Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

SYOK OBSTETRIK
A.
Definisi
Syok adalah suatu keadaan disebabkan gangguan sirkulasi darah kedalam jaringan sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan dan tidak mampu mengeluarkan hasil metabolisme (Sarwono, 2012).
Penyebab
syok dalam kebidanan terbanyak adalah perdarahan, lalu neurogenik, kardiogenik,
endotoksik, anafilaktik dan penyebab syok lain seperti emboli air ketuban. Gejala
klinis pada umumnya sama yaitu tekanan darah turun, nadi cepat lemah, pucat keringat
dingin, sianosis jari, sesak, penglihatan kabur, gelisah dan oligouri. Sifat khas
syok dapat berubah pada berbagai derajat keseriusan, syok dibagi menjadi 3 tahapan
yaitu :
1.
Tahap
nonprogresif (disebut juga tahap kompensasi). Pada tahap ini mekanisme kompensasi
sirkulasi yang normal pada akhirnya akan menimbulkan pemulihan sempurna tanpa dibantu
terapi dari luar.
2.
Tahap
progresif. Pada tahap ini, tanpa terapi, syok menjadi semakin buruk sampai timbul
kematian.
3.
Tahap
irreversibel. Ketika syok telah jauh berkembang sedemikan rupa sehingga semua bentuk
terapi yang diketahui tidak mampu lagi menolong pasien, meskipun pada saat itu,
orang tersebut masih hidup.
B.
Etiologi Obstetrik
Syok obstetrik dapat disebabkan oleh berbaga hal, diantaranya
adalah :
1. Perdarahan
2. Infeksi berat
3. Solusio plasenta
4. Luka-luka jalan lahir
5. Emboli air ketuban
6. Inversio uteri
7. Syok postural
8. Kolaps vasomotor post partum
9. Faktor-faktor predisposisi timbulnya syok adalah anemia,
malnutrisi, dehidrasi, partus lama, dan asidosis.
C.
Jenis-Jenis Syok Obstetrik
1. Syok
Hivopolemik
Syok
hipovolemik disebabkan oleh hilangnya volume cairan sirkulasi yang tidak terkompensasi,
seperti pada perdarahan, tetapi dapat juga terjadi karena muntah yang hebat. Sekitar
10% darah dapat hilang tanpa menimbulkan efek yang merugikan. Kehilangan akut darah
yang melebihi 10% dari volume total darah akan menyebabkan penurunan curah jantung
dan tekanan darah. Kehilangan yang melebihi 30% dari volume total darah biasanya
berakibat fatal kecuali jika segera ditangani.
Tubuh
bereaksi terhadap hilnagnya cairan sirkulasi dalam beberapa tahapan, yaitu:
a. Tahap awal. Berkurangnya cairan atau darah membuat aliran
balik vena ke jantung menurun.ventrikel jantung menurun. Ventrikel jantung tidak
terisi secara adekuat, menyebabkan berkurangnya isi sekuncup dan curah jantung.
b. Tahap kompensasi. Menurunnya curah jantung menimbulkan
respon dari sistem syaraf simpatis melalui aktivasi reseptor di aorta dan arteri
karotis. Darah didistribusikan ke organ vital. Pembuluh darah di saluran cerna,
ginjal,kulit dan paru mengalami konstriksi.
c. Tahap progresif. Tahap ini mengarah pada kegagalan multisistem.
Mekanisme kompensasi mulai gagal, dan organ vital tidak mendapatkan perfusi yang
adekuat. Deplesi volum emenyebabkan semakin rendahnya tekanan darah dan curah jantung.
Arteri koroner mengalami kekurangan suplai darah. Sirkulasi perifer buruk, dengan
nadi yang lemah atau tidak ada.
d. Tahap akhir (irreversibel). Kegagalan multisistem dan kerusakan
sel tidak dapat diperbaiki dan terjadi kematian.
Resusitasi darurat diperlukan
untuk mencegah perburukan kondisi ibu dan kerusakan yang ireversibel. Prioritasnya
adalah panggil bantuan, pertahankan jalan nafas, ganti cairan, jaga agar ibu tetap
hangat serta hentikan perdarahan.
2. Syok
Endotoksik/septik
Syok
septik adalah keadaan kolapsnya sirkulasi yang disertai dengan diseminasi intravaskular
bakteri atau produknya. Merupakan suatu gangguan menyeluruh pembuluh darah disebabkan
oleh lepasnya toksin. Penyebab utama adalah infeksi bakteri gram negative. Sering
dijumpai pada abortus septik, korioamnionitis, dan infeksi pasca persalinan . (Sarwono,
2008).
Syok
septik dapat terjadi karena infeksi bakteri gram positif, virus, atau jamur. Kebanyakan
syok septik karena bakteri gram negative : Escherichia coli, pseudomonas aeroginos,
bacterioid, klebsiella species, dan serratia. Escherichia coli, pseudomonas aeroginos,
bacterioid yang mengeluarkan endotoksin adalah fosfo-lipo-polisakarida yang lepas
dari dinding sel yang mengalami lisis. Gambaran yang sama juga terjadi karena eksotoksin
dari streptokokus beta hemolitik, anaerob, dan klostridia.
Syok
septik dalam obstetric dapat disebabkan oleh abortus septik, ketuban pecah yang
lama / korioamnionitis, infeksi pascapersalinan : manipulasi dan instrumentasi,
trauma, sisa plasenta, sepsis puerperalis dan pielonefritis akuta.
Mikroorganisme
mengeluarkan endotoksin yang dapat mengaktifkan system komplemen dan sitoksin, mengawali
reaksi inflamasi. Kejadian ini berhubungan dengan DIC yang ekstensif karena antiplasmin
tidak dapat mengatasinya. Sepsis menyebabkan vasodilatasi, tahanan perifer pembuluh
darah menurun., dan hipotensi. Selanjutnya distribusi aliran darah kurang / jelek
sehingga perfusi darah ke organ tidka adekuat menyebabkan kerusakan jaringan multi
organ dan kematian. Mediator inflamasi meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga
cairan keluar dari pembuluh darah, khusus pada parenkim paru akan menyebabkan edema
pulmonum. Selama sepsis produksi surfaktan pneumosit akan terganggu yang menyebabkan
alveolus kolaps dan mengakibatkan hipoksemia berat yang disebut acute respiratory
distreaa syndrome (ARDS).
Endotoksin
lepas karena meningkatnya permiabilitas lisosomal dan sitotoksik. Selanjutnya dalam
beberapa menit dapat terjaid stimulasi medulla adrenal dan saraf simpatis serta
kontriksi arteriol dan venul. Selanjutnya menyebabkan asidosis local yang dpaat
menyebabkan dilatasi anteriol, tetapi kontriksi venul jika berlanjut terus mengakibatkan
pembendungan darah kapiler , perdarahan karena pembendungan pada gaster, hati, ginjal
dan paru.
Ketuban
pecah yang lama, sisa konsepsi yang tidak keluar dan instrumentasi saluran urogenital
merupakan faktor resiko yang lain untuk terjadinya sepsis. Syok septik akan menunjukkan
gejala-gejala seperti menggigil, hipotensi, gangguan mental, takikardia, takipnea,
dan kulit merah. Bila syok tambah berat, akan terjadi kulit dingin dan basah, bradikardia
dan sianosis. Penggunaan mifeprison intravaginal pada abortus medicinalis dapat
menyebabkan syok septik yang fulminant dan letal disebabkan infeksi clostridium
sordeli pada endometrium, suatu bakteri gram positif dan mengeluarkan toksin.
Mifeprison
mempengaruhi pengeluaran dan fungsi kortisol dan sitokin dengan jalan menduduki
(blocking) reseptor progesterone dan glukokortikoid . Kegagalan pengeluaran kortisol
dan sitokin akan menghambat mekanisme pertahanan tubuh yang dibutuhkan untuk menghambat
penyebaran infeksi C sordeli dalam endometrium. Pelepasan eksotoksin dan endotoksin
dari C sordeli akan mempercepat terjadi nya syok septik yang letal. Syok septik
(endotoksik) terjadi dalam 2 fase utama yaitu fase refersibel dan fase irrifersibel,
Sedamgkan fase refersibel terdiri atas fase panas dan fase dingin. Fase panas disertai
dengan gejala-gejala hipotensi, takikardi, pireksia dan menggigil. Kulit kelihatan
merah dan panas. Pasien biasa nya masih sadar dan leukositosis terjadi dalam beberapa
jam. Pada fase dingin dijumpai gejala dan tanda-tanda kulit dingin dan mengeriput,
sianosis, purpura,/jaundice, penurunan kesadaran yang progresis dan koma
Selanjutnya
bila syok berlanjut terus pasien akan jatuh kedalam fase irrefersibel dimana terjadi
hipoksia sel yang berkepanjangan yang menyebabkan gejala asidosis metabolic, gagal
ginjal akut, gagal jantung, edeme pulmonum, gagal adrenal dan kematian.
3. Syok
Hemorargik
Adalah
suatu syok yang disebabkan oleh perdarahan yang banyak. Akibat perdarahan pada Kehamilan
muda, Perdarahan antepartum, Perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan
laserasi jalan lahir.
Adapun syok hemoragik terbagi ats fase-fase berikut :
a. Fase Syok. Perempuan hamil normal mempunyai toleransi terhadap
perdarahan 500-1000 ml pada waktu persalinan tanpa bahaya oleh karena daya adaptasi
fisiologik kardiovaskuler dan hematologik selama kehamilan.
b. Fase Kompensasi. Rangsangan/refleks simpatis : Respons
pertama terhadap kehilangan darah adalah vasokontriksi pembuluh darah perifer untuk
mempertahankan pasokan darah ke organ vital.
c. Fase Dekompensasi. Perdarahan lebih dari 1000 mlpada pasien
normal atau kurang karena faktor-faktor yang ada.
d. Fase Kerusakan Jaringan dan Bahaya Kematian. Penanganan
perdarahan yang tidak adekuat menyebabkan hipoksia jaringan yang lamadan kematian
jaringan.
4. Syok
Kardiogenik
Syok
kardiogenik ini akibat depresi berat kerja jantung sistolik. Tekanan arteri sistolik
< 80 mmHg, indeks jantung berkurang dibawah 1,8 L/ Menit/ m2, dan
tekanan pengisian ventrikel kiri meningkat. Pasien sering tampak tidak berdaya,
pengeluaran urine kurang dari 20 ml/jam, ekstremitas dingin dan sianotik. Penyebab
paling sering adalah 40% lebih miokard infark ventrikel kiri, yang menyebabkan penurunan
kontraktilitas ventrikel kiri yang berat, dan kegagalan pompa ventrikel kiri. Penyebab
lainnya miokarditis akut dan depresi kontraktilitas miokard setelah henti jantung
dan pembedahan jantung yang lama.
Bentuk
lain bisa karena gangguan mekanis ventrikel. Regurgitasi aorta atau mitral akut,
biasanya disebabkan oleh infark miokard akut, dapat menyebabkan penurunan yang berat
pada curah jantung forward dan karenanya
menyebabkan syok kardiogenik.
5. Syok
Neorogenik
Yaitu
syok yang akan terjadi karena rasa sakit yang berat disebabkan oleh kehamilan ektopik
yang terganggu, solusio plasenta, persalinan dengan forceps atau persalinan letak
sungsang di mana pembukaan serviks belum lengkap, versi dalam yang kasar, firasat/tindakan
crede, ruptura uteri, inversio uteri yang akut, pengosongan uterus yang terlalu
cepat (pecah ketuban pada polihidramnion), dan penurunan tekanan tiba-tiba daerah
splanknik seperti pengangkatan tiba-tiba tumor ovarium yang sangat besar.
Syok
neurogenik disebut juga syok spinal merupakan bentuk dari syok distributif, syok
neurogenik terjadi akibat kegagalan pusat vasomotor karena hilangnya tonus pembuluh
darah secara mendadak di seluruh tubuh, sehingga terjadi hipotensi dan penimbunan
darah pada pembuluh tampung (cappacitance
vessel).
Disebabkan
oleh gangguan susuna saraf simpatik, yang menyebabkan dilatasi arteriola. Dan kenaikan
kapasitas vaskuler. Tekanan darah sistolik biasanya akan turun hingga di bawah 80
sampai 90 mmHg walaupun curah jantung normal atau menigkat. Pingsan yang biasa merupakan
contoh syok neurogenik sementara. Kerusakan medua spinalis servikalis merupakan
sebab tersering syok neurogenik traumatik.
Trauma
pada otak sendiri hampir tak pernah menyebabkan syok. Kenyataannya ia hampir selalu
menimbulkan kenaikan tekanan darah. Biasanya trauma kepala parah meningkatkan tekanan
intrakranial dan mengurangi perfusi serebral. Secara reflektorik ia merangsang pusat
vasomotor untuk meningkatkan vasokontraksi perifer dan meningkatkan tekanan darah.
Pada tahap kematian otak yang sangat lanjut, bisa terjadi hipotensi karena disfungsi
pusat vasomotor dalam medula oblongata, tetapi hanya terjadi di setelah pernapasan
spontan berhenti.
6. Syok
Anafilaktik
Anafilaksis
adalah, respon alergi berpotensi mengancam nyawa serius yang ditandai dengan pembengkakan,
gatal-gatal, menurunkan tekanan darah, dan pembuluh darah melebar. Dalam kasus yang
parah, seseorang akan masuk ke shock. Jika syok anafilaksis tidak segera diobati,
dapat berakibat fatal.
Kondisi
ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengembangkan antibodi spesifik alergen
pertempuran (disebut immunoglobulin E atau IgE) yang mendorong reaksi yang tidak
pantas atau berlebihan terhadap suatu zat yang biasanya tidak berbahaya, seperti
makanan. Tubuh Anda mungkin tidak bereaksi pada paparan awal tetapi dapat menghasilkan
antibodi dengan eksposur nanti. Ketika Anda terkena substansi kemudian, pengikatan
antibodi alergen dapat menyebabkan adanya sejumlah besar protein yang disebut histamin,
yang kemudian dapat menyebabkan gejala yang dijelaskan di atas.
Anafilaksis
dapat dimulai dengan gatal parah mata atau wajah dan, dalam beberapa menit, kemajuan
gejala yang lebih serius. Gejala ini termasuk menelan dan bernapas kesulitan, sakit
perut, kram, muntah, diare, gatal-gatal, dan angioedema (pembengkakan mirip dengan
gatal-gatal, tapi bengkak itu adalah di bawah kulit bukan di permukaan).
Gejala
berkembang dengan cepat, sering dalam beberapa detik atau menit. Mereka mungkin
termasuk yang berikut: nyeri perut, abnormal (bernada tinggi) suara pernapasan,
kecemasan, dada sesak, batuk, dieare, kesulitan menelan, pusing, gatal, hidung tersumbat,
mual atau muntah, kulit kemerah, pembengkakan wajah, mata atau lidah, tidak sadar
dan desah.
Anafilaksis
adalah gangguan parah yang bisa mengancam hidup tanpa pengobatan yang tepat. Namun,
gejala biasanya membaik dengan terapi yang tepat, sehingga sangat penting untuk
bertindak segera. Sedangkan komplikasi dari syok anafilaktik antara lain Airway
penyumbatan, henti jantung (tidak ada detak jantung efektif). pernapasan (tidak
bernapas) dan syok.
D.
Derajat Syok
Berat ringannya Syok menurut Tambunan
Karmel:
1.
Syok
Ringan
Penurunan perfusi hanya
pada jaringan dan organ non vital seperti kulit, otot rangka dan tulang. Kesadaran
tidak terganggu, produksi urine normal atau hanya sedikit menurun, asidosis metabolik
tidak ada atau ringan.
2.
Syok
Sedang
Perfusi ke organ vital
selain jantung dan otak menurun ( hati, usus, ginjal, dan lainnya ). Organ-organ
ini tidak dapat mentoleransi hipoperfusi lebih lama seperti lemak, kulit, dan otot.
Oliguria bisa terjadi dan asidosi metabolik, akan tetapi kesadaran relative masih
baik.
3.
Syok
Berat
Perfusi
ke jantung dan otak tidak adekuat. Mekanisme kompensasi syok beraksi untuk menyediakan
aliran darah ke dua organ vital.
Pada
syok lanjut terjadi vasokonstriksi disemua pembuluh darah lain. Terjjadi oliguria
dan asidisis berat, gangguan kesadaran dan tanda-tanda hipoksia jantung ( EKG Abnormal,
curah jantung menurun ).
E.
Patogenesis
Tubuh
manusia berespon terhadap perdarahan akut dengan cara mengaktifkan 4 sistem major
fisiologi tubuh: sistem hematologi, sistem kardiovaskular, sistem renal dan sistem
neuroendokrin.system hematologi berespon kepada perdarahan hebat yang terjadi secara
akut dengan mengaktifkan cascade pembekuan darah dan mengkonstriksikan pembuluh
darah (dengan melepaskan thromboxane A2 lokal) dan membentuk sumbatan immatur pada
sumber perdarahan. Pembuluh darah yang rusak akan mendedahkan lapisan kolagennya,
yang secara subsekuen akan menyebabkan deposisi fibrin dan stabilisasi dari subatan
yang dibentuk. Kurang lebih 24 jam diperlukan untuk pembentukan sumbatan fibrin
yang sempurna dan formasi matur. Sistem kardiovaskular awalnya berespon kepada syok
hipovolemik dengan meningkatkan denyut jantung, meninggikan kontraktilitas myocard,
dan mengkonstriksikan pembuluh darah jantung. Respon ini timbul akibat peninggian
pelepasan norepinefrin dan penurunan tonus vagus (yang diregulasikan oleh baroreseptor
yang terdapat pada arkus karotid, arkus aorta, atrium kiri dan pembuluh darah paru.
System kardiovaskular juga merespon dengan mendistribusikan darah ke otak, jantung,
dan ginjal dan membawa darah dari kulit, otot, dan GI. System urogenital (ginjal)
merespon dengan stimulasi yang meningkatkan pelepasan rennin dari apparatus justaglomerular.
Dari pelepasan rennin kemudian diproses kemudian terjadi pembentukan angiotensi
II yang memiliki 2 efek utama yaitu memvasokontriksikan pembuluh darah dan menstimulasi
sekresi aldosterone pada kortex adrenal. Adrenal bertanggung jawab pada reabsorpsi
sodium secra aktif dan konservasi air.
System neuroendokrin merespon hemoragik syok dengan meningkatkan sekresi ADH. ADH
dilepaskan dari hipothalmus posterior yang merespon pada penurunan tekanan darah
dan penurunan pada konsentrasi sodium. ADH secara langsung meningkatkan reabsorsi
air dan garam (NaCl) pada tubulus distal. Ductus colletivus dan the loop of Henle.
Patofisiologi dari hipovolemik syok lebih banyak lagi dari pada yang telah disebutkan
. Untuk mengexplore lebih dalam mengenai patofisiology, referensi pada bibliography
bisa menjadi acuan. Mekanisme yang telah dipaparkan cukup efektif untuk menjaga
perfusi pada organ vital akibat kehilangan darah yang banyak. Tanpa adanya resusitasi
cairan dan darah serta koreksi pada penyebab hemoragik syok, kardiak perfusi biasanya
gagal dan terjadi kegagalan multiple organ.
F.
Mekanisme Terjadinya Syok
1. Syok
Hipovolemik
Terjadi karena volume
cairan darah intravaskula berkurang dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang
singkat. Penyebab utama adalah perdarahan akut. 20 % volume darah total.
2. Syok
Septik
Sering terjadi pada orang
dengan gangguan imunitas dan pada usia tua. Akibat dari reaksi tubuh melawan infeksi,
bakteri mati dan mengeluarkan endotaksin melalui mekanisme yang belum jelas mempengaruhi
metabolisme sel dan merusak sel jaringan disekitarnya. Yang dirusak ini mengeluarkan
enzim usosom dan histamin. Enzim usosom masuk kedalam peredaran darah sampai ke
jaringan lain dan menyebabkan kerusakan sel lebih banyak lagi serta sebagai pemicu
dikeluarkan bradiknin. Bradiknin dan histamin menyebabkan vasodilasi pembluh darah
tepi secara masif dan meningkatakan permebilitas kapiler.
3. Syok
Endotoksik
Mikroorganisme
mengularkan endoktoksik yang dapat mengaktifkan sistem komplemen dan sitokin, mengawali
reaksi imflamasi. Sepsis menyebabkan vasodilatasi, tahanan perifer pembuluh darah
menurun, dan hipotensi. Selanjutnya di distribusi aliran darah kurang sehingga perfusi
darah ke organ tidak adekuat menyebabkan kerusakan jaringan multi organ dan kematian.
Mediator inflamasi meningkatkan permeabilitas kapilar sehingga cairan keluar dari
pembuluh darah, khusus pada parenkim paru akan menyebabkan odema pulmonum. Selama
sepsis produksi surfaktan pneomosit akan terganggu yang menyebabkan alveolus kolaps
dan menyebabkan hipoksemia berat yang disebut Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS).
Endotoksik
lepas karena meningkatnya permeabilitas lisosomal dan sitotoksik. Selanjutnya dalam
beberapa menit dapat terjadi stimulasi medula adrenal dan saraf simpatis serta kontriksi
arteriol dan venul. Selanjutnya menyebabkan asidosis lokal yang dapat menyebabkan
dilatasi arteriol, tetapi kontriksi venul dan jika berlanjut terus mengakibatkan
pembendungan darah kapiler, perdarahan karena pembendungan pada gaster, hati, ginjal,
dan paru.
G.
Diagnosis
Syok adalah kondisi kritis akibat penurunan mendadak
dalam aliran darah yang melalui tubuh. Ada kegagalan sistem peredaran darah untuk mempertahankan
aliran darah yang memadai sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital
terhambat. Kondisi ini juga mengganggu ginjal sehingga membatasi pembuangan llimbah
dari tubuh (Nomenklatur Kebidanan).
H.
Tanda dan Gejala
1.
Nadi
cepat dan lemah (110 x/menit atau lebih).
2.
Tekanan
darah yang rendah (sistolik <90 mmHg).
Tanda dan gejala lain dari syok:
1.
Pucat
(khususnya pada kelopak mata bagian dalam, telapak tangan, atau sekitar mulut).
2.
Keringat
atau kulit terasa dingin dan lembab.
3.
Pernapasan
yang cepat (30 x/menit atau lebih).
4.
Gelisah,
bingung, atau hilangnya kesadaran.
5.
Urin
yang sedikit (kurang dari 30 ml/jam).
I.
Komplikasi
Komplikasi
akibat dari penanganan yang tidak adekuat dapat menyebabkan asidosis metabolik akibat
metabolisme anaerob yang terjadi karena kekurangan oksigen. Hipoksia atau iskemia
yang lama pada hipofise dan ginjal dapat menyebabkan nekrosis hipofise
dan gagal ginjal akut. Koagulasi intravaskular yang luas disebabkan oleh lepasnya
tromboplastin dari jaringan yang rusak. Kegagalan jantung akibat berkurangnya aliran
darah koroner dalam fase ini kematian mengancam. Transfusi darah saja tidak adekuat
lagi dan jika penyembuhan (recorvery)
fase akut terjadi, sisa-sisa penyembuhan akibat nekrosis ginjal atau hipofise akan
timbul.
J.
Penatalaksanaan Syok Berdasarkan Jenisnya
1. Syok
Hipovolemik
a. Mempertahankan suhu tubuh
Suhu tubuh dipertahankan
dengan memakaikan selimut pada penderita untuk mencegah kedinginan dan mencegah
kehilangan panas. Jangan sekali-kali memanaskan tubuh penderita karna akan sangat
berbahaya.
b. Pemberian cairan
1) Jangan memberikan minum kepada penderita yang tidak sadar,
mual-mual, muntah, atau kejang karena bahaya terjadinya aspirasi cairan kedalam
paru
2) Jangan memberi minum kepada penderita yang akan dioperasi
atau dibius dan yang mendapat trauma pada perut serta kepala (otak)
3) Penderita hanya boleh minum bila hanya penderita sadar
betul dan tidak ada kontra indikasi.
4) Cairan intravena seperti larutan isotonik kristaloid merupakan
pilihan pertama dalam melakukan resusitasi cairan untuk mengembalikan volume intravaskuler,
intrastitial, dan intra sel.pada
5) Pada syok hipovolemik, jumlah cairan yang diberikan harus
seimbang dengan jumlah cairan yang hilang.
6) Pemantauan tekanan vena sentral penting untuk mencegah
pemberian cairan yang berlebihan.
2. Syok
Neurogenik
a. Baringkan pasien dengan posisi kepala lebih rendah daripada
kaki.
b. Pertahankan jalan nafas dengan memberikan oksigen, sebaiknya
dengan menggunakan masker.
c. Untuk keseimbangan haemodinamik, sebaiknya ditunjang dengan
resusitasi cairan. Cairan kristaloid seperti NaCl 0,9% atau RL sebaiknya diberikan
per infus secara cepat 250 – 500 cc bolus dengan pengawasan yang cermat.
d. Bila tekanan darah dan perfusi perifer tidak segera pulih,
berikan obat-obat vasoaktif.
3. Syok
Anafilaktik
Kalau terjadi komplikasi syok anafilaktik setelah kemasukan obat atau
zat kimia, baik peroral maupun parental, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah:
a. Segera baringkan penderita pada alas yang keras, kaki diangkat
lebih tinggi dari kepala.
b. Penilaian A, B, C dari tahapan jantung paru, yaitu:
1) Airway
( membuka jalan nafas )
2) Breathing
Support, segera memberikan bantuan
nafas buatan bila tidak ada tanda-tanda bernafas, baik melalui mulut ke mulut atau
mulut ke hidung.
3) Circulation
Support, yaitu bila tidak teraba
nadi pada arteri besar (a. Karotis / a. Femoralis ) segera lakukan kompresi jantung
luar.
K.
Penanganan Syok
1. Prinsip
Dasar Penanganan Syok
a. Tujuan utama pengobatan syok adalah melakukan penanganan
awal dan khusus untuk:
1) Menstabilkan kondisi pasien,
2) Memperbaiki volume cairan sirkulasi darah,
3) Mengefisiensikan sistem sirkulasi darah.
b. Setelah pasien stabil tentukan penyebab syok.
2. Penanganan
Awal Syok
a. Mintalah Bantuan. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang
ada dan siapkan fasilitas tindakan gawatdarurat.
b. Lakukan pemeriksaan secara tepat keadaan umum ibu dan harus
dipastikan bahwa jalan napas bebas.
c. Pantau tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, dan
suhu tubuh).
d. Baringkan ibu tersebut dalam posisi miring untuk meminimalkan
resiko terjadinya aspirasi jika ia muntah dan untuk memastikan jalan napasnya terbuka.
e. Jagalah ibu tersebut tetap hangat tetapi jangan teralalu
panas karena hal ini akan menambah sirkulasi perifernya dan mengurangi alliran darah
ke organ vitalnya.
f. Naikkan kaki untuk menambah jumlah darah yang kembali ke
jantung.
3. Penanganan
Khusus
a. Mulailah infus intravena (lakukan pemeriksaan secara tepat
keadaan umum ibu dan harus dipastikan bahwa jalan napas bebas jika memungkinkan)
dengan menggunakan kanul atau jarum terbesar). Darah diambil sebelum pemberian cairan
infus untuk pemeriksaan golongan darah dan uji kecocokkan, pemeriksaan hemoglobin,
dan hematokrit.
b. Jika vena perifer tidak dapat dikanulasi lakukan venous
cut-down.
c. Pantau terus tanda-tanda vital setiap 15 menit dan darah
yang hilang. Apabila kondisi pasien membaik, hati-hati agar tidak berlebihan memberi
cairan. Napas pendek dan pipi bengkak merupakan tanda kemungkinan kelebihan pemberian
cairan.
d. Lakukan kateterisasi kandung kemih dan pantau cairan yang
masuk dan jumlah urin yang keluar.
e. Berikan oksigen dengan kecepatan 6–8 liter/menit dengan
sungkup atau kanula hidung.
Tanda-tanda bahwa kondisi pasien sudah stabil atau ada
perbaikan adalah :
a. Tekanan darah mulai naik , sistolik mencapai 100 mmHg
b. Denyut jantung stabil
c. Kondisi mental pasien membaik , ekspresi ketakutan berkurang
d. Produksi urin bertambah .Diharapkan produksi urin paling
sedikit 100 ml/4jam atau 30 ml/jam .
4. Terapi
obat-obatan
a. Analgesik:
morfin 10-15 mg IV jika ada rasa sakit, kerusakan jaringan atau gelisah.
b. Kortikosteroid:
hidrokortison 1 g atau deksametason 20 mg IV pelan-pelan. Cara kerjanya masih kontroversial,
dapat menurunkan resistensi perifer dan meningkatkan kerja jantung vdan meningkatkan
perfusi jaringan.
c. Sodium bikarbonat:
100 mEq IV jika terdapat asidosis
d.
Vasopresor: untuk menaikkan tekanan darah dan mempertahankan
perfusi renal.
e.
Dopamin: 2,5 mg/kg/menit IV sebagai pilihan utama
f.
Beta-adrenergik stimulant: isoprenalin 1 mg dalam 500 ml
glukosa 5% IV infuse pelan-pelan.
Obat pengurang rasa nyeri :
a. Dalam memilih obat pengurang rasa nyeri yang tepat harus
dipertimbangkan kondisi pasien pada saat itu, saat dan cara pemberian obat dan beberapa
hal khusus yang harus diperhatikan untuk setiap jenis obat yang dipilih .
b. Penderita dalam syok atau akan mengalami pembedahan segera,
hanya boleh mendapat obat I.V dan I.M .
c. Hindarilah sedasi berlebihan, sebab sedasi berlebihan dapat
menyembunyikan gejala yang penting untuk membuat diagnosis.
d. Setiap narkotika dapat menekan pernafasan yang mungkin
fatal, oleh sebab itu pasien yang mendapat narkotika harus dalam pengamatan yang
ketat dan cermat.
e. Obat anti radang nonsteroid dan aspirin dapat menganggu
pembekuan darah.
f. Kombinasi obat pengurang rasa nyeri dengan obat penenang
seperti diazepam meningkatkan resiko depresi pernafasan .
Obat analgetika yang direkomendasikan adalah :
a. Morfin 10 – 15 mg I.M. atau 15 mg I.V.
b. Petidin 50 – 100 mg I.M .
c. Paracetamol 500 mg / oral
d. Paracetamol dan kodein 30 mg / oral
e. Tramadol oral / I.M 50 mg / Supositoria 100 mg
Terapi
Antibiotika :
Regimen |
Antibiotika |
Kerja |
Dosis |
Reg .1 |
Ampisilin atau sefalosporin |
Gr (+) aerobic dan Gr (-) kokus |
500-1000 mg/6 jam |
Gentamisin |
Gr (-) basil |
80 mg/8 jam |
|
Metrodinazol |
Anaerob |
500 mg/8 jam |
|
Reg.2 |
Klindamisin |
Gr(+) dan Gr(-) aerobic |
600 mg/6 jam |
Gentamisin |
Gr(-) aerobic |
80 mg/8 jam |
L.
Prinsip Dasar Dalam Merujuk Kasus Gawat Darurat
Setelah
kondisi pasien stabil, penanganan terhadap penyebab syok perdarahan maupun septik
harus dilakukan. Jika penyakit yang menjadi dasar penyebab syok septik tidak dapat
ditangani ditempat itu, pasien harus dirujuk kefasilitas yang lebih mampu menangani.
Hal yang harus diperhatikan
dalam merujuk kasus gawat darurat :
1.
Stabilisasi
penderita dengan :
a. Pemberian oksigen,
b. Pemberian cairan invus intravena dan transfuse darah,
c. Pemberian obat-obatan (antibiotika, analgetika dan toksoid
tetanus)
2.
Transportasi
3.
Paien
harus didampingi oleh tenaga yang terlatih dan keluarga nya
4.
Ringkasan
kasus harus disertakan
5.
Komunikasi
dengan keluarga
6.
Mortalitas
Comments
Post a Comment