Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Hubungan Sumber Informasi Remaja Terhadap Pengetahuan
Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa Kelas X SMK XXX tahun 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sustainable
Development Goals (SDGs) merupakan
sasaran pembangunan millennium berkelanjutan yang berisikan target untuk
mencapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada tahun 2030. Salah
satu Goals pada SDGs yang berhubungan
dengan kesehatan adalah tujuan ke 3 yaitu menggalakan hidup sehat dan mendukung
kesejahteraan untuk semua usia. Beberapa target pada tujuan ke 3 SDG’s
diantaranya mengakhiri epidemic AIDS dan penyakit menular seksual pada tahun
2030, memperkuat pencegahan dan perawatan penyalahgunaan narkotika dan alkohol yang membahayakan
(Depkes, 2017)
Sejak tahun 2000 infeksi baru HIV turun
sebesar 35%. Sementara kasus kematian sehubungan AIDS di dunia juga mengalami
penurunan sebesar 24%, Dalam laporannya, WHO
mencatat sejak AIDS ditemukan hingga akhir 2014 terdapat 34 juta orang
meninggal dan di tahun 2014 tercatat sebesar 1,2 juta orang meninggal karena
virus tersebut. Hingga akhir 2014 jumlah penderita orang dengan HIV dan AIDS
(ODHA) di dunia sebesar 36,9 juta orang. Sekitar 170.000 sampai 210.000 dari
220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Perkiraan prevalensi keseluruhan
adalah 0,1% di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua,
di mana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara penularan utamanya
adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung.
Jumlah kasus kematian akibat AIDS di
Indonesia diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama
terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan
pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan
pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria.
Sejak 30 Juni 2007, 42% dari kasus AIDS
yang dilaporkan ditularkan melalui hubungan heteroseksual dan 53% melalui
penggunaan obat terlarang. (Depkes,
2009)
Masa remaja merupakan salah
satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau
peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologi,
perubahan psikologi, dan perubahan sosial. Di sebagian masyarakat dan budaya
masa remaja pada umumnya di mulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia
18-22 tahun. World Health Organization (WHO) remaja merupakan individu yang
sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsur-angsur mencapai
kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari jiwa kanak-kanak menjadi
dewasa, dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif
mandiri.
Remaja akan beradaptasi dengan
perubahan tubuhnya serta belajar menerima perbedaan denga individu lain. Baik
fisik maupun ideologi. Perubahan fisik yang pesat dan perubahan hormonal
merupakan pemicu masalah kesehatan remaja serius karena timbulnya dorongan
motivasi seksual yang menjadikan remaja rawan terhadap penyakit dan masalah
kesehatan reproduksi (kespro), kehamilan remaja dengan segala kosekuensinya
yaitu hubungan seks pranikah, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), HIV/AIDS
serta narkotika (Margaretha, 2012).
Remaja menyukai sumber
informasi kesehatan reproduksi diperoleh dengan teman sebaya dan guru,
sedangkan pada perempuan menyukai sumber informasi dari orangtua, tenaga kesehatan
dan guru (Sri, 2016).
Menurut BKKBN, program kesehatan
reproduksi remaja adalah untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan,
kesadaran, sikap dan prilaku hidup reproduksi sehat bertanggung jawab melalui
advokasi, promosi, KIE, konseling dan pelayanan kepada remaja yang memiliki
permasalahan khusus. Materi kesehatan reproduksi remaja mencakup aspek
kehidupan remaja yang terkait dengan pengetahuan, sikap dan prilaku kehidupan
seksual serta berkeluarga (PKBI, 2010).
Hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukan
bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi relatif masih rendah.
Remaja perempuan yang tidak tahu tentang perubahan fisiknya sebanyak 13,3%.
Hampir separuh (47,9%) remaja perempuan tidak mengetahui kapan memiliki hari
atau masa subur. Sebaliknya dari survei yang sama, pengetahuan dari renaja
laki-laki yang mengetahui masa subur perempuan lebih tinggi (32,3%) dibanding
dengan remaja perempuan (29%). Mengenai pengetahuan remaja laki-laki tentang
mimpi basah lebih tinggi (24,4%) dibanding dengan remaja perempuan (16,8%).
Pengetahuan remaja laki-laki tentang menstruasi lebih rendah (33,7%) dibanding
dengan remaja perempuan (76,2%). (BKKBN, 2016)
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Winarni (2015) dengan judul Hubungan Sumber Informasi dengan
Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi di SMUN 1 Jetis Bantul
Yogyakarta didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan sumber informasi dengan
pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di SMUN 1 Jetis Bantul
Yogyakarta. Penelitian ini menunjukan sumber informasi remaja tentang TRIAD KRR
(SeksualitS, Napza, HIV / AIDS) 57,4% ( 27 remaja ) yang mengetahui sumber
informasi kesehatan reproduksi dan 42,6% ( 20 remaja) kurang mengetaui sumber
informasi kesehatan reproduksi.
Berdasarkan studi pendahulan yang
dilakukan di SMK XXX
pada tanggal 20 April 2019 terhadap 2 siswa yang tidak
mengetahui tentang kesahatan reproduksi remaja seperti tentang seksualitas,
napza dan HIV karena tidak mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi.
Berdasarkan uraian tersebut
maka peneliti tertarik untuk mengambil penelitian tentang pengaruh sumber
informasi remaja dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada siswa
kelas X SMK XXX.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang
diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah hubungan
antara sumber informasi remaja dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
pada siswa kelas
X SMK XXX.
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui hubungan sumber informasi remaja terhadap pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi pada kelas X SMK
XXX tahun 2019.
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Mengetahui distribusi frekuensi sumber informasi utama yang didapatkan oleh remaja
tentang kesehatan reproduksi pada kelas X SMK
XXX
2.
Mengetahui
distribusi frekuensi tingkat pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi pada kelas X SMK XXX
3.
Mengetahui
hubungan sumber informasi remaja dengan pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi pada kelas X SMK XXX.
1.4
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini akan
membahas tantang mengetahui hubungan sumber informasi remaja dengan pengetahuan
tentang kesehatan reproduksi pada kelas X SMK XXX. Karena masih adanya remaja
yang tidak mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi. Adapun populasi
dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK XXX tahun 2019. Waktu penelitian
akan dilaksanakan pada bulan April – Mei 2019. Penelitian ini menggunakan
metode survey analatik dengan
pendekatan cross sectional.
1.5
Kegunaan Penelitian
1.5.1
Kegunaan Teoritis
1.
Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai wawasan bagi institusi
pendidikan dalam proses belajar khususnya dalam metodologi riset statistik
kebidanan dan dapat juga dijadikan sumber bahan bacaan kesehatan dan metodologi
penelitian kebidanan tentang kesehatan reproduksi remaja.
2.
Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan peneliti
mengenai riset kesehatan dan khususnya tentang masalah kebidanan dan dapat
menambah pengalaman secara langsung mengenai pengetahuan remaja tentang
kesehatan reproduksi
1.5.2
Kegunaan Praktis
1.
Bagi Responden
Untuk
menambah wawasan remaja mengenai kesehatan reproduksi sehingga berkurangnya
kasus-kasus reproduksi khususnya kasus seklualitas, HIV dan Napza
2.
Bagi SMK XXX
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi untuk meningkatkan
pengetahuan siswa tentang kesehatan reproduksi remaja melalui sumber-sumber
infromasi yang bias digunakan di sekolah.
Comments
Post a Comment