Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu Nifas
Tentang Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Puskesmas XXX Tahun 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang dengan jumlah peningkatan penduduk yang tinggi. Menurut BKKBN data Sensus Penduduk tahun 2010,
penduduk Indonesia berjumlah sekitar 237,6 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49%. Dari
pertumbuhan jumlah penduduk ini tentu saja akan berimplikasi secara signifikan
terhadap perkembangan ekonomi dan kesejahteraan Negara.
Menurut World
Health Organization (WHO) (2016) penggunaan kontrasepsi
telah meningkat di banyak bagian dunia, terutama di Asia dan Amerika Latin dan terendah
di Sub-Sahara Afrika. Secara global, pengguna kontrasepsi modern telah
meningkat tidak signifikan dari 54% pada tahun 1990 menjadi 57,4% pada tahun
2014. Secara regional, proporsi pasangan usia subur 15-49 tahun melaporkan
penggunaan metode kontrasepsi modern telah meningkat minimal 6 tahun terakhir.
Menurut penilaian United Nations Development Program
(UNDP) pada tahun 2005, kualitas sumber daya manusia suatu negara diukur bukan
berdasarkan kuantitas sumber daya manusia namun melalui indeks pembangunan
manusia. Indonesia menempati peringkat 110 dari 177 negara di seluruh dunia
dalam hal indeks pembangunan manusia. Keadaan ini dikhawatirkan akan terus
memburuk apabila jumlah penduduk terus meningkat secara tajam dan menyebabkan
program pembangunan pemerintah tidak dapat dinikmati seluruh masyarakat yang
ada. Salah satu hal yang diduga sebagai penyebab pertumbuhan penduduk
berlebihan adalah angka kelahiran yang meningkat. Salah satu cara untuk
menghambat laju kelahiran penduduk adalah program keluarga berencana (KB). Program KB sangat berperan untuk
menekan pertumbuhan penduduk agar
program pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Menurut WHO expert
Committee 1970, KB adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk
menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang
sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat
kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak
dalam keluarga.
Data Riskesdas
2018 menunjukkan bahwa pada wanita usia 10-54 tahun menurut jenis kontrasepsi,
pil (8,5%), suntik 3 bulan (42,4%), suntik 1 bulan (6,1%), implant (4,7%), AKDR
(6,6%), MOW (3,1%), MOP (0,2%), kondom (1,1%) dan tidak menggunakan (27,1%).
KB juga merupakan salah satu strategi
untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T; terlalu muda
melahirkan (di bawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat
jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun). Melalui
tahapan konseling pelayanan KB, Pasangan Usia Subur (PUS) dapat menentukan
pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya berdasarkan
informasi yang telah mereka pahami, termasuk keuntungan dan kerugian, risiko
metode kontrasepsi dari petugas kesehatan.
Program KB dilakukan diantaranya dalam rangka mengatur jumlah kelahiran atau
menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah PUS yang lebih dititik
beratkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia
15-49 tahun (Kemenkes RI, 2016).
Keterkaitan manfaat kontrasepsi dan KB dengan
penurunan AKI melahirkan seringkali tidak dirasakan. Salah satu penyebab
kematian ibu antara lain karena masih rendahnya pemahaman tentang kontrasepsi
dan KB serta kesehatan reproduksi. Rendahnya
akses terhadap pelayanan kontrasepsi dan KB juga akan meningkatkan AKI. Banyak WUS tidak
mendapat pelayanan kontrasepsi dan KB (unmet need), padahal hal itu berisiko
meningkatkan jumlah kematian ibu.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, cakupan peserta KB baru menurut jenis kontrasepsi
tahun 2015, Suntikan (49,93%), Pil (26,36%), Implan (9,63%), IUD (6,81%),
Kondom (5,47%), MOW (1,64%), dan MOP (0,16%). Sedangkan cakupan peserta KB
aktif, Suntikan (47,78%), Pil (23,6%), Implan (10,58%), IUD (10,73%), Kondom
(3,16%), MOW (3,49%), dan MOP (0,65%). Peserta KB baru dan KB aktif menunjukkan
pola yang sama dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi (Kemenkes RI, 2016).
Di Jawa Barat
jumlah peserta KB baru tahun 2017 menunjukkan bahwa prevalensi peserta keluarga
berencana (KB) di Indonesia adalah 9.333.302, alat atau cara KB yang dominan
dipakai adalah Suntikan 562,771 dan Pil 244,867sedangkan yang lainnya Intra
Uterine Devices (IUD) 93.051, Implant 79.773, Medis Operatif Wanita (MOW) 17.798, Medis Operatif Pria
(MOP) 6.654 dan kondom 22.884. Berdasarkan
data tersebut jumlah akseptor IUD di Provinsi Jawa Barat masih rendah.
Data BKKBD Tahun
2018 jumlah peserta KB di Kabupaten XXX terdapat 117.816 jiwa menggunakan alat kontrasepsi
pil, 170.338 jiwa menggunakan alat kontrasepsi suntik, 47.041 jiwa menggunakan
alat kontrasepsi implant, 24.326 jiwa menggunakan alat kontrasepsi AKDR, 6.885
jiwa menggunakan alat kontrasepsi MOW, 2.394 jiwa menggunakan alat kontrasepsi
MOP, dan 4.512 jiwa mengunakan alat kontrasepsi kondom.
Di Puskesmas XXX,
data tahun 2018 terdapat 610 ibu nifas.
Dan di Puskesmas XXX data
tahun 2018 terdapat 8920 akseptor aktif, 27.737 jiwa yang menggunakan alat
kontrasepsi pil, 4.336 jiwa yang menggunakan alat kontrasepsi suntik, 438 jiwa
yang menggunakan alat kontrasepsi implant, 880 jiwa yang menggunakan alat
kontrasepsi AKDR, 206 jiwa menggunakan alat kontrasepsi kondom, 295 jiwa yang
menggunakan alat kontrasepsi MOW, dan 28 jiwa yang menggunakan alat kontrasepsi
MOP.
Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan
Ratna Sari Pandiangan (2017) menunjukkan dari 92 responden,
sebanyak 8,7% menggunakan alat kontrasepsi IUD dan 91,3% tidak menggunakan alat
kontrasepsi IUD. Variabel pendidikan (p=0,011), pengetahuan (p=0,016), sikap
(p=0,036), dukungan suami
(<0,001) dan social budaya (p=0,043) memiliki hubungan terhadap penggunaan
alat kontrasepsi IUD di wilayah kerja Siempat Rube. Variable pendidikan
mempunyai nilai Exp (B) sebesar 6,593 merupakan variable yang paling
berpengaruh terhadap penggunaan alat kontrasepsi IUD.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Monika fitria (2017) menunjukkan
bahwa metode kontrasepsi jangka pendek, yaitu suntik dan pil merupakan metode
kontrasepsi yang paling banyak dipilih oleh Wanita usia Subur (WUS) di Desa
Salassae. Hasil analisa bivariat dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada
pengaruh faktor tingkat pendidikan (p-value
0,042) ibu dengan pemilihan metode kontrasepsi pada WUS di Desa Salassae.
Hasil studi
pendahuluan yang dilakukan terhadap 10 orang ibu nifas di Puskesmas XXX
ditemukan bahwa 4 orang akan menggunakan AKDR dan 6 orang lainnya akan menggunakan
KB jenis lain. Ibu yang tidak akan menggunakan AKDR disebabkan karena ibu
merasa takut pada saat pemasangan dan pencabutan, ibu merasa takut dan khawatir
benang AKDR dapat terlepas atau keluar dengan sendirinya.
Pengetahuan ibu nifas tentang kontrasepsi pasca
salin penting untuk menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan khususnya bidan
yang secara langsung memiliki kewenangan untuk memberikan konseling mengenai
kontrasepsi kepada ibu nifas. Selain itu, pemilihan jenis kontrasepsi yang
tidak tepat oleh ibu nifas juga dapat berdampak pada kegagalan KB dan juga
ketidaknyamanan ibu yang diakibatkan oleh efeksamping dari kontrasepsi yang
digunakan (Sulistyorini, 2016).
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik
untuk mengambil judul penelitian Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu nifas tentang alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX Tahun 2019.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut adakah
“Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu nifas
tentang alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX Tahun 2019?”
1.3
Tujuan
Penelitian
1.3.1.
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu nifas tentang alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX Tahun 2019.
1.3.2.
Tujuan
Khusus
Tujuan
khusus pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diketahuinya faktor usia ibu nifas terhadap alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX 2019
2. Diketahuinya faktor pendidikan ibu nifas terhadap alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX 2019
3. Diketahuinya faktor sosial budaya ibu nifas terhadap alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX 2019
4. Diketahuinya hubungan faktor usia ibu nifas terhadap alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di Puskesmas XXX 2019
5. Diketahuinya hubungan faktor pendidikan ibu nifas
terhadap alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR) di
Puskesmas XXX 2019
6. Diketahuinya hubungan faktor
sosial budaya ibu nifas
terhadap alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR) di
Puskesmas XXX 2019.
1.4
Ruang
Lingkup
Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu nifas tentang alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
yang diambil dari faktor ibu yang meliputi usia, pendidikan dan sosial budaya
di Puskesmas XXX tahun 2019. Dengan data yang telah ditemukan dari hasil studi
pendahuluan dari 10 ibu nifas 4 orang yang akan menggunakan AKDR dan 6 orang
lainnya akan menggunakan KB jenis lain. Penelitian ini merupakan penelitian survei
analitik dengan variabel independen adalah faktor pengetahuan ibu nifas tentang
alat kontrasepsi dalam rahim meliputi faktor usia, pendidikan dan sosial
budaya, sedangkan variabel dependennya adalah alat kontrasepsi dalam rahim.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross
sectional yaitu penelitian yang mempelajari dinamika kolerasi anatara faktor-faktor
resiko dengan efek dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus
pada suatu saat (point time approach)
artinya tiap subjek hanya diobservasi sekali dan pengukurann dilakukan terhadap
status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan. Instrumen
penelitian ini berupa data primer dan lembar ceklist, penelitian ini dilakukan
pada bulan mei 2019. Populasi penelitian yaitu ibu nifas di Puskesmas XXX tahun
2019 dengan sampel penelitian 24 sampel dengan menggunakan teknik random sampling.
1.5
Kegunaan
Peneliti
1.5.1
Manfaat
Teoritis
1.
Bagi
Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan dan pengalaman belajar mengenai pengetahuan ibu nifas terhadap pemilihan metode KB AKDR.
2.
Bagi
institusi pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan
manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat kontrasepsi IUD dan
sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.
1.5.2
Manfaat
praktis
1.
Bagi
Responden
Untuk menambah pengetahuan dan manfaat ibu tentang metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
2.
Bagi
tempat penelitian
Untuk memberikan masukan bagi puskesmas dalam meningkatkan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka
Panjang (MKJP) khususnya metode kontrasepsi AKDR/IUD
Comments
Post a Comment