Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dengan
Terjadinya BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas XXX Kabupaten XXX Tahun 2019
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
World Health Organization (WHO) pada
tahun 1961 menyatakan bahwa semua bayi baru lahir yang berat badannya kurang
atau sama dengan 2.500 gram disebut low birth weight infant (bayi berat badan
lahir rendah) (Purwanty, 2013). BBLR didefinisikan sebagai bayi dengan berat
lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang umur kehamilan (Umboh, 2013). Menurut
Syafrudin dan Hamidah (2009) yang mengutip dari Depkes RI, bayi berat lahir
rendah ialah bayi yang lahir dengan berat 2.500 gram atau kurang tanpa
memerhatikan usia kehamilan (Rukiyah dan Yulianti, 2010).
Adapun akibat dari BBLR adalah terjadinya
immaturitas sistem neurologi dan ketidakoptimalan fungsi motorik dan autonom
pada awal bulan kehidupan bayi. BBLR juga merupakan penyebab utama dari
morbiditas (kesakitan) dan disabilitas (kecatatan) serta memberikan dampak
jangka panjang yang dapat dialami oleh bayi yang lahir BBLR adalah gangguan
pertumbuhan, gangguan perkembangan, gangguan pendengaran, gangguan pernafasan
dan kenaikan angka kesakitan (proverawati, 2015)
BBLR dianggap sebagai penyebab utama
kematian bayi terutama pada bulan pertama kehidupan. Secara global, 40-60% dari
kematian bayi di dunia disebabkan oleh BBLR (Unicef, 2009). Angka kematian pada
BBLR 35 kali lebih tinggi dibanding dengan bayi dengan berat lahir lebih dari
2500 gram (Pantiawati, 2010).
Menurut WHO pada tahun 2015 di dunia
terdapat kejadian BBLR adalah 15,5%, yang berarti sekitar 20,6 juta bayi
tersebut lahir setiap tahun , 96,5% diantaranya di negara-negara berkembang.
Berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu masalah utama di negara
berkembang. India adalah salah satu negara dengan tingkat tertinggi kejadian
BBLR. Sekitar 27% bayi yang lahir di India adalah BBLR. Asia Selatan memiliki
kejadian tertinggi, dengan 28% bayi dengan BBLR, Sedangkan Asia Timur / Pasifik
memiliki tingkat terendah, yaitu 6% (WHO, 2015).
Berdasarkan data Riskesdas Departemen
Kesehatan tahun 2013, prevalensi BBLR di Indonesia masih terdapat 10,2% dan
pada tahun 2010 yaitu sebesar 11,1%. Hal ini menunjukkan bahwa presentase bayi
dengan berat badan lahir rendah (BBLR) ini menurun landai akan tetapi masih
menjadi kebijakan pemerintah sebagai program evaluasi oleh KEMENKES RI
(Riskesdas RI, 2013).
Berdasarkan data dari Departemen
Kesehatan (Depkes) tahun 2015, Angka BBLR di Indonesia nampak bervariasi,
secara nasional berdasarkan analisis lanjut SDKI angka BBLR sekitar 7,5 %
(SDKI, 2015). Kelahiran bayi dengan BBLR di Indonesia masih tergolong tinggi
dengan persentase BBLR tahun 2014 sebesar 11,1% (Depkes RI, 2015)
Berdasarkan data dari Riskesdas tahun
2018, Angka BBLR di Jawa Barat masih tergolong cukup tinggi yaitu 6,3%, Jawa
Barat menduduki peringkat ke 11 dari 34 provinsi di Indonesia provinsi yang
mengalami angka tertinggi kejadian BBLR adalah Sulawesi Tenggara yaitu sebesar
8,9% (Riskesdas, 2018)
Adapun kasus BBLR di Kabupaten XXX
pada tahun 2018 terdapat 4227 (9,16%) kasus BBLR dari 46138 (97,8%) jumlah
persalinaan yang ada di kabupaten XXX (Dinkes Kab XXX, 2018)
Dari hasil pengambilan data yang dilakukan pada tanggal 26 April tahun 2019 di Puskesmas XXX, pada
tahun 2018 terdapat 32 (3,25%) bayi dengan BBLR dari 562 ibu bersalin dan pada
Januari-April 2019 dari jumlah keseluruhan ibu bersalin 140 terdapat kasus BBLR sebanyak 25 (17,8%) bayi.
Menurut Manuaba (2015), faktor-faktor
yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR antara lain faktor ibu, faktor
kehamilan, faktor janin, dan faktor yang masih belum diketahui. Faktor ibu yang
menyebabkan bayi BBLR diantaranya kurangnya gizi ibu saat hamil, usia ibu
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak kehamilan dan bersalin
yang terlalu dekat, penyakit menahun (hipertensi, jantung, gangguan pembuluh
darah/perokok) dan faktor pekerjaan yang terlalu berat.
Upaya yang terus dilakukan pemerintah
dan dunia melalui kesepakatan bersama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(Sustainable Development Goals / SDGs) pada Goals 2 yaitu “Mengakhiri
kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta mendorong
pertanian yang berkelanjutan”. Indikatornya adalah pada tahun 2030, mengakhiri
segala bentuk malnutrisi, termasuk mencapai target internasional 2025 untuk
penurunan BBLR, stunting dan wasting pada balita. (MCA-Indonesia; 2017).
Salah satu upaya pemerintah Indonesia
yang bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dengan
mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 02.02/Menkes/52/2015 tentang
Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2015-2019. Salah satu tujuannya
adalah peningkatan status kesehatan masyarakat dimana salah satu indikatornya
adalah menurunnya persentase BBLR dari 10,2% menjadi 8%.(Kemenkes, 2015)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Nita Merzalia pada tahun 2012 tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan resiko terjadinya BBLR salah satunya adalah faktor ibu seperti, ekonomi
rendah, BB kurang dan kurang gizi, ibu perokok/penggunaan obat terlarang/alkohol,
ibu hamil dengan anemia berat, preeklamsi/hipertensi, usia ibu hamil yang
terlalu muda (≤20 tahun) atau terlalu tua (≥35 tahun), jarak kehamilan terlalu
pendek (≤2 tahun ) dan komplikasi kehamilan ibu beresiko terhadap BBLR.
Penelitian tersebut juga sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Joshi et al (2010), menyatakan bahwa gizi
ibu, usia saat melahirkan, jarak kehamilan yang dekat, kurangnya pendapatan
keluarga dan antenatal care (ANC) yang tidak adekuat sangat signifikan
berhubungan dengan BBLR.
Hasil penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Suryati mengenai “Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian BBLR
Di Wilayah Kerja Puskesmas Air Dingin Tahun 2013”, menunjukkan bahwa dari 39
ibu yang mempunyai bayi BBLR dan 39 ibu yang mempunyai bayi berat lahir normal
untuk kontrol, didapatkan faktor yang terbukti memiliki hubungan dengan
kejadian BBLR diantaranya penambahan berat badan (p=0,000), anemia (p=0,000),
KEK (p-0,000) dan jarak kehamilan (p=0,005). (15) Penelitian lain yang dilakukan
oleh Misna,dkk Di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan, menunjukkan
bahwa dari 65 ibu yang mempunyai bayi BBLR dan 65 ibu yang mempunyai bayi berat
lahir normal untuk kontrol, didapatkan bahwa salah satu faktor ibu yang
berhubungan dengan BBLR adalah usia ibu (Suryati, 2013)
Penelitian yang dilakukan oleh Siti
Rochwati (2014), ibu yang berusia 35 tahun beresiko melahirkan bayi dengan BBLR
sebesar 2,671 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang melahirkan di usia
produktif (20 – 35 tahun). (Rahma & Armah, 2014).
Penelitian yang dilakukan oleh
Manshande et al, yang membandingkan wanita hamil yang melakukan aktifitas fisik
berat pada minggu terakhir kehamilan dengan wanita hamil yang tidak melakukan
aktivitas fisik (istrahat) pada minggu-minggu terakhir kehamilan menyatakan
bahwa semua bayi dilahirkan cukup bulan dan lamanya istrahat mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap berat bayi lahir rendah, yakni terdapat peningkatan berat
lahir sebesar 334 gram pada bayi perempuan, tetapi tidak terdapat perbedaan
berat lahir pada bayi laki-laki (Hastjarja, Dwi. 2013)
Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan oleh penulis di Puskesmas XXX pada tanggal 26 April 2019 diambil 10
sampel ibu yang memiliki bayi dengan BBLR 2018 dimana faktor penyebab BBLR nya
adalah jarak kehamilan (3 kasus), status gizi pada ibu (3 kasus), dan riwayat
penyakit hipertensi pada ibu (4 kasus).
Berdasarkan latar belakang di atas
maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
dengan terjadinya BBLR di wilayah kerja Puskesmas XXX kabupaten XXX Tahun 2019.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan kabupaten XXX pada tahun 2018
terdapat 4227 (9,16%) kasus BBLR dari 46138 (97,8%) jumlah
persalinaan yang ada di kabupaten XXX Dan berdasarkan laporan KIA di puskesmas XXX jumlah kasus BBLR pada tahun 2018 adalah 32 (5,6%) kasus dari
562 ibu bersalin .
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kejadian BBLR masih cukup tinggi. Sehingga perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan terjadinya BBLR di wilayah kerja Puskesmas XXX tahun 2019?
1.3 Tujuan
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk
mengidentifikasi Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya BBLR di
wilayah kerja Puskesmas XXX Tahun
2019.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi gambaran faktor Jarak
kehamilan pada BBLR diwilayah kerja Puskesmas XXX pada Tahun 2019.
2. Mengidentifikasi gambaran faktor status gizi
ibu pada BBLR diwilayah kerja Puskesmas XXX pada Tahun 2019.
3. Mengidentifikasi gambaran faktor riwayat
penyakit pada ibu terhadap kjeadian BBLR diwilayah kerja Puskesmas XXX pada
tahun 2019
4. Menjelaskan adanya hubungan faktor jarak
kehamilan pada ibu dengan kejadian BBLR
5. Menjelaskan adanya hubungan faktor gizi pada
ibu dengan kejadian BBLR
6. Menjelaskan adanya hubungan faktor riwayat
penyakit pada ibu dengan kejadian BBLR
1.4 Ruang
Lingkup
Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya
BBLR yang diambil dari faktor ibu yang meliputi faktor Jarak Kehamilan, faktor Status Gizi pada ibu dan
faktor riwayat penyakit ibu di wilayah kerja Puskesmas XXX tahun 2019. Dengan
data yang telah ditemukan dari hasil studi pendahuluan dari 10 ibu yang
melahirkan dengan BBLR tahun 2018 3 diantaranya penyebabnya adalah jarak
kehamilan yang < 2 tahun, 3 menyatakan ibu melahirkan BBLR karena selama
hamil mengalami kurang gizi (KEK), dan 4 menyatakan ibu melahirkan BBLR karena
selama hamil mengalami hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian survei
analitik dengan variabel independen adalah faktor ibu yang berhubungan dengan
BBLR yang meliputi faktor Jarak Kehamilan,
faktor gizi Ibu dan faktor
riwayat penyakit pada ibu, sedangkan
variabel dependennya adalah kejadian BBLR. Desain penelitian yang digunakan
adalah longitudinal retrospektif yaitu
penelitian yang bertolak dari efek (outcome of interest) atau variabel terkait,
kemudian dilakukan penelitian kebelakang untuk mencari bukti-bukti pemaparan
atau faktor resiko yang berhubungan dengan efek tersebut atau variabel
bebasnya. Penelitian ini melihat ke belakang (back looking). Pendekatan ini
digunakan untuk penelitian epidemiologi yaitu case control (kasus kontrol). (Sulistyaningsih
2011). Instrumen penelitian ini berupa data skunder
dan lembar ceklist, penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019. Populasi
penelitian yaitu semua ibu bersalin di wilayah kerja puskesmas XXX pada periode
bulan Januari – Maret tahun 2019 berjumlah 140 ibu bersalin dengan sampel
penelitian berjumlah 21 sampel dengan menggunakan teknik random sampling (Sulystianingsih, 2011)
1.5 Kegunaan
Penelitian
1.5.1
Guna Teoritis
1.
Institusi
Pendidikan
Sebagai
bahan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi peserta didik dan sebagai bahan acuan untuk penulisan selanjutnya yang berkaitan dengan BBLR dan dapat memperbaiki mutu pembelajaran dalam institusi pendidikan.
2. Peneliti
Memperluas
kajian ilmu kebidanan untuk dijadikan bahan rujukan penelitian lebih lanjut
bagi pengembangan ilmu kebidanan dalam mencegah terjadinya BBLR.
1.5.2
Guna Praktis
1.
Bagi responden
Diharapkan
ibu dapat mengetahui tentang faktor-faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi terjadinya BBLR.
2.
Puskesmas XXX
Penelitian
ini diharapkan menjadi bahan masukan dalam rangka pengembangan ilmu kebidanan,
khususnya dalam asuhan pada bayi.
3.
Profesi
Diharapkan penelitian
ini dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi tenaga kesehatan dalam hal
ini bidan untuk dapat lebih memotivasi semua ibu hamil agar dapat mencegah
terjadinya BBLR
Comments
Post a Comment