Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Makalah Ketuban Pecah Dini
A. Pengertian
Ketuban
pecah dini (KPD) atau prematur rupture of the membranes (PROM ) adalah keadaan pecahnya selaput
ketuban sebelum terjadinya proses persalinan pada kehamilan aterm. Sedangkan
preterm prematur rupture of the membranes (PPROM) adalah pecahnya ketuban
dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu (Parry and Strauss, 1998;Brian and
Mercer, 2003; Mamede dkk., 2012). Pendapat lain menyatakan dalam ukuran
pembukaan serviks pada kala I, yaitu bila ketuban pecah sebelum pembukaan pada
primigravida kurang dari 3 cm dan pada multigravida kurang dari 5 cm. Dalam
keadaan normal selaput ketuban pecah dalam proses persalinan (Cunnigham 2010;
Soewarto, 2010).
B. Epidemiologi
Ketuban Pecah Dini
Ketuban
pecah dini preterm dikaitkan dengan 30-40% kelahiran prematur dan merupakan
penyebab utama kelahiran prematur. Ketuban pecah dini preterm yang terjadi
sebelum usia kehamilan 24 minggu, disebut sebagai KPD preterm previable,
kejadiannya kurang dari 1 % kehamilan dan berhubungan dengan komplikasi yang
berat pada ibu ataupun janin (Brian dan Mercer, 2003; Adeniji dkk.,2013; Endale
dkk., 2016). Kasus dengan ketuban pecah dini akan mengalami persalinan hampir
95% dalm waktu 24 jam (Revathi dkk., 2015; Endale dkk., 2016; Lorthe dkk.,
2016).
Pada
ketuban pecah dini preterm terjadi resiko baik pada janin maupun pada ibu. Pada
kehamilan preterm angka insiden korioamnionitis sekitar 13-60% dan solusio
plasenta terjadi pada 4-12% kehamilan dengan ketuban pecah dini. Keradangan
selaput ketuban atau korioamnionitis terjadi pada 9 % kehamilan dengan ketuban
pecah dini atrem, resikonya meningkat sampai 24 % apabila pecah ketuban terjadi
lebih dari 24 jam. Kematian dilaporkan pada 3-22% kasus ketuban pecah dini
preterm dengan usia kehamilan 16-28 minggu. Kejadian sepsis pada ibu sekitar
0,8% yang menyebabkan kematian 0,14%. Resiko pada janin dapat terjadi infeksi intrauterin,
penekanan tali pusat dan solusio plasenta (Tsiartas dkk., 2013; Dima dkk.,
2014; Linehan dkk., 2016).
C. Patogenesis
Ketuban Pecah Dini
Ketuban
pecah dini terjadi setelah terdapat aktivitas dari multifaktorial dan berbagai
mekanisme. Faktor epidemiologi dan
faktor klinis dipertimbangkan sebagai pencetus dari ketuban pecah dini. Faktor
ini termasuk infeksi traktus reproduksi pada wanita (Bakterial vaginosis,
Trikomoniasis, Gonorrhea, Chlamydia, dan korioamnionitis subklinis),
faktor-faktor perilaku (merokok, penggunaan narkoba, status nutrisi, dan
koitus), komplikasi obstetri (kehamilan multipel, polihidramion, insufisiensi
servik, operasi servik, perdarahan dalam kehamilan, dan trauma antenatal), dan
kemungkinan karena perubahan lingkungan (tekanan barometer). Sinyal biokimia
dari fetus termauk sinyal apoptosis dan sinyal endokrin dari fetus, juga
meru[akan implikasi dalam inisiasi dai terjadinya ketuban pecah dini (Menon
dkk., 2011; Hackenhaar dkk., 2014 ).
Pecahnya
selaput ketuban disebabkan oleh hilangnya eliastisitas pada daerah tepi robekan
selaput ketuban. Hilangnya elastisnya selaput ketuban ini sangat erat kaitannya
denggan jaringan kolagen, yang dapat terjadi karena penipisan oleh infeksi atau
rendahnya kadar kolagen. Kolagen pada selaput terdapat pada amnion di daerah
lapisan kompakta, fibroblas sertas pada korion di daerah lapisan retikuler atau
trofoblas (Oyen dkk., 2006; Mamede dkk., 2012).
D. Etiologi
Penyebab
ketuban pecah dini masih belum dapat diketahui dan tidak dapat diketahui dan
tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan ada
faktor-faktor yang berhubungan erat dengan ketuban pecah dini, namun
faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Adapun yang menjadi
faktor adalah :
1)
Faktor
maternal
a.
Korioamnionitis
adalah keadaan pada perempuan hamil dimana korion, amnion dan cairan ketuban
terkena infeksi bakteri.
b.
Infeksi
yang disebabkan oleh bakteri yang secara spesifik permulaan berasal dari vagina
anus atau rectum dan menjalar ke uterus.
c.
Inkompetensi
serviks (leher rahim) adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot
leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit
membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang
semakin besar
d.
Riwayat
KPD sebelumnya (Winkjosastro, 2011).
2)
Faktor
neonatal
a.
Makrosomia
adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia
menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan meyebabkan
tekanan pada intra uterin bertambah sehingga meneka selaput ketuban,
menyebabkan selaput ketuban menjadi teregang, tipis, dan kekuatan membran
menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.
b.
Tekanan
intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya ketuban pecah dini, misalnya gemeli (kehamilan kembar adalah suatu
kehamilan dua janin atau lebih). Pada kehamilan gemeli terjadi distensi uterus
yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara
berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebihan. Isi rahim yang lebih
besar dan kantung (selaput ketuban) relatif kecil sedangkan dibagian bawah
tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah
pecah.
c.
Hidramion
dan polihidramion adalah jumlah cairan >2000ml. Uterus dapat mengandung
cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramion kronis adalah peningkatan
jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur- angsur. Hidramion akut, volume
tersebut meningkat tiba- tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam
waktu beberapa hari saja. (Winkjosastro, 2011).
E. Patofisiologi
Pada
sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%). High
virulensi berupa bacteroides low virulensi, lactobacillus kolagen terdapat pada
lapisan kompakta amnion, fibroblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen
dikontrol oleh sistem aktifitas dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase
jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion,
menyebabkan ketban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
F. Faktor resiko ibu bersalin dengan ketuban pecah dini
1.
Pekerjaan
Pekerjaan
adalah suatu kegiatan atau aktivitas responden sehri-hari, namun pada masa
kehamilan pekerjaan yang berta dan dapat membahayakan kehamilnanya hendaklah
dihindari untuk menjaga keselamatan ibu maupun janin. Kejadian ketuban pecah
sebelum waktunya dapat disebabkan oleh kelelahan dalam bekerja. Hal ini dapat
dijadikan bagi ibu-ibu hamil agar selama masa kehamilan hindari/ kurangi
melakukan pekerjaan yang berat. (Saifuddin, 2010)
2.
Paritas
Multigravida
atau paritas tinggi merupakan salah satu dari penyebab terjadinya kasus ketuban
pecah sebelum waktunya. Paritas 2-3 yaitu paritas paling aman ditinjau dari
sudut kematian. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka
kematian maternal lebih tinggi, resiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan
asuhan obstetric lebih baik, sedangkan resiko pada paritas tinggi dapat
dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Konsistensi serviks pada
persalinan sangat mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini pada multipara
dengan konsistensi serviks yang tipis, kemingkinan terjadinya ketuban pecah
dini lebih besar dengan adanya tekanan intrauterin pada saat persalinan.
Konsistensi serviks yang tipis dengan proses pembukaan serviks padaa multipara
(mendatar sambil membuka hampir sekaligus) dapat mempercepat pembukaan serviks
sehingga dapat beresiko ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap. (Fatikah,
2010).
3.
Umur
Umur
individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun semakin
cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam
berfikir dan bekerja. Dengan bertambahnya umur seseiorang maka kematangan dalam
berfikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam pemeriksaan kehamilan untuk
mencegah komplikasi pada masa persalinan. Umur dibagi menjadi 3 kriteria yaitu
<20 tahun, 20-35 tahun dan > 35 tahun. Usia reproduksi yang aman untuk
kehamilan dan persalinan yaitu usia 20-35 tahun. Pada usia ini alat kandungan
telah matang dan siap untuk di buahi, kehamilan yang terjadi pada usia < 20
tahun atau terlalu muda sering menyebabkan komplikasi/ penyulit bagi ibu dan
janin, hal ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, dimana
rahim belum bisa menahan kehamilan dengan baik, selaput ketuban belum matang
dan mudah mengalami robekan sehingga dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah
dini. Sedangkan pada usia yang terlalu tua atau >35 tahun memiliki resiko
kesehatan bagi ibu dan bayiya. (Santoso, 2013)
4.
Riwayat
ketuban pecah dini
Riwayat
KPD sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami KPD kembali. Patogenesis terjadinya
KPD secara singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam
membrane sehingga memicy terjadinya KPD aterm dan KPD preterm terutama pada
pasien resiko tinggi. Wanita yang mengalami KPD pada kehamilan atau menjelang
persalinan maka pada kehamilan berikutnya akan lebih beresiko mengalaminya
kembali antara 3-4 kali dari pada wanita yang tidak mengalami KPD sebelumnya,
karena komposisi membran yang menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang
semakin menurun pada kehamilan berikutnya.(Cunningham, 2010).
5.
Usia
kehamilan
Komplikasi
yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat
terjadi infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena
kompresi tali pusat, defomitas janin, meningkatnya insiden sectio caesaria,
atau gagalnya persalinan normal. Persalinan prematur setelah ketuban pecah
biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur
kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam stelah ketuban pecah.
Pda kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan
kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu. Usia kehamilan pada
saat kelahiran merupakan satu-satunya alat ukur kesehatan janin yang paling
bermanfaat dan waktu kelahiran sering ditentukan dengan pengkajian usia
kehamilan. Pada tahap kehamilan lebih lanjut, pengetahuan yang jelas tentang
uia kehamilan mungkin sangat penting karena dapat timbul sejumlah penyulit
kehamilan yang penangannya bergantung pada usia janin.
Periode
waktu dari KPD sampai kelahirnya berbanding terbalik dengan usia kehamilan saat
ketuban pecah. Jika ketuban pecah trimester III hanya diperlukan beberapa hari
saja hingga kelahiran, antara terminasi kehamilan banyak diperlukan waktu untuk
mempertahankan hingga janin lebih matur. Semakin lama menunggu, kemungkinan
infeksi akan semakin besar dan membahayakan janin serta situasi maternal.
(Astuti, 2012).
G. Tanda
gejala
Tanda
dan gejala pada kehamilan yang mengalami ketudan pecah dini adalah keluarnya cairaan ketuban merembes
melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak,
mungkin cairan tersebut masih merembes atau enetes, dengan cairan ini tidak
akan berhenti atau kering karenaa terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi
bila duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya
mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang
banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda
infeksi yang terjadi. (Saifuddin, 2010).
H. Diagnosis
Penegakan
diagnosis ketuban pecah dini adalah sebagai berikut : bila air ketuban banyak
dan mengandung mekonium verniks dan mengandung mekonium verniks maka diagnosis
dengan inspeksi mudah ditegakan, tapi bila cairan keluarr sedikit maka
diagnosis harus ditegakan pada :
1.
Anamnesa
: kapan keluar cairan, warna, bau, adakah partikel-partikel di dalam cairan
(lanugo serviks).
2.
Inpeksi
: bila fundus di tekan atau bagian terendah digoyangkan, keluar cairan dari
ostium uteri dan terkumpul pada forniks posterior.
3.
Periksa
dalam : ada cairan dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
4.
Pemeriksaan
laboratorium :
Kertas
lakmus : reaksi basa (lakmus merah berubah menjadi biru) mikroskopik :
tampak lanugo, verniks kaseosa (tidak selalu dikerjakan )
5.
Pemeriksaan
penunjang (Ababi, 2010).
I. Komplikasi
1.
Ibu
a)
Infeksi
pada ibu yang disebabkan oleh bakteri yang secara spesifik permulaan berasal
dari vagina, anus, atau rectum dan menjalar ke uterus.
b)
Gagalnya
persalinan normal yang diakibatkan oleh tidak adanya kemajua persalinan sehigga
meningkatkan insiden seksio sesarea.
c)
Meningkatnya
angka kematian pada ibu. (Sarwono, 2017)
2.
Bayi
a.
Hipoksia
dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi
oligihidramion yang menekan tali pusat sehingga terjadi asfiksia atau hipoksia.
b.
Persalinan
prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul
dengan persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan
aterm 90% terjadi pada 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara
28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu
persalinan dalam 1 minggu.
c.
Sindrom
deformitas janin
Ketuban pecah dini menyebabkan pertumbuhan
janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin.
d.
Peningkatan
morbiditas neonatal karena prematuritas.
(Sarwono, 2017).
J. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
ketuban pecah dini dibagi pada kehamilan aterm, kehamilan preterm, serta
dilakukan induksi, pada ketuban pecah dini yang sudah inpartu. (Ababi, 2010).
1.
Ketuban
pecah dengan kehamilan aterm
Penatalaksanaan
KPD pada kehamilan aterm yaitu : diberi antibiotika, observasi suhu rektal
tidak meningkat, ditunggu 24 jam, bila belum ada tanda- tanda inpartu dilakukan
terminasi. Bila saat datang sudah lebih dari 24 jam, tidak adaa tanda – tanda
inpartu dilakukan terminasi.
2.
Ketuban
pecah dini dengan kehamilan prematur
a.
EFW
(Estimate Fetal Weigt) <1500 gram yaitu pemberian ampicilin 1 gram/ hari
tiap 6 jam, IM/IV selamaa 2 hari dan getamicine 60-80 mg tiap 8-12 jam sehari
selama 2 hari, pemberian kotikosteroid untuk merangsang maturitas paru
(betamethasone 12 mg, IV, 12xselang 24 jam ), melakukan observasi 2x24 jam
kalau belum inpartu segera terminasu, melakukan obsevasi suhu rektal tiap 3 jam
bila ada kecenderungan meningkat > 37,6oc segera terminasi.
b.
EFW
(Estimate Fetal Weight) > 1500 gram yaitu melakukan observasi 2x24 jam,
melakukan observasi suhu rectal tiap 3 jam, pemberian antibiotika/
kortikosteroid, pemberian ampiciline 1 gram/ hari tiap 6 jam, IM/IV selama 2
hari dan gentamycine 60-80 mg tiap 8-12 jam sehari selama 2 hari, pemberian
kortikosteroid untuk merangsang meturasi paru (betamethasone 12 mg, IV,
2xselang 24 jam ), melakukan IV selama observasi tidak dilakukan, kecuali ada
his/inpartu, bila suhu rektal meningkat >37,6oc segera terminasi,
bila 2x24 jam cairan tidak keluar, USG: bagaimana jumlah air ketuban: bila
jumlah air ketuban cukup, kehamilan dilanjutkan, perawatan ruangan sampai
dengan 5 hari, bila jumlah air ketuban minimal segera terminasi, bila
konsevatif sebelum pulang penderita diberi nasehat seperti kembali ke RS bila ada tanda- tanda demam atau keluar
cairan lagi (Ababi, 2010).
Comments
Post a Comment