Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

DBD DALAM KEHAMILAN,
PERSALINAN DAN NIFAS
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue yang dapat menyerang pada anak dan dewasa dengan gejala utama
demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. DBD
adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti.
Penyakit
demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini
ditularkan orang yang dalam darahnya terdapat virus dengue. Orang ini bisa
menunjukkan gejala sakit, tetapi bisa juga tidak sakit, yaitu jika mempunyai
kekebalan yang cukup terhadap virus dengue. Jika orang digigit
nyamuk aedes aegypti maka virus akan masuk bersama darah yang dihisapnya.
Didalam tubuh nyamuk itu, virus dengue akan berkembang dan menyebar ke seluruh
bagian nyamuk. Sebagian besar virus tersebut berada pada kelenjar liur yang
terdapat pada alat tusuk nyamuk. Sehingga waktu nyamuk tersebut menggigit orang
lain, maka bersamaan dengan air liur nyamuk masuk kedalam darah, virus dengue
dipindahkan kepada orang lain.
Gejala
utama dari demam berdarah dengue adalah demam yang mendadak tinggi (>39oC),
terus menerus selama 2-7 hari, kemudian turun dengan cepat dan
biasanya diikuti dengan nyeri kepala, menggigil, lemas, nyeri di belakang mata,
nyeri otot dan tulang, ruam kulit (kulit kemerahan), anoreksia,
mual, muntah.
B. Penyebab DBD
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan
oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti pada pembuluh darah. Penularan DBD umumya melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus
yang biasanya hidup di kebun-kebun.
Ciri-ciri nyamuk tersebut adalah :
1. Penularan DBD umumya melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang biasanya
hidup di kebun-kebun. Tubuhnya belang hitam putih.
2. Menggigit pada siang hari
3. Berkembangbiak pada air bersih dan jernih yang tidak
mengalir
C. Penegakan Diagnosis
Demam
dengue pada kehamilan menjadi perhatian penting dalam kesehatan. Hal ini
dikarenakan terajdi perubahan fisiologi selama kehamilan, sehingga infeksi
dengue dapat bermanifestasi lebih buruk pada wanita hamil. Wanita hamil dengan
infeksi dengue harus mendapatkan terapi yang adekuat disertai dengan pengawasan
ketat dan monitor berkala. Keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan cairan
dengan terjadinya kelebihan cairan serta tanda-tanda kebocoran plasma perlu
diawasi secara ketat oleh dokter.
Gejala-gejala
klinis infeksi dengue pada ibu hamil sama seperti pada dewasa normal lainnya. Beberapa gejala
klinis yang dapat dialami oleh ibu hamil adalah demam, nyeri kepala, nyeri ulu
hati dan muntah. Beberapa pasien dapat datang dengan demam tinggi dan mendadak
yang disertai nyeri retro orbita, atralgia, myalgia atau bercak-bercak di
kulit. Pasien juga dapat datang ke pelayanan kesehatan dengan tanda-tanda
perdarahan seperti petekie, epistaksis, perdarahan gusi, atau hematemesis.
Namun, seringkali demam dengue pada kehamilan sulit dibedakan dengan penyulit
kehamilan lainnya, seperti Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme,
low platelet) dan kehamilan dengan penyakit infeksi tropis lain.
Pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan peningkatan suhu, manifestasi perdarahan dan pemeriksaan torniquet
positif. Tanda-tanda lain yang harus diketahui dokter adalah tanda terjadinya
dehidrasi pada pasien.
Pada
pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan tanda hemokonsentrasi ditandai dengan
peningkatan hematokrit, trombositopenia atau leukopenia. Pada fasilitas yang menunjang, pemeriksaan
antibodi IgM dan IgG dengue dapat membantu penegakan diagnosis.
D. Efek Infeksi Dengue pada
Kehamilan
Pada
sebuah laporan kasus serial di Sri Lanka yang melibatkan 26 pasien hamil dengan
infeksi dengue, didapatkan bahwa hanya ada 1 pasien trimester pertama yang
mengalami infeksi dengue (3,8%). Selebihnya, 2 pasien pada trimester kedua
(7,7%), 20 pasien trimester ketiga (77%) dan 3 pasien post partum (11,5%).
Demam
dengue pada kehamilan dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kelahiran
prematur dan berat badan lahir rendah. Sebuah studi retrospektif yang
melibatkan 53 subjek studi melaporkan bahwa infeksi dengue pada kehamilan dapat
mengakibatkan persalinan prematur (41%), perdarahan hebat saat persalinan
(9,3%), dan hematoma retroplasenta (1,9%). Luaran pada janin meliputi
prematuritas (20%), kematian janin intrauterin (3,8%), late miscarriage (3,8%),
akut fetal distress (7,5%), transmisi maternal-fetal (5,6%), dan
kematian neonatus (1,9%). Namun, perlu diingat bahwa jumlah subjek pada penelitian
ini hanya sedikit.
Dalam
beberapa kasus dapat terjadi syok. Pada bayi yang lahir tanpa kelainan dari ibu
yang menderita infeksi dengue selama kehamilan, dapat dijumpai serum antibodi
IgG serum yang
progresif hingga 8-12 bulan.
Hal
lain yang perlu diperhatikan adalah membedakan infeksi dengue dengan penyakit
lain yang dapat muncul pada kehamilan, seperti Sindrom HELLP. Pada Sindrom
HELLP biasanya tidak ditemukan demam. Perdarahan dapat terjadi bila sudah
terjadi manifestasi DIC (disseminated intravascular coagulation). Selain
itu, pada Sindrom HELLP jarang ditemukan perubahan pada leukosit dan dapat
terjadi penurunan hematokrit. Selain itu, dapat pula terjadi peningkatan enzim
hati disertai dengan hemolisis. Baik pada Sindrom HELLP dan infeksi dengue
dapat terjadi trombositopenia.
Salah
satu permasalahan yang dapat terjadi pada kasus demam dengue dalam kehamilan
adalah kesulitan untuk mendiagnosis kebocoran plasma. Kegagalan observasi
kebocoran plasma dan tanda-tanda awal syok dapat mengakibatkan pemanjangan syok
dan menyebabkan perdarahan masif disertai kegagalan multi organ. Pada laporan
kasus di Thailand ditemukan bahwa wanita hamil biasanya menunjukkan hematokrit
yang rendah. Kadar hematokrit yang rendah dan peningkatan kadar hematokrit pada
kehamilan dapat disebabkan oleh kebocoran plasma atau perubahan fisiologi
normal pada kehamilan. Selain itu, pembesaran uterus juga menyulitkan untuk
melakukan pemeriksaan kebocoran plasma secara klinis (misalnya pada asites atau
efusi pleura). Sehingga,
pemeriksaan rutin berupa USG abdomen untuk memeriksan cairan bebas di rongga
abdominal dan foto thoraks untuk memeriksa cairan bebas di rongga pleura dapat
dipikirkan bila terdapat kemungkinan kebocoran plasma.
E. Penatalaksanaan Demam
Dengue pada Ibu Hamil
Penatalaksanaan
demam dengue pada ibu hamil terbilang rumit, karena dokter harus memikirkan keselamatan
tidak hanya ibu tapi juga janin yang dikandungnya. Demam dengue masih menjadi
masalah utama di negara tropis seperti Indonesia. Data WHO memperkirakan
terjadi 50 hingga 100 juta infeksi dengue per tahun di seluruh dunia. Selain
itu juga, diperkirakan sebanyak 500.000 jiwa mengalami demam berdarah dengue
(DBD) dan 20.000 kematian akibat infeksi dengue. Data di Indonesia menyebutkan
bahwa terdapat sekitar 94.564 kasus infeksi dengue di Indonesia sejak tahun
2001 hingga 2011 dengan kematian per tahunnya berkisar 472 hingga 1446 jiwa.
Penatalaksanaan
demam dengue pada ibu hamil sebenarnya hampir sama dengan penatalaksanaan pada
orang dewasa umumnya. Pada kasus infeksi dengue tanpa penyulit, penatalaksanaan biasanya
dilakukan secara konservatif. Ibu hamil dengan infeksi dengue sebaiknya dirawat
inapkan di tempat terpisah dari ibu hamil lainnya. Penatalaksanaan konservatif
dilakukan pada pasien dengan melakukan tirah baring, pemberian diet lunak,
disertai dengan konsumsi air 1,5 hingga 2,5 liter dalam sehari. Bila pasien
mengalami mual muntah hebat, pemberian cairan oral harus dibatasi. Sisa
kekurangan cairan dapat diberikan secara intravena dengan dosis 100 cc/jam cairan salin
normal.
Dokter
juga dapat memberikan
obat-obat simptomatis untuk mengurangi gejala pasien. Paracetamol dapat
diberikan guna mengatasi demam. Pemberian antibiotik tidak diindikasikan secara
rutin. Antibiotik hanya diberikan bila infeksi dengue terbukti disertai dengan
infeksi sekunder bakterial. Transfusi dan pemberian cairan agresif dilakukan
berdasarkan indikasi. Biasanya transfusi trombosit dilakukan bila jumlah
trombosit kurang dari 20.000/mm3 atau terdapat manifestasi perdarahan spontan.
Pada perawatan harus dilakukan pemantauan berkala pada ibu hamil untuk
mengawasi tanda vitalnya. Selain itu, perlu juga dilakukan pemeriksaan
hemoglobin dan hematokrit, serta pemantauan tanda gawat janin berkala. Periode
kritis umumnya pada 24-48 jam dari onset gejala.
Pada
panduan WHO tahun 2011 disebutkan bahwa ibu hamil termasuk pasien dengue dengan
risiko tinggi yang dapat menyebabkan kompleksitas penatalaksaanaan. Pasien ibu
hamil yang menderita demam dengue harus dirawat inap. Pada saat perawatan,
pasien harus mendapatkan terapi cairan. Pengambilan darah dilakukan untuk
mendapatkan data hematokrit awal pasien. Terapi cairan dilakukan dengan
memberikan cairan isotonis seperti salin normal atau ringer laktat dengan dosis
5-7 ml/kgBB/jam diberikan selama 1-2 jam. Kemudian cairan diturunkan menjadi
3-5 ml/kgBB/jam selama 2-4 jam, dan akhirnya diturunkan menjadi 2-3
ml/kgBB/jam, sesuai dengan respons
pasien.
Selama
pemberian terapi cairan, pasien harus dalam pemantauan ketat berkala.
Pemeriksaan hematokrit ulang dapat dilakukan untuk memantau respons terhadap
terapi cairan. Bila hematokrit tetap atau hanya sedikit meningkat, dosis cairan
tetap dipertahankan 2-3 ml/kgBB/jam. Bila terjadi peningkatan hematokrit yang
cepat atau terjadi perburukan tanda vital, dosis cairan dapat ditingkatkan
menjadi 5-10 ml/kgBB/jam selama 1-2 jam. Setelah pemberian cairan, harus
dilakukan evaluasi ulang terhadap tanda-tanda vital pasien. Pemberian cairan
pada ibu hamil harus mendapat perhatian khusus dari dokter. Pembesaran uterus
yang terjadi selama kehamilan menyebabkan penurunan toleransi akumulasi cairan
yang dapat terjadi pada tubuh ibu hamil. Hal ini menyebabkan dokter harus dapat
memantau pemberian cairan secara ketat agar tidak terjadi komplikasi dari
kelebihan pemberian cairan.
Demam
dengue bukanlah indikasi terminasi kehamilan. Sebisa mungkin, ibu hamil dengan
infeksi dengue ditatalaksana secara konservatif. Apabila terminasi kehamilan
tidak dapat dihindari, komplikasi perdarahan harus diantisipasi. Persalinan
harus dilakukan dengan meminimalisir trauma. Selain daripada itu, harus
dipastikan bahwa plasenta telah keluar lengkap dan tidak ada sisa plasenta
tertinggal di rahim. Apabila terjadi perdarahan yang signifikan, transfusi
darah dengan whole blood atau fresh packed red cells harus segera
dilakukan. Oxytocin harus diberikan dengan dosis sesuai pedoman obstetri untuk
mencegah perdarahan post partum. Neonatus
harus dipantau secara ketat agar transmisi vertikal dapat didiagnosis sedini
mungkin.
Dokter
harus dapat mencurigai ibu hamil mengalami infeksi dengue dengan tanda dan
gejala klinis yang dikeluhkan pasien. Kecurigaan infeksi dengue harus semakin
besar bila terjadi peningkatan kasus dengue atau ibu baru pulang dari daerah
endemik dengue. Pemeriksaan penunjang dapat membantu menegakkan diagnosis. Ibu
dengan infeksi dengue harus dirawat inapkan untuk mendapatkan pengawasan ketat, terutama ibu hamil
pada fase demam.
Terapi
cairan menjadi modalitas utama pada manajemen infeksi dengue pada ibu hamil.
Bila intake secara oral memungkinkan, maka pemberian cairan dapat dilakukan
secara oral. Pada infeksi dengue dengan tanda bahaya atau intake oral sulit
karena ibu mual muntah, maka dilakukan pemberian cairan intravena sesuai dengan
pedoman penatalaksanaan dengue oleh WHO. Pemantauan pada kecukupan cairan dan
tanda-tanda kebocoran plasma harus dilakukan secara ketat.
Infeksi
dengue bukanlah indikasi terminasi
kehamilan. Apabila terminasi tidak dapat dihindari, makan risiko perdarahan
harus sudah diantisipasi, dengan cara menyiapkan darah yang diperlukan untuk
transfusi dan pencegahan perdarahan post partum. Neonatus yang lahir dari ibu
dengan infeksi dengue harus dipantau secara ketat agar transmisi vertikal dapat
didiagnosis sedini mungkin.
F. Efek Demam Dengue pada Proses
Persalinan
Ibu hamil yang
terkena demam dengue berisiko mengalami komplikasi yang mungkin terjadi
dalam proses persalinan, seperti:
1.
Preeklampsia
2.
Persalinan prematur
3.
Harus melahirkan dengan bedah Caesar.
4.
Perdarahan yang mungkin memerlukan transfusi
darah.
5.
Perdarahan pasca persalinan.
G. Dampak Demam Dengue pada
Bayi
Jika ibu hamil
terkena demam dengue, beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada bayinya adalah:
1.
Lahir dengan berat badan rendah.
2.
Lahir prematur.
3.
Menderita demam dengue dalam dua minggu pertama
kehidupannya. Hal ini bisa terjadi jika ibu hamil terkena demam dengue saat
sudah mendekati persalinan.
4.
Meninggal dalam kandungan.
H. DBD Pada Ibu Nifas
Ketika
ibu nifas terkena DBD, ibu pasti harus memgkonsumsi sejumah obat, mungkin akan
muncul pertanyaan apakah hal tersebut berpengaruh terhadap ASI ibu tersebut. Pada
dasarnya aman, alasannya tidak ada bukti ilmiah adanya penularan virus dengue
melalui ASI. Ibu dengan penyakit dengue dapat tetap menyusui. Apalagi ibu yang
sakit akan memiliki antibodi terhadap infeksi dengue, sehingga justru
memberikan perlindungan infeksi tsb pada bayi dengan menyusui.
Selain
itu, untuk mengakali nafsu makan yang lagi nggak stabil, ibu menyusui yang
sedang DBD tidak ada pantangan makanan dan minuman. Supaya produksi ASI tetap
bisa memenuhi kebutuhan si kecil. Asupan makanan ibu, nggak hanya bergantung
sama infus saja.
Adapun,
beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan ibu saat menyusui ketika terkena demam
berdarah:
1.
Pastikan untuk selalu berkomunikasi dengan
dokter. Informasikan bahwa ibu sedang menyusui agar dokter dapat memberikan
obat-obatan yang aman untuk menyusui.
2.
Biasanya saat sakit, kita jadi malas makan atau
minum. Demi nutrisi optimal, sebaiknya tetap perhatikan asupan nutrisi kita.
3.
Perhatikan juga kondisi ruangan rumah sakit.
Perlu diingat, bayi rentan terhadap infeksi (Makanya di berbagai rumah sakit
pasti ada aturan balita dilarang masuk). Selain itu, ibu yang sakit DBD perlu
mendapatkan istirahat cukup. Jika memang memungkinkan untuk memberikan ASIP,
lebih baik berikan ASIP untuk bayi di rumah. Pompa ASI secara rutin untuk
mempertahankan produksi.
4.
Tetap rutin mengosongkan payudara setiap harinya
agar mempertahankan produksi ASI, informasikan dokter kalau kita busui, jaga
asupan nutrisi yang mencukupi, istirahat cukup.
Merujuk
pada poin 3 & 4, ini artinya bayi akan kecil kemungkinan menginap bersama
anda di rumah sakit. Secara terlalu berisiko terpapar virus atau bakter yang
“berkeliaran” di sekitar lingkungan RS. Jadi jangan lupa sediakan alat pumping
dan perlengkapan lainnya untuk memerah ASI, di kamar tempat ibu dirawat. Sebaiknya
pilih alat pumping yang elektrik. Kalau manual, sama saja akan menguras tenaga ibu
nifas. Jika terpaksa memberikan ASIP pada bayi yang ada di rumah, pastikan ASI
berada di wadah yang proper, saat pengiriman ke rumah untuk menjaga
kesegarannya, atau bisa juga menggunakan kurir khusus ASIP.
I. Cara Mengatasi Demam Dengue
Hingga saat
ini, belum ada obat-obatan khusus yang dapat menyembuhkan penyakit demam
dengue. Pengobatan yang diberikan hanya bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi, seperti
syok akibat perdarahan berat.
Demam dengue
akan sembuh dengan sendirinya, berkat perlawanan dari sistem kekebalan tubuh.
Namun untuk membantu mempercepat pemulihan demam dengue, ada beberapa cara yang dapat
dilakukan, seperti:
1.
Banyak minum air putih untuk menghindari
dehidrasi.
2.
Memperbanyak istirahat.
3.
Minum obat penurun panas, seperti paracetamol.
Saat hamil, hindari mengonsumsi ibuprofen atau aspirin untuk menurunkan demam,
karena obat-obatan tersebut berisiko menimbulkan efek samping yang berbahaya
bagi ibu hamil dan
4.
Ibu hamil tidak boleh minum
sembarang obat. Apapun jenis obatnya, sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter.
Apabila demam dengue tidak mengalami
perbaikan dalam waktu 24 jam atau jika muncul tanda-tanda DBD, segeralah
periksakan ke dokter. Kondisi ini memerlukan penanganan di rumah sakit, karena
berisiko tinggi menimbulkan komplikasi yang berbahaya pada ibu hamil.
Agar terhindar dari demam dengue saat hamil,
lakukanlah hal-hal berikut ini:
1.
Oleskan obat antinyamuk meski berada di dalam
ruangan.
2.
Gunakan pakaian berlengan panjang, kaos kaki,
dan celana atau rok panjang yang menutupi tubuh.
3.
Bersihkan tempat penampungan air di rumah secara
rutin, dan buang sampah-sampah yang dapat menampung air dan jentik nyamuk.
4.
Tutup tempat penampungan air di rumah.
5.
Pasang kasa antinyamuk di pintu dan jendela
rumah, agar nyamuk tidak masuk ke dalam rumah.
6.
Gunakan kelambu saat tidur.
Comments
Post a Comment