Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

APENDISITIS AKUT DALAM KEHAMILAN
A.
Defenisi
Merupakan keadaan
akut abdomen yang paling sering. Paling sering pada decade kedua dan ketiga,
sejajar dengan jumlah jaringan limfoid pada apendiks. Rasio pria : wanita 2:1
usia 15 25 tahun, tetapi selanjutnya 1:1 insiden telah menurun dalam beberapa
decade terakhir.
B.
Anatomi Fisiologis
1.
Anatomi Apendiks Vermiformis
Apendiks
merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira – kirta 10 cm (kisaran 3 – 5 cm),
dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagiam
distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya
dan menyempit kea rah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden
apendisitis pada usia itu. Pada 65% kasus apendiks, apendiks terletak
intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang
geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks pengantungnya.
Pada kasus
selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang
kolon asendens, atau di tepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan
oleh letak apendiks.
Perarafan
parasimpatis berasal dari cabang n. vagus yang mengikuti a mesenterika superior
dan a. apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. torakalis X.
oleh karena itu. Nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus.
Perdarahan
apendiks berasal dari a. apedikularis yang merupakam arteri tanpa kolateral.
Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi apendiks akan
mengalami gangren.
2.
Fisiologi Apendiks
Vermiformis
Apendiks
menghasilkan lender 1 – 2 ml per hari. Lender itu normalnya dicurahkan ke dalam
lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lender di muara
apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Imunoglobin secretor
yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang
saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikianm pengangkatan apendiks tidak
memengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limf di sini kecil sekali jika
dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.
C.
Etiologi dan patogenesis
Obstruksi lumen
disebabkan oleh fekalit, hipertrofi limfoid, barium kering, biji, atau cacing
usus. Gejala – gejala obstruki lingkaran tertutup berkembang karena sekresi
mukosa terus menerus sampai kapasitas lumen 0,1 mL dank arena multiplikasi
cepat dari bakteri dalam apendiks. Distensi merangsang serat nyeri aferen visceral,
menimbulkan nyeri abdomen bawah dan tengah yang samar – samar, tumpul difus.
Distensi mendadak dapat menyebabkan peristaltic dengan kram. Tekanan vena berlebihan
dan aliran arteriol ke dalam menyebabkan kongesti vascular apendiks, dengan reflex
mual. Pembendungan serosa merangsang peradangan peritoneum parietalis dengan
pergeseran atau nyeri yang lebih hebat ke kuadran kanan bawah. Gangguan mukosa
memungkinkan invasi bakteri, dan selanjutnya timbul demam, takikardi, dan lekositosis.
Dengan distensi yang makin progresif, terjadi infark antimesenterik dan perforasi.
Kadang episode apendisitis akut dapat menghilang jika obstruksi dihilangkan; pemeriksaan
patologi selanjutnya menemukan dinding apendiks yang menebal dan berjaringan
parut.
D.
Apendisitis akut pada
kehamilan
Kejadian
appendicitis akut dalam kehamilan dan di luar kehamilan tidaklah berbeda. Kejadian
satu diantara 1000 sampai 2000 wanita hamil. Akan tetapi kejadia perforasi,
lebih sering pada kehamilan, yaitu 1,5 sampai 3,5 kali dari wanita tidak hamil.
Hal ini karena diagnosis dini appendicitis akuta kadang – kadang sulit dibuat, sering
meragukan, atau dikacaukan oleh keadaan – keadaan lain seperti:
1.
Gejala dan tanda rasa mual, muntah,
anoreksia, perut kembung, dan nyeri di perut sering dijumpai pula pada kelainan
lain dari apendisitis.
2.
Adanya leukositosis fisiologik dalam
kehamilan yang mungkin menyerupai jumlah leukosit pada apendisitis akuta.
3.
Berpindahnya letak sekum akibat
dorongan rahim yang makin membesar, menyebabkan letak appendiks juga berpindah.
Pada akhir pertengahan usia kehamilan, appendiks terletak di bagian kanan atas,
sehingga gambaran klinik yang diberikan oleh apendisitis yang biasa tidak
menunjukan gambar seperti di luar kehamilan.
4.
Adanya relaksasi otot-otot dinding perut pada kehamilan lanjut, menyebabkan tanda-tanda nyeri, kekakuan dinding perut, menjadi tak jelas.
5.
Tanda-tanda
appendisitis akut. Kadang-kadang diperlihatkan
pula oleh kelainan-kelainan lain. Pielonefritis
akut, salphingitis akut, rasa nyeri dari ligamentum rotundum pada kehamilan
lebih lanjut, solusio plasenta tingkat permulaan, infeksi saluran kemih,
persalinan premature, obstruksi usus halus. Pada masa nifas adanya endometris atau
adneksitis.
E.
Pemeriksaan Fisik
1.
Inspeksi: pada apendisitis akut
sering ditemukan adanya abdominal swelling , sehingga pada pemeriksaan jenis
ini biasa ditemukan distensi perut.
2.
Palpasi : Pada daerah perut kanan
bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa
nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis.
Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah.
Inidisebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri
bawahdilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda
Blumberg ( Blumberg Sign).
3.
Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan
inidilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila
letaknyasulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri,
makakemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan
inimerupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika.
4.
Pemeriksaan uji psoas dan uji
obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang
meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi
sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha
kananditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka
tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator
dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang.
Bila apendiks yang meradang kontak dengan m. obturator internus yang
merupakandinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.
Pemeriksaanini dilakukan pada apendisitis pelvika
F.
Pemeriksaan Penunjang.
1.
Laboratorium: terdiri dari
pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan
darah lengkapditemukan jumlah leukosit antara10.000-20.000/ml (leukositosis)
dan neutrofildiatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
2.
Radiologi: terdiri dari pemeriksaan
ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada
pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta
perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.
G.
Diagnosis
Meskipun pemeriksaan
dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis akut masih
mungkin salah pada sekitar 15 – 20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering pada
perempuan disbanding lelaki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama
yang masih muda sering timbul gangguan yang mirip apendisitis akut. Keluhan itu
berasal dari genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis,
atau penyakit ginekologik lainnya.
Untuk menurunkan
angka kesalahan diagnosis apendisitis akut biala diagnosis meragukan, sebaiknya
dilakukan observasi penderta di rumah sakit dengan pengamatan 1 – 2 jam.
Foto barium
kurang dapat dipercaya. Ultrasonograf bias meningkatkan akurasi diagnosis.
Demikian pula laparoskopi pada kasus yang meragukan. Laboratorium pemeriksaan jumlah
lekosit membantu menegakan diagnosis apendisitis akut. Pada kebanyakan kasus
terdapat leukostitosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi.
Diagnosis
banding dapat diketahui melalui:
1.
Gastrentritis
2.
Demam degue
3.
Limfadenitis mesenterica
4.
Kelainan Ovulasi
5.
Infeksi Panggul
6.
Kehamilan ektopik
7.
Kista ovarium
8.
Endometritis Eksterna
9.
Urolitiasis pielum/ureter kanan
H.
Penatalaksanaan
Terapi selalu
operatif Karen lumen yang terobstruksi tidak akan sembuh dengan antibiotic saja.
Apendisitis tanpa rupture diterapi dengan apendiktomi segera setalah evaluasi
media selesai. Rupture apendisitis dengan peritonitis lockal atau flegmon, dioperasi
setelah resusitasi awal untuk memperbaiki cairan serta elektrolit yang hilang.
Rupture apendisitis dengan penyebaran pada peritonitis membutuhkan resusitasi
cairan yang lebih luas, tetapi pasien harus menjalani operasi secara normal
dalam 4 jam untuk mencegah berlanjutnya kontaminasi peritoneum.
Rupture
apendisitis dengan pembentukan abses periapendiks dapat diterapi secara akut
dengan operasi, tetapi berkaitan dengan morbiditas yang meningkat. Jika gejala sudah
berlangsung beberapa hari, mereda, dan berkaitan dengan massa kuadran kanan bawah,
terapi awal nonoperatif dengan resusitasi cairan istirahat usus, dan dosis
besar antibiotic yang tepat, mungkin dapat dilakukan drainase abses dengan bimbingan
ultrasonografi. Jika tanda – tanda vital, lkositosis, dan tanda –tanda abdomen
makin berkembang, drainase abses dapat diindikasikan, diikuti oleh terapi konservatif.
Disarankan apendiktomi dilakukan setelah 6 minggu – 3 bulan tetapi angka
keseluruhan dari kekambuhan tanpa apendiktomi interval hanya 5% - 7%.
Antibiotic praoperasi
merendahkan komplikasi infeksi, tetaoi paduan masih controversial: (1) antibiotic
praoperasi hanya untuk dugaan adanya perforasi; (2) antibiotic praoperasi untuk
semuanya dilanjutkan seperti yang diindikasikan bila ditemukan perforasi atau
ganggren; (3) antibiotic praoperasi untuk semuanya, dilanjutkan 3 – 5 hari jika
ditemukan setiap tahap apendisitis. Patogen dalam apendisitis akut adalah flora
kolon campuran, baik aerob maupun anaerob; bacteroides fragilis membutuhkan antibiotic,
klindamisin ditambah aminoglikan atau sefalosporin generasi kedua merupakan
paduan yang popular.
Prosedur
insisi harus pada kuadran kanan bawah untuk pasien dengan dugaan apendisitis.
Insisi McBurney memberikan pajanan yang terbaik, tetapi membutuhkan insisi keduajika
dibutuhkan prosedur alternative. Insisi rocky – davis dengan pemisahan otot
dapat diperluas ke medial bila diperlukan. Insisi paramedian kanan atau garis tengah
bawah digunakan untuk eksplorasi umum, tetapi merupakan kontraindikasi pada abses,
karena materi yang terinfeksi harus dibawa melalui kavum peritoneum yang belum
terkontaminasi.
Pangkal
apendiks secara tradisional diligasi dan dibalik; risiko terjadinya abses sekali
intramurai dari pembalikan pangkal yang terinfeksi adalah kecil. Pembalikan tanpa
ligasi memberikan resiko perdarahan dari arteri apendiks. Ligasi tanpa pembalikan
mengamankan hemotasis tetapi memungkinkan kontaminasi peritoneum dari mukosa pangkal
yang terpajan atau pengikatan yang tergelincir.
Jika tidak
ditemukan apendisitis, organ – organ pelvis dan sisa visera abdomen di eksplorasi.
Mesentrium diperiksa untuk limfadenitis. Ileum “dijalankan” untuk ileitis terminals
atau diverticulitis meckel.
Drainase pus local
disertai dengan drain lateral. Kavum peritonealis tidak dapat didrainase. Jika
apendiks pecah, lemak subkutan dan kulit dibiarkan terbuka supaya menyembuh
dengan pembentukan granulasi atau penutupan sekunder.
Apendiktomi
sekarang dapat dilakukan dengan pendekatan laparoskopik. Ini terutama sesuai
untuk wanita dimana diagnosis banding mencakup penyakit ginekologik. Alat
stapling intrakorporal dipergunakan untuk membagi mesoapendiks dan basis
apendiks.
I.
Komplikasi
Komplikasi
yang paling sering ditemuka adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan sehingga berupa
massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus
Comments
Post a Comment