lama/ada tanda-tanda
bahaya terhadap janin
5)
Pada persalinan dapat terjadi robekan perenium yang teratur atau extensi
dari episiotomi
6)
Periksa ketuban. Bila intake, pecahkan ketuban
7)
Bila pesisi kepala > 3/5 diatas PAP atau diatas 2 maka SC
8)
Bila pembukaan serviks belum lengkap dan tidak ada tanda obstruksi, beri
oksitosin drip
9)
Bila pembukaan lengkap
B. MALPOSISI
1.
LETAK SUNGSANG
a.
Pengertian
Persalinan sungsang adalah
keadaan dimana janin yang letaknya memanjang dalam rahim dengan kepala di
fundus uteri dan bokong berada dibagian kavum uteri (Manuaba, 2005).
Merupakan dimana bayi
letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu kepala pada fundus uteri sedangkan bokong
merupakan bagian terbawah (didaerah pintu atas panggul/simfisis) (Wiknjosastro, 2006).
Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dalam rahim
dengan kepala berada difundus uteri dan bokong berada dibagian bawah.
b.
Tanda
dan Gejala
Kehamilan dengan letak
sungsang seringkali oleh ibu hamil dinyatakan bahwa kehamilannya terasa lain
dari kehamilan sebelumnya, karena perut terasa penuh dibagian atas dan gerakan
lebih hanyak dibagian bawah. Pada kehamilan pertama kalinya mungkin belum bisa
dirasakan perbedaannya. Dapat ditelusuri dari riwayat kehamilan sebelumnya
apakah ada yang sungsang.
Pada pemeriksaan luar
berdasarkan pemeriksaan Leopold ditemukan bahwa Leopold I difundus akan teraba
bagian yang keras dan bulat yakni kepala. Leopold II teraba punggung disatu
sisi dan bagian kecil disisi lain. Leopold III-IV teraba bokong dibagian bawah
uterus. Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan
seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala. Denyut
jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi pusat atau sedikit lebih tinggi
daripada umbilicus.
Pada pemeriksaan dalam pada
kehamilan letak sungsang apabila didiagnosis dengan pemeriksaan luar tidak
dapat dibuat oleh karena dinding perut tebal, uterus berkontraksi atau air
ketuban banyak. Setelah ketuban pecah dapat lebih jelas adanya bokong vang
ditandai dengan adanya sakrum, kedua tuberositas iskii dan anus. Bila dapat
diraba kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit,
sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari vang letaknya tidak sejajar dengan
jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak
tangan. Pada persalinan lama, bokong mengalami edema sehingga kadang-kadang
sulit untuk membedakan bokong dengan muka. Pemeriksaan yang teliti dapat
membedakan bokong dengan muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus
mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan kedalam mulut akan
meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan, mulut dan tulang pipi akan
membentuk segitiga, sedangkan anus dan tuberosis iskii membentuk garis lurus.
Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba disamping bokong,
sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak sempuma hanya teraba satu kaki
disamping bokong. Informasi yang paling akurat berdasarkan lokasi sakrum dan
prosesus untuk diagnosis posisi.
c.
Etiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangan di dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu,
jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak
dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi
kepala, letak sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan triwulan terkahir
janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena
bokong dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepala, maka
bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di gundus uteri, sedangkan
kepala berada dalam ruangan yang lebih kecik di segmen bawah uterus. Dengan
demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi
letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin
sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala. Faktor-faktor yang memegang
peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya ialah multiparitas, hamil
kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa dan panggul sempit.
Kadang-kadang letak sungsang disebabkan oleh kelainan uterus dan kelianan
bentik uterus. Plasenta yang terletak didaerah kornu fundus uteri dapat pula
menyebabkan letak sungsang, karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah
fundus (Prawirohardjo, 2005 : 611).
Faktor
predisposisi letak sungsang menurut (mochtar,1998.352) yaiu :
1.
Fiksasi pada pintu atas panggul tidak baik atau
tidak ada, misalnya pada panggul sempit, hidrosefalus, anensefali, plasenta
previa, tumor-tumor pelvis.
2.
Janin mudah bergerak seperti pada
hidroamnionj,multipara, janin kecil ( premature).
3.
Gamelli
4.
Kelainan uterus seperti uterus arkuatus,
bikornus, mioma uteri.
5.
Janin yangb sudah lama mati.
6.
Sebab yang tidak diketahui.
d.
Patofisiologi
Letak janin dalam
uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus.
Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif lebih
banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian
janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak
lintang.
Pada kehamilan
triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif
berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada
kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus
uteri, sedangkan kepala berada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus.
Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan,
frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan,
janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.
Sayangnya,
beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada dalam posisi
sungsang.
e.
Pemerikaan
Penunjang
Dilakukan
jika masih ada keragu-raguan dari pemeriksaan luar dan dalam, sehingga harus di
pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik atau MRI (Magnetic
Resonance Imaging). Pemeriksaan ultrasonografik diperlukan untuk konfirmasi
letak janin, bila pemeriksaan fisik belum jelas, menentukan letak placenta,
menemukan kemungkinan cacat bawaan. Pada foto rontgen (bila perlu) untuk
menentukan posisi tungkai bawah, konfirmasi letak janin serta fleksi kepala,
menentukan adanya kelainan bawaan anak.
f.
Penatalaksanaan
1.
Dalam
Kehamilan
Pada umur kehamilan 28-30 minggu, mencari kausa daripada letak sungsang
yakni dengan USG; seperti plasenta previa, kelainan kongenital, kehamilan
ganda, kelainan uterus. Jika tidak ada kelainan pada hasil USG, maka dilakukan
knee chest position atau dengan versi
luar (jika tidak ada kontraindikasi).
Versi luar sebaiknya dilakukan pada
kehamilan 34-38 minggu. Pada umumnya versi luar sebelum minggu ke 34 belum
perlu dilakukan karena kemungkinan besar janin masih dapat memutar sendiri,
sedangkan setelah minggu ke 38 versi luar sulit dilakukan karena janin sudah
besar dan jumlah air ketuban relatif telah berkurang.
2.
Dalam
Persalinan
Menolong persalinan letak sungsang diperlukan lebih banyak ketekunan dan
kesabaran dibandingkan dengan persalinan letak kepala. Pertama-tama hendaknya
ditentukan apakah tidak ada kelainan lain yang menjadi indikasi seksio, seperti
kesempitan panggul, plasenta previa atau adanya tumor dalam rongga panggul.
Pada kasus dimana versi luar gagal/janin tetap letak sungsang, maka
penatalaksanaan persalinan lebih waspada. Persalinan pada letak sungsang dapat
dilakukan pervaginam atau perabdominal (seksio sesaria). Pervaginam dilakukan
jika tidak ada hambatan pada pembukaan dan penurunan bokong. Syarat persalinan
pervaginam pada letak sungsang: bokong sempurna (complete) atau bokong
murni (frank breech), pelvimetri, klinis yang
adekuat, janin tidak terlalu besar, tidak ada riwayat seksio sesaria dengan
indikasi CPD, kepala fleksi.
g.
Kewenangan
Bidan pada Kasus Letak Sungsang
Menolong dengan persalinan letak sungsang haruslah dengan
standart pelayanan yang tinggi, prosedur
serta kehati-hatian juga diperlukan, prosedur serta standard medis yang tinggi
hanya di kuasai oleh Dokter, serta akan lebih amam dilakukan di Rumah Sakit,
jika terjadi kegawat daruratan terhadap pasien akan dapat ditangani dengan
cepat, dan tepat, maka jika Bidan memaksakan melakukan persalinan letak
Sungsang akan bertentangan dengan :
1.
Pasal 24 Ayat (1)
disebutkan pula bahwa ”Tenaga kesehatan sebagai mana dimaksud dalam Pasal 23
harus memenuhi ketentuan kode etik, standard profesi, hak pengguna pelayanan
kesehatan, standart pelayanan, dan standart prosedur operasional dan dalam Ayat
(2) disebutkan bahwa “ketentuan mengenai kode etik dan profesi sebagai mana
yang dimaksud pada ayat 1 diatur oleh organisasi profesi”.
2. Pasal 19 disebutkan bahwa Dalam menjalankan praktik, bidan
mempunyai hak: “Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik
sepanjang sesuai dengan standard profesi dan standard pelayanan” Dan dalam
point (c) disebutkan bahwa Bidan melaksanakan tugas sesuai dengan
kewenangannya, standard profesi dan standard pelayanan”
Analisis:
Jelas sekali tersurat dalam undang-undang
tersebut jika bidan memaksakan melakukan persalinan letak Sungsang sangat
bertentangan dengan standard profesi dan standard pelayanan , dalam hal ini
dokter yang mempunyai wewenangnya dan dilakukan di Rumah Sakit, sehingga
kehati-hatian dapat dipenuhi jika terjadi kegawat daruratan dapat dilakukan
dengan cepat dan tepat.
2.
Letak Lintang
a. Pengertian
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar
yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang. Bahu
pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis.
Dorongan pada saat ibu mengedan akan menyebabkan bahu depan (anterior) berada
di bawah pubis. Bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan
sumbu miring panggul dan tetap berada pada posisi anteroposterior, pada bayi
besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis yang sering disebut
dengan distosia bahu (Sarwono, 2002).
Letak lintang adalah apabila sumbu janin melintang dan
bisaanya bahu merupakan bagian terendah janin(Sarwono, 2002).
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang
di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi
yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala
janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Punggung janin dapat
berada di depan (dorsoanterior), di belakang( dorsoposterior), di atas
(dorsosuperior), di bawah (dorsoinferior), (Sarwono, 2005).
Jenis-jenis letak lintang dapat dibedakan menurut
beberapa macam, yaitu;
1.
Menurut letak kepala terbagi atas;
a.
LLi I : Apabila posisi kepala janin berada pada sebelah kiri.
b.
LLi II : Apabila posisi kepala janin berada pada sebelah kanan.
2.
Menurut posisi punggung terbagi atas;
a.
Dorso anterior : Apabila posisi punggung janin berada di depan.
b.
Dorso posterior : Apabila posisi punggung janin berada di belakang.
c.
Dorso superior : Apabila posisi punggung janin berada di atas.
d.
Dorso inferior : Apabila posisi punggung janin berada di bawah.
b. Etiologi
Penyebab utama letak lintang adalah relaksasi berlebihan
dinding abdomen akibat multiparitas yang tinggi, bayi prematur, bayi dengan hidrosefalus,bayi
yang terlalu kecil atau sudah mati, plasenta previa, uterus abnormal, panggul
sempit, hidramnion, kehamilan kembar, dan lumbal scoliosis. Keadaan-keadaan
lain yang dapat menghalangi turunnya kepala ke dalam rongga panggul seperti
misalnya tumor di daerah panggul dapat pula mengakibatkan terjadinya letak
lintang tersebut. Distosia bahu juga disebabkan oleh kegagalan bahu untuk
melipat ke dalam panggul.
Insiden letak lintang naik dengan bertambahnya paritas.
Pada wanita dengan paritas empat atau lebih, insiden letak lintang hampir
sepuluh kali lipat dibanding wanita nullipara.
c. Patofisiologi
Relaksasi dinding abdomen pada perut yang menggantung
menyebabkan uterus beralih ke depan, sehingga menimbulkan defleksi sumbu
memanjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir, menyebabkan terjadinya posisi obliq
atau melintang.
Dalam persalinan terjadi dari posisi logitudinal semula
dengan berpindahnya kepala atau bokong ke salah satu fosa iliaka Diagnosis
letak lintang (Harry Oxorn William R. Forte. 2010)
d. Manifestasi Klinis
1.
Dengan inspeksi biasanya abdomen melebar kesamping dan
fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus.
2.
Ukuran tinggi fundus uterus lebih rendah tidak sesuai
dengan umur kehamilan.
3.
Pada palpasi :
a.
Leopold 1 tidak ditemukan bagian bayi di daerah fundus
uteri
b.
Leopold 2 balotemen kepala teraba pada salah satu fosa
iliaka dan bokong pada fosa iliaka yang lain.
c.
Leopold 3 & 4 memberikan hasil negative
4.
Punggung mudah diketahui dengan palpasi, pada punggung
anterior suatu dataran keras terletak melintang dibagian depan perut ibu. Pada
punggung posterior bagian kecil dapat ditemukan pada tempat yang sama.
5.
Bunyi jantung janin terdengar di di sekitar umbilicus
e. Penatalaksanaan
1.
Sewaktu Hamil
Usahakan mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi
luar. Sebelum melakukan versi luar harus dilakukan pemeriksaan teliti ada
tidaknya panggul sempit, tumor dalam panggul, atau plasenta previa, sebab dapat
membahayakan janin meskipun versi luar berhasil, janin mungkin akan memutar
kembali. Untuk mencegah janin memutar kembali ibu dianjurkan untuk menggunakan
korset, dan dilakukan pemeriksaan antenatal ulangan untuk menilai letak janin
2.
Sewaktu Partus
Pada permulaan persalinan masih diusahakan mengubah letak
lintang janin menjadi presentasi kepala asalkan pembukaan masih kurang dari 4
cm dan ketuban belum pecah atau utuh, umur kehamilan 36 sampai 38 minggu,
bagian terendah belum masuk atau masih dapat dikeluarkan dari PAP, dan bayi
dapat lahir pervagina. Pada seseorang primigravida bila versi luar tidak
berhasil, sebaiknya segera dilakukan seksio sesaria. Sikap ini berdasarkan
pertimbangan – pertimbangan sebagai berikut : bahu tidak dapat melakukan
dilatasi pada serviks dengan baik, sehingga pada seorang primgravida kala I
menjadi lama dan pembukaan serviks sukar menjadi lengkap, tidak ada bagian
janin yang menahan tekanan intra – uteri pada waktu his, maka lebih sering
terjadi pecah ketuban sebelum pembukaan serviks sempurna dan dapat
mengakibatkan terjadinya prolapsus funikuli, dan pada primigravida versi
ekstraksi sukar dilakukan.
Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara
bergantung kepada beberapa faktor. Apabila riwayat obstetrik wanita yang
bersangkutan baik, tidak didapatkan kesempitan panggul, dan janin tidak
seberapa besar, dapat ditunggu dan di awasi sampai pembukaan serviks lengkap
untuk kemudian melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu harus
diusahakan supaya ketuban tetap utuh dan melarang wanita tersebut bangun dan
meneran. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan terdapat prolapsus
funikuli, harus segera dilakukan seksio sesarea. Jika ketuban pecah, tetapi
tidak ada prolapsus funikuli, maka bergantung kepada tekanan, dapat ditunggu
sampai pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri
persalinan dengan seksio sesarea. Dalam hal ini persalinan dapat diawasi untuk
beberapa waktu guna mengetahui apakah pembukaan berlangsung dengan lancer atau
tidak. Versi ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar apabila
setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang.
Pada letak lintang kasep, versi ekstraksi akan mengakibatkan rupture uteri,
sehingga bila janin masih hidup, hendaknya dilakukan seksio sesarea dengan
segera, sedangkan pada janin yang sudah mati dilahirkan per vaginam dengan dekapitasi
atau embriotomi.
f. Pemeriksaan penunjang
1.
Pemeriksaan panggul dalam (pelvimetri)
Pelvimetri dilakukan sekali untuk mengetahui panggul
sempit, PAP, PBP, dan kelainan bentuk panggul. Biasanya dilakukan pada
kehamilan 8 bulan atau lebih.
2.
Pemeriksaan dalam (VT)
Pemeriksaan dalam pada letak lintang terdapat;
·
Teraba tulang iga, scapula, dan kalau tangan menumbung teraba tangan.
·
Teraba bahu dan ketiak yang bias menutup ke kanan atau ke kiri.
·
Letak punggung ditentukan dengan adanya scapula, letak dada dengan
klavikula.
·
Pemeriksaan dalam agak susah dilakukan apabila pembukaan kecil dan
ketuban intak, namun pada letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.
C. CHEPALOPELVIC DISPROPORTION (CPD)
1.
Pengertian
Cephalopelvic disproportion (CPD) adalah suatu bentuk
ketidaksesuaian antara ukuran kepala janin dengan panggul ibu. (Reader, 1997).
Secsio caesarea yaitu suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas
500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Secsio caesarea
yaitu suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus
melalui dinding depan perut atau vagina untu melahirkan janin dari rahim
(Mochtar, 1998). Jadi post sectio caesarea dengan CPD adalah suatu tindakan
yang dilakukan untuk melahirkan janin melalui sayatan pada dinding uetrus
dikarenakan ukuran kepala janin dan panggul ibu tidak sesuai.
2. ETIOLOGI
Menurut Hamilton (1999) CPD disebabkan oleh :
1. Panggul ibu yang sempit.
2. Ukuran janin yang terlalu sempit
Sedangkan penyebab dilakukan seksio sesarea menurut
Prawirohadjo (2000)
yaitu:
1. Disproporsi kepala panggul (CPD)
2. Disfungsi Uterus
3. Plasenta Previa
4. Janin Besar
5. Ganiat Janin
6. Letak Lintang
(Mochtar , 1998) menambahkan penyebab lain , yaitu:
1. Ruptur Uteri mengancam
2. Partus lama , Partus tak maju
3. Preeklamsi dan hipertensi
4. Mal presentasi janin
♣ Letak lintang
♣ Letak bokong
♣ Presentasi dahi dan muka
♣ Presentasi rangkap
3. Ukuran Panggul Sempit
Meskipun persoalannya adalah
hubungan antara panggul dengan janin tertentu, pada beberapa kasus panggul
sedemikian sempitnya sehingga janin normal tidak akan dapat lewat. Ukuran yang
sempit dapat berada pada setiap bidang : Pintu Atas Panggul (PAP), Pintu Tengah Panggul (PTP) dan Pintu
Bawah Panggul (PBP). Kadang-kadang seluruh bidangnya sempit atau panggul sempit
menyeluruh (Oxorn, 2010).
Kapasitas panggul tidak memadai
yaitu situasi yang muncul akibat kukurangnya ukuran panggul, ukuran janin yang
berlebihan, atau yang lebih sering kombinasi keduanya. Setiap penyempitan garis
tengah panggul yang mengurangi kapasitas panggul dapat menyebabkan distosia
selama persalinan. Terdapat penyempitan pada Pintu Atas Panggul (PAP), Pintu
Tengah Panggul (PTP) dan Pintu Bawah Panggul (PBP) atau penyempitan akibat
kombinasi faktor-faktor tersebut (Kannet, 2009).
a. Kesempitan Pintu Atas Panggul
Pintu Atas Panggul (PAP) dianggap sempit jika diameter anteroposterior
terpendeknya kurang dari 10 cm atau jika diameter transversal terpanjangnya
kurang dari 12 cm. Diameter anteroposterior
pintu atas panggul diperkirakan secara manual dengan mengukur konjugata diagonal
yang berdiameter 1,5 cm lebih besar.
Oleh
karena itu, penyempitan Pintu Atas Panggul (PAP) didefinisikan sebagai konjugata diagonal yang kurang
dari 11,5 cm (Kanneth, 2009).
Sebelum
persalinan, diameter biparietal janin
menunjukkan berukuran rata-rata dari 9,5 hingga 9,8 cm. Oleh karena itu,
mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin bagi sebagian janin
untuk melewati pintu atas dengan diameter anteroposterior
kurang dari 10 cm. Insiden pelahiran yang sulit meningkat jika diameter anteroposterior pintu atas kurang dari
10 cm (Kanneth, 2009).
b. Kesempitan Pintu Tengah Panggul
Penyempitan
Pintu Tengah Panggul (PTP), situasi yang sering dijumpai daripada pintu atas.
Keadaan ini sering menyebabkan kemacetan melintang kepala janin yang berpotensi
mengharuskan penanganan dengan tindakan forsep yang sulit atau sectio cesarea. Bidang obstetri tengah
panggul membujur dari batas inferior
simfisis pubis melalui spina
iskiadika dan menyentuh sakrum
dekat sambungan vertebrata keempat
dan kelima (Kanneth, 2009).
c. Kesempitan Pintu Bawah Panggul
Pintu
Bawah Panggul (PBP) biasanya didefinisikan sebagai penurunan diameter tuberosum interiskiadika menjadi 8 cm
atau kurang. Penyempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan distosia tetapi
lebih jarang dibandingkan dengan penyempitan tengah panggul. Penyempitan pintu
bawah jarang terjadi tanpa disertai penyempitan tengah panggul (Kanneth, 2009).
d. Fraktur Pelvis dan Penyempitan yang
Jarang
Trauma
akibat kecelakaan kendaraan bermotor merupakan kausa tersering fraktur panggul.
Pada fraktur bilateral ramus pubis, sering terjadi gangguan kapasitas jalan
lahir akibat pembentukan kalus. Riwayat fraktur panggul menunjukkan perlunya
dilakukan evaluasi cermat terhadap foto sinar-X (Kanneth, 2009).
4. Persangkaan Panggul Sempit
Menurut Sulaiman (2005),
kemungkinan seseorang dengan panggul sempit
jika :
a.
Pada palpasi abdomen, pada
primipara kepala anak belum turun setelah minggu ke-36.
b.
Pada primipara ada perut
menggantung.
c.
Pada anamnesa, multipara persalinan yang dulu-dulu
sulit.
d.
Ada kelainan letak pada hamil
tua.
e.
Terdapat kelainan bentuk badan
ibu (cebol, skoliosis, pincang, dan
lain-lain).
5. Pemeriksaan panggul
Pemeriksaan
panggul luar dapat dilakukan oleh seorang bidan saat ibu hamil melakukan
pemeriksaan Antenatal Care (sumarah, 2009).
a.
Pemeriksaan Panggul Luar, yaitu :
1) Distansia
spinarum, jarak antara kedua spina iliaka anterior superior sinistra dan
dekstra, jaraknya 24-26 cm.
2) Distansia
kristarum, jarak antara kedua
krista iliaka kanan dan kiri 28-30 cm.
3) Konjugata eksterna (Boudeloque) merupakan jarak antara bagian atas simfisis dan prosesus
spinosus lumbal 5, jaraknya 18-20 cm.
b.
Ketiga distansia ini diukur dengan jangka panggul.
1) Lingkar panggul yaitu jarak antara tepi atas symfisis pubis ke pertengahan antara trokhanter dan spina iliaka anterior superior kemudian ke lumbal ke-5 kembali ke
sisi sebelahnya sampai kembali ke tepi atas symfisis
pubis. Normal 80-90 cm.
2) Pemeriksaan Klinis yaitu Pengukuran Konjugata
Diagonalis dengan Pemeriksaan Dalam yaitu : Teknisnya memasukkan dua jari
(jari telunjuk dan jari tengah) ke jalan lahir sehingga menyentuh bagian tulang
belakang atau promontorium. Setelah
itu, hitung jarak dari tulang kemaluan hingga promontorium untuk mengetahui ukuran pintu atas panggul dan pintu
tengah panggul. Jarak minimal antara tulang kemaluan dengan promontorium adalah 11 cm. Panggul
tengah diukur dengan cara memeriksa spina
ischiadika atau tonjolan tulang panggul yang teraba menonjol atau tidak,
dan sudut tulang kemaluan lebih dari 90 derajat dan intertuberosum lebih dari 8 cm untuk mengetahui panggul bawah luas
(Rohani, 2011).
c.
Pemeriksaan Radiologi/rontgen
Dilakukan
dengan cara memotret panggul ibu, menggunakan alat rontgen. Hasil foto kemudian
dianalisa untuk mengetahui ukuran panggul. Mulai dari pintu atas panggul, pintu
tengah panggul dan pintu bawah panggul (Cunningham, 2006).
6. Pentalaksanaan Panggul Sempit.
Penatalaksanaan Cephalo Pelvic Disproportion, menurut Cunningham (2006), yaitu :
a.
Persalinan Percobaan
Persalinan
percobaan adalah percobaan untuk melakukan persalinan per vaginam pada wanita
dengan panggul yang relatif sempit. Tindakan
partus percobaan adalah memastikan ada tidaknya CPD, dimulai saat penderita
dinyatakan in partu, dengan penilaian kemajuan persalinan dimulai setelah
persalinan masuk fase aktif.
Penilaian
berdasarkan komponen kemajuan persalinan yang terdiri dari :
1)
Pembukaan Serviks.
2)
Turunnya Kepala.
3)
Putaran paksi dalam yang
penilaiannya dilakukan setiap 2 jam.
Bila
terdapat perubahan yang bermakna dari komponen yang dinilai maka partus
percobaan dikatakan ada kemajuan dan diteruskan. Bila dari 3 komponen tesebut
tidak ada kemajuan yang bermakna maka partus percobaan dikatakan gagal dan
dipastikan ada Cephalo Pelvic
Disproportion (CPD), persalinan dilanjutkkan dengan sectio caesarea (Cunningham, 2006).
b. Sectio Caesarea
Sectio caesarea adalah suatu
pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus.
Pembedahan caesarea profesional yang
pertama dilakukan diAmerika Serikat pada tahun 1827. Dilondon dan Edinbrugh
pada tahun 1877, dari 35 pembedahan caesarea
terdapat 33 kematian ibu. Menjelang tahun 1877 sudah dilaksanakan 71 kali
pembedahan caesarea diAmerika
Serikat. Angka mortalitasnya 52% yang terutama disebabkan oleh infeksi dan
perdarahan (Oxorn, 2011).
Sectio caesarea elektif dilakukan pada kesempitan
panggul berat dengan kehamilan aterm, atau Cephalo Pelvic
Disproportion yang nyata. Sectio caesarea elektif atau
terencana adalah Sectio caesarea yang dilakukan selama kehamilan,
sebelum dimulainya awal persalinan (Baston, 2012).
DAFTAR TILIK PERSALINAN LETAK SUNGSANG
PENILAIAN
1.
Tidak ada penilaian : Langkah tidak dikerjakan sama sekali
2.
Perlu perbaikan : Langkah tidak dikerjakan dengan benar dan tidak
berurutan.
3.
Mampu : Langkah dikerjakan
dengan dengan benar dan berurutan, namun kurang tepat dan pembimbing perlu mengingatkan hal-hal tertentu.
4.
Mahir : Langkah dikerjakan
dengan benar sesuai dengan urutan, tanpa ragu-ragu dan tanpa bantuan.
Beri tanda ceklist (√
) pada kolom penilaian
NO |
LANGKAH / TUGAS |
NILAI |
|||
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
PERSIAPAN |
|
|
|
|
1. |
Menyiapkan peralatan yang digunakan |
|
|
|
|
2. |
Informasikan pada ibu apa yang akan
dilakukan dan diberikan dukungan agar ibu percaya diri dan berani bertanya |
|
|
|
|
3. |
Dengarkan apa yang ingin disampaikan
ibu |
|
|
|
|
4. |
Berikan dukungan emosional dan
jaminan |
|
|
|
|
5. |
Pastikan bahwa prasyarat persalinan
sungsang terpenuhi : ·
Letak bokong murni ·
Ukuran rongga panggul yang adekuat ·
Bayi tidak terlalu besar ·
Tidak ada riwayat SC karena CPD ·
Kepala fleksi |
|
|
|
|
|
TINDAKAN PRA PERSALINAN SUNGSANG |
|
|
|
|
6. |
Mencuci tangan menggunakan sabun dan
air mengalir, keringkan dengan handuk yang bersih |
|
|
|
|
7. |
Menggunakan sarung tangan DTT |
|
|
|
|
8. |
Membersihkan daerah vulva dengan
cairan antiseptik |
|
|
|
|
9. |
Jika diperlukan, kateterisasi kandung
kemih |
|
|
|
|
|
PERSALINAN SUNGSANG |
|
|
|
|
|
MELAHIRKAN BOKONG DAN KAKI |
|
|
|
|
10. |
Jika bokong telah mencapai vagina dan
pembukaan lengkap, suruh ibu meneran bersamaan dengan his |
|
|
|
|
11. |
Jika perineum tampak kaku lakukan
episiotomi |
|
|
|
|
12. |
Biarkan bokong sampai skapula lahir
dan kelihatan di vagina |
|
|
|
|
13. |
Pegang bokong dengan hati-hati,
jangan lakukan penarikan |
|
|
|
|
14. |
Jika kaki tidak lahir spontan,
lahirkan satu kaki terlebih dahulu : ·
Tekan belakang lutut ·
Genggam tumit dan lahirkan kaki ·
Ulangi untuk melahirkan kaki yang lain |
|
|
|
|
15. |
Pegang bagian pinggul bayi |
|
|
|
|
|
MELAHIRKAN TANGAN |
|
|
|
|
16. |
Jika tangan menempel pada dada
biarkan lahir dengan spontan : ·
Jika lengan pertama lahir, angkat bokong ke arah perut ibu agar lengan
kedua lahir spontan ·
Jika tangan tidak lahir spontan, tempatkan 1 atau 2 jari di siku bayi dan
tekan, agar tangan turun melewati muka bayi |
|
|
|
|
17. |
Jika lengan lurus ke atas kepala atau
terjungkit di belakang kepala (Nuchel arm) gunakan perasat atau cara Lovset : ·
Setelah bokong dan kaki bayi lahir, pegang pinggul bayi dengan kedua
tangan ·
Putar bayi 180 derajat sambil tarik ke bawah dengan lengan bayi yang
terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang menjungkit, sehingga lengan
posterior berada di bawah simpisis (depan). ·
Bantu melahirkan lengan dengan memasukkan 1 atau 2 jari pada lengan atas
serta menarik secara perlahan tangan ke bawah melalui dada (seolah olah
tangan bayi mengusap dadanya) sehingga siku dalam keadaan fleksi dan lengan
depan lahir. Untuk melahirkan lengan kedua, putar kembali 180 derajat ke arah
yang berlawanan ke kiri/ke kanan sambil ditarik secara perlahan sehingga
lengan belakang menjadi lengan depan dan lahir di depan |
|
|
|
|
18. |
Jika badan bayi tidak dapat diputar,
lahirkan bahu belakang terlebih dahulu : ·
Pegang pergelangan kaki dan angkat ke atas ·
Lahirkan bahu belakang/posterior ·
Lahirkan lengan dan tangan ·
Pegang pergelangan kaki dan tarik ke bawah ·
Lahirkan bahu dan lengan depan |
|
|
|
|
|
MELAHIRKAN KEPALA |
|
|
|
|
19. |
Melahirkan kepala dengan cara
Mauriceau - Smelle –Veit : ·
Masukkan tangan kiri penolong ke dalam vagina ·
Letakkan badan bayi di atas tangan kiri penolong sehingga badan bayi
seolah-olah menunggang kuda ·
Letakkan jari telunjuk dan jari manis kiri pada maxila bayi, dan jari
tangan di dalam mulut bayi ·
Tangan kanan memegang/mencengkram tengkuk bahu bayi dan jari tengah
mendorong aoksipital sehingga kepala menjadi fleksi ·
Dengan koordinasi tangan kiri dan kanan secara hati-hati tariklah kepala
dengan gerakan memutar sesuai dengan jalan lahir ·
Minta asisten menekan atas tulang pubis ibu, sewaktu melahirkan kepala ·
Angkat badan bayi (posisi menunggang kuda) ke atas untuk melahirkan mulut
hidung dan seluruh kepala |
|
|
|
|
20. |
Bila perlu setelah melahirkan bayi periksa apakah ada perlukaan jalan
lahir |
|
|
|
|
21. |
Jahit luka episiotomi jika sebelumnya
dilakukan episiotomi |
|
|
|
|
22. |
Lakukan asuhan segera pada ibu post
partum dan bayi baru lahir |
|
|
|
|
|
TINDAKAN SETELAH PERSALINAN SUNGSANG |
|
|
|
|
23. |
Sebelum melepaskan sarung tangan,
buang terlebih dahulu kapas atau kassa dan sampah lainnya ke dalam tempat
sampah yang tidak bocor/kantong plastik |
|
|
|
|
24. |
Rendam instrumen ke dalam larutan
klorin 0,5 % selama 10 menit untuk dekontaminasi |
|
|
|
|
25. |
Bilas kedua sarung tangan ke dalam
larutan klorin 0,5% : ·
Lepaskan sarung tangan dengan arah dari dalam keluar ·
Jika sarung tangan yang digunakan adalah sarung tangan disposibel buang
ke dalam tempat sampah yang tidak bocor/kantong plastik ·
Jika sarung tangan akan digunakan kembali dekontaminasi terlebih dahulu
keadaan larutan klorin 0,5 % selama 10 menit |
|
|
|
|
26. |
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir. Kemudian keringkan dengan handuk bersih |
|
|
|
|
27. |
Observasi 2 jam post partum |
|
|
|
|
28. |
Lakukan proses pendokumentasian |
|
|
|
|
Comments
Post a Comment