Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

MAKALAH KEHAMILAN
EKTOPIK TERGANGGU
A. Definisi
Kehamilan ektopik adalah
salah satu komplikasi kehamilan di mana ovum yang sudah dibuahi menempel di
jaringan yang bukan dinding rahim. (Rustam, 2003)
Kehamilan ektopik adalah
kehamilan yang terjadi di luar kavum uteri.Sering disebut juga kehamilan
ekstrauterin. Kurang tepat, karena kehamilan pada cornu uteri atau serviks uteri
(intrauterin) juga masih termasuk sebagai kehamilan ektopik. (Cunningham,
2001)
Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil
konsepsi berimplantasi, tumbuh dan berkembang di luar endometrium kavum uteri. (Anthonius,
2001)
Dari ketiga definisi diatas dapajt disimpulkan bahwa
kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil konsepsi berimplantasi,
tumbuh dan berkembang di luar endometrium kavum uteri. Bila kehamilan tersebut
mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut kehamilan ektopik
terganggu. Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan ektopik yang terganggu,
dapat terjadi abortus atau pecah dan hal ini berbahaya bagi wanita tersebut.
B.
Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki,
tetapi masih belum diketahui secara jelas. Beberapa faktor yang berisiko untuk
terjadinya kehamilan ektopik:
1.
Faktor mekanis
Hal-hal yang mengakibatkan
terhambatnya perjalanan ovum yang dibuahi ke dalam kavum uteri, antara lain:
·
Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan
aglutinasi silia lipatan mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau
pembentukan kantong-kantong buntu. Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai
akibat infeksi juga menyebabkan implantasi hasil zigot pada tuba falopii.
·
Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/
infeksi pasca nifas, apendisitis, atau endometriosis, yang menyebabkan
tertekuknya tuba atau penyempitan lumen.
·
Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum,
ostium asesorius dan hipoplasi. Namun ini jarang terjadi.
·
Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau
terkadang kegagalan usaha untuk memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi.
·
Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan
adanya benjolan pada adneksa.
·
Penggunaan IUD (Intra Utery Device).
2. Faktor
Fungsional
·
Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus
perkembangan duktus mulleri yang abnormal.
·
Refluks menstruasi.
·
Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar
hormon estrogen dan progesteron.
3. Peningkatan
daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.
4. Hal lain,
seperti: riwayat kehamilan ektopik terganggu dan riwayat abortus induksi
sebelumnya.
C. Patofisiologi
Proses implantasi ovum di tuba pada
dasarnya sama dengan yang terjadi di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi
secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara kolumnar telur bernidasi pada ujung atau sisi jonjot
endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya
vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan direabsorbsi. Pada nidasi
interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah tempat
nidasi tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang
menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua
di tuba malahan kadangkadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping
dan masuk kedalam otototot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah.
Perkembangan janin selanjutnya
tergantung dari beberapa faktor, yaitu; tempat implantasi, tebalnya dinding
tuba dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas. Di bawah pengaruh hormon esterogen dan
progesteron dari korpus luteum graviditi dan tropoblas, uterus menjadi besar
dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua. Beberapa perubahan pada
endometrium yaitu; sel epitel membesar, nukleus hipertrofi, hiperkromasi,
lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang abnormal
mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi
seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium
secara keseluruhan disebut sebagai reaksi AriasStella. Setelah janin mati,
desidua dalam uterus mengalami degenerasi kemudian dikeluarkan secara utuh atau
berkepingkeping. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu
berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degeneratif. Sebagian
besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu.
Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh
secara utuh seperti dalam uterus.
D.
Tanda Gejala
Pada minggu-minggu awal, kehamilan ektopik memiliki tanda-tanda seperti
kehamilan pada umumnya, yaitu terlambat haid, mual dan muntah, mudah lelah, dan
perabaan keras pada payudara.1-4
1.
Tanda
a.
Ketegangan abdomen
·
Rasa tegang abdomen yang menyeluruh atau terlokalisir
terdapat pada 80% kasus kehamilan ektopik terganggu
·
Nyeri goyang servik (dan ketegangan pada adneksa)
terdapat pada 75% kasus kehamilan ektopik.
b.
Masa adneksa ─ Massa unilateral pada adneksa
dapat diraba pada ⅓ sampai ½ kasus KE. Kadang-kadang dapat ditemukan adanya
masa pada cavum Douglassi (hematocele)
c.
Perubahan pada uterus ─ Terdapat
perubahan-perubahan yang umumnya terjadi pada kehamilan normal seperti ada
riwayat terlambat haid dan gejala kehamilan muda
Apabila seorang wanita dengan kehamilan ektopik mengalami gejala diatas,
maka dikatakan bahwa wanita tersebut mengalami Kehamilan Ektopik Terganggu.
Apabila anda merasa hamil dan mengalami gejala-gejala seperti ini maka segera
temui dokter anda. Hal ini sangat penting karena kehamilan ektopik dapat
mengancam nyawa apabila ruptur (pecah) dan menyebabkan perdarahan di dalam.
2. Gejala
a.
Nyeri : Nyeri panggul atau abdomen hampir
selalu terdapat.
·
Nyeri dapat bersifat unilateral atau bilateral ;
terlokalisir atau menyebar.
·
Nyeri subdiafragma atau nyeri bahu tergantung ada atau
tidaknya perdarahan intra-abdominal.
b.
Perdarahan : Perdarahan uterus abnormal
(biasanya berupa bercak perdarahan ) terjadi pada 75% kasus yang merupakan
akibat dari lepasnya sebagian desidua.
c.
Amenorea : Amenorea sekunder tidak selalu
terdapat dan 50% penderita KE mengeluhkan adanya spotting pada saat haid yang
dinanti sehingga tak jarang dugaan kehamilan hampir tidak ada.
d.
Sinkope : Pusing, pandangan berkunang-kunang
dan atau sinkope terjadi pada 1/3 sampai ½ kasus KET.
e.
“Desidual cast” : 5 – 10% kasus kehamilan ektopik mengeluarkan
”desidual cast” yang sangat menyerupai hasil konsepsi.
E.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada kasus kehamilan ektopik diantaranya adalah pemeriksaan kada
hormon, ultrasonography, dan dilatation &
curettage (D&C).
1.
Kadar serum β-Hcg
Kadar β-hCG berkorelasi dengan ukuran dan usia gestasi
pertumbuhan embrionik normal. Pada kehamilan normal, kadar β-hCG menjadi dua
kali lipat setiap 48-72 jam sampai mencapai kadar 10.000-20.000mIU/mL. Pada
kehamilan ektopik peningkatan kadar β-hCG tersebut kurang dari normal.
2.
Kadar Progesteron
Kadar progesteron adalah modalitas diagnostik lain
yang bisa digunakan untuk membedakan gestasi abnormal dari kehamilan
intrauterin yang sehat. Berbeda dengan kadar β-hCG, kadar progesteron tidak
bergantung pada usia gestasional. Kadar progesteron relatif konstan selama
trimester pertama kehamilan, baik normal maupun abnormal.
3.
Ultrasonografi (USG)
Modalitas USG mungkin menjadi salah satu modalitas
terpenting untuk mendiagnosis kehamilan ektopik. Sebetulnya pemeriksaan dengan
USG ini lebih tepatnya ditujukan untuk mengkonfirmasi kehamilan intrauterin.
Visualisasi kantong kehamilan intrauterin dengan atau tanpa aktivitas jantung
janin adalah cara yang adekuat untuk mengeksklusi adanya kehamilan ektopik. USG
dapat dilakukan secara abdominal maupun transvaginal. [11]
4.
Dilatasi dan Kuretase (D&C)
Walaupun sekarang ini metode dilatation & curetage (D&C) sudah jarang
digunakan karena sudah luasnya ketersediaan USG, metode ini dapat menjadi opsi
untuk menyingkirkan diagnosis kehamilan ektopik dengan cara menegakan diagnosis
kehamilan intrauterin. Jika jaringan yang didapatkan positif mengandung villi
korialis baik pada percobaan pengapungan jaringan pada saline maupun pada
pemeriksaan histologis, itu artinya terdapat kehamilan intrauterin.
5.
Kuldosintesis
Kuldosintesis adalah suatu metode pemeriksaan untuk
mengetahui apakah terdapat darah di dalam kavum Douglas. Metode ini dilakukan
dengan cara memasukan jarum menembus fornix posteror vagina ke cul-de-sac dan
mencoba mengaspirasi darah. Namun, walaupun metode ini cukup sederhana, cepat,
dan tidak mahal, penggunaannya saat ini sudah jarang dilakukan karena tingginya
hasil positif palsu (10-14%). Tingginya nilai positif palsu ini dapat
disebabkan oleh korpus luteum yang ruptur, abortus inkomplit, dan menstruasi retrograde.
6.
Laparoskopi
Laparoskopi menjadi pilihan terakhir yang
digunakan sebagai alat bantu diagnostik untuk kehamilan ektopik apabila hasil
penilaian metode diagnostik yang lain meragukan. Pemakaian rutin pemeriksaan
laparoskopi pada semua pasien yang diduga mengalami kehamilan ektopik memiliki
risiko dan menambah biaya yang tidak diperlukan walaupun sebenarnya laparoskopi
memang pemeriksaan standar diagnostik.
F.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kehamilan
ektopik tergantung pada beberapa hal, antara lain lokasi kehamilan dan tampilan
klinis. Sebagai contoh, penatalaksanaan kehamilan tuba berbeda dari
penatalaksanaan kehamilan abdominal. Selain itu, perlu dibedakan pula penatalaksanaan kehamilan ektopik yang
belum terganggu dari kehamilan ektopik terganggu. Tentunya penatalaksanaan
pasien dengan kehamilan ektopik yang belum terganggu berbeda dengan
penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik terganggu yang menyebabkan
syok.
Penatalaksanaan ekspektasi
didasarkan pada fakta bahwa sekitar 75% pasien pada kehamilan ektopik akan
mengalami penurunan kadar β-hCG. Penurunan kadar β-hCG diobservasi ketat dengan
penatalaksanaan ekspektasi, kehamilan ektopik dini dengan kadar stabil atau cenderung
turun. Oleh sebab itu, tidak semua pasien dengan kehamilan ektopik dapat
menjalani penatalaksanaan seperti ini. Penatalaksanaan ekspektasi dibatasi pada
keadaan-keadaan berikut: 1) kehamilan ektopik dengan kadar β-hCG yang menurun,
2) kehamilan tuba, 3) tidak ada perdarahan intraabdominal atau ruptur, dan 4)
diameter massa ektopik tidak melebihi 3.5 cm. Sumber lain menyebutkan bahwa
kadar β-hCG awal harus kurang dari 1000 mIU/mL, dan diameter massa ektopik
tidak melebihi 3.0 cm. Dikatakan bahwa penatalaksanaan ekspektasi ini efektif
pada 47-82% kehamilan tuba.1,6
Pada penatalaksanaan medis
digunakan zat-zat yang dapat merusak integritas jaringan dan sel hasil
konsepsi. Kandidat-kandidat penerima tatalaksana medis harus memiliki
syarat-syarat berikut ini: keadaan hemodinamik yang stabil, bebas nyeri perut
bawah, tidak ada aktivitas jantung janin, tidak ada cairan bebas dalam rongga
abdomen dan kavum Douglas, harus teratur menjalani terapi, harus menggunakan kontrasepsi yang efektif selama 3-4
bulan pascaterapi, tidak memiliki penyakit-penyakit penyerta, sedang tidak
menyusui, tidak ada kehamilan intrauterin yang koeksis, memiliki fungsi ginjal,
hepar dan profil darah yang normal, serta tidak memiliki kontraindikasi
terhadap pemberian methotrexate. Berikut ini akan dibahas beberapa metode
terminasi kehamilan ektopik secara medis.
1.
Methotrexate
2.
Actinomycin
3.
Larutan Glukosa Hiperosmolar
G.
Kewenangan Bidan
Bagi setiap wanita hamil yang diduga bidan
mengalami kehamilan ektopik atau ketika tidak dapat dipastikan apakah kehamilan
berlangsung di dalam rahim dan wanita tersebut menunjukan tanda dan gejala kehamilan
ektopik, maka penatalaksanaan medis lebih lanjut diperlukan.
Bidan dapat melakukan pemeriksaan fisik
dan pengkajian riwayat kehamilan serta evaluasi laboratorium, termasuk
pemeriksaan ultrasonografi. Jika kemungkinan kehamilan ektopik tidak dapat disingkirkan,
maka bidan harus berkonsultasi dengan dokter (Varney, dkk, 2006).
H. Kesimpulan
Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil
konsepsi berimplantasi, tumbuh dan berkembang di luar endometrium kavum uteri.
Bila kehamilan tersebut mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut
kehamilan ektopik terganggu.
Kewenangan bidan yaitu dapat melakukan
pemeriksaan fisik dan pengkajian riwayat kehamilan serta evaluasi laboratorium,
termasuk pemeriksaan ultrasonografi. Jika kemungkinan kehamilan ektopik tidak
dapat disingkirkan, maka bidan harus berkonsultasi dengan dokter (Varney, dkk, 2006).
I. Dafar
Pustaka
1. Cunningham
FG. Ectopic Pregnancy. Williams Obstetrics. 21st ed. New York: McGraw-Hills.
2001.p.883-910.
3.
Rustam MPH. Sinopsis Obstetri. Jilid 1. Jakarta:
EGC.2003.h.226-35.
4. Wiknjosastro
H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Kehamilan Ektopik. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka. 2002.h. 323-338.
5. Bader
TJ. Ectopic Pregnancy. Ob/Gyn Secrets. 3rd ed. Philadelphia: Elsevier-Mosby.2005.p.109.
6. Lozeau
AM, Potter B. Diagnosis and Management of Ectopic Pregnancy. American Academy
of Family Physician.2005.p.1707-14
Comments
Post a Comment