Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

KEJANG PADA BAYI
Kejang
pada bayi baru lahir adalah kejang yang timbul dalam masa neonatus atau dalam
38 hari sesudah lahir. Kejang ini merupakan tanda penting akan adanya penyakit lain sebagai penyebab kejang, yang
dapat menyebabkan gejala sisa yang menetap di kemudian hari. Bila penyebabnya
diketahui, penyakit ini harus segera diobati. Kejang nenonatus tidak sama
dengan kejang pada anak atau orang dewasa karena konvulsi klonik cenderung
tidak terjadi selama umur bulan pertama. Proses penyembuhan akson dan tonjolan
dendrit juga mielinisasi tidak sempurna pada otak neonatus.
-
Hipoksi-iskhemik ensefalopati. Biasanya
kejang timbul pada 24 jam pertama kelahiran.
-
Trauma susunan saraf pusat. Dapat
terjadi pada persalinan presentasi bokong, ekstraksi cunam atau ekstraksi vakum
berat.
-
Perdarahan intrakranial.
-
Hipoglikemia
-
Hipokalsemia
-
Hipomagnesemia
-
Hiponatremia
-
Hipernatremia
-
Hiperbilirubinemia
-
Ketergantungan pridoksin
-
Kelainan metabolisme asam amino
Dapat
disebabkan bakteri dan virus termasuk TORCH
Seperti yang disinggung sebelumnya, kejang pada bayi berbeda
dengan kejang yang dialami anak-anak yang lebih besar. Sebagian besar kejang
pada bayi adalah kejang parsial, yaitu kejang pada bagian tubuh tertentu saja.
Hal ini disebabkan karena otak bayi yang masih berkembang
sehingga tidak dapat memberi
respons terkoordinasi seperti kejang umum pada anak yang lebih besar.
Kejang pada
bayi baru lahir (kurang dari 1 bulan) dapat berupa gerakan-gerakan kecil yang
seringkali tidak disadari oleh orang tua, misalnya:
1.
Perubahan pola napas
2.
Gerakan/kedutan pada kelopak mata atau
bibir, atau mata tampak berkedip-kedip
3.
Kaki bergerak seperti mengayuh sepeda
4.
Lengan, tungkai, atau tubuh tersentak
atau menjadi kaku
5.
Bayi mungkin menjadi kurang responsif
dan sulit untuk menarik perhatian bayi
Sedangkan,
bayi yang lebih besar dapat menunjukkan gejala kejang berupa:
1.
Spasme infantil: badan, lengan, dan
tungkai bayi menjadi kaku, atau kedua lengannya telentang keluar
2.
Kepala bayi mengangguk-angguk
3.
Kedua tungkai tersentak ke arah perut
dengan posisi lutut tertekuk
4.
Seluruh badan kaku dan mata
berkedip-kedip
5.
Bayi mungkin berhenti beraktivitas dan
memiliki tatapan kosong atau melihat ke salah satu sisi saja. Kondisi ini dapat
disertai dengan sentakan anggota tubuh dan kejang seluruh tubuh.
Kejang
pada bayi memang tampak seperti gerakan bayi pada umumnya. Namun, ada beberapa
petunjuk yang bisa digunakan untuk mengenali kejang pada bayi yang dialami:
1.
Episode gerakan yang berulang dan
identik setiap kali terjadi
2.
Episode serangan kejang tidak dipicu
oleh perubahan postur tubuh atau perubahan aktivitas (misalnya sentakan tubuh
bukan disebabkan oleh kaget akibat suara yang keras).
3.
Gerakan bayi tidak bisa dihentikan
dengan sentuhan. Atau jika tungkai menjadi lurus dan kaku, tungkai bayi tidak
dapat dibengkokkan lagi semudah biasanya.
D.
Klasifikasi Kejang
a.
Subtle
Merupakan
tipe kejang tersering yang terjadi pada bayi kurang bulan. Bentuk kejang ini
hamper tidak terlihat, biasanya berupa pergerakkan muka, mulut, atau lidah
berupa menyeringai, terkejat-kejat, mengisap, menguyang, menelan, atau menguap.
Manifestasi kejang subtle pada mata adalah pergerakkan bola mata
berkedip-kedip, deviasi bola mata horizontal dan pergerakkan bola mata yang
cepat (nystagmus jerk). Pada anggota gerak didapatkan pergerakkan mengayuh atau
seperti berenang. Manifestasi pada pernapasan biasanya berupa apnea.
b.
Klonik
Bentuk
klinis kejang klonik berlangsung 1-3 detik, tidak disertai gangguan kesadaran.
Bentuk kejang ini di akibatkan trauma fokal pada kontusio cerebri pada bayi
besar atau bayi cukup bulan, atau pada kelainan ensefalopati metabolik.
c.
Tonik
Kejang
tonik biasa didapatkan pada bayi berat lahir rendah dengan masa kehamilan
kurang dari 34 minggu dan bayi-bayi dengan komplikasi perinatal berat seperti
perdarahan intraventrikuler. Bentuk klinis kejang ini yaitu pergerakkan tungkai
yang menyerupai sikap deseberasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah
dengan bentuk dekortikasi.
d.
Mioklonik
Manifestasi
klinis kejang mioklonik yang terlihat adalah gerakan ekstensi atau fleksi dari
lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadi dengan cepat.
Gerakan tersebut seperti gerak refleks Moro. Kejang ini merupakan pertanda
kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat, seperti pada bayi baru lahir
yang dilahirkan dari ibu kecanduan obat.
E.
Diagnosis
Diagnosis kejang demam ditegakkan
melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada penyebab kejang di intrakranial.
1. Anamnesis, Riwayat yang ditanyakan
meliputi:
a. Riwayat kejang sebelumnya, apakah
disertai atau tanpa demam
b. Riwayat tumbuh kembang anak sebelum
dan setelah kejang
c. Riwayat penyakit lain yang menyertai
2. Gejala yang digali dari anamnesis
meliputi:
a. Kejang umum: sering dideskripsikan
sebagai “kelojotan” (tonik-klonik)
b. Kejang fokal: kejang pada satu sisi
tangan / kaki atau satu sisi tubuh atau bagian tubuh tertentu
c. Durasi dan Frekuensi kejang
d. Tanda-tanda neurologis sebelum, saat
dan setelah kejang
e. Ada tidaknya gejala demam sebelum
kejang
f. Dicari mengenai sumber infeksi yang
bisa menyebabkan demam
3. Pemeriksaan Fisik
a. Meningitis: kaku kuduk, tanda Kernig
dan Brudzinski yang positif dengan atau tanpa gejala neurologis fokal. [5] Pada
bayi baru lahir, tanda-tanda ini jarang terlihat pada meningitis.
b.
Ensefalitis:
beberapa gangguan kesadaran, perubahan tingkah laku, penemuan neurologis
fokal (contoh: hemiparesis, kejang fokal dan disfungsi otonom), gangguan
motorik, ataksia, gangguan pada saraf kranial, disfagia, meningismus, atau
disfungsi sensorimotor unilateral.
F.
Pertolongan Pertama kejang Pada Bayi
Ketika bayi mengalami kejang demam,
orangtua dianjurkan tetap tenang dan tidak panik. Orangtua sebaiknya segera
melakukan pertolongan pertama dengan cara berikut ini:
1. Letakkan bayi di tempat yang datar.
Tempat ini sebaiknya luas dan bebas sehingga anak tidak akan terbentur atau
tertimpa benda tertentu saat kejang.
2. Posisikan anak tidur menyamping
untuk mencegahnya tersedak saat kejang.
3. Longgarkan pakaiannya, terutama pada
bagian leher.
4. Jangan memaksa untuk menahan gerakan
tubuh anak. Cukup jaga agar posisi tubuhnya tetap aman.
5. Jangan memasukkan benda apa pun ke
mulutnya, termasuk minuman atau obat-obatan.
6. Ucapkanlah kata-kata yang
menenangkan agar Si Kecil merasa lebih nyaman.
7. Catat berapa lama bayi Anda
mengalami kejang.
8. Amati kondisinya saat kejang,
terutama bila dia kesulitan bernapas atau wajahnya menjadi pucat dan kebiruan.
Ini menandakan bahwa ia kekurangan oksigen dan membutuhkan penanganan medis
secepatnya.
9. Jika memungkinkan, rekam kejadian
saat anak sedang kejang sehingga dokter bisa mengetahui dengan pasti seperti
apa kejang yang dialami Si Kecil.
G.
Penanganan
1)
Mengatasi kejang dengan memberikan obat
anti kejang. (misalnya Diazepam, Fenobarbital, Fenitoin/Dilantin)
2)
Menjaga jalan nafas tetap bebas.
(perhatikan ABCD resusitasi)
3)
Mencari faktor penyebab kejang.
(perhatikan riwayat kehamilan, persalinan dan kelahiran, kelainan fisik
ditemukan, bentuk kejang, dan hasil laboratorium)
4)
Mengobati penyebab kejang. (mengobati
hipoglikemia, hipokalsemia, dan lain-lain)
1)
Diazepam
Dosis
0,1-0,3 mg/kgbb IV, disuntikkan perlahan-lahan sampai kejang berhenti. Dapat
diulangi pada kejang berulang, tetapi tidak dianjurkan untuk digunakan pada
dosis pemeliharaan.
2)
Fenobarbital
Dosis
5-10 mg/kgbb IV disuntikkan perlahan-lahan selama beberapa menit. Apabila
kejang berlanjut, Fenobarbital dapat diulangi dengan dosis maksimal 20 mg/kgbb.
Dosis pemeliharaan ialah 5-8 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis.
3)
Fenitoin (Dilantin)
Dosis
5-10 mg/kgbb IV disuntikkan dalam 5-10 menit. Dapat diulangi lagi 5-10 menit.
Fenitoin diberikan apabila kejang tidak dapat diatasi dengan Fenobarbital dosis
10-20 mg/kgbb. Sebaiknya Fenitoin diberikan 10-15 mg/kgbb IV pada hari pertama,
dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 4-7 mg/kgbb IV atau oral dalam 2 dosis.
1)
Bayi diletakkan dalam tempat yang
hangat. Pastikan bahwa bayi tidak kedinginan. Suhu bayi dipertahankan 36.5o
– 37o C.
2)
Jalan napasbayi dibersihkan dengan
tindakan penghisapan lendir diseputar mulut, hidung sampai nasofaring.
3)
Bila bayi apnea, dilakukan pertolongan
agar bayi bernapas lagi dengan alat bantu balon dan sungkup, diberi O2 (oksigen)
dengan kecepatan 2 liter/menit.
4)
Dilakukan pemasangan infus intravena di
pembuluh darah perifer; di tangan, kaki, atau kepala. Bila bayi diduga
dilahirkan oleh ibu berpenyakit diabetes mellitus, dilakukan pemasangan infus
melalui vena umbilikus.
5)
Bila infus sudah terpasang, diberi obat
anti kejang diazepam 0,5 mg/kg suppositoria/IM setiap 2 menit sampai kejang
teratasi. Kemudian ditambah luminal (fenobarbital) 30 mg IM/IV.
6)
Nilai kondisi bayi selama 15 menit.
Perhatikan kelainan fisik yang ada.
7)
Bila kejang sudah teratasi, diberi
cairan infus Dekstrose 10% dengan kecepatan 60 ml/kgbb/hari.
8)
Dilakukan anamnesis mengenai keadaan
bayi untuk mencari faktor penyebab kejang (perhatikan riwayat kehamilan,
persalinan, dan kelahiran):
-
Apakah kemungkinan bayi dilahirkan oleh
ibu berpenyakit diabetes mellitus.
-
Apakah bayi kemungkinan prematur.
-
Apakah kemungkinan bayi mengalami
aspiksia.
-
Apakah kemungkinan ibu bayi
pengidap/menggunakan bahan narkotika.
9)
Bila kejang sudah teratasi, diambil
bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk mencari faktor penyebab kejang,
misalnya:
-
Darah tepi,
-
Elektrolit darah
-
Gula darah,
-
Kimia darah (kalsium, magnesium)
-
Kultur darah,
-
Pemeriksaan torch, dan lain-lain.
10) Bila
ada kecurigaan kearah sepsis dilakukan pemeriksaan fungsi lumbal.
11) Obat
diberikan sesuai dengan penilaian ulang .
12) Apabila
kejang masih berulang, diazepam dapat diberikan lagi sampai 2 kali.
-
Bila kejang terus, diberi fenitoin
(dilantin) dalam dosis 15 mg/kgbb sebagai bolus iv diteruskan dalam dosis 2
mg/kgbb iv setiap 12 jam.
-
Untuk hipoglikemia (hasil
dextrostix/gula darah < 40 mg%) diberi infus dekstrose 10%.
-
Untuk hipokalsemia (hasil kalsium darah
< 8 mg%) diberi kalsium glukonas 10% 2 ml/kgbb dalam waktu 5-10 menit.
-
Apabila belum teratasi juga, diberi
piridoksin 25-50 mg iv.
H.
Bagan Penanganan Kejang Pada Bayi Baru Lahir
TANDA
– TANDA |
Tremor, hiperaktif, kejang- kejang, tiba- tiba
menangis melengking, tonus otot hilang disertai atau tidak dengan hilangnya
kesadaran pergerakan-pergerakan yang tidak terkendali (involuntary
movements), nistagmus atau mata mengedip- mngedip paroksiksmal. |
|
KATEGORI |
·
Tetanus neonaturum ·
Sepsis ·
Menginitis ·
Ensepalitas |
·
Ganguan metabolik (hipoglikemik atau
hipokalsemik). ·
Anoksia susunan saraf pusat. ·
Pendarahan otak. |
PENILAIAN |
||
·
Bentuk kejang ·
Lama kejang ·
Suhu tubuh ·
Kesadaran ·
Tanda- tanda infeksi laninya |
·
Seluruh badan / lokal ·
Sekejap atau < 1 menit ·
Dengan panas ·
Kesadaran berkurang ·
Lesu / ngatuk /tidak mau minum |
·
Seluruh badan / lokal ·
Sekejap atau < 1 menit ·
Tanpak panas ·
Sadar ·
Normal, mau minum |
PENANGANAN |
||
BIDAN
Atau PUSKESMAS |
·
Bersihkan jalan nafas ·
Masukan sendok/ sepatel di bungkus
kain untuk menekan lidah ·
Beri oksigen ·
Atasi kejang dengan Diazepam 0,5 mg/
kg supositoria/ i.m. tiap 2 menit sampai kejeng teratasi. ·
Diberi fenobarbital 30 mg i.m. ·
Infus Dektrose 10% ( liat tabel
kebutuhan dasar cairan dan kalori pada neonatus ) ·
Diberi antibiotika 1 dosis ( liat
tabel jenis dan dosis antibiotika). ·
Rujuk rumah sakit. |
|
RUMAH SAKIT |
·
Sama dengan di atas ·
Bayi dalam indikator / dihangatkan ·
Beri oksigen ·
Beri Diazepam 0,5 mg/kg
supositorial/i.m / i.v ·
Kemudian diberi fenobarbital 30 mg
i.v/i.m ·
Bila masih kejang diberi fenitoin 15
mg/ kg i.v dilanjutkan 2 mg /kg tiap 12 jam. ·
Infus Dektrose 10% 6o cc/ kg ·
Beri kalsium glukonas 2 ml/ kg
dalam waktu 5-10 menit. |
Comments
Post a Comment