Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

DIABETES
MELITUS GESTASIONAL / DIABETES DALAM KEHAMILAN
A. DEFINISI
1.
Diabetes
melitus (DM)
Diabetes
melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, dimana glukosa darah
tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan hiperglikemia. DM
merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai. Yang paling sering terjadi
yaitu sewaktu hamil yang disebut DM gestasional dan DM yang terjadi sebelum
hamil yang dinamakan DM pragestasi. Diabetes melitus merupakan gangguan
sistemik pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Diabetes melitus
ditandai dengan hiperglekemia atau peningkatan glukosa darah yang diakibatkan
produksi insulin yang tidak adekuat atau penggunaan insulin yang tidak efektip
pada tingkat seluler. (bobak. Lowdermilk, jensen.2004)
2.
Diabetes
melitus pragestasi (DMP)
Diabetes
pragestasi, artinya sudah diketahui diabetes melitus kemudian hamil. Mereka
tanpa komplikasi atau dengan komplikasi ringan, mereka dengan komplikasi berat,
khususnya retinopati, nefropati dan hipertensi. Diabetes pragestasi adalah
diabetes yang terjadi sebelum konsepsi dan terus berlanjut setelah masa hamil.
Diabetes pragestasi dapat berupa diabetes tipe 1 (tergantung insulin) dan tipe
2 (tidak tergantung insulin), yang mungkin disertai atau tidak disertai
penyakit vaskuler, retinopati, nefropati, dan komplikasi diabetes lainnya.
Kondisi diabetogenik kehamilan pada sistem metabolic yang terganggu selama masa
pragestasi memiliki komplikasi yang signifikan.
Adapun hormone yang normal terhadap kehamilan mempengaruhi kontrol
glikemia pada pasien diabetes pragestasi kehamilan juga dapat mempercepat
kemajuan komplikasi vaskuler diabetes. Selama trimester pertama, sementara
kadar glukosa dalam darah maternal dalam kondisi normal menurun, dan respon
insulin terhadap glukosa meningkat. Dosis insulin untuk klien diabetes yang
terkontrol baik perlu disesuaikan untuk menghindari hipoglikemia.tidak umum terjadi
pada klien diabetes tipe 1 selama awal kehamilan. (Mayer,palmer,1990)
3.
Diabetes
melitus gestasional (DMG)
Diabetes
melitus gestasional (DMG) adalah
kelainan pada metabolisme karbohidrat dari faktor yang memberatkan yang terjadi
selama kehamilan.( Marilyn , 2001).
Diabetes
melitus gestasional adalah intoleransi terhadap karbohidrat dengan berbagai
tingkat keparahan atau pertama kali dikenal pada masa hamil. Diagnosis GDM
ditegaskan tanpa memperhatikan akan kebutuhan insulin atau kontrol diet atau
apakah ada kemungkinan diabetes atau tidak, yang pasti belum pernah
terdiagnosis sebelum kehamilan berlangsung (Varney, 2007)
Diabetes
melitus gestasional adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan
insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Kehamilan yang
disertai dengan diabetes melitus merupakan kondisi yang beresiko tinggi, oleh
karena itu perlu penanganan dan pendekatan multidisiplin untuk mencapai hasil
akhir yang baik.
Diabetes
Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa
berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah
penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pada kehamilan trimester pertama
kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal ini merupakan respon terhadap
transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG asimtomatis sehingga
diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin. Diabetes
melitus gestational adalah keadaan intoleransi karbohidrat dari seorang wanita
yang diketahui pertama kali ketika dia sedang hamil. Diabetes gestational
terjadi karena kelainan yang dipicu oleh kehamilan, diperkirakan karena
terjadinya perubahan pada metabolisme glukosa.
Akibat
pengaruh estrogen dan progesterone, pancreas meningkatkan produksi insulin,
yang meningkatkan penggunaan glukosa. Pada saat yang sama, penggunaan glukosa
oleh janin meningkat, sehingga menurunkan kadar glukosa ibu. Selain itu,
trimester pertama juga ditandai dengan nausea, vomitus, dan penurunan asupan
makanan sehingga kadar glukosa ibu semakin menurun dan selama tri mester kedua
dan ketiga peningkatan kadar laktogen plasenta human, estrogen, progesterone,
kortisol,prolaktin, dan insulin meningkatkan resistansi insulin melalui
kerjanya sebagai suatu antagonis. Resistansi insulin merupakan suatu mekanisme
penghematan glukosa yang memastikan suplai glukosa yang berlimpah untuk janin.
Kebutuhan ibu akan insulin meningkat sejak trimester ke II. Kebutuhan insulin
dapat meningkat 2-4 kali lipat pada kehamilan cukup bulan.
B. ETIOLOGI
1. Faktor
autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
2. Genetik
Diabetes
mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen penyebab diabetes
mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya menderita diabetes mellitus.
Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan cicit walaupun resikonya
sangat kecil.
Secara
klinis, penyakit DM awalnya didominasi oleh resistensi insulin yang disertai
defect fungsi sekresi. Tetapi, pada tahap yang lebih lanjut, hal itu didominasi
defect fungsi sekresi yang disertai dengan resistensi insulin. Kaitannya dengan
mutasi DNA mitokondria yakni karena proses produksi hormon insulin sangat erat
kaitannya dengan mekanisme proses oxidative phosphorylation (OXPHOS) di dalam
sel beta pankreas. Penderita DM proses pengeluaran insulin dalam tubuhnya
mengalami gangguan sebagai akibat dari peningkatan kadar glukosa darah.
Mitokondria menghasilkan adenosin trifosfat (ATP). Pada penderita DM, ATP yang
dihasilkan dari proses OXPHOS ini mengalami peningkatan. Peningkatan kadar ATP
tersebut otomatis menyebabkan peningkatan beberapa senyawa kimia yang
terkandung dalam ATP. Peningkatan tersebut antara lain yang memicu tercetusnya
proses pengeluaran hormon insulin. Berbagai mutasi yang menyebabkan DM telah
dapat diidentifikasi. Kalangan klinis menyebutnya sebagai mutasi A3243G yang
merupakan mutasi kausal pada DM. Mutasi ini terletak pada gen penyandi ribo
nucleid acid (RNA). Pada perkembangannya, terkadang para penderita DM menderita
penyakit lainnya sebagai akibat menderita DM. Penyakit yang menyertai itu
antara lain tuli sensoris, epilepsi, dan stroke. Hal itu telah diidentifikasi
sebagai akibat dari mutasi DNA pada mitokondria. Hal ini terjadi karena makin
tinggi proporsi sel mutan pada sel beta pankreas maka fungsi OXPHOS akan makin
rendah dan defect fungsi sekresi makin berat. Prevalensi mutasi tersebut
biasanya akan meningkat jumlahnya bila penderita DM itu menderita penyakit
penyerta tadi.
3. Kerusakan /
kelainan pangkreas sehingga Kekurangan produksi insulin
Infeksi mikroorganisme
dan virus pada pankreas juga dapat menyebabkan radang pankreas yang otomatis
akan menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon
untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol
tinggi dan dislipidemia dapat meningkatkan resiko terkena diabetes mellitus.
4. Meningkatnya
hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
5. Obat-obatan.
Bahan-bahan
kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas, radang pada
pankreas akan mengakibatkan fungsi pankreas menurun sehingga tidak ada sekresi
hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis
residu obat yang terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas.
Contohnya Minum soda dalam keadaan perut kososng (misalnya stelah berpuasa atau
waktu bangun tidur dipagi hari) juga harus dihindari. Sirup dengan kadar
fruktosa tinggi, soda, dan pemanis buatan yang terdapat dalam minuman soda
dapat merusak pankreas yang menyebabkan meningkatnya berat badan, jika
kebiasaan ini diteruskan, lama kelamaan akan menderita penyakit DM. Penelitian
membuktikan bahwa perempuan yang mengkonsumsi soda lebih dari 1 kaleng per hari
memiliki resiko 2 kali terkena diabeters tipe 2 dalam jangka waktu 4 tahun
kedepannya.
6. Wanita
obesitas
Sebenarnya
DM bisa menjadi penyebab ataupun akibat. Sebagai penyebab, obesitas menyebabkan
sel beta pankreas penghasil insulin hipertropi yang pada gilirannya akan
kelelahan sehingga insulin menjadi kurang prodeksinya dan terjadilah DM.
Sebagai akibat biasanya akibat penggunaan insulin sebagai terapi DM berlebihan
menyebabkan penimbunan lemak subkutan yang berlebihan pula.( Kapita Selekta
Jilid III, 2006)
C. TANDA DAN GEJALA
ü Sering
kencing pada malam hari (polyuria)
ü Selalu merasa
haus (polydipsia)
ü Selalu
merasa lapar (polyfagia)
ü Selalu
merasa lelah atau kekurangan energi
ü Penglihatan
menjadi kabur
ü Hyperglaisimia
(peningkatan abnormal kandungan gula dalam darah)
ü Glaikosuria
(glukosa dalam urine)
ü Pruritus
vulva
ü Ketonemia
ü Berat badan
menurun
ü Gula darah 2
jam pp>200 mg/dl
ü Gula darah
sewaktu >200 mg/dl
ü Gula darah
puasa >126 mg/dl
D. KLASIFIKASI
1. Diabetes
melitus yang tergantung pada insulin (Tipe 1 / id DM)
Biasanya
terdapat pada orang yang masih muda. Gejalanya terjadi dengan tiba-tiba glukosa
darah yang tinggi.
2. Diabetes
melitus yang tidak tergantung pada insulin (Tipe 2 / NID DM)
Biasanya
terdapat pada orang yang usianya ≥40
tahun, terjadi secara perlahan-lahan, dan kemungkinan tidak ada tanda atau
gejala, biasanya terdapat pada orang gemuk, usia lanjut atau tidak aktif
3. Diabetes
tipe lain
4. Diabetes
melitus gestasional (DMG) yaitu diabetes yang timbul dalam kehamilan
Tabel klasifikasi insulin
KARAKTERISTIK |
TIPE 1
(DEPENDEN INSULIN) |
TIPE 2
(NON DIPENDEN INSULIN) |
Lokus genetic |
Kromosom 6 |
Tidak diketahui |
Onset umur |
<20 tahun <40 tahun |
Umur ≥40 tahun |
Habitus |
Normal, terjadi pemborosan energi |
Gemuk |
Insulin plasma |
Insulin rendah / tidak ada / kurang |
Tidak resitensi terhadap insulin tinggi |
Glucagon |
Konsentrasi tinggi dapat diturunkan |
Konsentrasi tinggi resistensinya juga tinggi |
Komplikasinya reaksi kortison terhadap insulin |
Ketoasidosis bereaksi |
Hyperosmoler sampai koma dapat bereaksi |
Sulfonil-urea |
Tidak bereaksi |
Bereaksi dengan baik |
E. SKRINING
Fourth internasional
workshop-conference on gestational diabetes Merekomendasikan skrining untuk
mendeteksi Diabetes Gestasional :
1. Risiko
Rendah
Ter glukosa
darah tidak dibutuhkan apabila :
·
Angka kejadian diabetes gestasional pada daerah
tersebut rendah
·
Tidak didapatkan riwayat diabetes pada kerabat dekat
·
Usia <25 tahun
·
Berat badan normal sebelum hamil
·
Tidak memiliki riwayat metabolisme glukosa terganggu
·
Tidak ada riwayat obstetric terganggu sebalumnya
2. Risiko
sedang
Dilakukan
tes gula darah pada kehamilan 24 – 28 minggu
3. Risiko
tinggi
Wanita
dengan obesitas, riwayat keluarga dengan diabetes, mengalami glukosuria (air
seni mengandung glukosa). Dilakukan tes gula darah secepatnya. Bila diabetes
gestasional tidak terdiagnosis maka pemeriksaan gula darah diulang pada minggu
24 – 28 minggu kehamilan atau kapanpun ketika pasien mendapatkan gejala yang
menandakan keadaan hiperglikemia (kadar gula di dalam darah berlebih).
F. KOMPLIKASI
1. Tekanan
darah tinggi, pre-eklampsia dan eklampsia
Gestasional diabetes akan meningkatkan risiko ibu
untuk mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan. Hal tersebut juga akan
meningkatkan risiko ibu untuk terkena pre-eklampsia dan eklampsia, yaitu 2 buah
komplikasi serius dari kehamilan yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan gejala
lain, yang dapat membahayakan ibu dan janin.
2. Diabetes
dikemudian hari
Jika mengalami gestasional diabetes,
maka kemungkinan besar akan mengalami kembali pada kehamilan berikutnya. Selain
itu juga ibu berisiko untuk menderita diabetes tipe 2 dikemudia hari. Akan
tetapi dengan mengatur pola hidup seperti makan makanan bernutrisi &
berolahraga dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2 nantinya. Untuk
wanita dengan riwayat gestasional diabetes yang berhasil menurunkan berat badan
hingga ideal setelah melahirkan, maka resikonya untuk terkena diabetes tipe 2
hanya kurang dari 1 per 4 wanita.
Komplikasi
pad maternal |
Komplikasi pada janin |
-
Hipertensi
10-20 % -
Hidraamnion
20-25% -
Bakteriuria
7-10 % -
Persalinan
distosia 10-15 % -
Kematian
maternal jarang -
Gangguan
vaskuler sehingga menimbulkan : preeclampsia |
-
Kematian
perinatal tinggi -
Kelainan
congenital 6 % -
Makrosomia -
Kematian
intra uterin -
Abortus
berulang / tanpa sebab -
Respiratory
distress syndrom |
-
Dapat
terjadi infertilitas -
Emesis dan
hyperemesis berat |
-
Janin
makrosomia cenderung menyebabkan pertolongan persalinan operatif
transoabdominal |
Dampak lain kolestrol tinggi
dan hypertensi adalah : -
Retinopati -
Nefropati -
Neuropath -
ateroskelosis |
-
pertolongan
persalina pervaginam yang paling berbahaya adalah distosia bahu. |
G. PATOFISIOLOGI
Pada DMG,
selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu keadaan di
mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi perubahan kinetika
insulin dan resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber
energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula darah tinggi, kadar insulin tetap
tinggi). Melalui
difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana sirkulasi janin juga ikut
terjadi komposisi sumber energi abnormal. (menyebabkan kemungkinan terjadi
berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga hiperinsulinemia sehingga janin
juga mengalami gangguan metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia,
hiperbilirubinemia, dan sebagainya.
Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolism endokrin dan karbohidrat yang menunjang
pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat
berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam
darah janin hampir menyerupai kadar darah
ibu. Insulin ibu tak dapat mencapai janin, sehingga kadar gula ibu yang
mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi
oleh insulin, disamping beberapa hormone lain seperti estrogen, steroid dan
plasenta laktogen. Akibat lambatnya resorpsi makanan maka terjadi hiperglikemia
yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm kebutuhan
insulin meningkat sehingga mencapai 3 kali dari keadaan normal. Hal ini disebut
sebagai tekanan diabetogenik dalam kehamilan.
Secara fisiologik telah terjadi resistensi insulin yaitu bila ia ditambah
dengan insulin eksogen ia tidak mudah menjadi hipoglikemi. Akan tetapi, bila
ibu tidak mampu meningkatkan produksi insulin, sehingga ia relative hipoinsulin
yang menyebabkan hiperglikemia atau diabetes kehamilan.
Pada DMG,
selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu keadaan di
mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi perubahan kinetika
insulin dan resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber
energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula darah tinggi, kadar insulin tetap
tinggi). Melalui difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana sirkulasi
janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi abnormal. (menyebabkan kemungkinan
terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga hiperinsulinemia sehingga
janin juga mengalami gangguan metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia,
hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan sebagainya.
H. FAKTOR RESIKO
1. Factor
kebidanan
-
Beberapa kali keguguran
-
Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang
jelas.
-
Riwayat pernah melahirkan anak dengan cacat bawaan.
-
Pernag pre-eklampsi
-
polihidramnion
2. Factor ibu
-
Umur ibu hamil lebih dari 30 tahun
-
Riwayat DM dalam keluarga
-
Pernah DMG pada kehamilan sebelumnya
-
Infeksi saluran kemih yang berulang-ulang sebelum
hamil.
I. PENGARUHNYA
Terhadap kehamilan |
Terhadap persalinan |
Terhadap nifas |
-
Hyperemesis
gravidarum -
Pemakaian
glikogen -
Meningkatnya
metabolism basal -
Sebagian
insulin ibu dimusnahkan oleh enzim insulin dalam plasenta |
-
kegiatan
otot rahim dan usaha meneran mengakibatkan pemakaian glukosa lebih banyak ,
sehingga dapat terjadi hypoglikemia , apabila disertai dengan muntah –
muntah. |
-
Lebih
sering mengakibatkan infeksi nifas dan sepsis yang menghambat luka jaln lahir
, baik rupture perineum maupun lika episitiomi |
J. PENATALAKSANAAN
1.
Pengelolaan
medis
Sesuai dengan pengelolaan
medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama didasari atas pengelolaan
gizi/diet dan pengendalian berat badan ibu.
a.
Kontrol secara
ketat gula darah, sebab bila kontrol kurang baik upayakan lahir lebih dini,
pertimbangkan kematangan paru janin. Dapat terjadi kematian janin memdadak.
Berikan insulin yang bekerja cepat, bila mungkin diberikan melalui drips.
b.
Hindari
adanya infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya. Lakukan upaya pencegahan
infeksi dengan baik.
c.
Pada bayi
baru lahir dapat cepat terjadi hipoglikemia sehingga perlu diberikan infus
glukosa.
d.
Penanganan
DMG yang terutama adalah diet, dianjurkan diberikan 25 kalori/kgBB ideal,
kecuali pada penderita yang gemuk dipertimbangkan kalori yang lebih mudah.
e.
Cara yang
dianjurkan adalah cara Broca: BB ideal =
(TB-100)-10% BB.
f.
Kebutuhan
kalori adalah jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari:
−
Kalori basal
25 kal/kgBB ideal
−
Kalori
kegiatan jasmani 10-30%
−
Kalori untuk
kehamilan 300 kalor
−
Perlu
diingat kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5 gr/kgBB
Jika dengan terapi diet selama
2 minggu kadar glukosa darah belum mencapai normal atau normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa di bawah 105 mg/dl dan 2
jam pp di bawah 120 mg/dl, maka terapi insulin harus segera dimulai. Pemantauan dapat dikerjakan dengan menggunakan alat pengukur glukosa darah
kapiler. Perhitungan menu seimbang sama dengan perhitungan pada kasus DM
umumnya, dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori per hari untuk tumbuh
kembang janin selama masa kehamilan sampai dengan masa menyusui selesai.
2.
Pengelolaan
DM dalam kehamilan bertujuan untuk :
−
Mempertahankan
kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl
−
Mempertahankan
kadar glukosa darah 2 jam pp < 120 mg/dl
−
Mempertahankan
kadar Hb glikosilat (Hb Alc) < 6%
−
Mencegah
episode hipoglikemia
−
Mencegah
ketonuria/ketoasidosis deiabetik
−
Mengusahakan
tumbuh kembang janin yang optimal dan normal.
Dianjurkan
pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu (ideal setiap hari, jika
mungkin dengan alat pemeriksaan sendiri di rumah). Dianjurkan kontrol sesuai
jadwal pemeriksaan antenatal, semakin dekat dengan perkiraan persalinan maka
kontrol semakin sering. Hb glikosilat diperiksa secara ideal setiap 6-8 minggu
sekali.
Kenaikan
berat badan ibu dianjurkan sekitar 1-2.5 kg pada trimester pertama dan
selanjutnya rata-rata 0.5 kg setiap minggu. Sampai akhir kehamilan, kenaikan
berat badan yang dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu BB kurang
14-20 kg, ibu BB normal 12.5-17.5 kg dan ibu BB lebih/obesitas 7.5-12.5 kg).
Jika
pengelolaan diet saja tidak berhasil, maka insulin langsung digunakan. Insulin
yang digunakan harus preparat insulin manusia (human insulin), karena insulin
yang bukan berasal dari manusia (non-human insulin) dapat menyebabkan terbentuknya antibodi terhadap insulin endogen dan antibodi ini dapat
menembus sawar darah plasenta (placental blood barrier) sehingga dapat
mempengaruhi janin.
Pada DMG,
insulin yang digunakan adalah insulin dosis rendah dengan lama kerja
intermediate dan diberikan 1-2 kali sehari. Pada DMH, pemberian insulin mungkin
harus lebih sering, dapat dikombinasikan antara insulin kerja pendek dan
intermediate, untuk mencapai kadar glukosa yang diharapkan. Obat hipoglikemik oral tidak digunakan dalam DMG karena efek
teratogenitasnya yang tinggi dan dapat diekskresikan dalam jumlah besar melalui
ASI.
Comments
Post a Comment