Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

MAKALAH OLIGOHIDRAMNION
1.
Pengertian Oligohidramnion
Marks dan Divon (1992) mendefinisikan oligohidramnion bila pada pemeriksaan
USG ditemukan bahwa index kantong amnion 5 cm atau kurang dan insiden
oligohidramnion 12% dari 511 kehamilan pada usia kehamilan 41 minggu. Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal,
yaitu kurang dari 500 cc (manuaba, 2007), atau juga didefinisikan dengan indeks
cairan amnion 5 cm atau kurang dari 12% dari 511 kehamilan dengan usia
kehamilan 41 minggu atau lebih. (Dexa Media no.3 tahun 2007).
Cairan ketuban atau cairan amnion adalah cairan yang memenuhi rahim. Cairan
ini ditampung di dalam kantung amnion yang disebut kantung ketuban atau kantung
janin. Cairan ketuban diproduksi oleh buah kehamilan, yaitu sel-sel trofoblas,
kemudian akan bertambah dengan produksi cairan janin, yaitu air
seni janin. Sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban
dan mengeluarkannya kembali dalam bentuk air seni. Jadi ada pola
berbentuk lingkaran atau siklus yang berulang.
Cairan amnion biasanya diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya
memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal,
cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion.
Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh
kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit
janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran
tersebut dalam memproduksi cairan amnion. Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml
per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari
cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi
pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion pada
kondisi terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal, akan
menyebabkan oligohidramnion.
Normal volume cairan amnion bertambah dari50 ml pada saat usia kehamilan 12
minggu sampai 400 ml pada pertengahangestasi dan 1000 – 1500 ml pada
saat aterm. Pada kehamilan postterm jumlahcairan amnion hanya 100 sampai 200 ml
atau kurang.
Menurut Lehn, jumlah air ketuban yang normal pada primigravida adalah
1 liter, pada multigravida sebanyak 1,5 liter, dan sebanyak – banyaknya
yang masih dalam batas normal adalah 2 liter.
2.
Etiologi
Etiologi yang pasti belum jelas,
tetapi disangka ada kaitannya dengan renal agenosis janin. Etiologi primer
lainnya mungkin oleh karena amnion kurang baik pertumbuhannya dan
etiologi sekunder lainnya, misalnya pada ketuban pecah dini (premature rupture
of the membrane = PROM).
Penyebab
sekunder biasanya dikaitkan dengan :
-
Pecahnya membran ketuban
-
Penurunan fungsi ginjal atau
terjadinya kelinan ginjal bawaan pada janin sehingga produksi urin janin
berkurang, padahal urin janin termasuk salah satu sumber terbentuknya air
ketuban
-
Kehamilan post-term sehingga
terjadinya penurunan fungsi plasenta.
-
Gangguan pertumbuhan janin
-
Penyakit yang diderita ibu seperti
Hipertensi, Dibetes mellitus, gangguan pembekuan darah, serta adanya penyakit
autoimmune seperti Lupus.
Penyebab oligohidramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas wanita
hamil yang mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab oligohidramnion
yang telah terdeteksi adalah cacat bawaan janin dan bocornya kantung / membran
cairan ketuban yang mengelilingi janin dalam rahim. Sekitar 7% bayi dari wanita
yang mengalami oligohidramnion mengalami cacat bawaan, seperti gangguan ginjal
dan saluran kemih karena jumlah urin yang diproduksi janin berkurang.
Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan
oligohidramnion adalah tekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah padaplasenta.
Serangkaian pengobatan yang dilakukan untuk menangani tekanan darah tinggi,
yang dikenal dengan nama angiotensin-converting enxyme inhibitor
(miscaptopril), dapat merusak ginjal janin dan menyebabkan oligohidramnion
parah dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi
yang kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan
sebelum merencanakan kehamilan untuk memastikan bahwa tekanan darah mereka
tetap terawasi baik dan pengobatan yang mereka lalui adalah aman selama
kehamilan mereka.
Jika dilihat
dari segi Fetal, penyebabnya bisa karena :
-
Kelainan Kromosom
-
Cacat Kongenital
-
Hambatan pertumbuhan janin dalam
rahim
-
Kehamilan postterm
-
Premature ROM (Rupture of amniotic
membranes)
Jika dilihat
dari sisi Maternal, penyebabnya :
-
Dehidrasi
-
Insufisiensi uteroplasental
-
Hipertensi / Preeklamsia
-
Diabetes Mellitus
-
Hypoxia kronis
Induksi Obat :
-
Seperti obat antihipertensi
Pada kehamilan lewat bulan, kekurangan air ketuban juga sering terjadi
karena ukuran tubuh janin semakin besar. Oligohydramnion dapat terjadi di
masa kehamilan trimester pertama atau pertengahan usia kehamilan cenderung
berakibat serius dibandingkan jika terjadi di masa kehamilan trimester
terakhir.
3.
Epidemiologi Oligohidramnion
Sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu
sedikit.Olygohydramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walau
padaumumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Sekitar 12%
wanitayang masa kehamilannya melampaui batas waktu perkiraan lahir (usia
kehamilan42 minggu) juga mengalami olygohydrasmnion, karena jumlah cairan
ketubanyang berkurang hamper setengah dari jumlah normal pada masa kehamilan
4.
Patofisiologi
Terlalu sedikitnya cairan ketuban
dimasa awal kehamilan dapat menekanorgan-organ janin dan menyebabkan kecacatan,
seperti kerusakan paru-paru,tungkai dan lengan. Olygohydramnion yang terjadi
dipertengahan masa kehamilan juga meningkatkan resiko keguguran, kelahiran
prematur dan kematian bayi dalam kandungan. Jika ologohydramnion terjadi di
masa kehamilan trimester terakhir, hal ini mungkin berhubungan dengan
pertumbuhan janin yang kurang baik. Disaat-saat akhir kehamialn,
oligohydramnion dapat meningkatkan resiko komplikasi persalinan dan kelahiran,
termasuk kerusakan pada ari-ari memutuskan saluran oksigen kepada janin dan
menyebabkan kematian janin.
Sindroma Potter dan Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang
berhubungan dengan gagal ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion
(cairan ketuban yang sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir,
dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion
menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari
dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter). Selain itu,
karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal
atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (
paru-paru hipoplastik ), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi
sebagaimana mestinya.
Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik
karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena
penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih)
dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma
Potter.
Gejala Sindroma
Potter berupa :
-
Wajah Potter (kedua mata terpisah
jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal hidung yang lebar,
telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang).
-
Tidak terbentuk air kemih
-
Gawat pernafasan,
Pada kehamilan sangat muda, air ketuban merupakan ultrafiltrasi dari plasma
maternal dan dibentuk oleh sel amnionnya. Pada trimester II kehamilan, air
ketuban dibetuk oleh difusi ekstraselular melalui kulit janin sehingga komposisinya
mirip dengan plasma janin. Selanjutnya setelah trimester II, terjadi
pembentukan zat tanduk kulit janin dan menghalangi disfusi plasma janin
sehingga sebagian besar air ketubannya dibentuk oleh sel amnionnya dan air
kencingnya.
Ginjal janin mengeluarkan urin sejak usia 12 minggu dan setelah mencapai
usia 18 minggu sudah dapat mengeluarkan urin sebanyak 7-14 cc/hari. Janin aterm
mengeluarkan urin 27 cc/jam atau 250 cc dalam sehari.
Sirkulasi air ketuban sangat penting, sehingga jumlahnya dapat dipertahankan
dengan tetap. Pengaturannya dilakukan oleh tiga komponen penting berikut:
a.
Produksi yang dihasilkan oleh sel
amnion.
b.
Jumlah produksi air kencing.
c.
Jumlah air ketuban yang ditelan
janin.
Setelah trimester II sirkulasinya makin meningkat sesuai dengan tuanya
kehamilan sehingga mendekati aterm mencapai 500 cc/hari.
Produksinya akan berkurang jika terjadi insufisiensi plasenta, kehamilan
post term, gangguan organ perkemihan, janin terlalu banyak minum, sehingga
dapat menimbulkan makin berkurangnya jumlah air ketuban intrauteri
“ologohidramnion” dengan kriteria:
a.
Jumlah kurang dari 200 cc
b.
Kental.
c.
Bercampur mekonium.
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor
atau minor.
Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan
pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok
lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat
abortus pada trimester I lebih dari 2 kali
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus,
serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau
memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada
trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi
abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas
uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko
mayor atau bila ada 2 atau lebioh resiko minor atau bila ditemukan keduanya.
(Kapita selekta, 2000 : 274)
5.
Wanita Dengan Kondisi Berikut
Memiliki Insiden Oligohidramnion Yang Tinggi.
-
Anomaly congenital ( misalnya
agenosis ginjal, sindroma potter )
-
Retradasi pertumbuhan intra uterin
-
Ketuban pecah sebelum waktunya (
usia kehamilan 24 – 26 minggu )
-
Sindroma paska maturitas
-
Terdapat riwayat Hipertensi atau
preeklampsia
-
Riwayat obstetric yang
jelek
6.
Gambaran klinis
-
Uterus tampak lebih kecil dari usia
kehamilan dan tidak ada ballotemen.
-
Ibu merasa nyeri di perut pada
setiap pergerakan anak.
-
Sering berakhir dengan partus
prematurus.
-
Bunyi jantung anak sudah terdengar
mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
-
Persalinan lebih lama dari biasanya.
-
Sewaktu his akan sakit sekali.
-
Bila ketuban pecah, air ketuban
sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.
7.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
a.
USG ibu (menunjukkan oligohidramnion
serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal)
b.
Cara memeriksanya yaitu dengan
memeriksa indeks cairan amnion, yakni jumklah pengukuran kedalaman air ketuban
di empat sisi kuadran perut ibu. Nilai normal adalah antara 10 – 20 cm. bila
kurang dari 10 cm disebut air ketuban telah berkurang, jika kurang dari 5 cm
maka inilah yang disebut dengan oligohidramnion.
c.
Rontgen perut bayi
d.
Rontgen paru-paru bayi
e.
Analisa gas darah.
8.
Akibat oligohidramnion
a.
Bila terjadi pada permulaan
kehamilan maka janin akan menderita cacat bawaan dan pertumbuhan janin dapat
terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu picak seperti kertas
kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.
b.
Bila terjadi pada kehamilan yang
lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club-foot, cacat bawaan karena
tekanan atau kulit jadi tenal dan kering (lethery appereance).
c.
Jika terjadi pada saat menjelang
persalinan, akan meningkatkan resiko terjadinya komplikasi selama kelahiran,
seperti tidak efektifnya kontraksi rahim akibat tekanan di dalam rahim yang
tidak seragam kesegala arah, sehingga proses persalinan akan melemah atau
berhenti.
9.
Komplikasi dari oligohidramnion
a.
Dari sudut maternal
Komplikasi oligohidramnion pada maternal praktis tidak
ada, kecuali akibat
Persalinannya oleh karena :
-
Sebagian persalinannya dilakukan
dengan induksi
-
Persalinan dilakukan dengan sc Dengan
demikian komplikasi maternal adalah trias komplikasi persalinan dengan tindakan
b.
Komplikasi terhadap janin
Oligohidramnion menyebabkan tekanan langsung pada
janin:
-
Deformitas janin
-
Leher telalu menekuk miring
-
Bentuk tulang kepala janin tidak
bulat
-
Deformitas ekstremitas
-
Talipes kaki terpelintir keluar
-
Kompresi tali pusat langsung
sehingga dapat menimbulkan fetal distress.
-
Fetal distres menyebabkan makin
terangsangnya nervus vagus dengan dikeluarkannya
mekonium semakin mengentalkan air ketuban.
-
Oligohidramnion makin menekan dada
sehingga saat lahir terjadi kesulitan bernafas,
karena paru mengalami hipoplasia sampai atelektase paru.
-
Sirkulus yang sulit diatasi ini
akhirnya menyebabkan kematian janin intrauteri.
-
Amniotic band Karena sediktnya air ketuban, dapat menyebabkan terjadi hubungan langsung antara membrane dengan janin sehingga dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin intrauteri. Dapat dijumpai ekstremitas terputus oleh karena hubungan atau ikatan dengan membrannya.
10.
Tindakan konservatif
a.
Tirah baring.
b.
Hidrasi.
c.
Perbaikan nutrisi.
d.
Pemantauan kesejahteraan janin
(hitung pergerakan janin, NST, Bpp).
e.
Pemeriksaan USG yang umum dari
volume cairan amnion.
f.
Amnion infusion.
g.
Induksi dan kelahiran.
Comments
Post a Comment