Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Hubungan Pengetahuan Ibu Bekerja
Tentang Cara Penyimpanan ASI dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Puskesmas XXX Tahun 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Bayi merupakan merupakan anugrah terindah yang diberikan
oleh sang pencipta kepada manusia. Bagi sebagian manusia mungkin merawat bayi
sangatlah susah, jika mereka hanya memikirkan banyaknya pengeluaran yang akan
diberikan kepada sang bayi. Tapi jika kita fikirkan secara logis, merawat bayi
sangatlah mudah. Dengan hanya memberikan ASI kepada bayi, tidak perlu
membutuhkan banyak pengeluaran dan tenaga(Rizki, 2013).
ASI
eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah pemberian
ASI hanya dalam waktu 6 bulan saja dan tidak diberikan makanan ataupun minuman
lainnya sejak bayi berusia 30 menit setelah lahir (Walyani dan Purwoastuti,
2015).
Kebutuhan bayi akan zat gizi sangat tinggi untuk
mempertahankan kehidupannya. Kebutuhan tersebut
dapat tercukupi dengan memberikan Air susu Ibu (ASI) kepada
bayi. Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada
bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi,
pertumbuhan, dan perkembangannya. Pemberian ASI eksklusif dapat
mengurangi tingkat kematian bayi yang dikarenakan berbagai penyakit
yang menimpanya serta mempercepat pemulihan bila sakit dan
membantu menjarangkan kelahiran (Prasetyono, 2009).
Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi,
UNICEF dan WHO merekomendasikan sebaiknya bayi hanya disusui
air susu ibu (ASI)
selama paling sedikit 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai
bayi berumur dua tahun
(WHO, 2018).
Sustainable
Development Goals dalam The 2030
Agenda For Sustainable Development menargetkan pada tahun 2030 dapat
mengurangi angka kematian neonatal paling sedikit 12 per 1.000 kelahiran hidup
dan kematian pada anak di bawah usia 5 tahun paling sedikit 25 per 1.000
kelahiran hidup. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan pemberian ASI
eksklusif dilaksanakan dengan baik (United Nations). Namun, hanya 44 persen
dari bayi baru lahir di dunia yang mendapat ASI dalam waktu satu jam pertama
sejak lahir, bahkan masih sedikit bayi di bawah usia enam bulan disusui secara eksklusif.
Cakupan pemberian ASI eksklusif di Afrika Tengah sebanyak 25%, Amerika Latin
dan Karibia sebanyak
32%, Asia Timur sebanyak 30%, Asia Selatan sebanyak 47%, dan negara berkembang sebanyak
46%. Secara keseluruhan, kurang dari 40 persen anak di bawah usia enam bulan diberi ASI Eksklusif
(WHO, 2015).
Hal tersebut belum sesuai dengan target WHO yaitu
meningkatkan pemberian ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama sampai
paling sedikit 50%. Ini merupakan target ke lima WHO di tahun 2025 (WHO,
2014).
Di Indonesia, bayi yang
telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia enam bulan adalah sebesar
29,5%. ). Hal ini
belum sesuai dengan target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
tahun 2015-2019 yaitu
persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar
50% (Profil
Kesehatan Indonesia, 2017).
Menurut provinsi, cakupan ASI eksklusif pada bayi sampai usia
6 bulan paling rendah berada di Sumatera Utara sebesar 10,7%,
Gorontalo sebesar 12,7% dan paling tinggi di DI Yogyakarta sebesar 61,45%. Sementara
kondisi Jawa Barat
didapatkan pemberian ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan sebesar 38,23% (Data dan
Informasi Profil Kesehatan Indonesia,2017).
Pemerintah
Indonesia telah melakukan kampanye pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif yang
dipelopori oleh World Health Organization (WHO). Pemberian ASI eksklusif yang
berlangsung hanya 4 bulan berubah menjadi 6 bulan, dan bahkan bisa diberikan
hingga usia 2 tahun selama produksi ASI masih banyak atau ketika anak sudah
tidak mau lagi minum ASI (Firmansyah dan Mahmudah, 2012). Selain itu,
pemerintah telah menetapkan peraturan yang tercantum dalam UU RI No. 36 Tahun
2009 yang menegaskan bahwa berbagai tindakan yang dengan sengaja menghalangi program
pemberian ASI eksklusif dapat dikenai pidana penjara paling lama 1 tahun dan
denda paling banyak 100 juta rupiah. UU ini telah disahkan oleh Presiden dan
juga Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI pada tanggal 13 Oktober 2009 (Wiji,
2013).
Aktivitas menyusui bayi seringkali menemui berbagai kendala. Salah satu faktor
yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah ibu yang bekerja di
luar rumah, sehingga tidak dapat memberikan ASI eksklusif selama 6
bulan kepada bayinya. Faktor ini terkait kurangnya pengetahuan ibu.
Sesungguhnya, ibu yang bekerja tetap bias memberikan ASI
eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan. Ibu yang bekerja dapat memberikan ASI eksklusif kepada
bayinya dengan cara memeras ASI, dan memberikannya kepada
bayi saat ibu bekerja (Prasetyono, 2009).
Pekerjaan seringkali menjadi alasan yang membuat seorang
ibu berhenti menyusui.
Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja. Salah satu
cara yang dapat
dilakukan adalah dengan menyusui bayi sebelum ibu bekerja dan menyimpan ASI di lemari
pendingin kemudian dapat diberikan pada bayi saat ibu bekerja (Kristiyansari, 2009).
Rendahnya pemahaman
ibu, keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya ASI bagi bayi mengakibatkan program
pemberian ASI eksklusif tidak berlangsung secara optimal. Rendahnya tingkat
pemahaman tentang pemberian ASI eksklusif dikarenakan kurangnya informasi atau
pengetahuan yang
dimiliki oleh para ibu mengenai segala nilai plus nutrisi dan manfaat yang
terkandung dalam ASI. Seorang ibu yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi kemungkinan
pengetahuan dan wawasannya
pun akan semakin luas, termasuk juga pengetahuan dan wawasan dalam masalah pemenuhan
gizi yang baik bagi bayi atau balitanya (Prasetyono, 2009).
Cuti
melahirkan rata-rata selama 3 bulan amat singkat dan sekarang banyak ibu yang
bekerja, sehingga kemudian ibu menghentikan menyusui karena alasan pekerjaan
dan merasa tidak mampu menyusui secara eksklusif disebabkan memiliki
keterbatasan waktu dan kesibukan (Nugroho, 2011).
Hal
ini didukung oleh penelitian julianti di Puskesmas Wolo Kendari tahun 2018 Hasil
penelitian menunjukkan Mayoritas Ibu bekerja yakni 23 orang (43,40%) memiliki pengetahuan
yang baik tentang penyimpanan ASI. Mayoritas Ibu bekerja 41 orang (77,36%)
memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI pada bayi, Seaca bivariat
hasil penelitian menunjukkan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang penyimpanan ASI
dengan Sikap dalam Pemberian ASI Pada Ibu Bekerja Di Wilayah Kerja Puskesmas Wolo
tahun 2018.
Berdasarkan
data laporan Puskesmas XXX, pada tahun 2018 ibu bersalin 1014, bayi 908, ASI
Eksklusif 523 (50,7%) dengan paling rendah di desa XXX yaitu sebesar 11,1%.
Studi pendahuluan yang di lakukan oleh peneliti pada tanggal 29 april 2019 setelah
di lakukan wawancara dengan 5 ibu menyusui yang berada di wilayah tersebut
mengemukakan bahwa 2 ibu yang tidak bekerja mengemukakan bahwa awal mulanya
hanya coba-coba untuk memberikan susu formula pada usia 4 dan 5 bulan dengan
alasan supaya bayi tidak rewel dan pertumbuhan bayi akan cepat. Sedangkan 3 ibu
yang bekerja hanya memberikan ASI eksklusif sampai 3 bulan saja, dikarenakan
ibu hanya mendapat cuti selama 3 bulan dan setelah masuk kerja ibu mengatakan
metode Air Susu Ibu Perah (ASIP) tidak praktis dan ibu tidak mengetahui tentang
cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI agar tidak rusak.
Berdasarkan
uraian tersebut, maka dalam proposal penelitian ini peneliti akan mengkaji
mengenai “ Hubungan Pengetahuan Ibu
Bekerja Tentang Cara Penyimpanan ASI dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah
Kerja Puskesmas XXX Tahun 2019”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana hubungan pengetahuan ibu bekerja tentang cara penyimpanan
ASI dengan pemberian ASI Eksklusif di Desa XXX wilayah
kerja puskesmas XXX tahun 2019?”
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu bekerja tentang cara penyimpanan ASI dengan pemberian
ASI Eksklusif di Desa XXX wilayah kerja Puskesmas XXX Tahun 2019.
1.3.2
Tujuan
Khusus
a.
Untuk mengetahui distribusi dan frekuensi tingkat pengetahuan ibu bekerja tentang cara penyimpanan ASI di Desa XXX wilayah
kerja puskesmas XXX tahun 2019.
b.
Untuk mengetahui
distribusi dan frekuensi Pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja
puskesmas XXX tahun 2019.
c.
Untuk Mengetahui hubungan
pengetahuan ibu bekerja tentang cara penyimpanan ASI dengan pemberian ASI Eksklusif di Desa XXX wilayah
kerja puskesmas XXX tahun 2019.
1.4
Ruang Lingkup
Ruang
lingkup penelitian ini adalah untuk mengetahui “Hubungan Pengetahuan Ibu
Bekerja tentang
Cara Penyimpanan ASI
dengan pemberian ASI Eksklusif di Desa XXX wilayah kerja puskesmas XXX tahun 2019”. Penelitian ini
dilakukan karena masih banyak ibu bekerja yang tidak mengetahui tentang cara
penyimpanan ASI sehingga tidak memberikan ASI secara Eksklusif. Penelitian akan
dilakukan pada ibu menyusui yang bekerja di Desa XXX wilayah kerja Puskesmas XXX.
Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2019. Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional.
1.5
Kegunaan Penelitian
1.5.1
Guna
Teoritis
1.
Bagi
Institusi Pendidikan
Hasil karya tulis
ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan referensi atau
bacaan bagi mahasiswa dan sebagai metode untuk melatih dan mendidik mahasiswa
agar menjadi seorang bidan yang berkompeten di bidangnya.
2.
Bagi
Peneliti
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan bagi penulis
baik dalam hal penulisan karya tulis maupun dalam bidang kesehatan khususnya
mengenai hubungan pengetahuan ibu bekerja tentang cara penyimpanan ASI
dengan pemberian ASI Eksklusif.
1.5.2
Guna
Praktis
1.
Bagi
Responden
Untuk
menambah pengetahuan tentang cara
penyimpanan ASI dan pentingnya ASI Eksklusif.
2.
Bagi
Tempat Penelitian
Penelitian
digunakan sebagai bahan meningkatkan pelayanan dan meningkatkan asuhan
khususnya untuk ibu menyusui yang bekerja agar
mengetahui cara penyimpanan ASI dan
pentingnya ASI Eksklusif.
Comments
Post a Comment