Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Hubungan Pengetahuan Suami Yang Mempunyai Bayi
Tentang Bahaya Asap Rokok Di Dalam rumah Dengan kejadian ISPA di
Puskesmas XXX Kabupaten XXX Tahun 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penyakit ISPA merupakan penyakit
yang paling sering menyebabkan kematian pada bayi, sehingga ISPA masih
merupakan penyakit yang mengakibatkan kematian cukup tinggi (WHO, 2009).
Kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh pneumonia. Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksiinfeksi juga disebabkan oleh
mikroorganisme. Infeksi-infeksi tersebut terbatas pada struktur-struktur
saluran napas termasuk rongga hidung, faring, dan laring (Elizabeth, 2009).
Biasanya penderita akan mengalami demam, batuk, dan pilek berulang serta
anoreksia. Di bagian tonsilitis dan otitis media akan memperlihatkan adanya
inflamasi pada tonsil atau telinga tengah dengan jelas. Infeksi akut pada bayi akan
mengakibatkan berhentinya pernapasan sementara atau apnea (Meadow, 2015).
Sebagai kelompok penyakit, ISPA
juga merupakan penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan yakni
sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di puskesmas dan 15% - 30% kunjungan
berobat di rumah sakit (Depkes RI, 2017).
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian
bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan
menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Secara global, tingkat
kematian bayi mengalami penurunan sebesar 41%, dari tingkat estimasi 87
kematian per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1990 menjadi 51 kematian per 1000
kelahiran hidup pada tahun. Perkiraan insidensi ISPA di negara berkembang 0,29%
(151 juta jiwa) dan negara industri 0,05% (5 juta jiwa) . ISPA menempati urutan
pertama penyakit yang diderita pada kelompok bayi dan balita di Indonesia.
Prevalensi ISPA di Indonesia adalah 25,5% dengan morbiditas pneumonia pada bayi
2,2% dan pada balita 3%, sedangkan mortalitas pada bayi 23,8% dan balita 15,5%
(Depkes RI, 2017).
Di Indonesia infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) menempati urutan pertama menyebabkan kematian pada
kelompok bayi dan balita. Survey mortalitas yang dilakukan oleh subdit ISPA
tahun 2005 menempatkan ISPA / pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar
di Indonesia dengan persentase 10-20% pertahun (Maryunani, 2011). Karena bayi
di bawah lima tahun adalah kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai
penyakit (Probowo, 2012)
Secara umum terdapat
tiga faktor risiko terjadinya ISPA, yaitu faktor lingkungan, faktor individu
anak serta faktor perilaku. Faktor lingkungan meliputi: pencemaran udara dalam
rumah (asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan
konsentrasi yang tinggi), ventilasi rumah dan kepadatan hunian. Faktor individu
anak meliputi: umur anak, berat badan lahir, status gizi, vitamin A dan status
imunisasi. Faktor perilaku meliputi perilaku pencegahan dan penanggulangan ISPA
pada bayi atau peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani penyakit ISPA
(Prabu, 2009).
Kebiasaan orang tua
yang merokok di dalam rumah dapat berdampak negatif bagi anggota keluarga
khususnya bagi bayi. Asap rokok yang menempel dan meninggalkan bahan kimia atau
residu di baju, atap, sofa, gorden, dan tempat lain di dalam rumah. Jika
merokok di luar ruangan atau perokok pasif terpapar asap rokok, asap rokok bisa
menempel di baju dan kulit. Jika merokok
di dalam ruangan, residu bisa menempel di gorden, sofa, atap, bahkan mainan
anak. Orang yang menghisap asap rokok ini dinamakan dengan third hand smoker
(Sulaiman, 2014). Hal ini di dukung oleh sebuah penelitian yang menyatakan
bahwa bayi yang tinggal serumah dengan anggota keluarga yang merokok beresiko 5,743
kali lebih besar menderita pneumonia dibanding dengan bayi yang serumah dengan
anggota keluarga yang tidak merokok (Sugihartono, 2012).
Rokok merupakan benda
beracun yang memberi efek yang sangat membahayakan pada perokok aktif ataupun
perokok pasif, terutama pada bayi yang tidak sengaja terkontak asap rokok.
Nikotin dengan ribuan bahaya beracun asap rokok lainnya masuk ke saluran
pernapasan bayi yang dapat menyebabkan Infeksi pada saluran pernapasan. Nikotin
yang terhirup melalui saluran pernapasan dan masuk ke tubuh melalui ASI ibunya
akan berakumulasi di tubuh bayi dan membahayakan kesehatan bayi tersebut.
Akibat gangguan asap
rokok pada bayi antara lain adalah muntah, diare, kolik (gangguan pada saluran
pencernaan bayi), denyut jantung meningkat, gangguan pernapasan pada bayi,
infeksi paru-paru dan telinga, gangguan pertumbuhan. Paparan asap rokok
berpengaruh terhadap kejadian ISPA pada bayi, dimana bayi yang terpapar asap
rokok berisiko lebih besar untuk terkena ISPA dibanding bayi yang tidak
terpapar asap rokok.
Berbagai upaya telah
dilakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan penyakit ISPA, dimulai sejak
tahun 1984 bersamaan dengan diawalinya pengendalian ISPA di tingkat global
(kemenkes RI, 2012). Namun sampai saat ini, upaya tersebut belum memperlihatkan
hasil yang signifikan.Kasus ISPA masih banyak ditemukan di tempat pelayanan
kesehatan, baik di tingkat Puskesmas maupun di tingkat Rumah sakit.
Berdasarkan data
Puskesmas XXX, jumlah bayi pada tahun 2018 sebanyak 891 bayi, dan bayi yang
terkena ISPA sebanyak 68 orang, bayi yang meninggal karena ISPA sebanyak 1
orang.
Berdasarkan studi
pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas XXX dengan melakukan wawancara terhadap
10 orang suami yang memiliki bayi dengan usia 0 – 12 bulan dan ISPA, sebanyak 7
orang yang tidak mengetahui mengenai bahaya asap rokok terhadap bayi dan 3
orang mengetahui bahaya asap rokok terhadap bayi.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “ Hubungan Pengetahuan Suami Yang Mempunyai Bayi Tentang Bahaya Asap Rokok Di Dalam rumah
Dengan kejadian ISPA di Puskesmas XXX Kabupaten XXX Tahun 2019”.
1.2 Perumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang peneliti mengangkat rumusan
masalah pada peneliti yang ini adalah “Bagaimana hubungan pengetahuan suami yang mempunyai bayi tentang bahaya asap rokok
di dalam rumah dengan kejadian ISPA di
Puskesmas XXX Kabupaten XXX Tahun 2019”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan suami yang mempunyai bayi di rumah tentang
bahaya asap rokok dengan kejadian ISPA di Puskesmas XXX Kabupaten XXX Tahun
2019.
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Untuk mengetahui distribusi frekuensi
pengetahuan suami yang mempunyai bayi di rumah tentang bahaya asap rokok di
Puskesmas XXX Kabupaten XXX Tahun 2019.
2.
Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian
ISPA di Puskesmas XXX Kabupaten XXX tahun 2019.
3.
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan suami yang
mempunyai bayi tentang bahaya asap rokok dengan kejadian ISPA di Puskesmas XXX
Kabupaten XXX tahun 2019.
1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengetahuan suami tentang bahaya asap rokok dengan
kejadian ISPA di Puskesmas XXX Kabupaten XXX ini karena pengetahuan suami
tentang bahaya asap rokok masih sangat kurang. Responden dalam penelitian
adalah suami yang memiliki bayi yang terkena ISPA sebanyak 68 orang. Penelitian
ini di laksanakan bulan April 2019 sampai bulan Mei 2019. Penelitian ini
dilaksanakan di Puskesmas XXX Kabupaten XXX. Penelitian ini menggunakan metode
analitik dengan menggunakan pendekatan Cross
Sectional.
1.5 Kegunaan Penelitian
1.5.1 Guna Teoritis
1.
Bagi institusi
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat
sebagai bahan referensi atau bacaan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian
yang lebih lanjut.
2.
Bagi Peneliti
Sebagai bahan tambahan untuk dapat menambah
pemahaman serta wawasan hal-hal yang berkaitan dengan mutu pelayanan serta
sebagai aplikasi dari pengetahuan yang telah diperoleh oleh peneliti
sebelumnya.
1.5.2 Guna Praktis
1.
Bagi Responden
Diharapkan masyarakat yang
memiliki bayi dapat bertambah
pengetahuannya agar dapat berhenti merokok di dalam rumah.
2.
Bagi Puskesmas
Diharapkan akan memberi manfaat untuk meningkatkan
mutu, jangkauan pelayanan dalam pembinaan serta memberi sosialisasi kepada
masyarakat yang memiliki bayi mengenai bahaya asap rokok.
Comments
Post a Comment