Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

Asuhan Keperawatan Diabetes Militus Type II
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik terjadinya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemi) yang menjadi masalah kesehatan yang besar.
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iv
BAB I ...... PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................... 2
1.4 Manfaat.................................................................................. 3
1.5 Sistematika Penulisan............................................................. 4
BAB II ..... PEMBAHASAN
2.1 Konsep dasar.......................................................................... 5
2.1.1 Pengertian................................................................... 5
2.1.2 Klasifikasi................................................................... 6
2.1.3 Etiologi....................................................................... 7
2.1.4 Patofisiologi................................................................ 8
2.1.5 Pathway...................................................................... 11
2.1.6 Manifestasi klinis........................................................ 12
2.1.7 Komplikasi.................................................................. 13
2.1.8 Penatalaksanaan.......................................................... 18
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan DM......................................... 21
BAB III ... TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian Data...................................................................... 31
3.2 Analisa Data........................................................................... 39
3.3 Prioritas Diagnosa Keperawatan............................................ 40
3.4 Intervensi Keperawatan ......................................................... 41
3.5 Implementasi Keperawatan.................................................... 43
BAB IV ... PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian.............................................................................. 50
4.2 Diagnosa Keperawatan .......................................................... 51
4.3 Intervensi Keperawatan.......................................................... 53
4.4 Implementasi Keperawatan.................................................... 53
4.5 Evaluasi Keperawatan............................................................ 54
BAB V ..... PENUTUP
5.1 Kesimpulan............................................................................. 55
5.2 Saran....................................................................................... 58
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 59
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik terjadinya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemi) yang menjadi masalah kesehatan yang besar. Menurut WHO Tahun 2013, diperkirakan 347 juta orang di dunia menderita Diabetes Melitus jika ini dibiarkan tanpa adanya pencegahan dapat dipastikan jumlah penderita DM semakin meningkat. DM sendiri menduduki peringkat ke 2 di dunia dengan penderita terbanyak. International Diabetes Federation Tahun 2013 juga menyatakan bahwa lebih dari 382 juta orang di dunia menderita DM dan Indonesia merupakan negara yang menempati urutan ke 5 di dunia dengan jumlah penderita diabetes sebanyak 8,5 juta jiwa (International Diabetes Federation, 2013)
International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa sebanyak 183 juta orang tidak menyadari bahwa mereka mengidap DM. Sekitar 80% orang dengan DM tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada tahun 2011, terdapat lebih dari 50 juta orang yang menderita DM di Asia Tenggara, jumlah penderita DM terbesar berusia antara 40-59 tahun (International Diabetes Federation, 2011).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) pada tahun 2007 diperoleh proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah Perkotaan menduduki rangking ke-2 yaitu 14,7% dan untuk di daerah 2 Pedesaan menduduki rangking ke-6 yaitu 5,8%. Data Riskesdas terbaru tahun 2013 menunjukan prevalensi DM sebesar 1,5 juta jiwa untuk total populasi di seluruh Indonesia. Prevalensi penderita DM di Indonesia diperkirakan pada tahun 2030 mencapai 21,3 juta jiwa (Riskesdas, 2013).
Kasus DM di Indonesia semakin meningkat sesuai dengan pola hidup yang cenderung mengadopsi pola hidup negara barat yaitu mengkonsumsi makanan cepat saji yang tinggi akan kandungan karbohidrat dan lemak namun rendah serat. DM juga dikenal sebagai penyakit yang berhubungan dengan asupan makanan, baik sebagai faktor penyebab maupun pengobatan. Asupan makanan yang berlebihan merupakan faktor risiko pertama yang diketahui menyebabkan DM. Asupan makanan tersebut yaitu asupan karbohidrat, protein, lemak dan energi (Yustini, 2013)
Pada tahun 2013 terdapat 15 kabupaten kota dengan angka kejadian diabetes melitus melebihi angka kejadian diabetes mellitus Provinsi Jawa Barat. Sedangkan tahun 2012 sebanyak 10 kabupaten kota. Berarti pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah kabupaten kota dengan kejadian diabetes mellitus melebihi angka kejadian provinsi (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2013).
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 prevalensi diabetes mellitus di Indonesia sebesar 2,1%, sedangkan prevalensi diabetes mellitus terdiagnosis dokter atau gejala di Jawa Barat sebesar 2,0%.Prevalensi diabetes mellitus pada perempuan cenderung lebih tinggi dari pada laik-laki. (Din kes Provinsi Jawa Barat, 2013).
Dari latar belakang di atas kami tertarik untuk menyususn makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Dengan Diagosa Diabetes Mellitus”
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang diatas tentang gangguan “Sistem Endokrin: Diabetes Mellitus, maka yang menjadi perumusan masalah dalam makalah ini adalah “ Bagaimana proses Asuhan Keperawatan Pada Ny. S dengan Diabetes Mellitus”?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Melakukan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Diabetes Mellitus
2. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian Pada Ny. Sdengan gangguan “Diabetes Mellitus ".
2) Merumuskan diagnosa Pada Ny. S dengan gangguan “ Diabetes Mellitus ”.
3) Merencanakan tindakan keperawatan Pada Ny. S dengan gangguan “Diabetes Mellitus”.
4) Memberikan tindakan keperawatan Pada Ny. S dengan gangguan “Diabetes Mellitus”.
5) Mengevaluasi tindakan keperawatan Pada Ny. S dengan gangguan “Diabetes Mellitus”.
1.4 Manfaat
Sebagai tambahan ilmu dalam peningkatan pengetahuan khususnya tentang Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Diagnosa Diabetes Mellitus dan acuan saat mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari dan saat praktinya.
1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan makalah ini dibagi atas lima bab:
- Bab 1 Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah,manfaat dan sistemika penulisan.
- Bab II Tujuan teoritis yang terdiri dari Konsep Dasar, Pengertian, Klasifikasi,Etiologi, Anatomi dan Fisiologi, Faktor Resiko, Fatofisiologi, Manifestasi Klinis, Faktor resiko, Pemeriksaan Diagnostik, Pemeriksaan Medis. Konsep Asuhan Keperawatan, Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi.
- Bab III Tinjauan Kasus yang terdiri dari Pengkajian, Analisa data, Daftar Asuhan Keperawatan, Rencana Asuhan Keperawatan, Catatan keperawatan/Implementasi, Evaluasi dan Catatan Perkembangan.
- Bab IV Pembahasan yang terdiri dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.
- Bab V Penutup yang berisi tentang Kesimpulan, Kritik dan Saran yang menunjang dari kasus yang diangkat
BAB II
TUJUAN TEORITIS
2.1 Konsep Dasar Diabetes Melitus
2.1.1 Pengertian
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (Smeltzer dan Bare, 2015). Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit atau gangguan metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes melitus berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah (PERKENI, 2015 dan ADA, 2017).
Diabetes melitus adalah sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemi kronik akibat defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin yang disertai berbagai kelainan metabolik lain akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah ( Rendy dan Margareth, 2012). Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Hal tersebut dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel beta langerhans kelenjar pankreas atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel tubuh terhadap insulin (Sunaryati dalam Masriadi, 2016).
2.1.2 Klasifikasi
DM dapat diklasifikasikan ke dalam 4 kategori klinis (Smeltzer dan Bare, 2015), yaitu :
a. DM tipe 1
DM tipe 1 atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus), dapat terjadi disebabkan karena adanya kerusakan sel-β, biasanya menyebabkan kekurangan insulin absolut yang disebabkan oleh proses autoimun atau idiopatik. Umumnya penyakit ini berkembang ke arah ketoasidosis diabetik yang menyebabkan kematian. DM tipe 1 terjadi sebanyak 5-10% dari semua DM. DM tipe 1 dicirikan dengan onset yang akut dan biasanya terjadi pada usia 30 tahun (Smeltzer dan Bare, 2015).
b. DM tipe 2
DM tipe 2 atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus), dapat terjadi karena kerusakan progresif sekretorik insulin akibat resistensi insulin. DM tipe 2 juga merupakan salah satu gangguan metabolik dengan kondisi insulin yang diproduksi oleh tubuh tidak cukup jumlahnya akan tetapi reseptor insulin di jaringan tidak berespon terhadap insulin tersebut. DM tipe 2 mengenai 90-95% pasien dengan DM. Insidensi terjadi lebih umum pada usia 30 tahun, obesitas, herediter, dan faktor lingkungan. DM tipe ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi (Smeltzer dan Bare, 2015).
c. DM tipe tertentu
DM tipe ini dapat terjadi karena penyebab lain, misalnya, defek genetik pada fungsi sel-β, defek genetik pada kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas (seperti fibrosis kistik dan pankreatitis), penyakit metabolik endokrin, infeksi, sindrom genetik lain dan karena disebabkan oleh obat atau kimia (seperti dalam pengobatan HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ) (Smeltzer dan Bare, 2015).
d. DM gestasional
DM ini merupakan DM yang didiagnosis selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa didapati pertama kali pada masa kehamilan. Terjadi pada 2-5% semua wanita hamil tetapi hilang saat melahirkan (Smeltzer dan Bare, 2015).
2.1.3 Etiologi
Umumnya diabetes mellitus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil atau sebagian besar dari sel-sel beta dari pulau-pulau langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin, akibatnya terjadi kekurangan insulin. Disamping itu diabetes mellitus juga dapat terjadi karena gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukan glukosa kedalam sel. Gangguan itu dapat terjadi karena kegemukan atau sebab lain yang belum diketahui. (Smeltzer dan Bare, 2015)
Diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan istilah penyakit kencing manis mempunyai beberapa penyebab, antara lain :
a. Pola makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya diabetes mellitus. Konsumsi makanan yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan sekresi insulin dalam jumlah yang memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan pastinya akan menyebabkan diabetes mellitus.
b. Obesitas (kegemukan)
Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90kg cenderung memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes mellitus. Sembilan dari sepuluh orang gemuk berpotensi untuk terserang diabetes mellitus.
c. Faktor genetik
Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya menderita diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.
d. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi pancreas menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas.
e. Penyakit dan infeksi pada pankreas
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipedemia dapat meningkatkan risiko terkena diabetes mellitus.
f. Pola hidup
Pola hidup juga sangat mempengaruhi faktor penyebab diabetes mellitus. Jika orang malas berolahraga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit diabetes mellitus karena olahraga berfungsi untuk membakar kalori yang tertimbun didalam tubuh, kalori yang tertimbun di dalam tubuh merupakan faktor utama penyebab diabetes mellitus selain disfungsi pankreas.
g. Kadar kortikosteroid yang tinggi. Kehamilan diabetes gestasional.
h. Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.
i. Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.
2.1.4 Patofisiologi
Diabetes tipe I. Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia prosprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glikosuria). Ketika glukosa yang berlebihan di eksresikan ke dalam urin, eksresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). (Smeltzer dan Bare, 2015).
Difisiensi insulin juga akan menganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glikosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino dan substansi lain). Namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini kan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbilkan hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam yang menganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang disebabkannya dapat menyebabkan tanda tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perunahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting (Smeltzer dan Bare, 2015).
DM tipe 2 merupakan suatu kelainan metabolik dengan karakteristik utama adalah terjadinya hiperglikemik kronik. Meskipun pola pewarisannya belum jelas, faktor genetik dikatakan memiliki peranan yang sangat penting dalam munculnya DM tipe 2. Faktor genetik ini akan berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan seperti gaya hidup, obesitas, rendahnya aktivitas fisik, diet, dan tingginya kadar asam lemak bebas (Smeltzer dan Bare, 2015). Mekanisme terjadinya DM tipe 2 umumnya disebabkan karena resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Resistensi insulin pada DM tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terjadi peningkatan jumlah insulin yang disekresikan (Smeltzer dan Bare, 2015). Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel β tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi DM tipe 2. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe 2, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada DM tipe 2. Meskipun demikian, DM tipe 2 yang tidak terkontrol akan menimbulkan masalah akut lainnya seperti sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Non-Ketotik (HHNK) (Smeltzer dan Bare, 2015).
Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahuntahun) dan progresif, maka awitan DM tipe 2 dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan, seperti: kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang lama-lama sembuh, infeksi vagina atau pandangan kabur (jika kadar glukosanya sangat tinggi). Salah satu konsekuensi tidak terdeteksinya penyakit DM selama bertahun-tahun adalah terjadinya komplikasi DM jangka panjang (misalnya, kelainan mata, neuropati perifer, kelainan vaskuler perifer) mungkin sudah terjadi sebelum diagnosis ditegakkan (Smeltzer dan Bare, 2015).
2.1.6 Manifestasi Klinis
Adanya penyakit diabetes mellitus ini pada awalnya seringkali tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita. Manifestasi klinis Diabetes Melitus dikaitkan dengan konsekuensi metabolik defisiensi insulin. Jika hiperglikemianya berat dan melebihi ambang ginjal untuk zat ini, maka timbul glikosuria. Glikosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urine (poliuria) jika melewati ambang ginjal untuk ekskresi glukosa yaitu ± 180 mg/dl serta timbulnya rasa haus (polidipsia). Rasa lapar yang semakin besar (polifagia) mungkin akan timbul sebagai akibat kehilangan kalori (Price dan Wilson, 2012).
Pasien dengan diabetes tipe I sering memperlihatkan awitan gejala yang eksplosif dengan polidipsia, pliuria, turunnya berat badan, polifagia, lemah, somnolen yang terjadi selama beberapa hari atau beberapa minggu. Pasien dapat menjadi sakit berat dan timbul ketoasidosis, serta dapat meninggal kalau tidak mendapatkan pengobatan segera. Terapi insulin biasanya diperlukan untuk mengontrol metabolisme dan umumnya penderita peka terhadap insulin. Sebaliknya pasien dengan diabetes tipe 2 mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala apapun, dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboratorium dan melakukan tes toleransi glukosa. Pada hiperglikemia yang lebih berat pasien tersebut mungkin menderita polidipsia, poliuria, lemah dan somnolen. Biasanya mereka tidak mengalami ketoasidosis karena pasien ini tidak defisiensi insulin secara absolut namun hanya relatif. Sejumlah insulin tetap disekresi dan masih cukup untuk mnenghambat ketoasidosis (Price dan Wilson, 2012).
Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi 2 yaitu gejala akut dan gejala kronik (PERKENI, 2015) :
a. Gejala akut penyakit DM
Gejala penyakit DM bervariasi pada setiap penderita, bahkan mungkin tidakmenunjukkan gejala apa pun sampai saat tertentu. Permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak (poli) yaitu banyak makan (poliphagi), banyak minum (polidipsi), dan banyak kencing (poliuri). Keadaan tersebut, jika tidak segera diobati maka akan timbul gejala banyak minum, banyak kencing, nafsu makan mulai berkurang atau berat badan turun dengan cepat (turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu), mudah lelah, dan bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual (PERKENI, 2015).
b. Gejala kronik penyakit DM
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita DM adalah kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit, kram, mudah mengantuk, mata kabur, biasanya sering ganti kacamata, gatal di sekitar kemaluan terutama pada wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun, dan para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg (PERKENI, 2015).
2.1.7 Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien DM tipe 2 akan menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi DM tipe 2 terbagi dua berdasarkan lama terjadinya yaitu: komplikasi akut dan komplikasi kronik (Smeltzer dan Bare, 2015 ; PERKENI, 2015).
a. Komplikasi akut
1) Ketoasidosis diabetik (KAD)
KAD merupakan komplikasi akut DM yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL), disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300-320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap (PERKENI, 2015).
2) Hiperosmolar non ketotik (HNK)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200 mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat (330-380 mOs/mL), plasma keton (+/-), anion gap normal atau sedikit meningkat (PERKENI, 2015).
3) Hipoglikemia
Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah mg/dL. Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Gejala hipoglikemia terdiri dari berdebar-debar, banyak keringat, gementar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan kesadaran menurun sampai koma (PERKENI, 2015).
b. Komplikasi kronik
Komplikasi jangka panjang menjadi lebih umum terjadi pada pasien DM saat ini sejalan dengan penderita DM yang bertahan hidup lebih lama. Penyakit DM yang tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya komplikasi kronik.
Kategori umum komplikasi jangka panjang terdiri dari :
1) Komplikasi makrovaskular
Komplikasi makrovaskular pada DM terjadi akibat aterosklerosis dari pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak ateroma. Makroangiopati tidak spesifik pada DM namun dapat timbul lebih cepat, lebih sering terjadi dan lebih serius. Berbagai studi epidemiologis menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dan penderita DM meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal. Komplikasi makroangiopati umumnya tidak ada hubungan dengan kontrol kadar gula darah yang baik. Tetapitelah terbukti secara epidemiologi bahwa hiperinsulinemia merupakan suatu faktor resiko mortalitas kardiovaskular dimana peninggian kadar insulin dapat menyebabkan terjadinya risiko kardiovaskular menjadi semakin tinggi. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar antara lain adalah pembuluh darah jantung atau penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak atau stroke, dan penyakit pembuluh darah. Hiperinsulinemia juga dikenal sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi makrovaskular (Smeltzer dan Bare, 2015).
Terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan hubungan penyakit diabetes melitus dengan gagal jantung. Mekanismenya dapat berupa mekanisme langsung (misalnya, hiperglikemia menyebabkan gagal jantung), dan mekanisme tidak langsung yang muncul akibat beberapa komplikasi dari diabetes melitus antara lain:
a. Stress oksidatif
Stress oksidatif adalah keadaan di mana kebutuhan makanan sel tubuh tidak terpenuhi, kemudian timbul kelaparan. Kondisi hiperglikemi atau kadar gula darah tinggi yang terjadi pada penderita dapat menyebabkan sel-sel tubuh kelaparan. Saat tubuh mengalami resistensi insulin (diabetes tipe 2) atau tidak cukup insulin (diabetes tipe 1), gula yang masuk ke dalam tubuh tidak dapat diolah menjadi simpanan diotot oleh insulin. Jika hal ini terus-menerus terjadi, maka akan mengakibatkan hiperglikemik kronis. Gula yang dibutuhkan sel untuk dijadikan bahan bakar tidak dapat disalurkan, sehingga sel-sel tersebut mengalami kelaparan, yang akan berujung pada kerusakan sel lalu kematian sel.Ketika sel-sel mati, maka jaringan tubuh yang membentuk berbagai organ akan terganggu, termasuk pada jantung. Saat ada sebagian jaringan jantung rusak dan tidak dapat melakukan fungsinya dengan baik, maka jaringan jantung lainnya akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan fungsinya. Hal ini akan menimbulkan kelelahan pada jantung dan jika terus terjadi, jantung akan berhenti untuk melakukan fungsinya dan terjadilah gagal jantung.
b. Aterosklerosis
Insulin memiliki berbagai dampak pada jaringan tubuh. Dampak yang ditimbulkan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk obesitas dan akumulasi lemak yang ada pada bagian perut atau abdomen. Ketika diabetes tipe 2 terjadi, tubuh menjadi tidak peka dengan hormon insulin yang diproduksi dan mengakibatkan resistensi insulin. Resistensi insulin yang terjadi berulang-uang dapat menyebabkan inflamasi pada jaringan tubuh. Semakin banyaknya gula yang masuk, tubuh semakin resisten terhadap insulin, kemudian menyebabkan inflamasi yang terjadi semakin parah. Padahal, inflamasi tersebutlah yang memicu gagal jantung pada penderita diabetes. Sel-sel inflamasi akan memenuhi pembuluh darah, yang semakin lama akan semakin menutupi pembuluh darah dan berakhir pada aterosklerosis yang dapat meningkatkan risiko gagal jantung.
c. Hipertrigliserida
Pada penderita diabetes, dalam pembuluh darahnya tidak hanya mengandung kadar gula yang tinggi, namun cenderung memiliki tingkat trigliserida yang tinggi pula. Hipertrigliserida yang terjadi pada penderita diabetes terjadi karena insulin juga memiliki peran untuk mengatur kadar lemak dalam tubuh. Ketika tubuh resisten terhadap insulin, fungsi insulin pun terganggu dan membuat kadar lemak dalam darah tidak terkontrol.
Hipertrigliserida dapat menyebabkan kolesterol jahat dalam tubuh meningkat dan kolesterol baik menurun. Jika keadaan ini terjadi terus-menerus maka akan terjadi aterosklerosis atau penumpukan lemak dalam pembuluh darah. Aterosklerosis yang terjadi pada tubuh menyebabkan tekanan darah meningkat dan jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Jantung yang terus bekerja keras akan mengalami kelelahan dan berhenti bekerja pada satu waktu.
2) Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah kecil khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati diabetik dan nefropati diabetik. Retinopati diabetik dibagi dalam 2 kelompok, yaitu retinopati non proliferatif dan retinopati proliferatif. Retinopati non proliferatif merupakan stadium awal dengan ditandai adanya mikroaneurisma, sedangkan retinopati proliferatif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler, jaringan ikat dan adanya hipoksia retina. Seterusnya, nefropati diabetik adalah gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah. Nefropati diabetik ditandai dengan adanya proteinuria persisten (>0,5 gr/24 jam), terdapat retinopati dan hipertensi. Kerusakan ginjal yang spesifik pada DM mengakibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga molekul-molekul besar seperti protein dapat masuk ke dalam kemih (albuminuria). Akibat dari nefropati diabetik tersebut dapat menyebabkan kegagalan ginjal progresif dan upaya preventif pada nefropati adalah kontrol metabolisme dan kontrol tekanan darah (Smeltzer dan Bare, 2015)
3) Neuropati
Diabetes neuropati adalah kerusakan saraf sebagai komplikasi serius akibat DM. Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa hilangnya sensasi distal dan biasanya mengenai kaki terlebih dahulu, lalu ke bagian tangan. Neuropati berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. Gejala yang sering dirasakan adalah kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis DM ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropatidistal. Apabila ditemukan adanya polineuropati distal, perawatan kaki yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. Semua penyandang DM yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki (PERKENI, 2015).
2.1.8 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi :
a. Tujuan jangka pendek : menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut.
b. Tujuan jangka panjang : mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati.
c. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid (mengukur kadar lemak dalam darah), melalui pengelolaan pasien secara komprehensif.
Pada dasarnya, pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan disertai dengan latihan jasmani yang cukup selama beberapa waktu (24 minggu). Bila setelah itu kadar glukosa darah masih belum dapat memenuhi kadar sasaran metabolik yang diinginkan, baru dilakukan intervensi farmakologik dengan obat - obat anti diabetes oral atau suntikan insulin sesuai dengan indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, DM dengan stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, insulin dapat segera diberikan. Pada keadaan tertentu obat-obat anti diabetes juga dapat digunakan sesuai dengan indikasi dan dosis menurut petunjuk dokter. Pemantauan kadar glukosa darah bila dimungkinkan dapat dilakukan sendiri di rumah, setelah mendapat pelatihan khusus untuk itu (PERKENI, 2015)
Menurut Smeltzer dan Bare (2015), tujuan utama penatalaksanaan terapi pada Diabetes Mellitus adalah menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosa darah, sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi.
Tatalaksana diabetes terangkum dalam 4 pilar pengendalian diabetes. Empat pilar pengendalian diabetes, yaitu :
a. Edukasi
Penderita diabetes perlu mengetahui seluk beluk penyakit diabetes. Dengan mengetahui faktor risiko diabetes, proses terjadinya diabetes, gejala diabetes, komplikasi penyakit diabetes, serta pengobatan diabetes, penderita diharapkan dapat lebih menyadari pentingnya pengendalian diabetes, meningkatkan kepatuhan gaya hidup sehat dan pengobatan diabetes. Penderita perlu menyadari bahwa mereka mampu menanggulangi diabetes, dan diabetes bukanlah suatu penyakit yang di luar kendalinya. Terdiagnosis sebagai penderita diabetes bukan berarti akhir dari segalanya. Edukasi (penyuluhan) secara individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil.
b. Pengaturan makan (Diit)
Pengaturan makan pada penderita diabetes bertujuan untuk mengendalikan gula darah, tekanan darah, kadar lemak darah, serta berat badan ideal. Dengan demikian, komplikasi diabetes dapat dihindari, sambil tetap mempertahankan kenikmatan proses makan itu sendiri. Pada prinsipnya, makanan perlu dikonsumsi teratur dan disebar merata dalam sehari. Seperti halnya prinsip sehat umum, makanan untuk penderita diabetes sebaiknya rendah lemak terutama lemak jenuh, kaya akan karbohidrat kompleks yang berserat termasuk sayur dan buah dalam porsi yang secukupnya, serta seimbang dengan kalori yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari penderita.
c. Olahraga / Latihan Jasmani
Pengendalian kadar gula, lemak darah, serta berat badan juga membutuhkan aktivitas fisik teratur. Selain itu, aktivitas fisik juga memiliki efek sangat baik meningkatkan sensitivitas insulin pada tubuh penderita sehingga pengendalian diabetes lebih mudah dicapai. Porsi olahraga perlu diseimbangkan dengan porsi makanan dan obat sehingga tidak mengakibatkan kadar gula darah yang terlalu rendah. Panduan umum yang dianjurkan yaitu aktivitas fisik dengan intensitas ringan-selama 30 menit dalam sehari yang dimulai secara bertahap. Jenis olahraga yang dianjurkan adalah olahraga aerobik seperti berjalan, berenang, bersepeda, berdansa, berkebun, dll. Penderita juga perlu meningkatkan aktivitas fisik dalam kegiatan sehari-hari, seperti lebih memilih naik tangga ketimbang lift, dll. Sebelum olahraga, sebaiknya penderita diperiksa dokter sehingga penyulit seperti tekanan darah yang tinggi dapat diatasi sebelum olahraga dimulai.
d. Obat / Terapi Farmakologi
Obat oral ataupun suntikan perlu diresepkan dokter apabila gula darah tetap tidak terkendali setelah 3 bulan penderita mencoba menerapkan gaya hidup sehat di atas. Obat juga digunakan atas pertimbangan dokter pada keadaan-keadaan tertentu seperti pada komplikasi akut diabetes, atau pada keadaan kadar gula darah yang terlampau tinggi.
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan DM
2.2.1 Pengkajian
· Identitas klien
· Riwayat kesehatan sekarang
1) Adanya gatal pada kulit disertai luka yang tidak sembuh – sembuh
2) Kesemutan
3) Menurunnya BB
4) Meningkatnya nafsu makan
5) Sering haus
6) Banyak kencing
7) Menurunnya ketajaman penglihatan
· Riwayat kesehatan dahulu à riwayat penyakit pankreas, hipertensi, MCI, ISK berulang
· Riwayat kesehatan keluarga à riwayat keluarga dengan DM
· Pemeriksaan fisik à persistem
· Pemeriksaan penunjang
a) Kadar glukosa
Ø Gula darah sewaktu / random > 200mg/dl
Ø Gula darah puasa / nuchter > 140 mg/dl
Ø Gula darah 2 jam PP ( post prandial ) > 200 mg/dl
b) Aseton plasma à hasil (+) mencolok
c) Aseton lemak bebas à peningkatan lipid dan kolesterol
d) Osmolaritas serum ( > 330 osm/l)
e) Urinalisis à proteinuria, ketonuria, glukosuria
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Menurut Judith M.Wilkinson (2017) :
1) Ketidakmampuan koping: keluarga berhubungan dengan : program perawatan diri yang kompleks, penyakit kronis, ketidakmampuan untuk memperkirakan masa depan, infromasi/pemahaman tidak adekuat atau tidak lengkap, perubahan yang dibutuhkan dalam fungsi keluarga
2) Ketidakstabilan glukosa darah berhubungan dengan Hiperglikemia
3) Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan fungsi leukosit, penyembuhan yang lambat, gangguan sirkulasi
4) Resiko cedera berhubungan dengan gangguan penglihatan, hipoglikemia dan gangguan sensasi taktil
5) Resiko disfungsi neurovaskuler : perifer berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa, insulin atau elektrolit, perubahan neurovaskuler perifer
6) Ketidakpatuhan berhubungan dengan kompleksitas perawatan diri dan program medis, sifat kronis penyakit, penyangkalan
7) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menggunakan glukosa yang menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan otot, dan kehausan
8) Ketidakberdayaan berhubungan dengan persepsi ketidakmampuan untuk mencegah komplikasi, seperti buta dan amputasi
Menurut Ns.Andra Saferi Wijaya,S.Kep dan Ns.Yessie Mariza Putri,S.Kep :
2.2.3 Intervensi
NO |
Dx. Keperawatan |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Intervensi |
1. |
Ketidakmampuan koping: keluarga berhubungan dengan : program perawatan diri yang kompleks, penyakit kronis, ketidakmampuan untuk memperkirakan masa depan, infromasi/pemahaman tidak adekuat atau tidak lengkap, perubahan yang dibutuhkan dalam fungsi keluarga |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam diharapkan Ketidakmampuan koping keluarga pada pasien teratasi dengan kriteria hasil: - Memperlihatkan fleksibilitas peran - Mengatasi masalah keluarga - Memedulikan kebutuhan semua anggota keluarga - Mempertahankan stabilitas keuangan keluarga - Mencari bantuan keluarga jika perlu |
Penyuluhan untuk pasien/keluarga 1. Diskusikan dengan keluarga tentang cara yang efektif untuk menunjukan perasaan
2. Rujuk anggota keluarga dan individu ke kelompok dukungan, terapi psikiatri dan layanan sosial 3. Bantu keluarga dalam mengenal masalah 4. Bantu anggota keluarga dalam mengklarifikasi apa yang mereka harapkan dan butuhkan satu sama lain |
2. |
Ketidakseimbangan glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ketidakstabilan glukosa darah teratasi dengan kriteria hasil : - Menunjukan prosedur yang benar untuk memeriksa kadar glukosa darah - Mematuhi regumen yang diprogramkan untuk memantaukan glukosa darah - Mematuhi rekomendasi diet dan latihan fisik - Memperlihatkan prosedur yang benar untuk memberikan obat secara mandiri - Menguraikan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia |
1. Kaji Faktor yang dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan glukosa 2. Pantau kadar glukosa serum sesuai dengan program atau protokol 3. Pantau intake dan output 4. Pantau tanda dan gejala hiperglikemia 5. Tentukan penyebab hiperglikemia
6. Berikan informasi mengenai diabetes 7. Berikan informasi mengenai penerapan diet dan latihan fisik untuk mencapai keseimbangan kadar glukosa 8. Lapor pada dokter jika tanda dan gejala hiperglikemia terjadi dan tidak dapat dikembalikan dengan aktivitas mandiri |
3. |
Resiko infeksi |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil: - Terbebas dari tanda dan gejala infeksi - Memperlihatkan personal higiene yang adekuat - Mengindikasikan status gastrointestinal pernafasan, genitourinaria,dan imun dalam batas normal - Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi - Melaporkan tanda dan gejala infeksi serta mengikuti prosedur skirning dan pemantauan |
1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga mengapa sakit atau terapi meningkatkan resiko terhadap infeksi 2. Intruksikan untuk menjaga personal higiene untuk melindungi tubuh dari infeksi 3. Jelaskan rasional dan mamfaat serta efek samping imunisasi 4. Berikan terapi antibiotik bila perlu 5. Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang dengan tidak menugaskan perawat yang sama untuk pasien lain yang mengalami infeksi 6. Bersihkan lingkungan dengan benar 7. Pertahankan teknik isolasi bila diperlukan |
4. |
Resiko cedera |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam resiko cedera teratasi dengan kriteria hasil: - Mempersiapkan lingkungan yang aman - Mengidentifikasi resiko yang meningkatkan kerentanan terhadap cedera - Menghindari cedera fisik
|
1. Ajarkan pasien untuk berhati-hati dengan alat bantu 2. Berikan materi edukasi yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cedera 3. Orientasikan kembali pasien terhadap realita dan lingkungan saat ini bila dibutuhkan 4. Sediakan alat bantu berjalan bila diperlukan gunakan restrain fisik untuk membatasi resiko jatuh 5. Ajarkan pasien untuk meminta bantuan 6. Jauhkan bahaya lingkungan 7. Jangan lakukan perubahan yang tidak diperlukan dilingkungan fisik 8. Pastikan bahwa pasien menggunakan alat berjalan yang sesuai |
5. |
Resiko Disfungsi neurovaskuler perifer |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam resiko disfungsi neurovaskuler perifer teratasi dengan kriteria hasil: - Tekanan darah dalam batas normal mengenali tanda dan gejala disfungsi neuro perifer - Nadi kuat pada ekstermitas - Tetap terbebas dari cedera akibat dari penekanan alat atau restrain - Memperlihatkan penyembuhan yang optimal dan adaptasi terhadap gips, traksi atau balutan luka - Memiliki tonus otot yang baik dan pergerakan ekstermitas yang kuat
|
1. Ajarkan pasien dan keluarga tentang rutinitas perawatan gips dan cara mencegah komplikasi 2. Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda gejala cedera syaraf perifer dan pentingnya menghubungi tim medis dengan segera 3. Ajarkan pasien atau kelurga yntuk melakukan latihan rentang pergerakan sendi pasif, asistif atau aktif 4. Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik (fisioterapi) dalam mengembangkan dan menjalanakan program latihan 5. Menghindari pakaian dan perhiasan yang ketat untuk mencegah iskemia 6. Berikan perawatan segera jika sindrom kompartemen dicurigai. 7. Pastikan bahwa pakaian pasien tidak menghambat |
6. |
Ketidakpatuhan b.d kompleksitas, biaya, durasi, kresibilitas finansial rencana, intensitas |
Setelah dilkakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ketidakpatuhan terartasi dengan kriteria hasil sebagai berikut : - Tidak melakukan penganiayaan terhadap pemberi perawatan, baik secara fisik maupun verbal - Menggunakan tindakan untuk mengendalikan nyeri - Mematuhi program pengobatan dan regimen terapeutik yang dianjurkan - Memenuhi janji dengan pemberi pelayanan kesehatan - Melaporkan efek penanganan yang penting dan efek samping - Melaporkan pengendalian gejala penyakit |
1. Bantu pasien dan keluarga memahami kebutuhan untuk mematuhi program terapi dan konsekuensi akibat ketidakpatuhan 2. Berikan instruksi tertulis tenttang manfaat dan lokasi aktivitas pelayanan kesehatan bila perlu 3. Konsultasikan dengan dokter tentang kemungkinan perubahan program pengobatan untuk mendukung keperluan pasien 4. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan keluhan tentang hospitalisasi dan hubungan dengan pemberi layanan kesehatan 7. Berikan dukungan emosi kepada anggota keluarga untuk membantu mereka mempertahankan hubungan positif dengan pasien |
7. |
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan menelan atau mencerna makanan atau menyerap nutrien akibat faktor biologis, psikologis, atau ekonomi, termasuk beberapa |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam ketidakseimbanagn nutrisi kurang dari kebutuhan teratasi dengan kriteria hasil: - Mempertahankan BB atau bertambah BB - Menjelaskan komponen diet bergizi adekuat - Mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet - Menoleransi diet yang dianjurkan - Memiliki nilai laboratorium (transferin albumin dan elektrolit dalam batas normal - Melaporkan tingkat energi yang adekuat |
1. Ajarkan metode untuk perencanaan makanan 2. Ajarkan pasien/keluarga tentang makanan bergizi 3. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya 4. Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein pasien yang tidak mengalami ketidakadekuatan asupan protein atau kehilangan protein 5. Buat perencanaan makanan dengan pasien yang masuk dalam jadwal makan 6. Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah 7. Hindari prosedur invasif sebelum makan 8. Ciptakan lingkungan menyenangkan untuk makan |
8. |
Ketidakberdayaan b.d Program yang terkait dengan penyakit, lingkungan perawatan kesehatan, ketidakpuasan dalam interaksi personal, penyakit kronis atau terminal |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ketidakberdayaan teratasi dengan kriteria hasil : - Mengungkapkan secara verbal tentang segala perasaan ketidak berdayaan - Mengindentifikasi tindakan yang berada dalam kendalinya - Menghubungkan ketiadaan kendala dan tindakan - Mengungkapan secara verbal kemampuan untuk melakukan tindakan yang diperlukan - Melaporkan dukungan yang adekuat dari teman-teman dan tetangga |
1. Pantau tingkat tanggung jawab yang diemban pasien 2. Adakan suatu konferensi multi disiplin untuk diskusikan mengembangkan rutinitas perawatan pasien 3. Bantu pasien untuk mengindentifikasi faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketidakberdayaan Diskusikan dengan pasien tentang pilihan yang realistis dalam perawatan, berikan penjelasan untuk pilihan tersebut |
2.2.4 Implementasi
Pelaksanaan disesuaikan dengan intervensi yang telah ditentukan
2.2.5 Evaluasi
Diagnosa 1 :
Ketidakmampuan koping: keluarga berhubungan dengan: program perawatan diri yang kompleks, penyakit kronis, ketidakmampuan untuk memperkirakan masa depan, infromasi/pemahaman tidak adekuat atau tidak lengkap, perubahan yang dibutuhkan dalam fungsi keluarga
- Memperlihatkan fleksibilitas peran
- Mengatasi masalah keluarga
- Memedulikan kebutuhan semua anggota keluarga
- Mempertahankan stabilitas keuangan keluarga
- Mencari bantuan keluarga jika perlu
Diagnosa ke 2
Keridakseimbangan glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia
- Menunjukan prosedur yang benar untuk memeriksa kadar glukosa darah
- Mematuhi regumen yang diprogramkan untuk memantaukan glukosa darah
- Mematuhi rekomendasi diet dan latihan fisik
- Memperlihatkan prosedur yang benar untuk memberikan obat secara mandiri
- Menguraikan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia
Diagnosa ke 3
Resiko infeksi :
- Memperlihatkan personal higiene yang adekuat
- Mengindikasikan status gastrointestinal pernafasan, genitourinaria dan imun dalam batas normal
- Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi
- Melaporkan tanda dan gejala infeksi serta mengikuti prosedur skirning dan pemantauan
Diagnosa ke 4
Resiko cedera:
- Mempersiapkan lingkungan yang aman
- Mengidentifikasi resiko yang meningkatkan kerentanan terhadap cedera
- Menghindari cedera fisik
Diagnosa ke 5
Resiko Disfungsi neurovaskuler perifer:
- Tekanan darah dalam batas normal
- Mengenali tanda dan gejala disfungsi neuro perifer
- Nadi kuat pada ekstermitas
- Tetap terbebas dari cedera akibat dari penekanan alat atau restrain
- Memperlihatkan penyembuhan yang optimal dan adaptasi terhadap gips, traksi atau balutan luka
- Memiliki tonus otot yang baik dan pergerakan ekstermitas yang kuat
Diagnosa ke 6
Ketidakpatuhan b.d kompleksitas, biaya, durasi, kresibilitas finansial rencana, intensitas
- Tidak melakukan penganiayaan terhadap pemberi perawatan, baik secara fisik maupun verbal
- Menggunakan tindakan untuk mengendalikan nyeri
- Mematuhi program pengobatan dan regimen terapeutik yang dianjurkan
- Memenuhi janji dengan pemberi pelayanan kesehatan
- Melaporkan efek penanganan yang penting dan efek samping
- Melaporkan pengendalian gejala penyakit
Diagnosa ke 7
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan menelan atau mencerna makanan atau menyerap nutrien akibat faktor biologis, psikologis, atau ekonomi, termasuk beberapa
- Mempertahankan BB atau bertambah BB
- Menjelaskan komponen diet bergizi adekuat
- Mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet
- Menoleransi diet yang dianjurkan
- Memiliki nilai laboratorium ( transferin albumin dan elektrolit dalam batas normal
- Melaporkan tingkat energi yang adekuat
Diagnosa ke 8
Ketidakberdayaan b.d Program yang terkait dengan penyakit, lingkungan perawatan kesehatan, ketidakpuasan dalam interaksi personal, penyakit kronis atau terminal
- Mengungkapkan secara verbal tentang segala perasaan ketidak berdayaan
- Mengindentifikasi tindakan yang berada dalam kendalinya
- Menghubungkan ketiadaan kendala dan tindakan
- Mengungkapan secara verbal kemampuan untuk melakukan tindakan yang diperlukan
- Melaporkan dukungan yang adekuat dari teman-teman dan tetangga
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian Data
1. Identitas Klien
Nama : Ny. S
Usia : 62 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Alamat : Sukabumi
Tanggal Masuk : 10 Desember 2019
No.Medrec : 00137531
Ruang :
Diagnosa Medis : DM Tipe II + Gastropati DM + Post Amputasi Crutis Sin Pod 2 minggu.
Tanggal Pengkajian : 10 Desember 2019
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. Y
Umur : 42 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : IRT
3. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Mual dan Muntah
b. Riwayat Kesehatan Sekarang : klien mengeluh sering mual dan muntah terdapat nyeri pada ulu hati dan perutnya terasa begah dan mual saat diisi oleh makanan, dan mual /muntah berkurang pada saat klien berbaring dan minum air hangat.
c. Riwayat kesehatan Dahulu : keluarga mengatakan klien menderita penyakit gula sejak dan tidak berobat secara teratur, 2 minggu yang lalu klien dibawa ke rumah sakit karena terdapat luka pada kaki kanan dan harus diamputasi, pulang perawatan tanggal 04-Desember-2019.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga: keluarga mengatakan Ibu klien mempunyai riwayat penyakit yang sama Dengan klien yaitu DM.
4. Data Psikologi
1) Status Emosi : Emosi pasien tampak stabil, terbukti pasien selalu tenang
2) Kecemasan : Pasien tampak terlihat cemas
3) Pola koping : Pasien mengatakan menyerahkan sepenuhnya kepada tim medis tentang kondisi penyakitnya. Dalam mengatasi masalah klien sering meminta bantuan orang lain
4) Gaya komunikasi : Pasien bisa berkomunikasi dengan baik
5) konsep diri:
a) Body image : Pasie tampak sabar dalam menerima sakit yang dideritanya
b) Harga Diri : Pasien ingin cepat pulang agar dapat berkumpul kembali dengan keluarganya dan temannya.
c) Peran : Pasien berperan sebagai seorang istri dan seorang ibu dari anak- anaknya.
d) Identitas Diri : Pasien berjenis kelamin perempuan, pasien merasa tidak berdaya
e) Ideal diri : Pasien kurang dapat berinteraksi dengan perawat
a. Data Sosial : Pasien mengatakan ingin cepat sembuh agar bisa bersosialisasi seperti biasanya.
b. Data spiritual :
- Pelaksanaan Ibadah : Selama di Rumah Sakit pasien sholat 5 waktu di tempat tidur
- Kepercayaan/keagamaan : Pasien menganut agama islam dan ( pasien banyak berdoa)
5. Data Pemeriksaan Umum dan pemeriksaaan fisik
a. Pemeriksaan Umum
Penampilan umum : Kurang bersih, lemas
kesadaran : Composmmentis,GCS 15 E4, M6, V5
Berat Badan : 33 kg
Panjang /tinggi Badan : 153 cm
Tekanan darah : 160/100 mmhg
Respirasi : 21x/mnit
Nadi : 82x/mnit
Suhu : 36,c
IMT :
BB |
= |
33 |
= |
33 |
= |
14,05 (kurang) |
TB |
(153)2 |
2,3409 |
b. Pemeriksaan Fisik
1) Sistem Pernafasan :
Inpeksi : Septum simetris, tidak ada polip, tidak ada penumpukan sekret, pergerakan dada kanan dan kiri simetris, respirasi 21x/mnit
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada hidung, ada pembesaran kelenjar tyroid di leher bagian kiri
Perkusi : Suara paru- paru redup
Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler
2) Sistem Kardiovaskuler
Inpeksi : Konjungtiva ananemis, mukosa bibir tidak lembab,
Palpasi : Tidak ada pembesaran vena jugularis di leher, CRT> 2 detik, tidak ada nyeri tekan pada dada kanan ataupun kiri.
Perkusi : Jantung pekak
Auskultasi : TD:150/90 mmhg
3) Sistem Pencernaan
Inpeksi : Tidak ada lesi di daerah abdomen, tidak ada pendarahan gusi, nafas tidak bau, terdapat luka vocal pada mulut, terdapat caries pada gigi,tidak ada hemoroid pada anus.
Palpasi : Tida ada nyeri tekan pada ulu hati
Perkusi : Tympani
Auskultasi : Terdengar bising usus 12x/menit
4) Sistem syaraf:
Tingkat kesadaran : Composmentis,tidak ada tumor,
N1 : Saraf olfaktorius, Fungsi penciuman baik
N2 : saraf optikus: normal, kesegala arah, lapang pandang pasien normal, terbukti mata pasien mengikuti gerakan uji pemeriksaan kearah lateral, tengah, median, superior dan anterior.
N3 : Saraf okulomotorius: refleks cahaya pupil normal, gerakan bola mata bebas kesegala arah
N4 : Saraf troklearis: Pasien dapat menoleh gerakan kebawah dan ke nasal / dalam dengan baik
N5 : Saraf trigeminus
fungsi motorik: Sensabilitas
wajah: rasa raba, rasa nyeri, suhu, sikap, dan getar pasien tidak ada kelainan
N6 : Saraf abdusen : Fungsi otot bola mata baik dengan melihat ke enam arah utama yaitu lateral (abdusers)
N7 : Saraf fasialis : Di 2/3 lidah pasien dapat merasa dan menyebutkan rasa dengan benar.
N8 : Saraf vestibuloakustikus : Pasien kurang mendengar dengan baik, ada mengalami penurunan pendengaran.
N9 : Saraf glosofaringus : Menyentuhkan tongspatel ke posterior paring pasien, timbulnya reflex muntah,(gesso faringeal
N10 : Saraf vagus : Denyut jantung normal tidak terjadi regusgitasi ( N vagus)
N11 : Saraf Aksesorius : Pasien dapat mengangkat bahu dengan baik
N12 : Saraf Hipoglosisi : Gerakan lidah terkoordinasi dengan baik
Reflek Patologi : Kaku kudus (-) tidak ada kaku kuduk
5) Sistem Penglihatan :
Inpeksi : Kebersihan mata bagus, Bentuk mata simetris kunjungtiva anemis, sklera ikterik, lapang pandang pasien normal terbukti mata pasien mengikuti gerakan, sisi pemeriksaan ke arah lateral tengah, median superior dan anterior.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada blepharen
6) Sistem Pendengaran :
Inpeksi : Bentuk telinga simetris, tidak ada penumpukan serumen
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
7) Sistem Perkemihan :
Inspeksi : Karakteristik urine kuning jernih, BAK 250 cc, frekuensi 3-4x / hari pasien tidak terpasang kateter urine, tetapi memakai pampers, tidak ada darah dalam urine
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada ginjal
Sistem Muskuloskeletal :
Inpeksi
: Pergerakan sendi bagian
ekstremitas atas normal
terpasang infus di tangan sebelah kanan dan bawah terdapat luka
post amputasi pod 2 minggu pada kaki sebelah kiri
Palpasi : Tidak ada nyeri gerak pada ekstermitas atas dan terdapat nyeri tekan pada estremitas kiri bawah, kekuatan otot 3 3.
8) Sistem Endokrin :
Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid di leher, kuku tangan dan kaki panjang dan kotor
9) Sistem Integumen :
Inpeksi : Kulit tidak elastis, warna kulit sawo matang, terdapat luka di kaki kiri bawah
Palpasi : Turgor kulit tidak elastis, mukosa bibir kering, edema saat dipalpasi terdapat lekukan, tidak ada pitting edema.
10) Sistem Reproduksi : Pasien jarang membersihkan genetalianya dan tidak memakai alat kontrasepsi
Kebiasaan sehari-hari / Pola aktivitas sehari- hari
No |
Jenis Kegitan |
Pola dirumah |
Pola di rumah sakit |
1 |
Nutrisi Makan Jenis makanan Pantangan
Minum Jenis minum |
3x/ hari ( 1/2 porsi) Nasi lauk Pauk Makanan manis
3 gelas / hari Air Putih |
3x/ hari (5 sendok / porsi) Nasi Tim Tidak boleh makan yang mengandung glukosa tinggi 1 gelas / hari Air Putih |
2 |
Eliminasi BAB Warna Konsistensi BAK Warna Keluhan
|
1x/ hari Kuning kecoklatan Padat 3-4x/ hari Kunih jernih - |
1x/ hari Kuning Kecoklatan lembek Memakai pampers ( 3x/hari) Kunih Jernih - |
3 |
Istirahat dan Tidur Siang hari Gangguan Malam hari Gangguan |
1 Jam/ hari - 7-8 Jam/ hari - |
2 Jam/ hari - 7-8 Jam/ hari - |
4 |
Personal Hygiene Mandi Gosok gigi Keramas |
2x/ hari 2x/ hari 1-2x/ minggu |
Di lap Belum Gosok Gigi Belum Keramas |
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal |
Jenis Pemeriksaan |
Hasil |
Nilai Rujukan |
Satuan |
Rasionalisasi |
03/12/18 |
Hemoglobin |
11,5 |
12-14 |
g/dL |
Kadar hemoglobin rendah, akan mengurangi kemampuan tubuh untuk membawa oksigen ke organ-organ vital. Hasil ini menyebabkan sesak nafas dan peningkatan denyut nadi. |
|
Leukosit |
6.000 |
4000-10.000 |
/µL |
Normal |
|
Hematokrit |
35 |
37-47 |
% |
Hematokrit rendah menandakan seseorang menderita anemia |
|
Eritrosit |
3,9 |
3,8-5,2 |
Juta/ µL |
Normal |
|
MCV |
91 |
80-100 |
dL |
Normal |
|
MCH |
30 |
26-36 |
Pg |
Normal |
|
MCHC |
33 |
32-36 |
g/dL |
Normal |
|
Trombosit |
325.000 |
150.000- 450.000 |
|
Normal |
3/12/18 |
GDS |
374 |
<140 |
mg/dL |
Kadar GDS terlalu tinggi yaitu sel tidak dapat menyerap glukosa ( dari makanan), padahal glukosa untuk menghasilkan energi dalam tiap sel tubuh, sehingga glukosa menumpuk dalam darah |
b. Pemeriksaan EKG
-
c. Pemeriksaan Radiologi
Thorax foto:
d. Therapy
Nama Obat |
Jumlah |
Dosis |
Frekuensi |
Cara pemberian |
Amlodipine |
1 |
10 gr |
/24 jam |
Oral |
Ranitidine |
2 |
50 mg |
/12 jam |
IV |
Ondansentron |
3 |
4 mg |
/8 jam |
IV |
Sucralfat |
2 |
500 mg |
/8 jam |
Oral |
Humalog |
|
Sesuai protap |
Sesuai protap |
IM |
Infus : Ny. S mendapatkan therapi infus dengan jenis Nacl yang dibatasi jumlah tetesan infusnya yaitu 12 tpm.
Transfusi:
3.2 Analisa Data
Nama Pasien : Ny. S
No Register : 00137531
Ruang :
DX. Medis : DM TIPE II + GASTROPATI DM + POST AMPUTASI CRUITIS SIN POD 2 MINGGU.
Tgl/jam |
Data Fokus |
Etiologi |
Masalah |
|||||||||||||||
10/12/18 |
DS: - Pasien mengatakan sering merasa haus dan sering Bak
DO: - Pasien tampak lemas - Terugor kulit kurang elastis - Mukosa bibir kering - Hematoktrit 35% - Input 1.605 - Output 2095 = -490 - RR:21x/m - TD:160/100mmHg - N:82x/m - S : 36 C |
Penurunan kadar insulin
Glukogen meningkat
hiperglikemia
diuresis osmotik
Poliuria
Kekurangan volume cairan |
Kekurangan volume cairan elektrolit b.d kegagalan mekanisme regulasi |
|||||||||||||||
10/12/18 |
DS: - Pasien mengatakan sulit makan karena merasa mual dan sering muntah DO: - Pasien tampak lemas - Berat badan turun dari 35 kg menjadi 33 kg - Pola makan 5 sendok/porsi 3 x 1 hari - Imt 14,05 ( kurang ) - Gds 374 |
Penurunan kadar insulin
Glukosa meningkat
hiperglikemia
mual muntah
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake oral |
|||||||||||||||
10/12/18 |
DS: -Pasien mengatakan kakinya di amputasi 2 minggu yang lalu DO: - leukosit 6000 - gds 374 - terdapat luka post amputasi curis pada kaki kiri ± 10 cm. - Terdapat pus - Luka tampak basah tertutup balutan
|
Penurunan kadar insulin
Glukosa meningkat
hiperglikemia
luka post amputasi pod 2 minggu
resiko infeksi |
Resiko infeksi berhubungan dengan luka post amputasi |
3.3 Prioritas Diagnosa Keperawatan
Nama Pasien : Ny. S
No Register : 00137531
Ruang :
DX. Medis : DM TYPE II + GASTROPATI DM + POST AMPUTASI CRUITIS SIN POD 2 MINGGU.
No. Dx |
Diagnosa Keperawatan |
1. |
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi. |
2. |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan intake oral |
3. |
Resiko infeksi berhubungan dengan luka post amputasi |
3.4 Intervensi Keperawatan
Nama Pasien : Ny. S
No Register : 00137531
Ruang :
DX. Medis : DM TYPE II + GASTROPATI DM + POST AMPUTASI CRUITIS SIN POD 2 MINGGU.
NO |
Dx. Keperawatan |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Intervensi |
Rasional |
1. |
Kekurangan volume cairan b.d kegagalan mekanisme regulasi |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kelebihan volume cairan teratasi dengan kriteria hasil: - Terbebas dari edema - Bunyi nafas bersih tidak ada dyspnea - Terbebas dari distensi vena jugularis - Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru - Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau bingung |
1. Pertahankan catatan tintake dan ouput yang akurat 2. Monitor vital Sign
3. Kaji lokasi dan luas edema monitor masukan makanan/ cairan 4. Monitor Berat badan 5. Monitor Elektrolit
6. Kolaborasi Pemberian obat diuretik sesuai program |
- Untuk mengetahui keluaran dan masukan - Mengetahui kondisi pasien - Untuk mengetahui pengobatan yang sesuai
- Untuk Mengontrol perubahan BB - Untuk mengetahui jumlah elektrolit yang Masuk dan keluar - Mengkolaborasikan farmakologi dan non farmakologi |
2. |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake oral |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ketidakefektifan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi dengan kriteria hasil: - Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan - Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan - Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi - Tidak ada tanda-tanda malnutrisi - Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
|
1. Kaji status nutrisi pasien
2. Jaga kebersihan mulut, anjurkan untuk salalu melakukan oral higiene 3. Deligatif pemberian nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan pasien: diet pasien DM 4. Kaji frekuensi mual, durasi tingkat keparahan yang menyebabkan mual 5. Kolaborasi pemberian obat sesuai program
6. Anjurkan pasien makan sedikit demi sedikit 7. Anjurkan pasien makan selagi hangat |
- Pengkajian penting dilakukan untuk mengetahui status nutrisi pasien sehingga dapat menentukan intervensi yang diberikan - Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan
- Untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan pasien
- Mengetahui karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan mual - Mengkolaborasikan Pemberian teraphy farmakologi dan non farmakologi - Dapat meningkatkan intake nutrisi
- Dapat menurunkan rasa mual sehingga intake nutrisi dapat ditingkatkan |
3. |
Resiko infeksi berhubungan dengan luka post amputasi |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil: - Terbebas dari tanda dan gejala infeksi - Memperlihatkan personal higiene yang adekuat - Mengindikasikan status gastrointestinal pernafasan, genitourinaria,dan imun dalam batas normal - Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi - Melaporkan tanda dan gejala infeksi serta mengikuti prosedur skirning dan pemantauan
|
1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga mengapa sakit atau terapi meningkatkan resiko terhadap infeksi 2. Intruksikan untuk menjaga personal higiene untuk melindungi tubuh dari infeksi 3. Jelaskan rasional dan mamfaat serta efek samping imunisasi 4. Berikan terapi antibiotik bila perlu 5. Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang dengan tidak menugaskan perawat yang sama untuk pasien lain yang mengalami infeksi 6. Bersihkan lingkungan dengan benar 7. Pertahankan teknik isolasi bila diperlukan |
- Untuk menngkatkan pengetahuan pasien atau keluarga tentang infeksi
- Karna ingkungan dan tubuh yang bersih akan mencegah timbulnya infeksi dan agar infeksi tidak menjadi lebih parah
- Menambah pengetahuan pasien
- Untuk mengurangi bakteri penyebab terjadinya infeksi baru dan memlemahkan bakteri yang sudah lama
- Untuk mengurangi resiko infeski yang lebih parah
- Lingkungan yang kotor akan menjadi tempat perkembang biakan bakteri baru |
3.5 Implementasi Keperawatan
Nama Pasien : Ny. S
No Register : 00137531
Ruang :
DX. Medis : DM TYPE II + GASTROPATI DM + POST AMPUTASI CRUITIS SIN POD 2 MINGGU.
NO |
TGL |
NO DX |
JAM |
IMPLEMENTASI |
EVALUASI |
NAMA/ TTD |
1. |
10/12/18 |
1 |
20.15 |
1. Monitor tanda – tanda vital
2. Mencatat hal-hal yang di laporka seperti mual dan muntah
3. Kolaborasi pemberian cairan IV
4. Pantau glukosa darah |
R/: TD : 160/100 RR : 21x/menit Nadi : 82 x/menit Suhu : 36ºC R/: Klien mengatakan mual dan muntah sudah 5 hari
R/: Terpasang infus NaCL 0,9% 12 tpm
R/: 374 dl
|
|
2. |
10/12/18 |
2 |
20.15 |
1. Kaji status nutrisi klien
2. Bantu klien makan sedikit tapi sering
3. Ajarkan keluarga dalam perencanaan dan pemberian makanan klien sesuai indikasi |
R/: Klien mengatakan hanya makan 5 sendok setiap makan (3x1) R/:Klien sulit untuk makan karna sering mual dan muntah
R/: Klien selalu di beri cemilan atau makanan yang rendah gula sedikit tapi sering oleh keluarga |
|
3. |
10/12/18 |
3 |
20.25 |
1. Mengobservasi adanya tanda – tanda infeksi 2. Memberikan teknik aseptik pada perawatan luka 3. Pantau intake dan output
4. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada klien
5. Memantau glukosa harian |
R/: Luka masih tampak basah dan terdapat pus R/: Luka dibersihkan 1x sehari menggunakan alat yang steril dan teknik perawatan yang steril R/: perawat selalu mencuci tangan dan menggunakan APD sebelum kontak dengan klien R/: 374 dl
|
|
NO |
TANGGAL |
DIAGNOSA KEPERAWATAN |
EVALUASI ( SOAP) |
NAMA/ TTD |
|||||||||||
1. |
10/12/18 |
Kekurangan volume cairan b.d gangguan mekanisme regulasi |
S: Klien mengatakan lemas dan sering merasa haus O: - Klien tampak lemas - Turgor kulit kering - Terpasang Infus NaCL 0,9% IV 15 tpm - GDS : 374 dl Td:160/100mmHg RR:21 N:82x/m S: 36ºC A: Masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan |
|
|||||||||||
2. |
10/12/18 |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake oral |
S: Klien mengatakn mual dan muntah selama 5 hari O: - Klien tampak lemas - Sakit pada bagian ulu hati A: Masalah pola nutrisi belum teratasi P:Intervensi dilanjutkan |
|
|||||||||||
3. |
10/12/18 |
Resiko infeksi b.d hiperglikemia |
S : Klien mengatakan kakinya sudah di amputasi sejak 2 minggu O : - Terdapat luka post. Op amputasi curis pod 2 minggu dengan diameter ± 10 cm - Tampak basah - GDS : 374 dl - Terdapat pus TD : 160/100 mmHg RR:21 N:82x/m S: 36ºC A : Masalah belum Teratasi P : Intervensi dihentikan |
|
|||||||||||
NO |
TGL |
NO. DX |
JAM |
IMPLEMENTASI |
EVALUASI |
TTD |
|
||||||||
1. |
11/12/18 |
1 |
14.45 |
1. Monitor tanda – tanda vital
2. Memonitor status hidrasi
2. Mencatat hal-hal yang di laporkan |
R/: TD : 150/90 RR : 21x/menit Nadi : 88 x/menit Suhu : 36ºC
R/: - Klien mengatakan lemas - tugor kulit kering, - BAK 3x sehari
R/: Klien merasa masih mual dan muntah setiap di beri makan |
|
|
||||||||
2. |
11/12/18 |
2 |
15.15 |
1. Mengkaji status nutrisi
2. Monitor adanya penurunan BB
3. Kolaborasi memberikan obat maag dan miual dengan dokter
|
R/:Klien hanya makan 5 sendok dalam 1 porsi makan
R/: - BB sebelum masuk RS 35 kg - BB sesudah masuk RS 33 kg
R/: - Ondensetron 4 mg di beri melalui IV - Ranitidine 50 mg diberikan melalui IV - Sutralfat 500 ml diberikan melalui oral 1 sendok makan |
|
|
||||||||
3. |
11/12/18 |
3 |
16.05 |
1. Mempertahankan teknik aseptik
2. Monitor tanda gejala dan infeksi
3. Pantau glukosa darah
4. Menganjurkan klien untuk beristirahat
|
R/: mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
R/: - Luka masih tampak basah - terdapat pus - luka tertutup perban
R/: GDS : 167 dl
R/: - pola tidur siang 2 – 3 jam / hari - Pola tidur malam 7 – 8 jam / hari |
|
|
||||||||
NO |
TANGGAL |
DIAGNOSA KEPERAWATAN |
EVALUASI ( SOAP) |
NAMA/ TTD |
|
||||||||||
1. |
11/12/18 |
Kekurangan volume cairan b.d kegagalan mekanisme regulasi |
S: - Pasien mengatakan masih lemas dan muntah O: - Klien tampak lemas - Turgor kulit kering - Pola BAK 3-4 kali / hari - Terpasang NaCL 0,9% 12 tpm - GDS : 167 dl - TD: : 150/90mmHg - N: 88x/m - RR: 20x/m - S:36ºC A:Masalah kekurangan cairan belum teratasi P:Intervensi dihentikan |
|
|
||||||||||
2. |
11/12/18 |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake oral |
S:klien mengatakan masih mual dan muntah O: - Pola makan 5 sendok poer porsi - TD: : 150/90mmHg - N: 88x/m - RR: 20x/m - S:36ºC - BB sebelum masuk RS 35 kg - BB sesudah masuk RS 33 kg A:Masalah belum teratasi P:Intervensi dilanjutkan
|
|
|
||||||||||
3. |
11/12/18 |
Resiko infeksi b.d luka post amputasi |
S : Klien mengatakan luka di kaki nya masih tampak basah O : - GDS : 167 dl - Luka masih tampak basah - Terdapat pus - Luka tertutup balutan - Leukosit 6.000 u/L A : Masalah belum teratasi P : Intervensi di lanjutkan |
|
|
||||||||||
NO |
TGL |
NO.DX |
JAM |
IMPLEMENTASI |
EVALUASI |
NAMA/ TTD |
1. |
12/12/18 |
1 |
14.55 |
1. Monitor tanda-tanda vital dalam batas normal
2. Pantau pengeluaran dan pemasukan cairan
3. Pantau glukosa dalam darah
4. Kaji adanya tanda-tanda hidrasi |
R/: - TD : 160/100 mmHg - RR : 21 x / menit - N : 88 x / menit - S : 36℃
R/: - minum 240 ml/hari - terpasang infus NaCL 0,9% 15 tpm - BAK 3-4 x/hari
R/: GDS : 369 dL
R/: - Turgor kulit kering - Klien tampak lemas |
|
2 |
6/12/18 |
2 |
15.20 |
1. Mengkaji status nutrisi klien
2. Monitor adanya penurunan BB
3. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian nutrisi sesuai indikasi
4. Kolaborasikan pemberian obat mual dan maag |
R/:asupan makan klien meningkat menjadi setengah porsi dalam sebelumnya hanya 5 sendok makan
R/: - BB sebelum masuk RS 35 kg - BB setelah masuk RS 33 kg
R/:Klien diberikan bubur tim cair dan dengan kadar laktosa rendah
R/: Ondansteron 4 mg melalui IV, ranitidine 50 mg melalui IV, dan sucralfat 500mL melalui oral 1 sendok makan |
|
3 |
12/12/18 |
3 |
15.40 |
1. Mempertahankan teknik aseptik
2. Menjaga kebersihan luka
3. Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi
4. Mengajarkan keluarga klien teknik perawatan luka |
R:/ Mencuci tangan sesudah dan sebelum kontak dengan klien
R/: Luka selalu dibuka dan di bersihkan setiap 1 kali sehari
R/: -Luka masih tampak basah -terdapat pus
R/: lakukan dengan teknik aseptik mencuci tangan dan selalu membersihkan luka 1x/hr |
|
NO |
TGL |
DIAGNOS AKEPERAWATAN |
EVALUASI (SOAP) |
NAMA/ TTD |
1. |
12/12/18 |
Kekurangan volume cairan b.d mekanisme regulasi |
S: - Klien mengatakan sudah merasa segar O: - Klien tampak segar - Turgor kulit elastis - Minum 200 mL/hr - Terpasang NaCL 0,9% 12 tpm - BAK 3-4 x/hr - GDS : 369 dL - TD : 160/100 mmHg - S:36,5ºC - RR : 21 x/hr - N : 88 x / menit A: Masalah kekurangan cairan belum teratasi P:Intervensi dihentikan pada tanggal 14 (pasien pindah ruangan) |
|
2. |
12/12/18 |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake oral |
S: - Klien mengatakan mual dan muntah sudah berkurang O: - Pola makan menjadi ½ porsi - TD : 160/100 mmHg - S:36,5ºC - RR : 21 x/hr - N : 88 x / menit - BB sebelum masuk RS 35 kg - BB setelah masuk RS 33 kg A: Masalah pemberian nutrisi teratasi sebagian P:Intervensi dihentikan pada tanggal 14 (pasien pindah ruangan) |
|
3. |
12/12/18 |
Resiko infeksi b.d luka post amputasi |
S : Klien mengatakan luka di kaki nya masih tampak basah O : - GDS : 369 dl - Luka masih tampak basah - Terdapat pus - Luka tertutup balutan - Leukosit 6.000 u/L A : Masalah belum teratasi P : Intervensi di hentikan (pasien pindah ruangan pada tanggal 14-12-18) |
|
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
Seperti yang telah di uraikan pada bab III penulis melaksanakan asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan dimana pengkajian di laksanakan pada hari selasa tanggal 10 Desember 2019. Untuk mendapatkan data yang menunjang baik secara objektif maupun subjektif kami melakukan wawancara dengan pasien atau keluarga, dan pemeriksaan fisik, mempelajari catatan keperawatan catatan medis, dan hasil pemeriksaan penunjang pada saat di lakukan pengkajian penulis
1. Menurut teori konsep asuhan keperawatan pada diagnosa medis diabetes mellitus yang harus dikaji yaitu Pengkajian
· Identitas klien
· Riwayat kesehatan sekarang
1) Adanya gatal pada kulit disertai luka yang tidak sembuh – sembuh
2) Kesemutan
3) Menurunnya BB
4) Meningkatnya nafsu makan
5) Sering haus
6) Banyak kencing
7) Menurunnya ketajaman penglihatan
· Riwayat kesehatan dahulu à riwayat penyakit pankreas, hipertensi, MCI, ISK berulang
· Riwayat kesehatan keluarga à riwayat keluarga dengan DM
· Pemeriksaan fisik à persistem
· Pemeriksaan penunjang
1) Kadar glukosa
Ø Gula darah sewaktu / random > 200mg/dl
Ø Gula darah puasa / nuchter > 140 mg/dl
Ø Gula darah 2 jam PP ( post prandial ) > 200 mg/dl
2) Aseton plasma à hasil (+) mencolok
3) Aseton lemak bebas à peningkatan lipid dan kolesterol
4) Osmolaritas serum ( > 330 osm/l)
5) Urinalisis à proteinuria, ketonuria, glukosuria
Pada kasus yang kami ambil yaitu diagnosa medis diabetes mellitus, saat melakukan pengkajian data yang kami dapat adalah :
Data subjektif :
- Pasien mengatakan mual dan muntah
- Pasien mengatakan cepat kenyang setelah makan
- Pasien mengatakan nafsu makan berkurang
Data objektif :
- Ada luka di estremitas kiri bawah post amputasi 2 minggu
- Terdapat pus
- Pasien tampak cemas dan gelisah
- Intake cairan lebih banyak dari output
- Intake cairan 1.605 cc sedangkan output 2095 cc
- Intake output : -490 cc
- Membran mukosa pucat
- Ada penurunan BB, sebelum masuk RS 35 kg, setelah di RS 33 kg
- IMT:
BB |
= |
33 |
= |
33 |
= |
14,05 (kurang) |
TB |
(153)2 |
2,3409 |
- Bising usus 12x/menit
- Porsi makan tidak dihabiskan ( 5 sendok makan per porsi)
- Leukosit 6000 dl
- GDS: 369 mg/dL
- Hematocrit 35%
Dari uraian antara teori dan pengkajian yang kami lakukan tentang diagnosa medis diabetes mellitus ada kesenjangan antara teori dan pengkajian yang kami lakukan yaitu pada teori nafsu makan pasien meningkat sedangkan pada pengkajian yang kami lakukan di temukan nafsu makan pasien menurun karena pasien mengalami mual disertai dengan muntah. Selain itu juga, saat pengkajian pada Ny. S di dapatkan data bahwa terdapat luka di ekstermitas bawah kiri dan adanya pus, sedangkan pada teori pengkajian tidak ada. Hal ini karena intake dan output pada pasien Ny.S tidak seimbang.
4.2 Diagnosa Keperawatan
NANDA NIC NOC (2017), diagnosa keperawatan umum yang mungkin muncul pada pasien dengan diagnosa medis diabetes mellitus, adalah :
1) Ketidakmampuan koping: keluarga berhubungan dengan : program perawatan diri yang kompleks, penyakit kronis, ketidakmampuan untuk memperkirakan masa depan, infromasi/pemahaman tidak adekuat atau tidak lengkap, perubahan yang dibutuhkan dalam fungsi keluarga
2) Ketidakseimbangan glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia
3) Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan fungsi leukosit, penyembuhan yang lambat, gangguan sirkulasi
4) Resiko cedera berhubungan dengan gangguan penglihatan, hipoglikemia dan gangguan sensasi taktil
5) Resiko disfungsi neurovaskuler : perifer berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa, insulin atau elektrolit, perubahan neurovaskuler perifer
6) Ketidakpatuhan berhubungan dengan kompleksitas perawatan diri dan program medis, sifat kronis penyakit, penyangkalan
7) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menggunakan glukosa yang menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan otot, dan kehausan
8) Ketidakberdayaan berhubungan dengan persepsi ketidakmampuan untuk mencegah komplikasi, seperti buta dan amputasi
Sedangkan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada Ny. S setelah dilakukan pemeriksaan fisik adalah :
1. |
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi. |
2. |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan intake oral |
3. |
Resiko infeksi berhubungan dengan luka post amputasi |
4.3 Intervensi Keperawatan
Pada perencanaan tindakan keperawatan pada Ny.S antara Teori dengan praktiknya ada kesenjangan, yaitu pada diagnosa Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada teori membuat metode perencanaan makanan pada keluarga dan pasien sedangkan intervensi yang dilakukan ketika praktik di lapangan yaitu tidak membuat metode perencanaan pada keluarga maupun pasien. Kemudian pada diagnosa yang lainnya dikarenakan diagnosa antara teori dengan praktik berbeda. Maka, intervensi yang diberikan pun berbeda, tetapi kami menggunakan prioritas masalah dengan mempertimbangkan dasar – dasar kebutuhan manusia untuk menyelesaikan 3 diagnosa yang ditegakan. Dalam menetapkan rencana asuhan keperawatan kami berusaha menjalankan secara sistematis berkesinambungan dan efisien. Kami juga berusaha agar perencanaan ini dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dibuat sesuai dengan prioritas masalah dan dapat mengatasi diagnosa keperawatan yang ditetapkan.
4.4 Implementasi Keperawatan
Dalam tahap implementasi, kami melakukan tindakan sesuai dengan intervensi yang sudah ditetapkan, antara intervensi dan implementasi yang sudah di buat tidak ada kesenjangan semua tindakan yang direncanakan sudah kami lakukan kepada pasien. Kemudian untuk implementasi antara teori dan praktik pada diagnosa Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien terdapat kesenjangan, yaitu salah satunya tidak ada oral higiene pada pasien, sedangkan pada praktinya kami melakukan oral higiene pada pasien hal ini karena apabila oral higiene pasien tetap terjaga akan dapat meningkatkan nafsu makan pada pasien. Selain itu juga pada teori terdapat tindakan mengajarkan metode untuk perencanaan makanan sedangkan pada praktiknya kami tidak melakukan tindakan tersebut. Kemudian yang paling menjadi perbedaan pada implementasi antara teori dan juga praktik yaitu pasien memiliki penyakit yang komplikasi sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, tetapi penulis juga bekerja sama dengan keluarga pasien, perawat ruangan dan tim kesehatan sesuai prioritas masalah dan kondisi pasien.
4.5 Evaluasi Keperawatan
Dalam melaksanakan evaluasi proses dan evaluasi hasil pada pasien dilaksanakan pada saat sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan keperawatan mengenai respon pasien dan evaluasi ini penulis melakukan penilaian asuhan keperawatan yang diberikan dari tanggal 10 Desember – 14 Desember 2019.
Keberhasilan tindakan keperawatan dilakukan secara subjektif melalui ungkapan pasien dan secara objektif melalui pengamatan dan pengukuran dari 3 diagnosa seluruhnya teratasi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pengkajian
Setelah kami melakukan pengkajian pada Ny. S dengan melakukan pemeriksaan fisik, kami menemukan pasien terlihat lemas dan keadaan fisik pasien lemah dan juga terdapat luka post oprasi di ekstermitas bawah kiri
2. Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian yang kami lakukan pada Ny. S yang menjadi prioritas masalah adalah Penurunan curah jantung b.d perubahan kontraktilitas. Sedangkan untuk diagnosa lain yang muncul yaitu:
1. |
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi. |
2. |
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan intake oral |
3. |
Resiko infeksi berhubungan dengan luka post amputasi |
3. Intervensi Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem endokrin “ Diabetes Mellitus”, yaitu :
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi
a. Pertahankan catatan tintake dan ouput yang akurat
b. Monitor vital Sign
c. Kaji lokasi dan luas edema monitor masukan makanan/ cairan
d. Monitor Berat badan
e. Monitor Elektrolit
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan intake oral
a. Kaji status nutrisi pasien
b. Jaga kebersihan mulut, anjurkan untuk salalu melakukan oral higiene
c. Deligatif pemberian nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan pasien: diet pasien DM
d. Kaji frekuensi mual, durasi tingkat keparahan yang menyebabkan mual
e. Kolaborasi pemberian obat sesuai program
f. Anjurkan pasien makan sedikit demi sedikit
g. Anjurkan pasien makan selagi hangat
3) Resiko infeksi berhubungan dengan post amputasi
a. Jelaskan kepada pasien dan keluarga mengapa sakit atau terapi meningkatkan resiko terhadap infeksi
b. Intruksikan untuk menjaga personal higiene untuk melindungi tubuh dari infeksi
c. Jelaskan rasional dan mamfaat serta efek samping imunisasi
d. Berikan terapi antibiotik bila perlu
e. Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang dengan tidak menugaskan perawat yang sama untuk pasien lain yang mengalami infeksi
f. Bersihkan lingkungan dengan benar
g. Pertahankan teknik isolasi bila diperlukan
4. Implementasi Keperawatan
Dalam tahap implementasi, penulis bekerja sama dengan keluarga pasien, perawat ruangan dan tim kesehatan sesuai prioritas masalah dan kondisi pasien dalam melakukan implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi yang sudah direncanakan.
5. Evaluasi Keperawatan
Hasil tindakan keperawatan yang dilakukan pada Ny. S selama 3 Hari dari tanggal 10-14 Desember 2019 menghasilkan evaluasi keperawatan antara lain:
1. Kekurangan volume cairan b.d kegagalan mekanisme regulasi
S : Klien mengatakan sudah merasa segar
O : - Klien tampak segar
- Turgor kulit elastis
- Minum 200 mL/hr
- Terpasang NaCL 0,9% 12 tpm
- BAK 3-4 x/hr
- GDS : 369 dL
- TD : 160/100 mmHg
- S:36,5ºC
- RR : 21 x/hr
- N : 88 x / menit
A : Masalah kekurangan cairan belum teratasi
P : Intervensi dihentikan pada tanggal 14 (pasien pindah ruangan)
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake oral
S : Klien mengatakan mual dan muntah sudah berkurang
O : - Pola makan menjadi ½ porsi
- TD : 160/100 mmHg
- S:36,5ºC
- RR : 21 x/hr
- N : 88 x / menit
- BB sebelum masuk RS 35 kg
- BB setelah masuk RS 33 kg
A : Masalah pemberian nutrisi teratasi sebagian
P : Intervensi dihentikan pada tanggal 14 (pasien pindah ruangan)
3. Resiko infeksi b.d luka post amputasi
S : Klien mengatakan luka di kaki nya masih tampak basah
O : - GDS : 369 dl
- Luka masih tampak basah
- Terdapat pus
- Luka tertutup balutan
- Leukosit 6.000 u/L
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di hentikan (pasien pindah ruangan pada tanggal 14-12-18)
5.2 Saran
Diharapkan RS lebih meningkatkan kemampuan kepemimpinan klinis dengan melakukan pengembangan pribadi berkelanjutan melalui pendidikan formal dan informal, melakukan kerjasama yang baik antar perawat dalam metode tim, memperhatikan keselamatan pasien dengan melaksanakan tindakan keperawatan sesuai standar operasional prosedur (SOP) serta lebih meningkatkan sarana dan prasarana, pemberian insentif dan penerapan Undang-undang Rumah sakit serta peraturan terkait.
Diharapkan perawat dapat meningkatkan kemampuan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus seperti mengikuti seminar dan pelatihan edukator Diabetes Mellitus agar bisa menerapkan secara langsung kepada pasien dan keluarga sehingga mereka tetap sehat, bugar dan mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Wilkinson. Judith M.(2017) Diagnosa Keperawatan.Jakarta:EGC.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawatan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta: EGC
Comments
Post a Comment