Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Kelas VII dan VIII
Tentang Vulva Hygiene dengan Kejadian Keputihan Di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kesehatan reproduksi merupakan
salah satu unsur penting yang cukup berperan atau berdampak bagi kehidupan
seorang pria maupun wanita. Kesehatan reproduksi menurut Undang-Undang No.
36/2009 tentang kesehatan (pasal 71 ayat 1) adalah keadaan sehat secara fisik,
mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi pada
laki-laki dan perempuan. (Kemenkes RI, 2009)
Seorang wanita sudah
seharusnya menaruh perhatian khusus terkait kesehatan reproduksi. Pasalnya
gangguan terkait kesehatan reproduksi akan menimbulkan masalah, salah satunya
adalah keputihan. Keputihan adalah cairan berlebih yang keluar dari vagina. Ada dua jenis keputihan yaitu keputihan yang bersifat
normal maupun tidak normal. Dalam keadaan normal, keputihan berupa getah atau
lendir vagina seperti cairan bening tidak berbau, jumlahnya tidak terlalu
banyak dan tanpa rasa gatal atau nyeri. Sebaliknya dalam keadaan tidak normal
akan terdapat cairan berwarna, berbau, jumlahnya banyak, disertai rasa gatal,
panas atau nyeri, dan hal itu tentunya akan sangat mengganggu. Masalah keputihan tak hanya menjadi persoalan bagi wanita
dewasa tetapi juga bagi remaja puteri. (Eny, 2011).
Menurut World Health Organization (WHO)
masalah kesehatan reproduksi wanita yang buruk telah mencapai 33% dari jumlah
total beban penyakit yang menyerang pada wanita di seluruh dunia salah satunya
adalah keputihan dan jumlah wanita di dunia yang pernah mengalami keputihan
75%, sedangkan wanita Eropa yang mengalami keputihan sebesar 25%, dimana 40-50%
akan mengalami kekambuhan (Setiani, 2015).
Di Indonesia sekitar 90% wanita berpotensi mengalami keputihan karena
negara Indonesia adalah daerah yang beriklim tropis, sehingga jamur mudah
berkembang yang mengakibatkan banyaknya kasus keputihan. Di Indonesia sebanyak
75% wanita pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45%
diantaranya mengalami keputihan sebanyak dua kali atau lebih. Gejala keputihan
juga dialami oleh wanita yang belum nikah atau remaja puteri yang berumur 15-24
tahun yaitu sekitar 31,8%. Hal ini menunjukkan remaja lebih beresiko terjadinya
keputihan (Faiz, 2015).
Banyaknya remaja putri yang tidak tahu tentang keputihan sehingga mereka
menganggap sebagai hal sepele, disamping itu rasa malu ketika mengalami
keputihan kerap membuat para remaja enggan berkonsultasi ke tenaga kesehatan.
Masalah keputihan tidak bisa diremehkan, karena dapat berakibat sangat fatal
bila terlambat ditangani, misalnya dapat menimbulkan kemandulan, radang panggul
serta kanker leher rahim. 95% keputihan merupakan gejala awal dari kanker leher
rahim yang bisa berujung pada kematian bila tidak segera mendapatkan penanganan
(Shadine, 2012).
Menurut Menthari H.
Mokodongan, dkk (2015, vol 3 no 1 hlm 274), didapatkan bahwa lebih banyak
remaja yang memiliki perilaku buruk dalam pencegahan keputihan (52%), ada 10%
remaja yang sering menggunakan produk pembersih wanita, 17,59% remaja yang
tidak mengeringkan genetalia eksterna setelah BAK atau BAB, 25,76% remaja yang
membersihkan genetalia eksterna dengan arah dari belakang ke depan, 17% remaja
sering menggunakan celana dalam ketat, 8,2% remaja yang memakai celana dalam
yang bukan berbahan katun dan 2,5% remaja sering memakai pakaian dalam bersama.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti pada
tanggal 29 April 2019 di MTS XXX Kota XXX terhadap 10 orang
remaja putri, 90% diantaranya kurang mengetahui
vulva hygiene yang benar serta mengalami keputihan.
Dengan melihat permasalahan
tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Kelas VII
dan VIII Tentang Vulva Hygiene dengan Kejadian Keputihan Di MTS XXX Kota XXX
Tahun 2019”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Vulva Hygiene dengan
Kejadian Keputihan Di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019”.
1.3 Tujuan
Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan remaja putri tentang vulva hygiene dengan
kejadian keputihan di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019.
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Untuk
mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang vulva hygiene
di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019.
2.
Untuk
mengetahui distribusi frekuensi kejadian keputihan di MTS XXX Kota XXX Tahun
2019.
3.
Untuk
mengetahui hubungan pengetahuan remaja putri tentang vulva hygiene dengan
kejadian keputihan di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019.
1.4 Ruang
Lingkup
Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui Hubungan pengetahuan remaja putri kelas VII dan
VIII tentang vulva hygiene dengan kejadian keputihan di MTS XXX Kota XXX tahun
2019. Populasi pada penelitian ini yaitu
seluruh remaja putri kelas VII dan VIII di MTS XXX Kota XXX yang berjumlah 36 orang
dengan teknik total sampling. Penelitian
ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu data dikumpulkan
dalam waktu yang bersamaan.
1.5 Manfaat
Penelitian
1.5.1
Manfaat Teoritis
1.
Bagi
institusi
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan bacaan atau referensi
bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian selanjutnya.
2. Bagi Peneliti
Diharapkan
penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti mengenai riset kesehatan dan
menambah pengetahuan mengenai vulva hygiene dan keputihan.
1.5.2
Manfaat Praktis
1. Bagi
Sekolah
Penelitian
ini diharapkan dapat menjadi sumber data sebagai bahan evaluasi dalam
mengembangkan pengetahuan remaja putri tentang Kesehatan Reproduksi Remaja termasuk
di dalam vulva hygiene dan keputihan.
2. Bagi Responden
Dengan
adanya penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan remaja putri
tentang vulva hygiene sehingga bisa meminimalisir terjadinya keputihan.
Comments
Post a Comment