
MAKALAH
PERUBAHAN SISTEM REPRODUKSI PADA
MASA NIFAS
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami
penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini
kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen
tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam prosespembentukan berubah menjadi
karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan
selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah ....................................................................................................... 1
C.
Tujuan Penulisan.......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum.......................................... 4
B.
Perubahan pada Serviks.......................................................................................... 4
C.
Uterus................................................................................................................................... 5
D.
Perubahan pada Endometium.............................................................................. 10
E.
Perubahan pada Ligamen....................................................................................... 10
F.
Perubahan pada payudara..................................................................................... 11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan ...................................................................................................................... 13
B.
Saran .................................................................................................................................... 14
Daftar Pustaka..................................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Periode pascapartum ialah
masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ – organ reproduksi kembali ke keadaan
normal sebelum hamil. Periode ini kadang – kadang disebut puerpurium atau trimester
keempat kehamilan. Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas, walaupun dianggap
normal, perawat harus memanfaatkan pengetahuannya tentang anatomi dan fisiologi
ibu pada periode pemulihan, karakteristik fisik dan perilaku bayi baru lahir, dan
respons keluarga terhadap kelahiran seorang anak. Bab ini membahas perubahan anatomi
dan fisiologis wanita setelah melahirkan.
Selama proses persalinan vulva dan vagina
mengalami penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua
organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke
tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah
menjadi karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina
akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama.
Perubahan pada perineum pasca melahirkan
terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi
secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu. Meskipun
demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat
mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada
akhir puerperium dengan latihan harian.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana perubahan masa nifas pada vulva, vagina dan perineum?
2.
Bagaimana perubahan masa nifas pada serviks?
3.
Bagaimana perubahan masa nifas pada uterus?
4.
Bagaimana perubahan masa nifas pada endometium?
5.
Bagaimana perubahan masa nifas pada ligamen?
6.
Bagaimana perubahan masa nifas pada payudara?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui perubahan masa nifas pada vulva, vagina dan perineum
2.
Untuk mengetahui perubahan masa nifas pada serviks
3.
Untuk mengetahui perubahan masa nifas pada uterus
4.
Untuk mengetahui perubahan masa nifas pada endometium
5.
Untuk mengetahui perubahan masa nifas pada ligamen
6.
Untuk mengetahui perubahan masa nifas pada payudara
BAB II
PEMBAHASAN
Pada ibu
nifas (puerineum) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan lamaya 6 minggu. Terjadi banyak perubahan fisiologis ibu
dimulai saat hamil dan memasuki masa nifas. Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna
kembali seperti semula seperti sebelum hamil disebut involusi.
Bidan dapat membantu ibu untuk mengatasi dan memahami perubahan-perubahan seperti:
1.
Perubahan vulva, vagina dan perineum.
2.
Perubahan
pada serviks
3.
Involusi
uteri
4.
Involusi
tempat plasenta
5.
Perubahan
endometrium
6.
Ligamen
7.
Payudara
8.
Lokia
A. Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum
Selama
proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan,
setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor.
Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil
dan dalam prosespembentukan berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas
bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan
keadaan saat sebelum persalinan pertama.
Perubahan
pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan.
Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi
dengan indikasi tertentu. Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat
mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat
tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian.
B.
Perubahan pada Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk
seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan
2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk.
Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat sembuh. Namun demikian, selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-robekan
pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya.
C.
Uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada
uterus yang berkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan
antara umbilikus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian,
kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga dalam dua minggu telah turun
masuk kedalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar. Involusi uterus
melibatkan pengreorganisasian dan pengguguran desidua serta penglupasan situs
plasenta, sebagaimana di perlihatkan dalam pengurangan dalam ukuran dan berat
serta warna dan banyaknya lokia. Banyaknya lokia dan kecepatan involusi tidak
akan terpengaruh oleh pemberian sejumlah preparat metergin dan lainya dalam
proses persalinan. Involusi tersebut dapat dipercepat proses bila ibu menyusui
bayinya.
Desidua tertinggal di dalam uterus. Uterus
pemisahan dan pengeluaran plasenta dan membran terdiri atas lapisan zona
spongiosa, basalis desidua dan desidua parietalis. Desidua yang tertinggal ini
akan berubah menjadi dua lapis sebagai akibat invasi leukosit. Suatu lapisan
yang lambat laun akan manual neorco, suatu lapisan superfisial yang akan
dibuang sebagai bagian dari lokia yang akan di keluarkan melalui lapisan dalam
yang sehat dan fungsional yang berada di sebelah miometrium. Lapisan yang
terakhir ini terdiri atas sisa-sisa kelenjar endometrium basilar di dalam
lapisan zona basalis. Pembentukan kembali sepenuhnya endometrium pada situs
plasenta skan memakan waktu kira-kira 6 minggu.
Penyebarluasan epitelium akan memanjang ke
dalam, dari sisi situs menuju lapisan uterus di sekelilingnya, kemudian ke
bawah situs plasenta, selanjutnya menuju sisa kelenjar endometriummasilar di
dalam desidua basalis. Penumbuhan endometrium ini pada hakikatnya akan merusak
pembuluh darah trombosa pada situs tersebut yang menyebabkannya mengendap dan
di buang bersama dangan caira lokianya.
Dalam keadaan normal, uterus mencapai
ukuran besar pada masa sebelum hamil sampai dengan kurang dari 4 minggu, berat
uterus setelah kelahiran kurang lebih 1 kg sebagai akibat involusi. Satu minggu
setelah melahiran beratnya menjadi kurang lebih 500 gram, pada akhir minggu
kedua setelah persalinan menjadi kurang lebih 300 gram, setelah itu menjadi 100
gram atau kurang. Otot-otot uterus segera berkontraksi setelah postpartum.
Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot uterus akan
terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta di lahirkan.
Setiap kali bila di timbulkan, fundus uteri berada di atas umbilikus, maka
hal-hal yang perlu di pertimbangkan adalah pengisian uterus oleh darah atau
pembekuan darah saat awal jam postpartum atau pergeseran letak uterus karena
kandung kemih yang penuh setiap saat setelah kelahiran.
Pengurangan dalam ukuran uterus tidak akan
mengurangi jumlah otot sel. Sebaliknya, masing-masing sel akan berkurang
ukurannya secara drastis saat sel-sel tersebut membebaskan dirinya dari
bahan-bahan seluler yang berlebihan. Bagaimana proses ini dapat terjadi belum
di ketahui sampai sekarang.
Pembuluh darah uterus yang besar pada saat
kehamilan sudah tidak di perlukan lagi. Hal ini karena uterus yang tidak pada
keadaan hamil tidak mempunyai permukaan yang luas dan besar yang memerlukan
banyak pasokan darah. Pembuluh darah ini akan menua kemudian akan menjadi
lenyap dengan penyerapan kembali endapan-endapan hialin. Mereka dianggap telah
di gantikan dangan pembuluh-pembuluh darah baru yang lebih kecil.
1.
Involusi Uterus
Involusi atau pengerutan uterus merupakan
suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat
sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat
kontraksi otot-otot polos uterus (Ambarwati, 2010).
Proses involusi uterus adalah
sebagai berikut:
a.
Iskemia
Miometrium: Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus
dari uterus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi
relatif anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
b.
Atrofijaringan
: Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon esterogen saat
pelepasan plasenta.
c.
Autolysis
: Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus.
Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga
panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum
hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon
estrogen dan progesteron.
d.
Efek Oksitosin
: Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga
akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke
uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi
plasenta serta mengurangi perdarahan. Ukuran uterus pada masa nifas akan
mengecil seperti sebelum hamil.
Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahan-perubahan normal pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:
Involusi Uteri
|
Tinggi Fundus Uteri
|
Berat Uterus
|
Diameter Uterus
|
Plasenta lahir
|
Setinggi pusat
|
1000 gram
|
12,5 cm
|
7 hari (minggu 1)
|
Pertengahan pusat dan simpisis
|
500 gram
|
7,5 cm
|
14 hari (minggu 2)
|
Tidak teraba
|
350 gram
|
5 cm
|
6 minggu
|
Normal
|
60 gram
|
2,5 cm
|
2.
Lochea
Akibat involusi uteri, lapisan luar
desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Desidua yang
mati akan keluar bersama dengan sisa cairan.
Percampuran antara darah dan desidua
inilah yang dinamakan lokia. Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa
nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang lebih
cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal.
Lokia mempunyai bau yang amis (anyir)
meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita.
Lokia mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat dibagi
menjadi lokia rubra, sanguilenta, serosa dan alba.
Perbedaan masing-masing lokia dapat
dilihat sebagai berikut:
|
Waktu
|
Warna
|
Ciri-ciri
|
Rubra
|
1-3 hari
|
Merah kehitaman
|
Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah
|
Sanguilenta
|
3-7 hari
|
Putih bercampur merah
|
Sisa darah bercampur lendir
|
Serosa
|
7-14 hari
|
Kekuningan/ kecoklatan
|
Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri
dari leukosit dan robekan laserasi plasenta
|
Alba
|
>14 hari
|
Putih
|
Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
|
3.
Involusi Tempat
Plasenta
Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada akhir minggu ke-2
hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Luka bekas
plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena diikutipertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis.
Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasi plasenta hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan
lokia.
D.
Perubahan
pada Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah timbulnya
thrombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama
tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua
dan selaput janin. Setelah 3 hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan
parut pada bekas implantasi plasenta.
E.
Perubahan
pada Ligamen
Ligamen-ligamen
dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang selama kehamilan dan partus, setelah
jalan lahir, berangsur-angsur ciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum
rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan uterus jatuh ke belakang. Tidak jarang
pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan karena ligamenta, fasia,
jaringan alat penunjang genetalia menjadi menjadi agak kendor. Untuk memulihkan
kembali jaringan-jaringan penunjang alat genitalia tersebut, juga otot-otot dinding
perut dan dasar panggul dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu.Pada
2 hari post partum sudah dapat diberikan fisioterapi. Keuntungan lain ialah dicegahnya
pula stasis darah yang dapat mengakibatkan trombosis masa nifas.
F.
Perubahan
pada payudara
Payudara menjadi besar ukurannya bisa mencapai
800 gr, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses
menyusui. Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar)
dapat mencegah perdarahan dan merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke
3 akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang
kaya akan anti body, dan protein, sebagian ibu membuangnya karena dianggap kotor,
sebaliknya justru ASI ini sangat bagus untuk bayi.
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses
laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanise fisiologis
yaitu :
1.
Produksi
susu
2.
Sekresi
susu atau let down
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara
tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir.
Setelah melahirkan, ketika hormone yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk
menghambatnya kelenjar pituitary akan mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik).
Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bias dirasakan.
Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat,
bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi.
Ketika bayi menghisap putting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitary
untuk menyekresikan hormone oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down sehingga
menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat
pada putting.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Perubahan vulva, vagina dan perineum.
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan, setelah beberapa
hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor.
2.
Perubahan
pada serviks
Segera setelah
melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk
seperti corong.warna kehitam-hitaman.
3.
Involusi
uteri
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil. Involusi tempat plasenta. Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri. Perubahan endometrium
Perubahan pada endometrium
adalah timbulnya thrombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta
4.
Ligamen
Ligamen-ligamen
dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang selama kehamilan dan partus, setelah
jalan lahir, berangsur-angsur ciut kembali seperti sediakala.
5.
Payudara
Payudara
menjadi besar ukurannya bisa mencapai 800 gr, keras dan menghitam di sekitar puting
susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui.
6.
Lokia
Lokia adalah
ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat
organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal.
B.
Saran
Ibu hamil hendaknya mengetahui tentang perubahan
fisiologis reproduksi agar tidak mengalami kecemasan ketika nifas, tujuannya juga
agar ibu bisa menilai ketidaknormalan walaupun hanya secara sederhana. Harusnya
perubahan reproduksi ini juga diketahui agar ibu bisa memberitahukan adanya ketidaknormalan
pada masa nifas.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, 2008. Asuhan
Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 73-80)
Bambang, W. 2009. Masa
Nifas. obfkumj.blogspot.com/ diunduh 9 Feb 2010, 04:07 PM.
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul
‘Ulum Surakarta.
Saleha, 2009. Asuhan
Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 53-57).
Suherni, 2007. Perawatan
Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 77-79).
Zietraelmart. 2008. Perubahan Fisiologi Masa Nifas.
Comments
Post a Comment