Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

A. Definisi
Mola hidatidosa ialah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak ditemukan janin dan hamper seluruh villi korialis mengalami perubahan hidropik.
dalam hal
demikian disebut mola hidatidosa atau complete mole,sedangkan bila disertai
janin atau bagian dari janin disebut mola parsialis atau partial mole.menurut
varssilakos.complete mole dan partial mole merupakan kesatuan yang
berbeda,antara keduanya atau perbedaan klinik,histopatologik,sitogenetik maupun
prognostic.
Secara
maskroskopik, mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung-gelembung
putih,tembus pandang,berisi cairan jernih,dengan ukuran bervariasi dari
beberapa millimeter sampai satu atau dua sentimeter.
Gambaran histopatologikyang khas dari mola hidatidosa ialah; edema stroma villi,tidak ada pembuluh darah pada villi dan proliferasi sel-sel trofoblas, sedangkan gambaran sitogenetiknya pada umumnya berupa xx 46.
B. Gejala-gejala
Pada
permulaannya gejala mola hidatidosa tidak seberapa berbeda dengan kehamilan
biasa yaitu enek, muntah, pusing, dan lain-lain,hanya saja derajat keluhannya
sering lebih hebat.selanjutnya perkembangan lebih pesat,sehingga pada umumnya
besar uterus lebih besar dari umur kehamilan.adapula kasus-kasus yang uterusnya
lebih kecil atau sama besar walaupun jaringannya belum dikeluarkan. dalam hal
ini perkembangan jaringan trofoblas tidak terlalu aktif sehingga perlu di
fikirkan kemungkinan adanya jenis dying mole.
Perdarahan
merupakan gejala utama mola, biasanya keluhan perdarahan inilah yang
menyebabkan mereka dating ke rumah sakit. Gejala perdarahan ini biasanya
terjadi antara bulan pertama sampai ketujuh rata-rata 12-14 minggu. Sifat
perdarahan bias intermiten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga
menyebabkan syok atau kematian, karena perdarahan inimaka umumnya pasien mola
hidatidosa masuk dalam keadaan anemia. Seperti juga pada kehamilan biasa mola
hidatidosa bias disertai dengan preeclampsia (eklamsia),hanya perbedaannya
ialah bahwa preeclampsia pada mola terjadinya lebih muda dari pada kehamilan
biasa.
Penyulit
lain yang akhir-akhir ini banyak dipermasalahkan ialah tiroksikosa.ternyata
insidensinya lebih tinggi dari dugaan semula. Menurut cury insidensinya 1 %,
tetapi martaadisoebrata,menemukan angka lebih tinggi yaitu 7,6 %.terjadinya
tiroksikosa pada mola hidatidosa berhubungan erat dengan besarnya uterus,makin
besar uterus makin besar kemungkinan terjadinya, loleh karena kasus mola
hidatidosa dengan uterus besar masih banyak ditemukan, maka martaasoebrata
menganjurkan agar pada kasus mola hidatidosa dicari tanda-tanda tirotoksikosa
secara aktif seperti kita selalu mencari tanda-tanda preeclampsia pada tiap
kehamilan biasa, mola yang disertai tirotoksikosa mempunyai prognosis yang
lebih buruk,baik dari segi kematian maupun kemungkinan terjadi keganasan.
Biasanya penderita meninggal karena krisis tiroid, penyulit lain yang mungkin
terjadi ialah emboli sel trofoblas ke paru-paru. Sebetunya pada tiap kehamilan
selalu ada migrasi sel trofoblas ke peredran darah kemungkinan ke paru-paru
tanpa memberikan gejala apa-apa. Tetapai pada mola kadang-kadang jumlah sel
trofobas ini demikian banyak sehingga dapat menimbulkan emboli paru-paru akut
yang bisa menyebabkan kematian.
Mola hidatidosa sering disertai dengan kista lutein,baik unilateral maupun bilateral, umumnya kista ini segera menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan, tetapi ada juga kasus-kasus dimana kista lutein baru ditemukan pada waktu follow up. Dengan pemeriksaan klinis insidensi kista lutein lebih kurang 10.2%,tetapi bila menggunakan ultrasonografi angkannya meningkat sampai 50%. Kasus mola dengan kista lutein mempunyai resiko 4 kali lebih besar untuk mendapat degenerasi keganasan di kemudian hari daripada kasus-kasus pada kista.
C. Diagnosis
Adanya
mola hidatidosa harus dicurigai bila ada wanita dengan amenorea, perdarahan per
vaginam ,uterus yang lebih besar dari tuanya kehamilan dan tidak ditemukan
tanda kehamilan dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti, seperti balotemen
dan detak jantung anak, untuk memperkuat diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan
kadar human chorinic gonadotropin (HCG) dalam drah atau urin,baik secara
biosay, immunoassay maupun radioimmunioassay. Peninggian HCG, terutama setelah
hari ke 100, sangat sugestif, bila belum jelas, dapat dilakukan pemeriksaan
foto abdomen, biopsy transplasental, pemeriksaan dengan sonde uterus yang
diputar seperti dianjurkan oleh wiknjosastro atau yang lebih mutakhir dengan
menggunakan ultrasonografi, dimana kasus mola menunjukan gambaran yang khas,
yaitu berupa badai salju (snow flake pattern).
Diagnosis yang paling tepat bila kita melihat gelembung molanya. Tetapi bila kita menunggu sampai gelembung mola keluar biasanya sudah terlambat karena pengeluaran gelembung umumnya disertai perdarahan yang banyak dan keadaan umum pasien menurun. Yang baik ialah bila mendiagnosa mola sebelum gelembung keluar.
D. Terapy
Terapi
mola hidatidosa terdiri 4 tahap yaitu: 1) perbaikan keadaan umum; 2)
pengeluaran jaringan mola; 3) terapi profilaksis dengan sitostatika; 4)
pemeriksaan tindak lanjut (follow up)
1.
Perbaikan
Keadaan Umum
Yang termasuk usaha ini misalnya pemberian transfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia dan menghilangkan dan mengurangi penyulit seperti preeklampsi dan tirotoksikosa. Preeclampsia diobati seperti pada kehamilan biasa sedang tirotoksikosa diobati sesuai dengan protocol bagian penyakit dalam, antara laim dengan inderal.
2.
Pengeluaran
Jaringan Mola
Ada
dua cara yaitu: a) vakum kuretase dan b) histerektomi.
a.
vakum kuretase.setelah keadaan umum
diperbaiki dilakukan vakum kuretase tanpa pembiusan. Untuk memperbaiki
kontraksi dibsrikan pula uterotonika.vakum kuretase dilanjutkan dengan sendok
kuret biasa yang tumpul. Tindakan kuret cukup dilakukan satu kali saja, asal
bersih. Kuret kedua hanya dilakukan bila ada indikasi, sebelum tindakan kuret
sebaiknya disediakan darah untuk menjaga kemungkinan perdarahan yang banyak.
b. histerektomi. tindakan ini dilakukan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup mempunyai anak. Alas an untuk melakukan histerektomi ialah karena umut tua dan paritas tinggi merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya keganasan.batasan yang dipakai ialah umur 35 tahun dengan anak hidup 3. Tidak jarang bahwa pada sediaan histerektomi bila dilakukan pemeriksaan histopatologik sudah tampak adanya tanda-tanda keganasan berupa mola invasive.ada beberapa ahli yang menganjurkan agar pengeluaran jaringan dilakukan melalui histerektomi. Tetapi cara ini tidak begitu popular dan sudah ditinggalkan.
3.
Terapy
Profilaksis Dengan Sitostatika
Terapy
profilaksis diberikan pada kasus mola dengan resiko tinggi akan terjadinya
keganasan misalnya umur tua dan paritas tinggi yang menolak untuk dilakukan
histerektomi atau kasus mola dengan hasil histopatologi yang
mencurigakan.biasanya diberikan methotrexate atau actinomycin D. ada beberapa
ahli yang tidak menyetujui terapi profilaksis ini dengan alas an bahwa jumlah
kasus mola yang menjadi ganas tidak banyak dan sitostatika merupakan obat
berbahaya. Goldstein berpendapat bahwa pemberian sitostatika profilaksis dapat
menghindarkan keganasan dengan metastasis, serta mengurangi koriokarsinoma di
uterus sebanyak 3 kali.
4.
Pemeriksaan
tindak lanjut
Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya
kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa. Lama pengawasan berkisar antara
satu atau dua tahun. Untuk tidak mengacaukan pemeriksaan selama periode ini
pasien dianjurkan untuk tidak hamil dulu dengan menggunakan kondom, diagfragma
atau pil anti hamil. Mengenai pemberian pil anti hamil ini ada dua pendapat
yang saling bertentangan,satu pihak mengatakan bahwa pil kombinasi, disamping
dapat menghindarkan kehamilan juga dapat menahan LH dari hipofisis sehingga
tidak terjadi reaksi silang dengan HCG. Pihak lain menentangnya justru karena esterogen dapat mengaktifkan
sel-sel trofoblas. Bagshawe beranggapan bila pil anti hamil diberikansebelum
kadar HCG jadi normal dan kemudian wanita itu mendapat kariokarsinoma,maka
biasanya resisten terhadap sitostatika. Kapan penderita mola dapat dianggap
sehat kembali?sampai sekarang belum ada kesepakatan. Curry menyatakan sehat
bila HCG dua kali berturut-turut normal. Ada pula yang mengatakan bila sudah
melahirkan anak yang normal. Selama pengawasan, secara berkala dilakukan
pemeriksaan ginekologik, kadar human chorionic gonadotropin (HCG) dan radiologic.
Cara yang paling peka untuk menentukan adanya keganasan dini ialah dengan
pemeriksaan HCG yang menetap untuk beberapa lama, apalagi kalau meninggi. Hal
ini menunjukan masih ada sel-sel trofoblas yang aktif. Cara yang umum dipakai
sekarang ialah dengan radio immunoassay terhadap HCG B – sub unit.
Di Negara berkembang pemeriksaan tindak
lanjut ini sukar dilakikan oleh karena jarang yang yang mau dating untuk
control. Di samping itu pemeriksaan HCG
dengan RIA mahal. Dengan demikian diagnosis dini keganasan sukar ditegakkan.
E. Prognosis
Kematian
pada mola hidatitosa di sebabkan karena pendarahan, infeksi, eklampsia, payah
jantung atau tirotoksikosa. Di Negara maju, kematian karena mola hampirtidak
lagi,tetapi di Negara berkembang masih cukup tinggiyaitu berkisar antara 2,2%
dan 5,7%. Sebagian besar dari pasien mola akan segera sehat kembali setelah
jaringannya dikeluarkan, tapi ada sekelompok wanita yang kemudian menderita
degenerasi keganasan menjadi kariokarsinoma. Persentase keganasan yang
dilaporkan oleh berbagai klinik sangan berbeda-beda,berkisar antara 5,56%.
Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola, tetapi yang paling banyak dalam 6 bulan pertama. Ada wanita yang pernah menderita mola hidatidosa, kemudian pada kehamilan berikutnya mendapat mola lagi. Kejadian mola berulang ini agak jarang. Martaadisoebrata,di rumah sakit hasan sadikin, bandung hanya menemukan 4 dari 323 kasus tau 1.23%. angka ini tidak banya berbeda dengan kepustakaan. Ada yang mengatakan bahwa mola berulang mempunyai resiko lebih tinggi untuk menjadi kariokarsinoma, tetapi pengalaman di bandung tidak menunjukan hal demikian. Untuk menentukan kapan kembalinya fungsi reproduksi setelah mola hidatidosa, sebetulnya agak sukar, karena umumnya mereka di haruskan memakai kontrasepsi. Wlaupun demikian banyak yang tidak mematuhi, karena ternyata di rumah sakit hasan sadikin, 41,5% telah hamil lagi dalam jangka dalam jangka waktu satu tahun. Bila tidak di haruskan memakai kontrasepsi tentu lebih banyak lagi. Dengan demikian dapat di ambil kesimpulan bahwa kemampuan reproduksi pasca mola, tidak banyak berbeda dari kehamilan lainnya. Anak-anak yang dilahirkan setelah mola hidatidosa ternyata umumnya normal.(sarwono prawirohardjo, 2007)
Comments
Post a Comment