Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

MALARIA DALAM KEHAMILAN,
PERSALINAN DAN NIFAS
Malaria adalah penyakit infeksi
menular yang disebabkan oleh parasit dari genus
Plasmodium, yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anopheles dengan gambaran penyakit berupa demam yang
sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejala oleh
karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati dan ginjal
Malaria adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit genus Plasmodium yang hidup pada
nyamuk, dapat bersifat akut maupun kronik. Nyamuk membawa Plasmodium dan menularkannya
pada manusia melalui gigitannya. Malaria pada manusia
disebabkan oleh lima spesies Plasmodium: P.
falciparum, P. vivax, P. ovale, P. malariae dan P. knowlesi. Sebagian besar
infeksi disebabkan P. falciparum atau
P. vivax, namun infeksi campuran
dengan lebih dari satu spesies malaria juga dapat terjadi. Sebagian besar
kematian terkait malaria disebabkan oleh P.
falciparum.
Infeksi malaria
pada kehamilan merupakan masalah medis
yang serius karena risiko pada janin seperti
abortus, kematian janin, pertumbuhan janin terhambat (PJT) dan meningkatnya
anemia dan kematian pada ibu.
B. Etiologi
Menurut
Departemen Kesehatan tahun 2005, penyebab
penyakit malaria adalah parasit
malaria, suatu protozoa dari genus Plasmodium. Sampai saat ini di Indonesia
dikenal 4 jenis spesies
plasmodium penyebab malaria pada manusia, yaitu :
a. Plasmodium falciparum, penyebab malaria tropika yang
sering menyebabkan malaria yang berat (malaria serebral dengan kematian).
b. Plasmodium vivax,
penyebab malaria tertiana.
c. Plasmodium malariae, penyebab malaria quartana.
d. Plasmodium ovale, menyebabkan malaria ovale
tetapi jenis ini jarang dijumpai.
C. Prevalensi, Mikrobiologi
dan Epidemiologi
Setiap tahun, terjadi kehamilan pada sekitar 50 juta
perempuan yang tinggal di daerah endemis malaria, termasuk Indonesia.
Diperkirakan 10.000 perempuan dan 200.000 bayi meninggal akibat infeksi malaria
selama kehamilan; anemia berat ibu, prematuritas, dan berat lahir rendah
berkontribusi terhadap lebih dari setengah dari kematian ini.
Angka kesakitan malaria di
Indonesia menurut Riskesdas 2009 adalah 2,89 % yang dihitung berdasarkan
hasil positif pemeriksaan darah, dan
menurun menjadi 2,4 % pada tahun 2010 (Data sementara Riskesdas, 2010), sehingga tercatat tingkat kejadian malaria 18,6 juta
kasus per tahun.
Di daerah endemis malaria, prevalensi malaria lebih tinggi pada primigravida dibandingkan dengan wanita tidak hamil atau multigravida. Infeksi pada kehamilan terutama oleh P. falciparum dan
menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada kehamilan.
Infeksi P. vivax dapat
menimbulkan beberapa komplikasi yang sama dengan P. falciparum, namun, komplikasinya
lebih jarang dan kurang keparahannya. Infeksi oleh P.
knowlesi relatif jarang pada
kehamilan.
D. Manifestasi klinik
Gejala malaria
terdiri dari beberapa serangan demam dengan interval tertentu (disebut paroksisme), diselingi oleh
suatu periode yang penderitanya bebas sama sekali dari demam (disebut periode laten). Gejala yang
khas tersebut biasanya ditemukan pada penderita non-imun. Sebelum timbulnya
demam, biasanya penderita merasa lemah, mengeluh sakit kepala, kehilangan nafsu
makan, merasa mual di ulu hati, atau muntah. Masa tunas malaria sangat
tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi. Masa tunas paling pendek
dijumpai pada malaria falciparum, yang terpanjang pada malaria kuartana
(Plasmodium malariae). Masa tunas parasit malaria adalah 12 hari untuk malaria
falciparum, 14 hari untuk malaria vivax, 28 hari untuk malaria kuartana, dan 17
hari untuk malaria ovale.
Manifestasi klinis pada
malaria ringan dan tanpa komplikasi:
Ø Demam (dapat periodik)
Ø Menggigil
Ø Berkeringat
Ø Sakit Kepala
Ø Mialgi
Ø Lesu
Ø Mual, Muntah, Diare, Nyeri Perut
Ø Kulit Pucat
Ø Perspirasi
Ø Hepatomegali
Ø Splenomegali
Malaria
mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia, dan splenomegali.
Gejala yang klasik yaitu terjadinya ’Trias
Malaria’ secara berurutan ; periode dingin, periode
demam, dan periode berkeringat.
a.
Anemia merupakan gejala yang sering
dijumpai pada infeksi malaria.
Beberapa
mekanisme terjadinya anemia adalah : pengrusakan eritrosit oleh parasit,
hambatan eritropoiesis sementara, hemolisis oleh karena proses complement
mediated immune complex, eritrofagositosis, penghambatan pengeluaran
retikulosit, dan pengaruh sitokin.
b. Splenomegali sering
dijumpai pada penderita malaria, limpa akan teraba setelah tiga hari dari
serangan infeksi akut, limpa menjadi bengkak, nyeri dan hiperemis. Limpa
merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria.
c. Pola demam malaria. Demam pada
malaria ditandai dengan adanya paroksisme, yang berhubungan dengan perkembangan
parasit malaria dalam sel darah merah. Puncak serangan panas terjadi
berbarengan dengan lepasnya merozoit-merozoit ke dalam peredaran darah
(proses sporulasi). Untuk beberapa hari pertama, pola panas tidak beraturan,
baru kemudian polanya yang klasik tampak sesuai spesiesnya. Pada malaria
falciparum, pola panas yang ireguler itu mungkin berlanjut sepanjang perjalanan
penyakitnya sehingga tahapan-tahapannya yang klasik tidak begitu nyata
terlihat.Suatu paroksisme demam biasanya mempunyai tiga stadium yang berurutan
sebagai berikut :
1)
Stadium
dingin/cold stage Stadium ini
mulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin. Nadi penderita cepat, tetapi
lemah. Bibir dan jari-jari sianotik. Kulitnya kering dan pucat, penderita
mungkin muntah dan pada penderita anak sering terjadi kejang. Stadium ini
berlangsung selama 15 menit-1 jam.
2)
Stadium
demam/hot stage Setelah
menggigil/ merasa dingin, pada stadium ini penderita mengalami serangan demam.
Muka penderita menjadi merah, kulitnya kering dan dirasakan sangat panas
seperti terbakar, sakit kepala bertambah keras, dan sering disertai dengan rasa
mual atau muntah-muntah. Nadi penderita menjadi kuat kembali. Biasanyapenderita
merasa sangat haus dan suhu badan bisa meningkat sampai 41 derajat celcius.
Stadium ini berlangsung selama 2-6 jam.
3)
Stadium
berkeringat/sweating stage, Pada stadium
ini penderita berkeringat banyak sekali, sampai membasahi tempat tidur. Namun
suhu badan pada fase ini turun dengan cepat, kadang-kadang sampai di bawah
normal. Biasanya penderita tertidur nyenyak dan pada saat terjaga, ia merasa
lemah, tapi tanpa gejala lain. Stadium ini berlangsung 2-4 jam.Sesudah serangan
panas pertama, terjadi interval bebas panas selama antara 48-72 jam, lalu
diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang pertama; dan demikian
selanjutnya. Gejala-gejala malaria ’klasik’ seperti yang telah diuraikan
tidak selalu ditemukan pada setiap penderita
Dibandingkan dengan
perempuan yang tidak hamil, ibu hamil mengalami penyakit malaria yang lebih
berat, hipoglikemia lebih berat, dan komplikasi pernapasan (edema paru, sindrom
gangguan pernapasan akut) lebih sering terjadi. Anemia merupakan komplikasi umum dari malaria
dalam kehamilan; sekitar 60 persen wanita hamil yang mengalami infeksi malaria
mengalami anemia karena parasit menyerang eritrosit.
Tanda
dan gejala malaria berat:
Ø Gangguan kesadaran
Ø Halusinasi
Ø Gangguan nafas asidosis (Acute Respiratory Distress Syndrome)
Ø Kejang-kejang
Ø Hipotensi, Syok
Ø Perdarahan, Disseminaten
Intravasculair Coagulopathy
Ø Ikterik
Ø Hemoglobinuri (tanpa G6PD)
Temuan laboratorium pada malaria berat:
Ø Anemi berat (Hb < 8gr%)
Ø Trombositopeni
Ø Hipoglikemi
Ø Asidosis (pH < 7,3)
Ø Gangguan fungsi ginjal (oliguria < 0,4 ml/KgBB/jam
; kreatinin > 265umol/l)
Ø Hiperlaktatemi
Ø Gram negatif septikemia
E. Diagnosis
Tidak
ada gejala kilinis yang spesifik pada malaria. Pada malaria ringan dapat
bermanifestasi seperti flu (flu like
illness), atau seperti infeksi virus lainnya. Riwayat perjalanan ke daerah
endemis malaria harus ditanyakan pada ibu hamil dengan demam yang tidak
diketahui sebabnya.
Diagnosis
ditegakkan dengan pemeriksaan apus darah tepi, baik apus tebal maupun apus
tipis yakni bila ditemukan parasit dengan mikroskop atau hasil positif pada
pemeriksaan rapid diagnostic test (RDT).
Diagnosis malaria harus
dipertimbangkan pada setiap ibu hamil yang mengalami demam yang tinggal di
daerah malaria, atau melakukan perjalanan ke daerah malaria walaupun hanya
sebentar atau hanya transit.
F. Pemeriksaan penunjang
Diagnostik malaria sebagaimana
penyakit pada umumnya didasarkan pada gejala klinis, penemuan fisik,
pemeriksaan laboratorium darah dan uji
imunoserologis.
Ada 2 cara diagnostik yang
diperlukan untuk menentukan seseorang itu positif malaria atau tidak yaitu
pemeriksaan darah tepi (tipis/tebal) dengan mikroskop dan deteksi antigen.
Meskipun sangat sederhana pemeriksaan darah tepi dengan mikroskop
merupakan gold standard dan menjadi
pemeriksaan terpenting yang tidak boleh dilupakan. Interpretasi yang didapat
dari hasil pemeriksaan darah tepi adalah jenis dan kepadatan parasit.
Deteksi antigen digunakan apabila
tidak tersedia mikroskop untuk memeriksa preparat darah tepi atau pada daerah
yang sulit dijangkau dan keadaan darurat yang perlu diagnosis segera. Teknik
yang di gunakan untuk deteksi antigen adalah immunokromatografi dengan
kertas dipstick yang dikenal dengan Rapid Diagnostic Test (RDT). Alat ini dapat
mendeteksi antigen dari P. falciparum
dan non falciparum terutama
P. vivax .
1. Masalah
yang lazim muncul
a. Hipertertermia
b.d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada
hipotalamus.
b. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh asupan makanan yang tidak adekuat;anorexia;mual/muntah.
c. Nyeri
akut b.d respon inflamasi sistemik, myalgia, atralgia, diaphoresis.
d. Resiko
syok (hipovolemik) b.d penurunan volume darah ke jaringan tubuh (hipovolemia,
anemia).
e. Resiko
ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d penurunan sirkulasi jaringan ke otak
(masa trombositopenia,parsial abnormal, peningkatan TIK).
f. Resiko
ketidakseimbangan elektrolit b.d disfungsi endokrin (diaphoresis poliuri).
g. Intoleransi
aktivitas b.d kelemahan umum (peningkatan TIK).
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Umum
a.
Perbaiki keadaan umum penderita
(pemberian cairan dan perawatan umum). Pemberian cairan adalah faktor yang
sangat penting dalam penanganan malaria berat. Bila berlebihan akan menyebabkan
edema paru, sebaliknya bila kurang akan menyebabkan nekrosis tubular akut yang
berakibat gagal ginjal akut.
b.
Monitoring vital sign antara lain : keadaan umum,
kesadaran, pernafasan, tekanan darah, suhu, dan nadi setiap 30 menit (selalu
dicatat untuk mengetahui perkembangannya), kontraksi uterus dan bunyi jantung janin
juga harus dipantau.
c.
Jaga jalan nafas untuk menghindari
terjadinya asfiksi, bila perlu beri oksigen.
d.
Pemberian antipiretik untuk mencegah
hipertermi: parasetamol 10 mg/kg.bb/kali, dan dapat dilakukan kompres.
e.
Jika kejang, beri antikonvulsan :
diazepam 5-10 mg iv. (secara perlahan selama 2 menit) ulang 15 menit kemudian
jika masih kejang; maksimum 100 mg/24 jam. Bila tidak tersedia diazepam, dapat
dipakai fenobarbital 100 mg im/kali (dewasa) diberikan 2 kali sehari.
f.
Untuk konfirmasi diagnosis, lakukan pemeriksaan
SD tebal. Penilaian sesuai kriteria diagnostik mikroskopik.
g.
Apabila tidak tersedia fasilitas
yang memadai, persiapkan penderita untuk dirujuk ke tingkat pelayanan kesehatan
lebih tinggi yang menyediakan perawatan intensif.
2. Penatalaksanaan Pada
Kehamilan
Ibu
hamil sebaiknya dicegah untuk bepergian
ke daerah endemis malaria. Apabila tidak mungkin menghindarinya, ibu harus
diberi pengobatan pencegahan, yakni klorokuin bila bepergian ke daerah malaria
yang sensitif terhadap klorokuin, atau meflokuin untuk daerah malaria yang
resisten terhadap klorokuin.
Pada
wanita hamil yang tinggal di daerah endemik dan telah mempunyai kekebalan alami
(karena kontak yang lama dengan malaria), pemberian kemoprofilaksis terhadap
malaria menyebabkan kejadian bayi berat
badan lahir rendah dan anemia ibu menurun. Pengobatan Pencegahan Intermiten
selama kehamilan ( IPTp -Intermittent
Preventive Treatment during pregnancy) lebih disukai karena efektif dan
lebih praktis.
Rekomendasi WHO (2012) untuk IPTp: Semua ibu hamil
diberikan IPTp dengan sulfadoksin-pirimetamin (SP) pada kunjungan pemeriksaan
antenatal ke-2 dan ke-3 (WHO merekomendasikan empat kunjungan pemeriksaan antenatal
standar, yakni kunjungan pertama pada trimester pertama, kunjungan kedua pada
24 hingga 26 minggu kehamilan, kunjungan ketiga pada 32 minggu, dan kunjungan
keempat pada 36 sampai 38 minggu). Setiap dosis dapat menekan atau
menghilangkan infeksi asimtomatik
pada plasenta dan memberikan profilaksis
pasca-pengobatan untuk 6 minggu.
3. Penatalaksanaan Malaria
pada Persalinan
Persalinan
penderita malaria yang positif pada pemeriksaan apusan darah tebal/DDR (+),
memerlukan pengawasan yang lebih cermat, sebagai berikut:
a. Pada kala I :
1) Wanita hamil
dengan infeksi malaria berat harus dirawat di unit perawatan intensif (bila
mungkin).
2) Pemantauan
ketat kontraksi uterus dan denyut jantung janin (monitoring CTG)
sehinggadapat diketahui adanya gawat janin lebih awal.
3) Bila ditemukan
tanda gawat janin pada persalinan, merupakan indikasi seksio sesarea.
b.
Perawatan
umum pada kala I:
1) Demam, bila
suhu rektal >39oC dikompres dan diberi antipiretik (parasetamol 3-4 x 500
mg/hari).
2) Anemia, dapat
diberi transfusi PRC (packed red cell).
3) Hipoglikemi,
diberi 50 ml glukosa 50% bolus intravena dan dilanjutkan dengan infus glukosa
5% atau 10%.
4) Edema paru
Penderita
diletakkan pada posisi setengah duduk, oksigenasi konsentrasi tinggi serta
diberi furosemid 40 mg intravena. Bila perlu lakukan ventilasi mekanik dengan
tekanan positif akhir respirasi
c.
Malaria
serebral
Penderita harus
dirawat dengan cermat, keseimbangan cairan dan tingkat kesadaran diperhatikan.
Dapat diberi natrium fenobarbital 10-15 mg/kgbb. im. dosis tunggal dan bila
kejang dapat diberi diazepam 0,15 mg/kgbb. iv. (maksimum 10 mg)
1) Pada kala II: Jika tidak
ada kontraindikasi, persalinan dapat pervaginam, indikasi persalinan
denganekstraksi vakum/ forseps tergantung keadaan obstetrik saat itu.
2)
Kemoterapi/Pemberian
Obat Anti Malaria: Penderita
malaria berat memerlukan obat anti malaria yang mempunyai daya bunuh terhadap
parasit secara cepat dan kuat, serta bertahan dalam aliran darah dalam waktu
yang cukup lama. Oleh karena itu sebaiknya diberikan parenteral, sehingga
mempunyai efek langsung dalam darah. Obat anti malaria yang direkomendasi :
Ø Kina (Kina HCl 25%,
1 ampul 500 mg/2 ml).
Ø Aman digunakan
pada semua trimester kehamilan
Ø Tidak
menyebabkan abortus dalam dosis terapi
Ø Pemberian IV
untuk usia kehamilan > 30 minggu tidak menyebabkan kontraksi uterus (menginduksi
partus) atau menyebabkan fetal distress.
Ø Efek samping
yang utama : hipoglikemi
Ø Pemberian kina
dapat diikuti dengan hipoglikemi, karenanya perlu diperiksa gula darah /12 jam.
Ø Artesunate dan
artemether sudah pernah dipakai dengan aman dan berhasil pada beberapa kasus
ibu hamil.
Ø Mengingat
keterbatasan sarana maupun tenaga ahli di puskesmas/RS, maka kasus malaria
berat yang memerlukan perawatan/pengobatan dengan fasilitas tertentu (misal:
hemo/peritoneal dialisis, transfusi tukar, dll) yang tidak tersedia sebaiknya
dirujuk ke RS tingkat yang lebih tinggi (fasilitas lengkap).
4. Penatalaksanaan Malaria
Pada Masa Nifas
a. Untuk
mencegah timbulnya penyakit dalam masa nifas, maka pemberian obat pencegahan
dalam kehamilan sebaiknya diteruskan setelah persalinan
b. Laktasi
biasanya tidak dipengaruhi oleh malaria, kecuali kalau ibu sangat parah
penderitaannya dan disertai anemia berat
c. Pemberian
obat pencegahan dalam kehamilan sebaiknya diteruskan setelah persalinan sampai
6 minggu postparthum
I. Pencegahan
Setiap wanita yang tinggal di daerah
endemis atau akan bepergian ke daerah endemis sebaiknya diberi kemoprofilaksis
meskipun tidak memberikan perlindungan absolut terhadap infeksi malaria; namun
dapat menurunkan parasitemia dan mencegah komplikasi malaria berat dan
meningkatkan berat badan bayi.
Klorokuin merupakan obat yang paling
aman bagi wanita hamil dengan dosis 300 mg basa (2 tablet) diberikan setiap
minggu. Bagi wanita hamil yang akan bepergian ke daerah endemis malaria
pemberian dimulai 1 minggu sebelum ber-ngkat, selama berada di daerah endemis,
sampai 4 minggu setelah keluar dari daerah tersebut.
Upaya lain untuk pencegahan infeksi
malaria adalah dengan memutuskan rantai penularan pada host, agen atau
lingkungan dengan cara:
1.
Mengurangi kontak/gigitan nyamuk Anopheles
dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk.
2.
Membunuh nyamuk dewasa.
3.
Membunuh jentik nyamuk
Anjuran
WHO untuk pencegahan malaria dalam kehamilan:
Ø Hindari
bepergian ke daerah endemi malaria.
Ø Pengobatan
pencegahan intermiten pada kehamilan (IPTp) dengan sulfadoksin-pirimetamin (SP).
Ø Berikan
pengetahuan tentang terapi pencegahan (mefloquine), tanda dan gejala malaria.
Ø Pencegahan
terhadap gigitan nyamuk ( kelambu, pakaian, obat nyamuk balur kulit, obat
semprot nyamuk atau obat nyamuk dalam ruangan).
Ø Berikan
pengetahuan tentang keadaan emergensi dan siapa yang harus dihubungi apabila
bepergian ke daerah endemis.
Ø Semua
wanita hamil harus menerima suplemen zat
besi dan sasam folat sebagai bagian dari perawatan antenatal rutin.
J. Pengobatan
Malaria dalam kehamilan dapat memiliki konsekuensi buruk bagi ibu dan
janin, oleh karena itu ibu hamil dengan malaria harus segera diobati dengan
agen antimalaria yang efektif untuk parasit penyebabnya.
Tabel 1.
Pengobatan Infeksi Malaria Falsiparum Tanpa Komplikasi
|
Usia Kehamilan |
|
1. |
Kurang dari 3 bulan |
Kina 3x2 tablet selama
7 hari atau 3x10mg/kgBB selama 7 hari ditambah dengan Klindamisin 2x300mg
atau 2x10mg/kgBB selama 7 hari |
2 |
Lebih dari 3 bulan |
DHP
(dihidroartemisinin-piperakuin) 1 x 3 tablet (untuk ibu dengan BB 41-59 kg), DHP 1x4 tablet (BB ibu ≥ 60 kg) selama 3 hari, ATAU Artesunat 1 x 4 tablet
dan amodiakuin 1 x 4 tablet selama 3 hari. |
Ibu hamil dengan infeksi malaria oleh P. falciparum yang berat, harus
menerima terapi parenteral; rute intravena lebih disukai daripada rute intramuskular. Pilihan terapi
adalah artesunate atau quinine ditambah klindamisin.
Tabel 2.
Pengobatan Parenteral Ibu Hamil pada Malaria Falsiparum Berat
1 |
Derivat Artemisin |
|
|
Artesunate |
2,4 mg/kgBB intravenus sebagai dosis initial, dilanjutkan dengan 2,4 mg/kgBB pada 12 dan 24 jam, diikuti oleh 2,4 mg/KgBB sekali sehari. |
2. |
Derivat Kina |
|
|
Quinine dihydrochloride |
Loading dose : 20mg/kgBB dalam dekstrosa 5% diberikan dalam waktu 4 jam, dilanjutkan dengan 20-30 mg/kgBB perhari dalam dosis terbagi 2-3 kali dalam waktu 2 jam selang 8-12 jam. |
|
Quinidine gliconate |
Loading dose : 20 mg/kgBB dalam NaCL 0,9% diberikan dalam waktu 1-2 jam dilanjutkan dengan 0,02 mg/KgBB/menit sampai 24 jam. |
|
Ditambah dengan |
|
|
Klindamisin |
20mg/kgBB/hari (maksimum 1800 mg) diberikan per oral, dalam dosis terbagi 3 X sehari selama 7 hari |
Pada ibu hamil dengan malaria
berat, periksa tanda-tanda vital, periksa kesadaran, jalan nafas (airway), ada
tidaknya kaku kuduk, berikan terapi inisial (loading dose), lakukan stabilisasi
dan segera rujuk ibu ke fasilitas yang lebih lengkap atau RS yang mempunyai unit fetomaternal /NICU.
Apabila rujukan tidak
memungkinkan, pengobatan dilanjutkan dengan pemberian dosis lengkap
artesunate atau quinine/quinidine.
Infeksi Malaria bukan oleh P.
falciparum (misalnya infeksi malaria
oleh P.
vivax , P. ovale , P. malariae , dan P. knowlesi ) jarang menyebabkan
kematian ,tetapi dapat menjadi penyebab morbiditas yang signifikan dalam
kehamilan.
Tabel 3.
Pengobatan Malaria non falsiparum pada ibu hamil
1. |
Usia kehamilan < 3 bulan |
Kina 3 x 2 tablet
selama 7 hari atau 3 x 10mg/kgBB selama 7 hari. |
2. |
Usia kehamilan > 3 bulan |
DHP (dihidroartemisin-piperakuin) 1-3 tablet untuk BB ibu
41-59 kg selama 3 hari, ATAU Artesunat 1 x 4
tablet dan amodiakuin 1 x 4 tablet selama 3 hari. |
K. Mordibitas
Morbiditas perinatal yang berhubungan dengan malaria
selama kehamilan adalah:
1)
Anemi berat dan kematian.
Faktor yang berhubungan
dengan peningkatan keparahan infeksi malaria selama kehamilan adalah paritas rendah, usia muda, status imunologi
nonimmun, infeksi oleh P. falciparum
atau P. vivax, derajat parasitemia dan infeksi plasenta, latar
belakang sosial ekonomi pasien, tempat domisili (pedesaan atau perkotaan) dan
musim.
2)
Kematian ibu
Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) memperkirakan bahwa 10.000 kematian ibu setiap tahun berhubungan dengan
infeksi malaria selama kehamilan. Malaria merupakan penyebab utama kematian ibu
di daerah endemik tidak stabil saat terjadi wabah periodik pada pasien
nonimmun. Lebih dari sepertiga kematian ibu terkait malaria, terjadi pada
remaja primigravida, terutama berhubungan dengan anemia berat. Sebuah studi
yang dilakukan di rumah sakit rujukan utama di Gambia mendapatkan kejadian
kematian ibu meningkat 168 persen pada saat wabah malaria dan proporsi kematian
akibat anemia meningkat tiga kali. Diperkirakan bahwa malaria berkontribusi pada
93 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Usia muda ibu dikaitkan dengan
derajat anemi yang lebih parah dan
kejadian berat lahir rendah. Remaja di
daerah pedesaan yang belum pernah hamil sebelumnya, meningkat risikonya untuk mengalami infeksi malaria dan
infeksi ini sangat terkait dengan anemia.
Hal ini menunjukkan bahwa tindakan pengendalian terhadap infeksi malaria
harus ditargetkan pada perempuan pedesaan primigravida dengan usia muda.
Comments
Post a Comment