
Kasus Pancasila Kesehatan : Pelanggaran Pancasila Pasal 1, 2 Dan 3
MAKALAH KASUS PANCASILA
Berlagak Kayak Dokter, Perawat yang Lakukan
Praktek Bedah Akhirnya Diamankan
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang..................................................................................... 1
B.
Tujuan Penulisan................................................................................... 1
BAB II KAJIAN TEORI
A.
Pengertian ............................................................................................ 2
B.
Tahap-tahap Pembedahan..................................................................... 2
C.
Kondisi tubuh pada
pembedahan......................................................... 2
D.
Persiapan pra Operasi
(Pembedahan)................................................... 3
E.
Proses Operatif (Pembedahan)............................................................. 4
F.
Post Operatif (Pembedahan)................................................................ 5
G.
Analisa Kasus....................................................................................... 7
H.
Pendapat Penulis.................................................................................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................... 9
B. Saran..................................................................................................... 9
BAB I
Pembedahan tubuh sengaja
dibuat luka sehingga terjadi stres yang menyebabkan perubahan metabolik akibat
reaksi endokrin yang kompleks. Akibat dari luka terjadi proses penyembuhan luka
yang merupakan proses kompleks dan banyak yang terkait. Kebutuhan kalori,
protein, lemak dan elektrolit sangat diperlukan untuk kebugaran fisik dan
penyembuhan luka pasca bedah.
Adapun Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui kasus Berlagak Kayak Dokter, Perawat yang Lakukan
Praktek Bedah Akhirnya Diamankan.
BAB II
A.
Pengertian
Pembedahan atau operasi
adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka
atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (R. Sjamsuhidajat & Wim
de Jong, 2005). Pembukaan bagian tubuh ini umumnya menggunakan sayatan. Setelah
bagian yang ditangani ditampilkan, dilakukan tindakan perbaikan yang di akhiri
dengan penutupan dan penjahitan luk. Digestif atau saluran pencernaan adalah
saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh
tubuh dengan jalan proses pencernaan dengan enzim dan zat cair yang terbentang
mulai dari mulut sampai anus.
B.
Tahap-tahap Pembedahan
1.
Tahap pra bedah (pre
opersi)
2.
Tahap pembedahan (intra
operasi)
3.
Tahap pasca bedah (post
operasi)
C.
Kondisi tubuh pada pembedahan
Pembedahan tubuh sengaja
dibuat luka sehingga terjadi stres yang menyebabkan perubahan metabolik akibat
reaksi endokrin yang kompleks. Akibat dari luka terjadi proses penyembuhan luka
yang merupakan proses kompleks dan banyak yang terkait. Kebutuhan kalori,
protein, lemak dan elektrolit sangat diperlukan untuk kebugaran fisik dan
penyembuhan luka pasca bedah.
Puasa merupakan hal yang
rutin pada pembedahan berencana. Puasa lebih dari 24 jam akan terjadi proses
katabolik yang menghabiskan cadangan glycogen hati dan otot. Badan manusia
tanpa asupan nutrisi membutuhkan 25 kkal/kg/hari (kilokalori). Cadangan kalori
habis memicu terjadi gluconeogenesis yang diambil dari proteolisis otot juga
dari protein viseral yang mengakibatkan menurunnya integritas sel, sistem
imunitas dan enzim. Puasa panjang dengan mengistirahatkan saluran pencernaan
diperlukan asupan nutrisi yang memadai.
D.
Persiapan pra Operasi (Pembedahan)
Persiapan sebelum operasi dimulai dengan
mempersiapkan ruangan bedah yang steril, persiapan peralatan operator dan
asisten, dan persiapan alat atau instrument yang telah disterilisasi. Peralatan
yang akan digunakan saat operasi disusun diatas meja instrument yang telah
dialasi linen steril. Peralatan lain tergantung dari jenis operasi yang akan
dilakukan. Sterilisasi peralatan operasi meliputi, baju operasi, masker,
penutup kepala, sarung tangan, sikat, dan handuk yang telah dicuci bersih serta
dikeringkan dibungkus dengan kain muslin atau non woven setelah terlebih dahulu
dilipat dan ditata sesuai dengan urutannya masing-masing. Peralatan yang telah
dibungkus dimasukkan ke dalam oven untuk disterilisasi dengan suhu 60oC
selama 15-30 menit. Perlengkapan yang telah disterilisasi digunakan pada saat
operasi oleh operator dan asisten satu (asisten operator).
Alat-alat bedah yang akan digunakan dikumpulkan dalam suatu wadah dan
direndam dengan larutan sabun hingga seluruh bagiannya terendam. Setelah direndam,
instrumen bedah pun dicuci bersih dengan menggunakan sikat hingga sisa kotoran
menghilang dan peralatan menjadi bersih. Instrumen dicuci mulai dari bagian
yang bersentuhan dengan tubuh pasien yaitu bagian ujung hingga bagian pangkal.
Instrumen-instrumen tersebut kemudian dibilas dengan air bersih mulai dari
bagian ujung hingga pangkal sebanyak 10-15 kali. Peralatan operasi minor yang
telah dicuci bersih kemudian dikeringkan terlebih dahulu baru setelah itu
ditata rapi di dalam kotak peralatan sesuai dengan urutan penggunaannya. Kotak
peralatan tersebut kemudian dibungkus dengan muslin atau non woven dan
disterilisasi menggunakan oven dengan suhu 121°C selama 60 menit. Peralatan
yang telah disterilisasi digunakan pada saat operasi.
Pemeriksaan fisik berupa signalement dan keadaan umum hewan. Parameter
signalement yang dicatat adalah nama kucing, jenis dan ras, jenis kelamin,
usia, warna rambut dan kulit, serta bobot badan. Keadaan umum kucing yang
dicatat yaitu, habitus, gizi, sikap berdiri, cara berjalan, adptasi lingkungan,
turgor kulit, kelenjar pertahanan,
refleks pupil, refleks palpebrae, frekuensi dan ritme napas, temperatur, CRT,
warna mukosa, dan diameter pupil. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, kucing
diinjeksikan dengan premedikasi atropin. Dosis sulfa atropin yang digunakan
adalah 0,025 mg/kg BB. Setelah 15 menit, kucing diinjeksikan dengan ketamine -
xylazine. Dosis ketamin-xylazine yang digunakan adalah 10mg/kg BB dan 2 mg/kg
BB.
Faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan operasi, mulai dari
kondisi umum preoperatif, apakah pasien dalam keadaan sakit, sakit ringan, atau
ada kelainan bawaan. Keadaan umum seperti demam dan kondisi sistemik lainnya
akan berpengaruh terhadap keberhasilan
operasi. Hewan harus dalam keadaan stabil sebelum operasi. Pemeriksaan kondisi
fisik mutlak harus dilakukan jika terjadi kelainan pada cairan, asam-basa,
elektrolit, dan kelainan kardiovaskular harus diperbaiki sebelum menginduksi
anastesi (Theresa 2007).
E.
Proses
Operatif (Pembedahan)
Operasi yang dilakukan operator pada saat praktikum adalah laparatomi
medianus central, yaitu suatu tindakan penyayatan abdomen yang dilakukan 1 cm
anterior umbilical sampai 3 cm posterior umbilical. Penyayatan abdomen yang
dilakukann tepat dibagian tengah mempunyai maksud mempermudah eksplorasi
organ-organ yang berada baik disebelah anterior maupun posterior dari
tempat penyayatan (Katzug 2001).
Pasien dibaringkan dengan posisi terlentang ke atas, kemudian dibuat
sayatan kulit pada garis ventral. Sayatan dapat dilakukan dari dekat processus
ziphoidea sampai dengan daerah pubis. Setelah kulit terbuka, sayat jaringan
subkutan sampai fascia eksternal dari muskulus rektus abdominis terlihat. Ikat
atau cauterisasi pembuluh darah kecil
yang menyebabkan pendarahan pada subkutan sehingga linea alba dapat terlihat
jelas. Linea alba disayat tepat diatasnya. Ketika omentum telah menyembul,
linea alba dijepit bagian kiri dan kanan, gunakan gunting untuk memperpanjang
sayatan ke kranial atau kaudal (Theresa 2007). Omentum dan peritoneum akan terlihat dibawah linea alba.
Organ-organ yang terdapat di rongga abdomen dicari berdasarkan pembagian
daerah, yaitu epigastrium, mesogastrium, dan hipogastrium (Katzug 2001).
Sebelum penutupan dilakukan teteskan antibiotik pada ruang abdomen untuk
meminimalisir infeksi pasca operasi. Penjahitan pertama dilakuakn pada
lapisan peritoneum dan linea alba. Linea
alba dapat ditutup dengan jahitan simple interrupted suture atau simple continuous suture.
Pastikan saat penjahitan pada linea alba tidak ada jaringan lain yang
ikut terjahit karena bisa menghambat penutupan luka. Jahitan kedua tutup
jaringan subkutan dengan jahitan simple continuous suture. Lalu teteskan lagi
antibiotik pada subkutan sebelum dilakukan penutupan kulit. Penjahitan kulit
dilakakukan menggunakan benang nonabsorbable dengan jahitan simple interrupted
suture untuk meminimalisir terjadinya hernia atau dapat pula digunakan stainless
steel staples. Jarak tepi jahitan fascia adalah 4 sampai 10 mm. Jahitan simple
interrupted suture diberi jarak 5 mm-10 mm dari jahitan satu dengan jahitan
lainnya, tergantung pada ukuran hewan. Jahitan pada kulit dilakukan dengan
sedikit tegangan untuk meminimalisir bekas jahitan (Theresa 2007). Setelah
penjahitan selesai diberikan iodine di bekas sayatan yang telah dijahit.
Setelah itu sayatan ditutup dengan tampon segi empat dan plester. Sebelum
dipakaikan gurita, hewan di suntik oxytetracycline 0.175 ml secara
intramuscular, setelah itu hewan baru dipakaikan gurita (Katzug 2001).
F.
Post
Operatif (Pembedahan)
Prosedur bedah laparotomi umumnya didukung perawatan postoperatif. Pengecekan
tersebut anatara lain efek anastesi dan meyakinkan bahwa persembuhan luka
berjalan dengan baik (Hedlund 2002). Komplikasi sering kali menyertai operasi
seperti reaksi alergi jahitan, seroma, hematoma, self trauma, dan
ketidaknyamanan pasien. Terapi cairan
harus dilanjutkan pada kebanyakan hewan pasca operasi abdomen. Elektrolit,
asam-basa, dan protein serum harus diperhatikan dan dikoreksi pasca operasi untuk memastikan bahwa pasien
dengan memiliki asupan kalori yang memadai pasca operasi (Theresa 2007).
Perawatan seperti pemberian antibiotik, terapi cairan, perawatan balutan, anti
inflamasi akan membantu persembuhan luka setelah operasi. Penanganan post
operatif sangat penting karena dapat mempengaruhi persembuhan hewan (pasien).
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan terhadap pasien bedah post operatif untuk perawatan pasien bedah,
dianataranya hewan dibawa ke ruang pemulihan yang tenang, hewan tetap dimonitor
dengan diukur suhu, frekuensi nafas, frekuensi denyut jantung, serta diameter
pupil. Diperhatikan membran mukosa, limphonodus, dan selaput lendir, serta
pasien diberikan obat untuk mengatasi rasa nyeri selama 1 sampai 3 hari setelah
operasi (Hedlund 2002). Diberikan infus bilaterjadi muntah dan diare hebat,
disfungsi ginjal dan penyakit hati dengan memperhatikan laju infus dan jenis
infus yang diberikan. Apabila pasien hipothermia, diberi penghangat menggunakan
air hangat, diberikan suplemen oksigen, kateter apabila diperlukan (Mc Curnin
2002).
Hal lain yang perlu dilakukan post operatif adalah pencucian peralatan,
pencucian perlengkapan, pembersihan ruang operasi. Pencucian peralatan
dilakukan dengan mencuci alat setelah digunakan dengan direndam dalam air yang
diberi larutan pencuci, disikat, dimulai dari ujung yang paling steril (ujung
yang pertama mengenai pasien), kemudia dibilas dengan air yang mengalir
sebanyak 10-15 kali, dikeringkan dengan ditata di rak (Suriadi, 2007).
Peralatan yang sudah kering kemudian disterilisasi lagi seperti di awal tadi.
Pencucian perlengkapan meliputi masker, tutup kepala, handuk dan baju operasi
yang telah selesai digunakan dicuci dengan sabun, dibilas dikeringkan.
Perlengkapan-perlengkapan tersebut kemudian disterilisasi sebagaimana proses
pra operasi tadi. Ruang operasi kembali dibersihkan dari kotoran/debu dengan
disapu dan disterilisasi baik dengan radiasi atau dengan menggunakan
desinfektan berupa alkohol 70% (Harari 2004).
G.
Analisa
Kasus
SERANG (Pos Kota) – Petugas
Unit Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Satuan Reskrim Polres Serang mengamankan SG,
55, seorang perawat di Klinik Prima Medika di Kelurahan Kuanji, Taktakan,
Kota Serang. Pria itu diamankan karena berlagak praktek bedah ilegal
seperti dokter.
Sejauh ini pria yang
diketahui bekerja di RSUD Drajat Prawiranegara Kota Serang. Ia dinilai
menjalani praktek bedah ilegal yang semestinya dilakukan oleh tim kedokteran,
dan juga tak punya izin.
“Tersangka membuka prkatek
tanpa izin sejak tahun 2013. Hanya saja tersangka tidak mempunyai legalitas
kewenangan untuk melakukan praktek bedah pasien,” ungkap Kepala Satuan Reskrim
Polres Serang, AKP Gogo Galesung saat ekspose, Rabu (7/9).
Menurut Gogo, penggerebegan
di Klinik Prima Medika yang menggelar praktek bedah ilegal ini dilakukan pada
Minggu (4/9) sore. Bermula dari hasil penyelidikan atas laporan dari keluarga
korban berinisial SL, 50, warga Kecamatan Taktakan. Pihak keluarga mencurigai
kematian SL setelah menjalani operasi hernia pada 6 Juli 2014.
“Korban malpraktek itu
dibedah karena penyakit hernia. Setelah menjalani operasi korban tak dapat
buang air dan keesokan harinya meninggal dunia,” kata Gogo didampingi Kanit
Pidsus Ipda Samsul Fuad.
Dijelaskan Kasat, tersangka
yang merupakan PNS di RSUD Drajat Prawiranegara tersebut memberikan harga lebih
murah berkisar Rp200 ribu sampai Rp2,5 juta tergantung penyakitnya. Karena
tarif yang murah, tidak sedikit masyarakat tidak mampu yang menggunakan jasa
ilegal tersebut.
“Sejak membuka praktek,
tersangka telah melakukan operasi bedah terhadap 125 pasien. Rinciannya 101
pasien bedah minor dan 24 pasien menjalani bedah mayor,” jelas Kasat.
Terkait obat-obatan serta
peralatan medis, lanjut Kasat, tersangka membelinya dari apotik. Karena
tersangka bekerja pada rumah sakit, setiap pembelian obat atau peralatan medis
tersangka mengaku untuk keperluan rumah sakit. “Obat-obatan yang kami amankan
juga dibeli harus menggunakan resep dokter,” kata Kasat.
Dari tersangka, petugas
mengamankan barang bukti tabung oksigen, 2 lampu periksa, mesin steril alat
operasi dan tempat set alat operasi, meja alat operasi, peralatan operasi, set
tensi meteran, set tiang infus dan puluhan obat serta alat suntik.
H.
Pendapat
Penulis
Melakukan pembedahan
merupakan wewenang seorang dokter. Apapun alasannya, tidak dibenarkan bagi
seorang perawat untuk melakukan pembedahan kepada pasien. Apalagi jika melakukan
pembedahan pada pasien gawat darurat, tentu itu akan sangat merugikan bahkan
membahayakan nyawa pasien. Hal ini jelas melanggar pancasila sila ke 1 yaitu
bekerja dengan melanggar sumpah jabatan. Sila ke 2 yaitu bekerja tidak jujur
dan tidak berempati terhadap kesehatan pasien. Serta sila 3 yaitu tidak
menghargai sesama profesi dalam hal ini dokter.
BAB III
Melakukan pembedahan
merupakan wewenang seorang dokter. Apapun alasannya, tidak dibenarkan bagi
seorang perawat untuk melakukan pembedahan kepada pasien. Apalagi jika
melakukan pembedahan pada pasien gawat darurat, tentu itu akan sangat merugikan
bahkan membahayakan nyawa pasien. Hal ini jelas melanggar pancasila sila ke 1
yaitu bekerja dengan melanggar sumpah jabatan. Sila ke 2 yaitu bekerja tidak
jujur dan tidak berempati terhadap kesehatan pasien. Serta sila 3 yaitu tidak
menghargai sesama profesi dalam hal ini dokter.
Diharapkan agar pembaca bisa memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penulis demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi
penulis pada khususnya dan juga pembaca pada umumnya.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete