Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Faktor-Faktor
Yang Berhubungan Dengan Tingkat Pengetahuan ibu Nifas Tentang Tanda Bahaya
Masa Nifas di BPS XXX tahun 2019
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Masa nifas adalah masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 42 hari. Proses ini dimulai
setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksi kembali
seperti keadaan sebelum hamil. Ibu masih perlu mendapat perhatian karena ibu
nifas masih beresiko mengalami perdarahan atau infeksi yang dapat mengakibatkan
kematian Ibu. pada ibu nifas sering terjadi masalah yang membahyakan masa nifas seperti
:
perdarahan post partum, lochea yang berbau busuk, subinvolusi uterus,nyeri pada
perut dan pelvis, pusing yang berlebihan, suhu tubuh ibu >38C, mastitis, baby blouse dan depresi postpartum. (
Prawirohardjo, 2016).
Untuk itu diperlukan peran dari tenaga
kesehatn dengan memberikan konseling selama kehamilan, setelah persalinan dan
melakukan kunjungan rumah yaitu KF 2 dan KF 3 sesuai standar pelayanan, penyebab tidak diketahuinya masalah bahaya
masa nifas yaitu kurangnya pengetahuan ibu nifas. Dimana factor yang
mepengaruhi ibu nifas yaitu ( pendidikan, usia, pekerjaan, informasi, pengalaman, lingkungan,social
ekonomi,social budaya, paritas) dan juga konseling
dari tenaga kesehatan selama kehamilan dan setelah persalinan ( Notoatmodjo,
2010).
Konseling mengenai tanda bahaya masa nifas
sangat penting dan perlu, karena masih banyak ibu atau wanita hamil atau pada
masa nifas belum mengetahui tentang tand-tanda bahaya masa nifas, baik yang
diakibatkan masuknya kuman kedalam alat kandungan seperti eksogen atau
autogen (kuman masuk dari tempat
lain dalam tubuh) dan endogen ( dari jalan lahir) (mochtar 2008).
Menurut World
Health Organization ( WHO ) tahun 2010, 536.000 perempuan meninggal akibat
persalinan. Di negara-negara miskin dan berkembang, kematian maternal merupakan
msalah besar, namun sejumlah kematian yang cukup besar tidak diketahui
penyebabnya. Di negara-negara maju kematian berkisar antara 5-10 per 100.000 Kelahiran
Hidup (KH), sedangkan dinegara-negara yang sedang berkembang berkisar antara
750-1000/100.000 (KH). Tingkat kematian maternal di indonesia diperkirakan
sekitar 450 per 100.000 kelahiran hidup,
(WHO 2010). Angka kematian ibu (AKI) menurut (WHO) disebabkan beberapa faktor
diantaranya adalah perdarahan (42,2%), hipertensi (12,9%), infeksi (9,6%),
partus lama (6,5%), komplikasi keguguran,(11%), lain-lain (14,8%). Sedangkan
tingginya angka kematian bayi (AKB) disebabkan karena beberapa faktor diantaranya
asfiksia, infeksi, berat badan lahir rendah (BBLR) (WHO 2008).
Berdasarkan
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu
di Indonesia masih tinggi sebesar 359/100.000 kelahiran hidup (KH). Angka ini
sedikit menurun dibandingkan dengan SDKI tahun 1991, yaitu sebesar 390/100.000
KH. Target global SDGs (Suitainable Development Goals) adalah menurunkan AKI
menjadi 70/100.000 KH. Mengacu dari kondisi saat ini potensi untuk mencapai
target SDGs untuk menurunkan AKI adalah off track, artinya diperlukan kerja
keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya. (Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Di Indonesia
AKI masih terbilang tinggi apabila dibandingkan dengan negara-negara beekembang
di Asia Tenggara lainnya yaitu sebesar 359 kematian maternal per 100.000 KH.
untuk periode 2008-2012 (BPS,2013) data dari The World Bank (2015), menunjukkan
AKI pada tahun 2012 sebesar 148/100.000 KH, ditahun 2013 menjadi 140/100.000
KH, kemudian tahun 2014 menurun menjadi 133/100.000 KH, tahun 2015 turun
menjadi 126/100.000 KH, hal ini masih tergolong tinggi apabila dibandingkan
dengan negara lainnya ( The World Bank,2015).
Berdasarkan
data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2017 menunjukkan bahwa AKI
berjumlah 748/100.000 kelahiran hidup. ( Dinas Kesahatan Jawa Barat, 2017)
Dinas
Kesehatan mencatat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sepanjang
tahun 2018 terdapat 7 kasus dan AKB
terdapat 35 kasus dari jumlah kelahiran 5997/100.000 Kelahiran Hidup (KH), Penyebabnya
yaitu PEB 1, Jantung 3, lain-lain 3.dan penyebab AKB yaitu, BBLR 6, Asfiksia 9,
Kealinan Kongenital 6, Pneumonia 1, dan Lain-lain 6. ( Laporan Tahunan Dinkes, 2018)
Hasil
pencatatan dan pelaporan BPS XXX, periode Januari-Maret 2019 jumlah seluruh ibu
nifas adalah 30 orang dan tidak terdapat AKI dan AKB. (Laporan
Bulanan BPS XXX tahun 2019).
Upaya pemerintah dalam mendukung program MPS ( making pregnancy safer) yaitu dengan dikeluarkan SK Menkes No. 284/MENKES/SK/III/2004
tentang Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). AKI di
Indonesia secara tidak langsung disebabkan
oleh kondisi “4 terlalu” dan situasi “3 terlambat” yaitu terlambat mengambil
keputusan, terlambat merujuk dan terlambat mendapat pertolongan. Keterlambatan
yang pertama yaitu terlambat mengambil keputusan disebabkan karena Ibu dan
keluarga tidak mengenali tanda bahaya yang terjadi khususnya pada masa nifas.
(Wijono D,2008)
Penelitian
oleh Irawati Naser ( 2016) di dapatkan hasil penelitian menunjukkan sebagian
responden berumur 20-30 tahun sebanyak 46 orang (83,6%) pendidikan sebanyak 42
orang (76,4%), paritas sebagian dengan jumlah anak 2-4 sebanyak 33 (60%).
Kemudian menurut penelitian Suriani Labaili menunjukkan bahwa pengetahuan ibu
tentang tanda bahaya berdasarkan usia 20-30 tahun yaitu 29 (46,77%),
berdasarkan kategori pendidikan (SMA) yaitu 23 (37,09%).Kemudian menurut
penelitian Desi Larasati tingkat pengetahuan kategori baik 10 (30,3%), kategori
cukup 15 (45,5%), kategori kurang 8 (24,2%), faktor penghambat dan faktor pendorong yaitu umur 20-30 tahun sebanyak 30
(90,9%), dan pendidikan (SMA) sebanyak 21 (63,6%).
Gambaran studi pendahuluan yang dilakukan di BPS XXX pada tanggal 19
april 2019, diperoleh data jumlah seluruh ibu nifas pada Januari-Maret tahun
2019 sebanyak 30 orang, diambil 10 sampel ibu nifas, dimana 7 dari 10 orang ibu
nifas tidak mengetahui tentang tanda bahaya masa nifas.
Berdasarkan latar
belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang tanda
bahaya masa nifas di BPS XXX tahun 2019.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan data yang didapat dari BPS XXX
terdapat 30 ibu nifas pada bulan Januari-Maret dan hasil dari studi pendahuluan
7 dari 10 ibu nifas tidak mengetahui
tentang tanda bahaya masa nifas. Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu
nifas di BPS XXX tahun 2019?
1.3
Tujuan
1.3.1
Tujuan
Umum
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan ibu Nifas Tentang Tanda
Bahaya Masa
Nifas di BPS
XXX tahun 2019.
1.3.2
Tujuan
Khusus
1. Diketahui
faktor Usia Ibu Nifas Tentang Tanda Bahaya Nifas di BPS XXX periode Januari-Maret 2019
2. Diketahui
faktor pendidikan ibu nifas tentang tanda bahaya nifas di BPS XXX periode Januari-Maret 2019
3. Diketahui
faktor paritas ibu nifas tentang tanda bahaya nifas di BPS XXX periode Januari-Maret 2019
4. Diketahui
hubungan faktor usia ibu nifas tentang
tanda bahaya nifas di BPS XXX periode Januari-Maret 2019
5. Diketahui
hubungan faktor pendidikan ibu nifas tentang tanda bahaya nifas di BPS XXX
periode Januari-Maret 2019
6. Diketahui
hubungan faktor paritas ibu nifas
tentang tanda bahaya nifas di BPS XXX periode Januari-Maret 2019
1.4
Ruang
Lingkup
Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Pengetahuan Ibu Nifas tentang Tanda Bahaya Masa
Nifas di BPM XXX. Dengan
data yang telah ditemukan dari hasil studi pendahuluan dari 10 ibu nifas 3
orang mengerti tentang tanda bahaya dan 7 orang lainnya tidak mengetahui tanda
bahaya nifas. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan
variabel independen adalah factor pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya
nifas meliputi factor usia, pendidikan, dan paritas. Sedangkan variabel
dependennya adalah tanda bahaya nifas. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional yaitu penelitian yang mempelajari korelasi
antara faktor-faktor resiko dengan efek dengan cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat ( point time approach ) artinya tiap subjek hanya diobservasi sekali
dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada
saat pemeriksaan. Instrumen penelitian ini berupa data primer dan lembar
ceklist. Penelitian ini dilakukan pada bulan mei 2019. Populasi penelitian ini
yaitu ibu nifas di BPS XXX periode Januari-Maret 2019 dengan jumlah populasi
sebanyak 30 dengan menggunakan teknik total
sampling.
1.5
Kegunaan
Penelitian
1.5.1
Kegunaan
Teoritis
1.
Untuk
Institusi Pendidikan
a. Dapat
menambah informasi dan wawasan bagi mahasiswa kebidanan mengenai pengetahuan
ibu nifas tentang tanda bahaya masa nifas.
b. Dapat
digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.
2.
Untuk
Peneliti
Penelitian
ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menerapkan antara ilmu dan teori yang
di peroleh di bangku kuliah. Serta dapat memberikan kontribusi berupa
pengembangan informasi dan ilmu pengetahuan mengenai tanda-tanda bahaya masa
nifas.
1.5.2
Kegunaan
Praktis
1.
Untuk
Responden
Diharapkan
dapat menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai tanda bahaya
masa nifas.
2. Instansi tempat
penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan bahan masukan untuk para petugas kesehatan yang berada di di BPS XXX agar lebih
meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam hal memberikan
konseling pada ibu nifas.
3.
Profesi
Diharapkan
penelitian ini dapat meningkatkan peran tenaga kesehatan untuk memotivasi dan
memberikan konseling lebih mendalam dan tepat sasaran.
Comments
Post a Comment