
MAKALAH
PENYAKIT DAN KELAINAN
ALAT KANDUNGAN
Proses kehamilan dan persalinan merupakan proses yang sangat rumit dan
panjang, juga melibatkan banyak organ. hal ini dapat menimbukan banyak
kesulitan yang akan dihadapi jika salah satu komponen yang terlibat mengalami
gangguan atau kelainan. Gangguan atau kelainan tersebut bisa berasal dari
anatomi maupun fungsional dari suatu organ, bisa juga disebabkan infeksi,
keganasan, dan kongenital.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perineum............................................................................................... 3
B. Vulva dan Vagina................................................................................. 4
C. Uterus................................................................................................... 7
D. Ovarium................................................................................................ 12
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 15
B. Saran .................................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses kehamilan dan persalinan
merupakan proses yang sangat rumit dan panjang, juga melibatkan banyak organ.
hal ini dapat menimbukan banyak kesulitan yang akan dihadapi jika salah satu
komponen yang terlibat mengalami gangguan atau kelainan. Gangguan atau kelainan
tersebut bisa berasal dari anatomi maupun fungsional dari suatu organ, bisa
juga disebabkan infeksi, keganasan, dan kongenital. Bahkan gangguan pada
kehamilan dan persalinan dapat terjadi
dikarenakan gangguan organ yang sekilas tidak memiliki hubungan langsung dengan reproduksi, misalnya penyakit jantung dan
sebagainya.
Berdasarkan American College of
Obstetricians and Gynecologists, Pada tahun 2007 angka pelahiran caesar
sebanyak 31,8 % dan merupakan angka tertinggi yang pernah dilaporkan untuk
Amerika Serikat. Sekitar 60% diantaranya, kelahiran caesar primer diakibatkan
oleh diagnosis kelainan pada alat kandungan. Frekuensi yang tinggi ini sebagai
akibat dari perubahan lingkungan yang berkembang jauh lebih cepat daripada
seleksi alam menurut Darwin. Manusia beradaptasi dengan buruk terhadap
banyaknya makanan modern, dan salah satu akibatnya adalah berbagai macam
kelainan pada alat kandungan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa saja kelainan alat kandungan pada perineum?
2. Apa saja kelainan alat kandungan pada vulva dan vagina?
3. Apa saja kelainan alat kandungan pada uterus?
4. Apa saja kelainan alat kandungan pada ovarium?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk mengetahui kelainan alat kandungan pada perineum
2. Untuk mengetahui kelainan alat kandungan vulva dan
vagina
3. Untuk mengetahui kelainan alat kandungan uterus
4. Untuk mengetahui kelainan alat kandungan ovarium
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perineum
Walaupun bukan alat kelamin namun
selalu terlibat dalam proses persalinan. Apabila perineum cukup lunak dan
elastis maka mudah untuk lahir kepala. Biasanya perineum robek dan cukup sering
terjadi ruptur perinei tingkat dua, kadang-kadang tingkat tiga.
Perineum kaku menghambat
persalian kala II yang meningkatkan risiko kematian janin, menyebabkan
kerusakan jalan lahir yang luas dapat diatasi dengan episiotomi. Lebar perineum
4 cm dari komisura post ke anus akan tetapi kadang ada yang sempit dan adapula
yang lebar.
B. Vulva
dan Vagina
1.
Kelainan
bawaan
Atresia vulva dalam bentuk atresia himenalis yang
menyebabkan hematokolpos, hematometra dan atresia vagina dapat menghalangi
konsepsi. Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan
persalinan adalah septum vagina terutama vertika longitudinal.
Septum yang lengkap sangat jarang menyebabkan distosia
karena separoh vagina yang harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar
sewaktu kepala lahir. Akan tetapi septum yang tidak lengkap kadang kadang
menghambat turunnya kepala.
Striktur vagina yang kongenital
biasanya tidak menghalngi turunnya kepala, akan tetapi yang disebabkan oleh
parut akibat perlukaan dapat menyebabkan distosia.
2. Varises
Wanita hamil sering mengeluh melebarnya pembuluh darah
di tungkai, vagina, vulva dan wasir serta menghilang setelah anak lahir. Hal
ini karena reaksi sistem vena terutama dinding pembuluh darah seperti otot-otot
ditempat lain melemah akibat pengaruh hormon steroid.
Bahaya varises dalam kehamilan
dan persalinan adalah bila pecah dapat berakibat fatal dan dapat pula terjadi emboli udara. Varises yang pecah harus
dijahit baik dalam kehamilan maupun setelah lahir.
3. Edema
Edema
vulva sebagai bendungan lokal atau bagian dari edema umum pada malnutrisi atau
preeklamsia. Pengobatan harus pada penyakit primernya. Edema dapat juga terjadi
pada persalinan dengan dispoporsi sefalopelvik atau wanita mengejan terlampau
lama.
4. Hematoma
Pembuluh
darah pecah sehingga hematoma di jaringan ikat yang renggang di vulva, sekitar
vagina atau ligamentum latum. Hematoma vulva dapat juga terjadi karena trauma
misalanya jatuh terduduk pada tempat yang keras atau koitus yang kasar. Bila hematom
kecil resorbsi sendiri, bila besar harus insisi dan bekuan darah dikeluarkan.
5. Peradangan
Peradangan vulva sering bersamaan dengan peradangan
vagina dan dapat terjadi akibat infeksi spesifik.seperti sifilis, gonorea,
trikomoniasis, kandidasis dan amebbiasis dan infeksi tidak spesifik seperti
eksema, diabetes melitus,bartolinitis, abses, dan kista bartolini.
Sifilis disebabkan oleh Troponema
pallidum. Luka primer di vulva sering tidak disadari penderita dalam stadium 2
dijumpai kondilomata lata yaitu tonjolan kulit lebar-lebar dengan permukaan
licin basah warna putih atau kelabu dan sangat infeksius wanita hamil fluor
albus harus diperiksa kemungkinan lues disamping pemeriksaan gonorea,
trikomoniasis dan kandiddiasis.
Gonorea dapat menyebabkan
vulvovaginitis dalam kehamilan dengan keluhan fluor albus dan disuria. Bayi
yang lahir dari ibu penderita gonorea dapat mengalami blenorea neonatorum.
Trikomoniasis vaginalis
disebabkan oleh parasit golongan protozoa menimbulkan gejala fluor albus dan gatal. Pasangan pria dapat ditulari
melalui persetubuhan dan sebaliknya ia dapat menulari pasangan wanita.
Penularan dapat juga terjadi melalui handuk.
Metronidazole sejak lama
merupakan obat yang ampuh baik vaginal maupun peroral. Karena trikhomonas
vaginalis termasuk golongan protozoa seperti amoeba dan malaria maka dapat juga
diobati dengan derivat kinin.
Kandidiasis disebabkan oleh jamur kandida albicans dengan keluhan
utama gatal di vulva dan introitus vagina dengan atau tanpa disertai fluor
albus. Diabetes dalam kehamilan merupakan faktor predisposisi terjadinya
kandidiasis. Sejak dulu diobati dengan larutan gentian violet 1-2% sebaiknya
setiap hari sekurang-kurangnya 2 kali seminggu. Sekarang dipakai fungisid
myconazole dalam bentuk salap.
Amoebiasis infeksi vagina dengan entamoeba histolytica dengan
keluhan keputihan, nyeri waktu coitus, pada pemeriksaan didapat ulkus-ulkus
warna merah dan mudah bedarah. Terapi dengan suntikan emetin 30-45 mg/hr selama
5-6 hari bersama dengan terapi lokal obat anti amoeba
Eksema mengganggu penderia karena
gatal kadang-kadang vulva jadi basah. Alergi kulit
menjadi lebih nyata dalam kehamilan dapat diobati anti histamin atau
kortikosteroid.
Diabetes melitus dapat
menyebabkan pruritus dalam kehamialn. Pruritus ini harus diobati penyakit primernya. Peradangan mendadak kista
bartolini biasanya oleh gonokokus. Ada kalanya bartholinitis menjadi abses
karena saluran kelenjar tertutup dan berlangsung proses pernanahan di dalam
kelenjar dan harus disembuhkan sebelum persalinan. Kista kecil dan tidak
menggangu dibiarkan saja dalam kehamilan dan baru diangkat kira-kira 3 bulan
setelah persalinan.
6. Kondilomata akuminata
Merupakan pertumbuhan pada kulit atau selaput lendir
yang menyerupai jegger ayam jago. Berlainan dengan kondiloma latum permukaan
kasar papiler, tonjolan lebih tinggi,
warnanya lebih gelap. Sebaiknya diobati sebelum bersalin. Banyak penulis
menganjurkan eksisi dengan elektrocauter atau dengan tingtura podofillin.
Kemungkinan residif selalu ada lebih lebih penyebab rangsangan tidak diberantas
lebih dahulu atau penyakit primernya kambuh.
7. Fistula
Fistula vesikovaginal atau
fistula rectovaginal biasanya terjadi waktu bersalin baik sebagai tindakan
operatif maupun akibat nekrosis tekanan. Tekanan lama antara kepala dan tulang
panggul gangguan sirkulasi sehingga terjadi kematian jaringan lokal dalam 5-10
hr lepas dan terjadi lubang.
Akibatnya terjadi inkotinensia
urin dan ikontinensia alvi. Fistula kecil yang tidak disertai infeksi dapat sembuh dangan sendirinya. Fistula yang
sudah tertutup merupakan kontraindikasi pervaginam.
8. Kista vagina
Kista vagina berasal
dari duktus Gartner atau duktus Muller. Letak lateral dalam vagina bagian
proksimal, ditengah, distal dibawah orifisium uretra eksternum. Bila kecil dan
tidak ada keluhan dibiarkan tapi bila besar dilakukan pembedahan.
Marsupialisasi sebaiknya 3 bulan setelah lahir.
9.
Pintu
vagina yang lemah
Dalam kehamilan, dinding depan
atau dinding belakang vagina dapat menonjol keluar dari vulva dan dapat
menyebabkan sakit pinggan dan perasaan turun. Dalam kehamilan keadaan ini tidak
dapat diobati, tetapi tirah baring dapat mengurangi keluhan –
keluhan.
10. Tumor vagina
Kadang – kadang ada tumor didalam
vagina, biasanya berupa kista (berasal dari saluran Gartner atau Muller). Kista ini sedapat
– dapatnya harus diekstirpasi tetapi kalau tidak mungkin dan terutama kalau
mengganggu kemajuan persalinan maka dapat di punksi.
11. Karsinoma Cerviks
Karsinoma cerviks
menimbulkan fluor berbau busuk biasanya bercampur dengan darah, perdarahan
kontak ialah perdarahan pada persetubuhan atau buang air besar dan sering juga
menimbulkan perasaan gatal pada kemaluan luar.
Pada toucher teraba
tukak atau tumor pada cerviks yang rapuh dan mudah berdarah. Pada pemeriksaan
in speculo tukak atau tumor pada cerviks dapat dilihat dan perlu dibuat eksisi
percobaan untuk diagnosa pasti. Diagnosa dini dibuat dengan pemeriksaan Papa
nicolaou.
Pengobatan :
Jika kehamilan masih
muda, maka diberi penyinaran. Biasanya karena penyinaran ini terjadi abortus,
tetapi kalau dalam 4 minggu belum juga terjadi abortus maka anak harus
dikeluarkan dengan hysteretomi abdominal karena anak akan cacat oleh pengaruh
sinar Rontgen.
Jika kehamilan sudah
besar, agar anak dapat hidup di dunia luar maka anak akan dilahirkan dengan SC.
Persalinan per vaginam tidak dibenarkan, mengingat kesukaran dilatasi cerviks
dan kemungkinan perdarahan. Penyinaran dimulai 1 – 2 minggu setelah SC.
C. Uterus
1.
Kelainan bawaan uterus
Secara embriologis uterus,
vagina, servik dibentuk dari kedua duktus muller yang dalam pertumbuhan mudigah
mengalami proses penyatuan. Kelaina bawaan dapat terjadi akibat gangguan dalam
penyatuan, dalam berkembangnya kedua saluaran muller dan dalam kanalisasi.
Uterus didelfis atau uterus
duplek terjadi apabila kedua saluaran muller berkembang sendiri-sendiri tanpa
penyatuan sedikitpun sehingga terdapat 2 saluran telur, 2 servik dan 2 vagina.
Uterus subseptus terdiri atas 1
korpus uteri dengan septum yang tidak lengkap, 1 servik, 1 vagina cavum uteri
kanan dan kiri terpisah secara tidak lengkap. Uterus arkuatus hanya mempunyai
cekungan di fundus uteri, kelainan ini paling ringan dan sering dijumpai.
Uterus bikornis unilateral rudimentarius terdiri atas 1 uterus dan disampingnya
terdapat tanduk lain. Uterus unikornis terdiri atas 1 uterus, 1 servik yang
berkembang dari satu saluran kanan dan kiri. Kelainan ini dapat menyebabkan
abortus, kehamilan ektopik dan kelainan letak janin.
2.
Kelainan
pertumbuhan uterus
Alat kandungan terbentuk dari saluran Muller
kanan dan kiri yang pada ujungnya bersatu akan membentuk vagina bagian atas dan
uterus, sedangkan bagian yang tetap terpisah akan menjadi tuba.
Gangguan pertumbuhan saluran Muller dapat menimbulkan aplasi atau hipoplasi
alat kandungan, sedangkan gangguan persatuan saluran Muller menimbulkan
berbagai kelainan dari alat kandungan.
a.
Uterus duplex
Jika terjadi kehamilan pada salah
satu bagian uterus, maka bagian yang lain akan ikut membesar. Karena lapisan
otot kurang tebal maka dapat terjadi kelemahan His dan ruptur uteri. Bagian
uterus yang ikut membesar itu dapat menghalangi jalan lahir.
b.
Uterus bicornis
Sering ditemukan letak sungsang yang
tak dapat diversi. Mungkin terjadi abortus dan partus praematurus. Pada uterus
bicornis, pembukaan dapat terganggu oleh bagian uterus yang membesar; kornu
yang kosong ikut membesar dan dapat merupakan tumor yang menghalangi jalan
lahir. Mungkin terjadi inertia uteri dan ruptur uteri.
c.
Uterus subseptus
Dapat menyebabkan letak lintang yang
tak dapat diversi. Kalau placenta melekat pada septum maka disebut placenta
accreta. Uterus subseptus dapat juga menjadi sebab abortus (habitualis).
d.
Uterus arcuatus
Uterus arcuatus dapat menyebabkan
letak lintang.
e.
Uterus bicornis dengan kornu yang rudimenter
Dapat terjadi kehamilan dalam kornu
yang rudimenter yang sifat – sifatnya kehamilan ektopic. Kehamilan ini terjadi
dengan migratio eksterna. Biasanya terjadi ruptur dari kornu setetlah bulan
ketiga. Pada operasi, kornu yang rudimenter ini sebaiknya diekstirpasi.
3.
Kelainan letak uterus
a.
Anteversio uteri
Kelainan letak pada uterus ke depan dijumpai pada
perut gantung. Perut gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding
perut, terutama multipara gemuk, hal ini menghalangi masuknya kepala ke dalam
panggul, pembukaan tidak lancar. Dalam persalinan tidur telentang, setiap ada his
fundus dorong ke atas.
b.
Retrofleksio uteri
Retroflexi uteri sering dijumpai
pada wanita Indonesia dan tidak usah kita anggap sebagai hal yang patologis.
Kalau terjadi kehamilan maka beberapa kemungkinan yang terjadi adalah :
-
Biasanya retroflexi terkoreksi secara spontan
-
Terjadi abortus
-
Terjadi inkarserasi dari rahim yang terus
membesar didalam rongga panggul kecil : retroflexio uteri gravidi inkarserata.
Biasanya bila terjadi
kehamilan, uterus dalam retroflexio secara berangsur – angsur akan menjadi
lurus. Pelurusan ini dapat terhalang karena adanya perlekatan-perlekatan antara
alat kandungan dengan alat-alat sekitarnya, dan juga kalau promontorium sangat
menonjol.
Kadang - kadang
retroflexi uteri menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk. Uterus
gravidus yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul disebut
retrofleksio uteri gravidi inkarserata. Nasib kehamilan pada retrofleksio uteri
dapat koreksi spontan, abortus, koreksi tidak lengkap, inkarserasi.
Apakah retroflexi
dapat menyebabkan abortus masih disangsikan, tetapi pada retroflexi uteri
gravidi inkarserata kemungkinan abortus lebih besar. Jika kehamilan terus
berlangsung tanpa perbaikan letak rahim, maka akhirnya rahim yang membesar ini
akan mengisi seluruh rongga panggul dan terjepit. Inkarserasi baru terjadi
antara minggu ke 13 – 17.
Gejala-gejalanya
adalah :
-
Retensi urine sampai inkontinensia paradoksal.
Keadaan ini dapat menimbulkan cystitis, pyelitis, pyelonefritis, dan uremia.
Bahkan dapat terjadi ruptur dari kandung kemih yang mengakibatkan peritonitis
yang membawa maut.
-
Tekanan pada alat-alat sekitarnya dapat
menimbulkan perasaan nyeri, tenesmi, dan obstipasi.
-
Dapat terjadi abortus karena kurang ruang. Jika
seorang wanita pada kehamilan muda mengeluh tidak dapat kencing harus selalu
diingatkan kemungkinan retroflexi uteri gravidi.
Pengobatan
Sebelum minggu ke-12
retroflexi uteri gravidi tidak perlu dihiraukan, karena uterus biasanya
memperbaiki letaknya sendiri. Pasien boleh dianjurkan posisi berlutut pada
malam hari dan pagi hari selama 10 menit. Dengan letak demikian diharapkan
uterus dapat jatuh kedepan. Jika pada minggu ke-12 uterus masih dalam posisi
retroflexi uteri gravidi maka reposisi tangan diusahakan. Jika ternyata setelah
beberapa hari uterus tetap jatuh ke belakang, maka setelah reposisi dipasang
pessarium Hodge. Pessarium diangkat lagi setelah kehamilan mencapai 18 minggu.
Jika sudah terjadi inkarserasi pasien harus diopname.
Agar tidak terjadi
perdarahan ex vacuo perlu dipasang dauer catheter dan kandung kemih dikosongkan
berangsur-angsur. Kemudian diusahakan reposisi dari luar, namun bila tidak
berhasil maka reposisi operatif perlu dilakukan.
c.
Prolap uteri
Prolapsus uteri adalah Keadaan
dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan
ligamen-ligamen, fasia endopelvik danotot dasar panggul yang menyokong uterus.
Turunya uterus dari tempat biasa
disebut desensus uteri atau prolap uteri.Terbagi
dalam 3 tingkat:
1)
Tingkat 1 bila servik belum keluar dari vulva
2)
Tingkat 2 bila servik sudah keluar vulva tapi corpus
belum
3) Tingkat 3
bila korpus uteri sudah berada di luar vulva
Kehamilan dapat terjadi pada prolap tingkat 1 dan 2
Jika uterus dengan
prolapsus parsialis menjadi hamil, maka biasanya uterus yang membesar itu
keluar dari rongga kecil dan terus tumbuh di dalam rongga perut. Jika uterus
naik, maka cervix akan ikut tertarik ke atas hingga prolapsus tidak nampak lagi
atau berkurang. Jika uterus tidak keluar dari rongga panggul, maka akan terjadi
inkaserasi yang menimbulkan abortus.
Jika ada prolapsus
dalam kehamilan, maka sebaiknya uterus ditahan dengan pessarium sampai bulan
ke-4. Namun, bila dasar panggul terlalu lemah hingga pessarium terus jatuh maka
pasien dianjurkan tirah baring sampai bulan ke-4.
d.
Elongatio Colli (Cervix Yang Panjang)
Cervix yang panjang menyulitkan
kehamilan, namun biasanya tidak mengganggu persalinan.
e.
Myoma Uteri
Adalah tumor jinak dari otot-otot
rahim. Pengaruh myoma adalah sebagai berikut :
-
Mengurangi kemungkinan kehamilan karena
endometrium kurang baik.
-
Kemungkinan abortus lebih besar.
-
Dalam kehamilan, myoma kadang sangat membesar
hingga menekan alat-alat sekitarnya.
-
Dapat menimbulkan kelainan letak.
-
Dapat menyebabkan plasenta praefia, dan plasenta
accreta.
-
Dapat menimbulkan inertia uteri.
-
Jika letaknya dekat cervix dapat mengganggu
jalan lahir.
Pengaruh kehamilan
pada myoma. Pada kehamilan biasanya myoma membesar, pada masa post-partum dapat
terjadi degenerasi merah, infeksi, dan nekrosis myoma.
Pengobatannya
Sebisa mungkin
dilakukan tindakan konservatif, karena tindakan enukleasi myoma pada kehamilan
sangat berbahaya yang dapat menimbulkan perdarahan hebat dan abortus. Jika akan
dilakukan tindakan enukleasi sebaiknya ditunda setelah masa nifas. Operasi
terpaksa dilakukan jika ada penyulit-penyulit yang menimbulkan gejala-gejala
akut atau kerana myoma sangat membesar. Jika myoma mengahalangi jalan lahir
dilakukan SC, dan bila perlu disusul dengan histerektomi.
D. Ovarium
1.
Cystoma Ovarii
Pengaruhnya
pada kehamilan dan persalinan adalah:
1) Abortus
2) Dapat
terjadi torsi tumor
3) Dapat
minumbulkan kelainan letak
4)
Dapat menghalangi jalan lahir
Lebih mudah didiagnosa
pada kehamilan muda, sedangkan jika uterus sudah sangat besar diagnosa sulit dilakukan,
bahkan kadang baru diketahui adanya kista setelah persalinan.
Mengingat
penyulit-penyulit yang mungkin timbul dan kemungkinan keguguran, maka sebaiknya
kistoma ovarii dioperasi walaupun penderita hamil. Karena adanya kemungkinan
korpus luteum graviditas ikut terangkat, hingga terjadi abortus, maka sebaiknya
operasi ditunda sampai bulan ke-4, karena pada bulan ke-4 faal korpus luteum
telah diambil alih oleh plasenta. Dan untuk memperkecil kemungkinan abortus
sebelum dan sesudah operasi ibu diberi progesteron (25 mg IM / hari).
Jika tumor ini baru
ditemukan pada hamil tua, operasi ditunda sampai sesudah persalinan, karena
luka operasi yang baru sembuh dapat mengganggu kekuatan mengejan.
Jika tumor menghalangi
jalan lahir dilakukan SC, dan sekaligus dilakukan pengangkatan tumor. Dalam
keadaan darurat misalnya karena tidak mungkin melakukan operasi, maka kista
yang menghalangi jalan lahir dapat dipunksi untuk menghindari ruptur uteri.
2.
Tuba
Telah diketahui
bersama bahwa patensi tuba mutlak untuk pembuahan. Kelainan pada tuba seperti
peradangan atau tumor hampir tidak memungkinkan hamil. Apabila terjadi
kehamilan juga akan menghasilkan kehamilan luar uterus, yang biasanya terganggu
pada kehamilan muda.
3.
Tumor Ovarium
Tumor ovarium baik
kecil maupun besar, kistik atau padat, jinak atau ganas mempunyai arti
obstetrik yang lebih penting daripada tumor tumor lain. Dalam kehamilan tumor
ovarium jarang dijumpai, yang paling sering kista dermoid.
Komplikasi yang paling
sering dan berbahaya adalah torsi yang menyebabkan nekrosis jaringan dan
infeksi dengan gejala gejala sakit perut mendadak. Kista dapat pecah karena
trauma dan pengakhiran persalinan. Pada masa nifas juga berbahaya karena
pengecilan rahim memperbesar kemungkinan torsi.
Diagnosis
Sering tumor kecil diketahui
apabila diperiksa secara bimanual dalam kehamilan muda. Tumor yang mengisi
rongga panggul mudah dikenal dalam persalinan apabila dilakukan pemeriksaan
dalam.
Penanganan
Dalam kehamilan tumor
ovarium yang lebih besar telor angsa harus dikeluarkan karena:
1) Kemungkinan
keganasan
2) Kemungkinan
torsi
3)
Kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik
yang gawat
Triwulan pertama,
pengangkatan tumor sebaiknya ditunda sampai 16 minggu. Operasi paling baik
antara 16-20 mg. Operasi pada kehamilan muda dapat disusul oleh abortus apabila
korpus luteum graviditatis yang menghasilkan prosgesteron ikut terangkat. Pada
kehamilan lebih 16 minggu plasenta sudah terbentuk sehingga fungsi corpus
luteum diambil alih plasenta dan produksi progesteron berlangsung terus, pada kehamilan
> 20 mg teknik lebih sulit sehingga rangsangan mekanis pada uterus sulit
dihindarkan sehingga dapat terjadi partus prematurus.
Bila tumor diketahui
pada kehamilan tua dan tidak menyebabkan penyulit obstetrik atau gejala gejala
akut, atau tidak mencurigakan akan mengganas dapat ditunggu partus spontan.
Operasi dapat dilakukan dalam masa nifas. Lain halnya dengan tumor yang
dianggap ganas atau yang disertai gejala-gejala akut. Dalam hal ini operasi
harus segera dilakukan tanpa menghiraukan usia kehamilan.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses kehamilan dan persalinan
merupakan proses yang sangat rumit dan panjang, juga melibatkan banyak organ.
hal ini dapat menimbukan banyak kesulitan yang akan dihadapi jika salah satu
komponen yang terlibat mengalami gangguan atau kelainan.
Salah satu gangguan yang terjadi adalah karena adanya
penyakit dan kelainan pada alat kandungan. Kelainan ini diantaranya adalah Kelainan Perineum yaitu keadaan dimana perineum tidak cukup lunak dan elastis sehingga
terjadi robek dan cukup sering terjadi ruptur perinei tingkat dua, kadang-kadang
tingkat tiga saat proses
melahirkan.
Selanjutnya adalah Kelainan Vulva dan Vagina diantaranya adalah Kelainan bawaan, Varises, Edema, Hematoma,
Peradangan, Kondilomata akuminata, Fistula, Kista vagina, Pintu
vagina yang lemah, Tumor vagina dan
Karsinoma Cerviks.
Lalu ada kelainan Uterus diantaranya adalah Kelainan bawaan uterus seperti Uterus
subseptus, Uterus
arkuatus, Uterus
bikornis unilateral rudimentarius,
dan Uterus unikornis. Kelainan pertumbuhan uterus diantaranya Uterus
duplex, Uterus bicornis, Uterus subseptus, Uterus arcuatus, Uterus bicornis
dengan kornu yang rudimenter. Kelainan letak uterus diantaranya Anteversio uteri, Retrofleksio
uteri, Prolap uteri, Elongatio Colli (Cervix Yang Panjang), Myoma
Uteri.
Kelainan yang terakhir yang
biasanya terjadi adalah Kelainan Ovarium diantaranya Cystoma Ovarii, Tuba, dan Tumor Ovarium.
B. Saran
Diharapkan kepada dosen pembimbing lebih banyak menambah materi
tentang penyakit dan kelainan alat kandungan untuk memperkaya wawasan
mahasiswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Manuaba, 1998.
Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluaraga Berencana Untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta : EGC
Comments
Post a Comment