Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

A. Pengertian
Prolaps Tali Pusat
Prolaps tali pusat merupakan komplikasi yang jarang terjadi, tetapi dapat mengakibatkan tingginya kematian janin.
Prolaps tali pusat
didefinisikan sebagai kehadiran tali pusat di antara bagian presentasi
janin dan leher rahim, terlepas dari selaput ketuban utuh atau pecah.Penurunan tali pusat melalui leher rahim
sangat penting untuk mendiagnosa prolaps tali pusat. Hal ini dapat terjadi secara jelas (melewati bagian terendah janin) atau okultisme
(bersama bagian terendah janin) (RCOG, 2014). Menurut Sarwono (2009), prolaps tali pusat
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Tali pusat terkemuka,
bila tali pusat berada di bawah bagian terendah janin dan ketuban masih intak.
b. Tali pusat menumbung,
bila tali pusat keluar melalui ketuban yang sudah pecah, ke serviks, dan turun
ke vagina.
c. Occult prolapse, tali pusat berada di
samping bagian terendah janin turun ke vagina. Tali pusat dapat teraba atau
tidak, ketuban dapat pecah atau tidak.
B. Etiologi
1.
Etiologi fetal
a.
Presentasi
yang abnormal seperti letak lintang, letak sungsang, presentasi bokong,
terutama presentasi kaki.
b.
Prematuritas.
Seringnya kedudukan abnormal pada persalinan prematur, yang salah satunya
disebabkan karena bayi yang kecil sehingga kemungkinan untuk aktif bergerak.
c.
Gemeli
dan multiple gestasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi gangguan
adaptasi, frekuensi presentasi abnormal yang lebih besar, kemungkinan
presentasi yang tidak normal.
d.
Polihidramnion,
sering dihubungkan dengan bagian terendah janin yang tidak engage.
e.
Ruptur
membran amnion spontan. Keadaan ketuban pecah dini tersebut membawa sejumlah
besar cairan mengalir ke luar dan tali pusat hanyut ke vagina.
2. Etiologi Maternal
a.
Disproporsi kepala
panggul
Disproporsi antara
panggul dan bayi menyebabkan kepala tidak dapat turun dan pecahnya ketuban dapat
diikuti tali pusat menumbung.
b.
Bagian
terendah yang tinggi
Tertundanya
penurunan kepala untuk sementara dapat terjadi meskipun panggul normal.
3. Etiologi dari tali pusat dan plasenta
a.
Tali
pusat yang panjang
Semakin
panjang tali pusat, maka semakin mudah menumbung.
b.
Plasenta
letak rendah
Jika
plasenta dekat serviks maka akan menghalangi penurunan bagian
terendah. Disamping itu insersi tali pusat lebih dekat serviks.
C. Tanda
dan Gejala
1. Tali pusat kelihatan menonjol keluar dari
vagina.
2. Tali pusat dapat dirasakan atau diraba dengan
tangan didalam bagian yang lebih sempit dari vagina.
3. Keadaan jalan lahir yang berbahaya mungkin
terjadi sebagai mana tali pusat ditekan antara bagian presentase dan tulang
panggul.
4. Auskultasi terdengar jantung janin ireguler
5. Terdapat bradikardia janin ( DJJ
<100x/menit)
6. Hipoksia janin ditandai dengan gerakan janin
yang jarang dan lemah.
D. Patofisiologi
Beberapa etiologi yang dapat menyebabkan prolapsus
tali pusat diantaranya ruptur membran amnion spontan, kehamilan kembar, polihidroamnion,
kehamilan prematur, janin terlalu kecil, kelainan presentasi. Penyebab primer
yang timbul akibat prolaps tali pusat adalah ruptur membran yang spontan
terjadi sebelum bagian presentasi berada pada leher panggul. Ketika kantung
cairan amnion ruptur, tiba-tiba terjadi desakan yang kuat menyebabkan cairan
mengalir dengan cepat terus menuju vagina sehingga membuat tali pusat menuju
vagina. Pada kehamilan ganda maka kemungkian terjadinya prolaps tali pusat akan
semakin besar karena jika terjadi desakan antara janin akan membuat janin
mengalami kelainan presentasi seperti letak melintang. Keadaan polihidroamnion,
dimana terdapat cairan ketuban banyak menyebabkan janin dapat bergerak lebih
leluasa dalam rahim. Dan keadaan ini dapat mengakibatkan kelainan
presentasi (letak sungsang, lintang, presentasi kepala). Sedangkan pada
kehamilan prematur selain terjadi hidramnion juga terjadi ukuran janin yang
kecil karena usia gestasi yang masih muda sehingga janinnya memiliki ukuran kepala yang kecil. Keadaan tali pusat yang
panjang dan plasenta previa juga menjadi penyebab terjadinya prolaps tali
pusat. Semua
keadaan tersebut akan menyebabkan janin sulit beradaptasi terhadap panggul ibu,
sehingga PAP (pintu atas panggul) tidak tertutupi oleh bagian bawah janin, dan
inilah yang mengakibatkan tali pusat bergeser atau turun dari tempatnya
sehingga terjadilah prolaps tali pusat.
Prolaps
tali pusat akan mengakibatkan tali pusat terjepit antara bagian terendah janin
dan jalan lahir sehingga sirkulasi janin akan terganggu dan ini mengakibatkan
terjadi hipoksia fetal dan bila berlanjut dapat mengakibatkan fetal
distress yang ditandai dengan melemahnya detak jantung janin. Gangguan aliran
darah yang lama melalui tali pusat juga dapat menghasilkan asidosis respiratorik
dan metabolik yang berat, berkurangnya oksigenasi janin, bradikardi yang
menetap, bila keadaan ini terus berlangsung dapat mengakibatkan terjadinya
kematian pada janin. Namun bila dapat dan segera ditangani maka janin tetap
hidup, hal ini ditandai dengan adanya teraba denyutan pada tali pusat
(Prawirohardjo, 2012)
E. Komplikasi
1. Pada Ibu
Dapat
menyebabkan infeksi intra partum, pecahnya ketuban menyebabkan bakteri di dalam
cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh
korion sehingga terjadi bakterimia dan sepsis pada ibu dan janin. Sedangkan
pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina kedalam
uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila
dicurigai terjadi distosia. Infeksi merupakan bahaya yang serius yang mengancam
ibu dan janinnya pada partus lama (Chuningham dkk, 2005). Komplikasi lain
seperti laserasi jalan lahir, ruptura uretri, atonia uretri dapat terjadi
akibat upaya menyelamatkan janin.
2. Pada janin
a.
Gawat
janin
Gawat janin
adalah keadaan atau reaksiketika janin tidak memperoleh oksigen yang cukup.
Gawat
janin dapat diketahui dari tanda-tanda berikut:
1)
Frekuensi
bunyi jantung janin kurang dari 120x/menit atau lebih dari 160x/menit.
2)
Berkurangnya
gerakan janin (janin normal bergerak lebih dari 10x/hari).
3)
Adanya
air ketuban bercampur mekonium, warna kehijauan, atau tali pusat pulsasinya
lemah, maka prognosis janin akan memburuk (Prawirohardjo, 2012)
b.
Cerebral
palsy adalah gangguan yang mempengaruhi otot, gerakan, dan ketrampilan motorik
(kemampuan untuk bergerak dalam cara yang terkoordinasidan terarah) akibat dari
rusaknya otak karena trauma lahir atau patologi intrauterin (Chuningham dkk, 2015).
F. Prognosis
Prognosisnya
baik apabila diagnosis serta penatalaksanaan yang tepat sesuai klasifikasi prolaps, memburuk jika prolaps
tidak segera diketahui dan ditangani sehingga menyebabkan hipoksia pada bayi
sehingga bayi mati dalam kandungan. Kematian perinatal sekitar 20%-30% pada
janin, prognosis janin akan membaik dengan sectio caesar (Prawirohardjo,2012)
G. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan:
1. Tes prenatal dapat menunjukkan
polihidramnion, janin besar atau gestasi multiple.
2. Pemeriksaan vagina menunjukkan
perubahan posisi tali pusat, dapat terlihat dari vagina, teraba secara
kebetulan, auskultasi terdengar jantung janin.
3. Fundoskop digunakan untuk mendeteksi
denyut jantung janin atau monitoring DJJ.
4. Ultrasound atau pelvimetri sinar-x,
mengevaluasi arsitektur pelvis, presentasi janin, posisi dan formasi.
H. Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan tali pusat adalah
sebagai berikut:
1. Tali pusat berdenyut
a.
Jika
tali pusat berdenyut, berarti janin masih hidup.
b.
Beri
oksigen 4-6 liter/menit melalui masker atau nasal kanul
c.
Posisi
ibu knee chest, trendelenberg atau posisi sim (Prawirohardjo, 2012)
d.
Diagnosis
tahapan persalinan melalui pemeriksaan dalam segera.
e.
Jika
ibu pada persalinan kala I :
1)
Dengan
sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi (DTT) masukan tangan kedalam vagina dan
bagian terendah janin segera didorong ke atas, sehingga tahanan pada tali pusat
dapat dikurangi.
2)
Tangan
yang lain menahan bagian terendah di supra pubis dan evaluasi keberhasilan
reposisi.
3)
Jika
bagian terbawah janin sudah terpegang dengan kuat diatas rongga panggul,
keluarkan tangan dari vagina, letakan tangan tetap diatas abdomen sampai
dilakukan sesio cesarea.
4)
Jika
tersedia, berikan salbutamol 0,5 mg IV secara berlahan untuk mengurangi
kontraksi rahim.
5)
Segera
lakukan sectio caesaria.
f.
Jika
ibu pada persalinan kala II :
1)
Pada
persentasi kepala, lakukan persalinan segera dengan ekstraksi vakum atau
ekstraksi cunam/forseps.
2)
Jika
persentase bokong/sungsang lakukan ekstraksi bokong atau kaki,dan gunakan
forseps pipa panjang untuk melahirkan kepala yang menyusul.
3)
Jika
letak lintang, siapkan segera sectio caesaria.
4)
Siapkan
segera resusitasi neonatus.
2. Tali pusat tidak berdenyut
Jika
tali pusat tidak berdenyut berarti janin telah meninggal. Keadaan ini sudah
tidak merupakan tindakan darurat lagi, lahirkan bayi secara normal tanpa
mencederai ibu. Pergunakan waktu untuk memberikan konseling pada ibu dan
keluarganya tentang apa yang terjadi serta tindakan apa yang akan
dilakukan.
3. Polindes
a.
Lakukan
pemeriksaan dalam bila ketuban sudah pecah dan bagian terbawah janin belum
turun
b.
Jika
teraba tali pusat, pastikan tali pusat masih berdenyut atau tidak dengan
meletakkan tali pusat diantara 2 jari.
c.
Lakukan
reposisi tali pusat. Jika berhasil usahakan bagian terendah janin memasuki
rongga panggul, dengan menekan fundus uteri dan usahakan segera persalinan
pervaginam.
d.
Suntikkan
terbutalin 0,25 mg subkutan.
e.
Dorong
ke atas bagian terbawah janin dan segera rujuk ke Puskesmas/RS.
4. Puskesmas
a.
Penanganan
sama seperti di atas.
b.
Jika
persalinan pervaginam tidak mungkin dilaksanakan, segera rujuk ke Rumah sakit.
5. Rumah Sakit.
a.
Lakukan
evaluasi atau penanganan seperti pada manajemen medik.
b.
Jika
persalinan pervaginam tidak mungkin terjadi, segera lakukan sectio caesaria.
Penatalaksanan tali pusat bedasarkan klasifikasinya adalah sebagai berikut:
1. Prolaps tali pusat menumbung (prolapsus funikuli )
a.
Posisiskan
ibu pada posisi kneechest. Jika mampu kembalikan tali pusat ke dalam vagina menggunakan tekanan ke atas
menghadap bagian presentasi untuk mengangkat janin jauh dari prolaps tali
pusat. Hal ini dapat dilakukan secara manual (bersarung tangan steril/2 jari
mendorong ke atas terhadap bagian presentasi atau sekali bagian presentasi di
atas pinggir panggul, menggunakan tekanan suprapubik terus menerus dalam arah
ke atas).
b.
Jika
tali pusat tidak dapat dimasukkan ke dalam vagina, hindari memegang tali pusat
yang berada di luar vagina, karena hal ini menyebabkan vasospasme.
c.
tutupi
tali pusat dengan kasa steril lembab yang dibasahi normal salin hangat untuk
menjaga agar tidak kering dan dingin.
d.
Lanjutkan
ke bagian darurat caesar sesegera mungkin.
e.
Jika
tersedia, memberikan terbutaline 0,25 mg subkutan untuk mengurangi kontraksi
ketika terdapat kelainan denyut jantung janin.
2. Prolaps occult
a.
Tempatkan
ibu dalam posisi lateral ataupun kneechest.
b.
Jika
denyut jantung janin normal, berikan ibu O2 dan denyut jantung janin serta
pulsasi tali pusat yang terus dipantau.
c.
Jika
denyut jantung janin tetap normal, persiapkan operasi Caesar yang cepat.
d.
persalinan
normal hanya dapat dilakukan jika waktu
persalinan sudah dekat, serviks sepenuhnya melebar dan tidak ada
kontra-indikasi.
3. Prolaps terkemuka
Penangannya sama seperti prolaps occult. Pantau
denyut jantung janian serta pulsasi tali pusat sambil mempersiapkan persalinan
baik normal jika tidak ada kontraindikasi maupun caesar.
I. Pencegahan
Prolaps tali pusat tidak dapat dicegah, tetapi komplikasi
janin selanjutnya telah terbukti sering dapat dicegah, dengan penurunan yang
signifikan dalam morbiditas dan mortalitas janin bila kondisi ini ditangani
dengan segera dan tepat.
Comments
Post a Comment