Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

MALNUTRISI
A. Definisi Malnutrisi
Malnutrisi (Gizi salah) adalah kesalahan pangan terutama terletak dalam ketidakseimbangan komposisi hidangan penyediaan makanan. (Akhmad Djaeni, 2004).
Malnutrisi merupakan
kekurangan konsumsi pangan secara relatif atau absolute untuk periode
tertentu. (Bachyar Bakri, 2002)
Malnutrisi adalah keadaan
dimana tubuh tidak mendapat asupan gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga
disebut keadaaan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan di antara pengambilan
makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan. Ini bisa terjadi
karena asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak
seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat terjadinya
malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik (Oxford medical dictionary, 2007).
B. Etiologi
a. Kurangnya asupan makanan:
Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan
yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian
makanan yang salah.
b. Adanya penyakit: Terutama penyakit infeksi,
mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.
a. Kurangnya ketahanan pangan
keluarga: Keterbatasan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan makanan.
b. Kualitas perawatan ibu dan
anak.
c. Buruknya pelayanan
kesehatan.
d. Sanitasi lingkungan yang
kurang.
C. Klasifikasi
a. Berdasarkan fungsi
Setiap zat gizi memiliki fungsi yang spesifik.
Masing-masing zat gizi tidak dapat berdiri sendiri dalam membangun tubuh dan
menjalankan proses metabolisme. Namun zat gizi tersebut memiliki berbagai
fungsi yang berbeda.
1) Zat yang bersumber energy
Sebagai sumber energi zat gizi bermanfaat untuk
menggerakkan tubuh dan proses metabolisme di dalam tubuh. Zat gizi yang
tergolong kepada zat yang berfungsi memberikan energi adalah karbohidrat ,
lemak dan protein. Bahan pangan yang berfungsi sebagai sumber energi antara
lain : nasi, jagung, talas merupakan sumber karbohidrat; margarine dan mentega
merupakan sumber lemak; ikan, daging, telur dan sebagainya merupakan sumber
protein.
Ketiga zat gizi ini memberikan sumbangan energi
bagi tubuh. Zat-zat gizi tersebut merupakan penghasil energi yang dapat dimanfaatkan untuk gerak dan aktifitas fisik serta
aktifitas metabolisme di dalam tubuh. Namun penyumbang energi terbesar dari
ketiga unsur zat gizi tersebut adalah lemak.
2)
Zat gizi untuk
pertumbuhan dan mempertahankan jaringan Tubuh
Zat gizi ini memiliki
fungsi sebgai pembentuk sel-sel pada jaringan tubuh manusia. Jika kekurangan
mengkonsumsi zat gizi ini maka pertumbuhan dan perkembangan manusia akan
terhambat. Selain itu zat gizi ini juga berfungsi untuk menggantikan sel-sel
tubuh yang rusak dan mempertahankan fungsi organ tubuh.
Zat gizi yang termasuk dalam kelompok ini adalah protein, lemak, mineral dan
vitamin. Namun zat gizi yang memiliki sumber dominan dalam proses pertumbuhan
adalah protein
3)
Zat gizi sebagai
pengatur/ regulasi proses di dalam tubuh
Proses metabolisme di dalam tubuh perlu pengaturan agar
terjadi keseimbangan. Untuk itu diperlukan sejumlah zat gizi untuk mengatur
berlangsungnya metabolisme di dalam tubuh. Tubuh perlu keseimbangan, untuk itu
proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh perlu di atur dengan baik. Zat
gizi yang berfungsi untuk mengatur proses metabolisme di dalam tubuh adalah
mineral, vitamin air dan protein. Namun yang memiliki fungsi utama sebagia zat
pengatur adalah mineral dan vitamin.
b. Berdasarkan jumlah
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh zat gizi terbagai atas
dua, yaitu:
1)
Zat gizi makro
Zat gizi Makro adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar dengan
satuan gram. Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi makro adalah karbohidrat,
lemak dan protein.
2)
Zat gizi mikro
Zat gizi mikro adalah zat
gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil atau sedikit tapi ada dalam
makanan. Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi mikro adalah mineral dan
vitamin. Zat gizi mikro menggunakan satuan mg untuk sebagian besar mineral dan
vitamin.
3) Berdasarkan Sumber
Berdasarkan sumbernya zat
gizi terbagi dua, yaitu nabati dan hewani
Malnutrisi
mikronutrien adalah asupan nutrien seperti vitamin A, zat besi dan yodium yang
tidak cukup. Keadaan ini secara fisik sering tidak terdeteksi tetapi
mempengaruhi kesehatan lebih dari 2 milyar orang di seluruh dunia. Anak-anak
serta wanita adalah golongan yang paling rentan.
Penyebab
malnutrisi mikronutrien adalah:
a. Defisiensi vitamin A, Penyebab
kekurangan vitamin A terutama pada balita adalah konsumsi makan-makanan yang
kurang mengandung cukup vitamin A. Sumber makanan yang kaya Vitamin A seperti
daun singkong, tomat, daun pepaya, bayam, kangkung, daun katuk, pepaya, wortel,
telur, ikan, hati.
b. Defisiensi besi, Akibat
paling sering dari defisiensi besi adalah anemia defisiensi besi. Anemia
defisiensi besi (kurang darah karena kekurangan zat besi) sangat banyak
dijumpai pada wanita terutama yang tinggal di pedesaan, anak-anak, wanita
pekerja pabrik.
c. Defisiensi yodium, Keadaan
ini sering disebut juga: Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Penyebab
GAKY adalah makanan dan air yang setiap hari digunakan tidak atau kurang
mengandung zat yodium. Kebiasaan keluarga yang tidak menggunakan garam beryodium
dalam makanannya sehari-hari, khususnya keluarga yang tinggal di daerah gondok
endemik.
Gizi
buruk atau kekurangan kalori protein (KKP). Ada 3 macam KKP :
a. Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi.
Marasmus adalah suatu keadaan kekurangan kalori protein berat. Namun,
lebih kekurangan kalori dari pada protein. Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah
sebagai berikut:
a) Masukan makanan yang
kurang. Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si
anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
b) Infeksi Infeksi yang berat
dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enternal misalnya infantile
gastroenteritis, bronchopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital.
c) Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum,
palatoschizis, micrognathia, stenosis pylorus, hiatus hernia, hidrosefalus,
cystic fibrosis pancreas.
d) Prematuritas dan penyakit
pada masa neonatus Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat
reflek mengisap yang kurang kuat.
e) Pemberian ASI. Pemberian
ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
f) Ganguan metabolic.
Misalnya: renal asidosis, idiophatic hypercalcemia, galactosemia, lactose
intolerance.
b. Kwashiorkor merupakan suatu
bentuk gangguan gizi dengan penyebab utama penyakit ini adalah akibat
defisiensi protein (catzel & Roberts, 1992; sacharian, 1996; staf pengajar
ilmu kesehatan anak, 2007).
Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi. Dibedakan dengan Marasmus yang disebabkan oleh intake dengan kualitas yang normal namun kurang dalam jumlah.
Kwashiorkor adalah suatu keadaan di mana tubuh kekurangan protein dalam
jumlah besar. Selain itu, penderita juga mengalami kekurangan kalori.
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang
berlansung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersbut diatas antara
lain:
1. Pola makan
Kurangnya pengetahuan ibu
mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi
kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI
2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan
tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak
stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah
berlansung turun-menurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya
kwashiorkor
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/
penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada
keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat
mencukupi kebutuhan proteinnya
c. Marasmus-kwashiorkor, menurut Depkes RI (1999)
etiologi dan tanda-tanda marasmus-kwashiorkor merupakan gabungan dari marasmus
dan kwashiorkor.
Tabel Klasifikasi IMT
Menurut WHO:
Klasifikasi |
IMT (kg/ m2) |
Malnutrisi berat |
<16,0 |
Malnutrisi sedang |
16,0 – 16,7 |
Berat badan kurang/ malnutrisi ringan |
17,0 – 18,5 |
Berat badan normal |
18,5 – 22,9 |
Berat badan kurang |
≥ 23 |
Dengan resiko |
23 – 24,9 |
Obes I |
25 – 29,9 |
Obes II |
≥ 30 |
D. Manifestasi Klinis Malnutrisi
a. Emasiasi (kurus),
b. Tinggi dan berat badannya
kerdil
c. Tidak ada lemak subkutis,
sehingga kulit (khususnya sisi dalam paha) tergantung berlipat-lipat.
d. Tampak seperti orang tua
(kakek sia)
e. Lethargic
f. Kulit berkeriput
g. Ubun-ubun cekung pada bayi
h. Turgor kulit jelek
i.
Malaise
j.
Apatis
k. Kelaparan
l.
Golombang peristaltik mudah terlihat melalui
dinding abdomen yang tipis. (Sachrin, 1996), (Suriadi, 2001), dan (Sodikin,
2011).
Gejala yang paling penting
adalah pertumbuhan terganggu. Berat dan tinggi badan kurang bila dibandingkan
dengan anak sehat. menegaskan bahwa tinggi badan dapat normal dapat juga tidak,
karna hal ini bergantung pada lamanya penyakit yang tengah berlangsung di
samping riwayat gizi di masa lalu. (Arisaman, 2007)
Rambut kering rapuh, tidak
mengkilat, dan mudah dicabut denga tidak menimbulkan rasa sakit. Rambut yang
sebelumnya berombak berubah menjadi lurus, sementara pigmen rambut berganti
warna menjadi coklat, merah, atau bahkan putih kekuningan. (sodikin, 2011).
Muka sembab, lethargic,
edema, jaringan otot mengecil, jaringan subkutan, tipis dan lembut, kulit
kering dan bersisik, alopecia, anorexia, tampak anemia.
E. Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi
merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat
digolongkan atas tiga faktor penting yaitu: tubuh sendiri (host), agent
(kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan)
memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan
Dalam keadaan kekurangan
makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi
kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat,
protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh
sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat
sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan
asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama
puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot
dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau
kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan
sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
Pada Malnutrisi, di dalam tubuh sudah tidak ada lagi cadangan makanan untuk
digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami defisiensi
nutrisi yang sangat berlebihan dan akan mengakibatkan kematian.
F. Faktor Risiko
Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi
nutrisi secara umum adalah:
1.
Perkembangan
Orang dalam periode pertumbuhan yang cepat
yaitu, pada masa bayi dan masa remaja memiliki peningkatan kebutuhan nutrisi
2. Jenis
kelamin
Kebutuhan nutrien pria dan wanita berbeda
karena komposisi tubuh dan fungsi reproduktifnya. Massa otot pria yang lebih
besar mengindikasikan semakin besar kebutuhan kalori dan proteinnya. Karena
menstruasi, wanita lebih banyak memerlukan zat besi daripada pria.
3. Etnis
dan budaya
Etnis sering kali menentukan preferensi
makanan. Makanan tradisional (mis, nasi untuk orang Asia, pasta untuk orang
Italia). Preferensi makanan mungkin berbeda di antara individu dengan latar
belakang budaya yang sama, begitu pula secara umum antara individu dengan latar
belakang budaya berbeda.
4. Gaya hidup
Gaya hidup tertentu dihubungkan dengan
perikalu yang terkait dengan makanan. Orang yang selalu berada dalam kesibukan
mungkin membeli bahan makanan yang mudah disiapkan/diolah atau makanan
restoran. Perbedaan individual juga mempengaruhi pola gaya hidup (mis,
keterampilan memasak, perhatian tentang kesehatan).
5. Obat
dan terapi
Efek obat-obatan terhadap nutrisi sangat
bervariasi. Efeknya dapat mengganggu selera makan, mengganggu persepsi rasa,
atau mengganggu absorbsi atau ekskresi nutrient
6. Kesehatan
Status kesehatan individual sangat
mempengaruhi kebiasaan makan dan status nutrisi. Misalnya masalah pada gigi,
kesulitan menelan (disfagia), proses penyakit dan pembedahan saluran GI dapat
mempengaruhi pencernaan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi nutrien esensial
7. Penyalahgunaan
olkohol
Penyalahgunaan alkohol yang berlebihan
berperan dalam defisiensi nutrisi dalam banyak cara. Alkohol dapat menggantika
makanan dalam diet seseorang, dan alkohol dapat juga menekan selera makan
8. Faktor
psikologis
Walaupun beberpaa orang makan secara
berlebihan jika mereka mengalami stress, depresi, atau kesepian, ornag yang
lain makan sangat sedikit dalam kondisi yang sama. Anoreksia dan penurunan BB
dapat mengindikasikan terjadinya stress atau depresi berat.
G. Pencegahan
1)
Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai
anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan
sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah
berumur 2 tahun.
2)
Anak diberikan makanan yang bervariasi,
seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan
komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan,
sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3)
Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak
dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai
dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke
dokter.
4)
Jika anak dirawat di rumah sakit karena
gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus
diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
5)
Jika anak telah menderita karena kekurangan
gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak,
dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber
kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula
suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali
membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa
dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya
akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul
masalah intelegensia di kemudian hari.
H. Pemeriksaan Diagnostik
·
Pemeriksaan fisik
·
Pemeriksaan
laboratoriu, albumin, creatinine, dan nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.
I. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada
penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta
mencegah kekambuhan. Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat
jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan
penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan
lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.
Penatalaksanaan penderita
yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap:
1. Tahap
awal yaitu 24-48 jam per-tama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk
menyelamat-kan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis
dengan pemberian cairan intravena.
a. Cairan
yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
b. Cairan
diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari.
c. Mula-mula
diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
d.
Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20
jam berikutnya.
2. Tahap kedua yaitu penyesuaian.
Sebagian besar penderita
tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai
dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan. Penatalaksanaan
kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock
memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan
mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk
karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber
kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat
juga diberikan. Dikarenan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam
jangka waktu yang lama, memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah,
khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Makanan
harus diberikan secara bertahap/ perlahan. Banyak dari anak penderita
malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan
untuk memberikan suplemen yang mengandung enzim lactase.
Secara
singkat penatalaksanaan terapeutik untuk anak dengan malnutrisi adalah:
1.
Diet tinggi kalori,
protein, mineral dan vitamin
2.
Pemberian terapi
elektrolit
3.
Penanganan diare
bila ada cairan, antidiare, dan antibiotic.
J. Komplikasi
·
Marasmus: infeksi,
tuberculosis, parasitosis, disentri, malnutrisi kronis, gangguan tumbuh
kembang.
·
Kwashiorkor: diare,
infeksi, anemia, gangguan tumbuh kembang, hipokalemia dan hipernatremia.
Comments
Post a Comment