Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Hubungan Pengetahuan Konsumsi
Tablet Fe Dengan Kejadian Anemia Pada Siswi di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
kesehatan dan gizi di Indonesia pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
menjadi fokus perhatian karena tidak hanya berdampak pada angka kesakitan dan
kematian pada ibu dan anak, melainkan juga memberikan konsekuensi kualitas
hidup individu yang bersifat permanen sampai usia dewasa. Timbulnya masalah
gizi pada anak usia di bawah dua tahun erat kaitannya dengan persiapan
kesehatan dan gizi seorang perempuan untuk menjadi calon ibu, termasuk remaja
putri.
Remaja merupakan tahapan kritis kedua yang pesat
pertumbuhan fisiknya setelah masa bayi, sehingga periode tersebut dikategorikan
sebagai kelompok rawan gizi. Terutama remaja puteri, karena secara biologis,
sosial, psikologis dan kognitif membutuhkan asupan zat gizi yang adekuat untuk menjamin status gizi
dan derajat kesehatan optimal.
Pertumbuhan
dan perkembangan yang begitu pesat mempengaruhi jumlah kebutuhan energi,
protein, vitamin dan mineral. Pemenuhan zat gizi tersebut sangat penting untuk
diperhatikan karena remaja puteri akan menjadi wanita dewasa yang melahirkan
generasi berikutnya. Kondis seseorang pada masa dewasa ditentukan oleh keadaan
pada masa remaja.
Berbagai
bentuk masalah gizi pada usia remaja sering terjadi diantaranya anemia
defisiensi besi, yaitu berkurangnya kadar hemoglobin dalam darah akibat
berkurangnya cadangan besi. Secara global, anemia merupakan masalah gizi dengan
prevalensi yang tinggi di negara maju maupun di negara berkembang, hampir
50%-90% kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Menurut WHO, di
negara yang sedang berkembang 26% wanita menderita anemia, sementara di negara
maju hanya sekitar 5%-7%.
Menurut Survey
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) (2012), prevalensi penyakit anemia
sebanyak 75,9% pada remaja putri. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-18
tahun sebesar 50,5%. Data prevalensi anemia remaja puteri di Jawa Barat tahun
2003 sebesar 35%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota XXX tahun 2017, dari 13.000
siswi remaja di Kota XXX sebanyak 910 remaja (7%) diantaranya menderita anemia.
Anemia terbanyak diantaranya adalah nemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi
merupakan penyebab utama ketiga dari hilangnya Disability Adjusted Life Years (DALY) diantara remaja puteri di
seluruh dunia. Anemia membawa dampak yang kurang baik bagi remaja seperti dapat
menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik, gangguan perilaku serta emosional,
memengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak, daya tahan tubuh
menurun, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar terganggu, serta
mengakibatkan rendahnya produktifitas kerja.
Pemberian tablet tambah
darah merupakan pendekatan yang paling banyak dilakukan untuk mengendalikan
masalah Anemia defisiensi besi. Menurut data Riskesdas tahun 2018, remaja
puteri yang mendapat tablet tambah darah sebanyak 76,2% dan sebanyak 23,8%
tidak mendapat tablet tambah darah. Angka kepatuhan konsumsi tablet tambah
darah pada remaja puteri sebanyak 98,6% mengonsumsi <52 butir (tidak patuh)
dan sebanyak 1,4% mengonsumsi ≤52 butir
(patuh). Prevalensi anemia pada remaja puteri yang tinggi diasumsikan berkaitan
erat dengan prevalensi anemia pada ibu hamil. Remaja Puteri yang anemia
kemudian hamil, tidak akan memperbaiki status anemianya. Kondisi anemia dapat
meningkatkan risiko kematian ibu saat melahirkan dan melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah. Program pencegahan anemia defisiensi besi pada kelompok
remaja puteri dianggap strategis di dalam upaya mengatasi masalah anemia.
Rekomendasi WHO pada
World Health Assembly (WHA) kw-65 yang menyepakati rencana aksi dan target
global untuk gizi ibu, bayi, dan anak, dengan komitmen mengurangi separuh (50%)
prevalensi anemia pada WUS pada tahun 2025. Menindaklanjuti rekomendasi
tersebut maka pemerintah Indonesia melakukan intensifikasi pencegahan dan
penanggulangan Anemia pada remaja putri dan WUS dengan memprioritaskan
pemberian tablet tambah darah melalui institusi sekolah.
Rencana Strategis Kementrian kesehatan RI tahun 2015-2019
menargetkan cakupan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri secara
bertahap dari 10% (2015) hingga mencapai 30% (2019). Diharapkan sektor terkait
di tingkat pusat dan daerah mengadakan tablet tambah darah secara mandiri
sehingga intervensi efektif dengan cakupan dapat dicapai hingga 90% (The Lancet Series Maternal and Child
Nutrition, 2013)
Berdasarkan
studi pendahuluan pada siswi MTS XXX Kota XXX bulan April 2019 dari jumlah
total 10 siswi, 80% diantaranya mengatakan sering merasa pusing, lemas dan
kesulitan konsentrasi pada saat belajar. Hal itu yang membuat peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan pengetahuan konsumsi tablet
Fe dengan kejadian Anemia pada Siswi di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019”
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai
berikut : Apakah pengetahuan konsumsi tablet Fe mempengaruhi kejadian anemia
pada siswi di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019?
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1
Tujuan
umum
Diketahuinya
hubungan pengetahuan konsumsi tablet Fe dsengan kejadian anemia pada siswi di
MTS XXX Kota XXX Tahun 2019.
1.3.2
Tujuan
Khusus
1.
Untuk mengetahui Pengetahuan Siswi
tentang Konsumsi Tablet Fe Di MTS XXX Kota XXX Tahun 2019.
2.
Untuk mengetahui Kejadian Anemia Pada Siswi
Di MTS XXX Tahun 2019.
3.
Untuk mengetahui sejauh mana hubungan
pengetahuan Konsumsi Tablet Fe Rematri dengan Kejadian Anemia Pada Siswi Di MTS
XXX Kota XXX Tahun 2019.
1.4 Ruang Lingkup
Guna memfokuskan
pembahasan maka penelitian ini dibatasi hanya tentang hubungan pengetahuan
konsumsi tablet fe dengan kejadian anemia pada siswi Di MTS XXX Kota XXX,
dengan populasi siswi kelas VII dan VIII MTS XXX Kota XXX yang berjumlah 36
orang , kelas IX tidak menjadi sampel dikarenakan sudah tidak mengikuti
kegiatan belajar mengajar (KBM). Untuk pengambilan sampel menggunakan teknik
Total Sampling.
1.5 Manfaat
Penelitian
1.5.1
Manfaat Teoritis
1. Bagi
Siswi MTS XXX
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan khususnya
pengetahuan mengenai pentingnya konsumsi Tablet Fe dan bahaya kejadian Anemia
pada Remaja Putri.
2. Bagi
Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dibidang
kesehatan, disamping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.
Untuk menambah wawasan
pengetahuan dalam mengaplikasikan ilmu kebidanan serta riset penelitian yang
telah didapat khususnya dalam pencegahan Anemia pada remaja puteri.
1.5.2
Manfaat Praktis
1.
Bagi MTS XXX
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi segenap penentu kebijakan dan instansi
terkait untuk memprioritaskan program kesehatan dalam upaya mengurangi kejadian
Anemia.
2. Bagi Profesi Kebidanan
Hasil penelitian ini diharapkan
jadi bahan masukan dan peningkatan mutu layanan kesehatan ibu dan anak sebagai
asuhan dasar anak usia sekolah dan remaja dalam pencegahan Anemia.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan
penelitian ini bisa dijadikan referensi, informasi serta bahan pertimbangan
dalam penelitian lainnya untuk dapat dilanjutkan penelitian skala observasi.
Comments
Post a Comment