Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

MAKALAH ATONIA
UTERI
A. Pengertian
Atonia uteri adalah
keadaan lemahnya tonus/kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu
menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan
plasenta lahir. (Sarwono, 2016)
Atonia uteri merupakan penyebab paling banyak Pendarahan, hingga sekitar
70% kasus. Atonia dapat terjadi setelah persalinan vaginal, persalinan operatif
ataupun persalinan abdominal. Penelitian sejauh ini membuktikan bahwa atonia
uteri lebih tinggi pada persalinan abdominal dibandingkan dengan persalinan
vaginal (Edhi, 2013)
B. Etiologi
Atonia Uteri
Kegagalan kontraksi dan
retraksi dari serat
miometrium dapat menyebabkan perdarahan
yang cepat dan
parah serta syok hipovolemik. Kontraksi miometrium yang
lemah dapat diakibatkan oleh kelelahan karena persalinan lama atau
persalinan yang terlalu cepat, terutama
jika dirangsang. Selain itu, obat-obatan seperti obat anti-inflamasi
nonsteroid, magnesium sulfat, beta-simpatomimetik, dan nifedipin
juga dapat menghambat
kontraksi miometrium. Penyebab lain adalah
situs implantasi plasenta
di segmen bawah rahim, korioamnionitis, endomiometritis, septikemia,
hipoksiapada solusio plasenta,
dan hipotermia karena
resusitasi masif(Rueda et al.,
2013)
Atonia uteri merupakan
penyebab paling banyak PPP,
hingga sekitar 70% kasus. Atonia dapat terjadi setelah persalinan
vaginal, persalinan operatif ataupun persalinan abdominal. Penelitian sejauh
ini membuktikan bahwa
atonia uteri lebih
tinggi pada persalinan abdominal dibandingkan dengan
persalinan vaginal (Edhi, 2013).
C. Tanda
gejala atonia uteri
1. perdarahan pervaginam
Perdarahan
yang sangat banyak dan darah tidak merembes. Peristiwa sering terjadi pada
kondisi ini adalah darah keluar disertai gumpalan disebabkan tromboplastin
sudah tidak mampu lagi sebagai anti pembeku darah.
2. konsistensi rahim lunak
Gejala
ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang membedakan atonia dengan
penyebab perdarahan yang lainnya
3. fundus uteri naik
4. terdapat tanda-tanda syok
a.
nadi cepat
dan lemah (110 kali/ menit atau lebih)
b.
tekanan
darah sangat rendah : tekanan sistolik < 90 mmHg
c.
pucat
d.
keringat/
kulit terasa dingin dan lembap
e.
pernafasan
cepat frekuensi30 kali/ menit atau lebih
f.
gelisah,
binggung atau kehilangan kesadaran
g.
urine
yang sedikit ( < 30 cc/ jam)
D. Penanganan
Atonia Uteri
1.
Standar Pertolongan Persalinan
Standar 9: Banyaknya darah yang
hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien bisa masih dalam keadaaan
sadar, sedikit anemis, atau sampai syok berat hipovolemik. Tindakan pertama
yang harus dilakukan tergantung pada keadaaan klinisnya.
No |
Langkah Penatalaksanaan |
Alasan |
1 |
Masase fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta
(maksimal 15 detik) |
Masase merangsang kontraksi uterus. Saat dimasase
dapat dilakukan penilaia kontraksi uterus |
2 |
Bersihkan bekuan darah adan selaput ketuban dari
vagina dan lubang servik |
Bekuan darah dan selaput ketuban dalam vagina dan
saluran serviks akan dapat menghalang kontraksi uterus secara baik. |
3 |
Pastikan bahwa kantung kemih kosong,jika penuh dapat
dipalpasi, lakukan kateterisasi menggunakan teknik aseptic |
Kandung kemih yang penuh akan dapat menghalangi
uterus berkontraksi secara baik |
4 |
Lakukan Bimanual Internal (KBI) selama 5 menit |
Kompresi bimanual internal memberikan tekanan
langsung pada pembuluh darah dinding uterusdan juga merangsang miometrium
untuk berkontraksi. |
5 |
Anjurkan keluarga untuk mulai membantu kompresi
bimanual eksternal |
Keluarga dapat meneruskan kompresi bimanual
eksternal selama penolong melakukan langkah-langkah selanjutnya |
6 |
Keluarkan tangan perlahan-lahan |
Menghindari rasa nyeri |
7 |
Berikan ergometrin 0,2 mg IM (kontraindikasi
hipertensi) atau misopostrol 600-1000 mcg |
Ergometrin dan misopostrol akan bekerja dalam 5-7
menit dan menyebabkan kontraksi uterus |
8 |
Pasang infus menggunakan jarum 16 atau 18 dan
berikan 500cc ringer laktat + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 cc pertama
secepat mungkin |
Jarum besar memungkinkan pemberian larutan IV secara
cepat atau tranfusi darah. RL akan membantu memulihkan volume cairan yang
hilang selama perdarahan.oksitosin IV akan cepat merangsang kontraksi uterus. |
9 |
Ulangi kompresi bimanual internal. |
KBI yang dilakukan bersama dengan ergometrin dan
oksitosin atau misopostrol akan membuat uterus berkontraksi. |
10 |
Rujuk segera |
Rujuk segera Jika uterus tidak berkontaksiselama 1
sampai 2 menit, hal ini bukan atonia sederhana. Ibu membutuhkan perawatan
gawat darurat di fasilitas yang mampu melaksanakan bedah dan tranfusi darah |
11 |
Dampingi ibu ke tempat rujukan. Teruskan melakukan
KBI |
Dampingi ibu ke tempat rujukan. Teruskan melakukan
KBI Kompresi uterus ini memberikan tekanan langung pada pembuluh darah
dinding uterus dan merangsang uterus berkontraksi |
12 |
Lanjutkan infus RL +20 IU oksitosin dalam 500 cc
larutan dengan laju 500 cc/ jam sehingga menghabiskan 1,5 I infus. Kemudian
berikan 125 cc/jam. Jika tidak tersedia cairan yang cukup, berikan 500 cc
yang kedua dengan kecepatan sedang dan berikan minum untuk rehidrasi |
RL dapat membantu memulihkan volume cairan yang
hilang akibat perdarahan. Oksitosin dapat merangsang uterus untuk
berkontraksi. |
Atonia
uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan
merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum.
Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah
melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan
pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium
yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi
plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut
tidak berkontraksi.
2.
Teori KBI
a.
Letakkan kepalan tangan pada fornik anterior
tekan dinding anteror uteri sementara telapak tangan lain pada abdomen, menekan
dengan kuat dinding belakang uterus ke arah kepalan tangan dalam.
b.
Tekan uterus dengan kedua tangan secara kuat.
Kompresi uterus ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah di dalam
dinding uterus dan juga merangsang miometrium untuk berkontraksi.
Evaluasi keberhasilan:
a. Jika uterus berkontraksi dan
perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBl selama dua menit, kemudian
perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina. Pantau kondisi ibu secara
melekat selama kala empat.
b. Jika uterus berkontraksi tapi
perdarahan terus berlangsung, periksa perineum, vagina dari serviks apakah
terjadi laserasi di bagian tersebut. Segera lakukan si penjahitan jika
ditemukan laserasi.
c. Jika kontraksi uterus tidak
terjadi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual
eksternal kemudian teruskan dengan langkah-langkah penatalaksanaan atonia
uteri selanjutnya. Minta tolong keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.
Alasan: Atonia uteri
seringkali bisa diatasi dengan KBl, jika KBl tidak berhasil dalam waktu 5 menit
diperlukan tindakan-tindakan lain.
3.
Teori Tampon
Pemberian
tampon (packing) uterovagina dengan kassa gulung dapat merugikan karena
memerlukan waktu untuk pemasangannya, dapat menyebabkan perdarahan yang
tersembunyi atau bila ada perembesan berarti banyak darah yang sudah terserab
di tampon tersebut sebelumnya dan dapat menyebabkan infeksi. Tetapi dapat pula
menguntungkan bila dengan tampon tersebut perdarahan bisa berhenti sehingga
tidak diperlukan tindakan operatif atau tampon digunakan untuk menurunkan
perdarahan sementara sambil menunggu penanganan operatif. Alternatif dari
pemberian tampon selain dengan kassa, juga dipakai beberapa cara yaitu : dengan
menggunakan Sengstaken-Blakemore tube, Rusch urologic hydrostatic balloon
catheter (Folley catheter) atau SOS Bakri tamponade balloon
catheter.
Pada
tahun 2003 Sayeba Akhter dkk mengajukan alternatif baru dengan pemasangan
kondom yang diikatkan pada kateter. Dari penelitiannya disebutkan angka
keberhasilannya 100% ( 23 berhasil dari 23 PPH ), kondom dilepas 24 – 48 jam kemudian
dan tidak didapatkan komplikasi yang berat. Indikasi pemasangan kondom sebagai
tampon tersebut adalah untuk PPH dengan penyebab Atonia Uteri. Cara ini
kemudian disebut dengan Metode Sayeba. Metode ini digunakan sebagai alternatif
penanganan HPP terutama sambil menunggu perbaikan keadaan umum, atau rujukan.
Cara
pemasangan tampon kondom menurut Metode Sayeba adalah secara aseptik kondom yang
telah diikatkan pada kateter dimasukkan kedalam cavum uteri. Kondom diisi
dengan cairan garam fisiologis sebanyak 250-500 cc sesuai kebutuhan. Dilakukan
observasi perdarahan dan pengisian kondom dihentikan ketika perdarahan sudah
berkurang. Untuk menjaga kondom agar tetap di cavum uteri, dipasang tampon kasa
gulung di vagina. Bila perdarahan berlanjut tampon kassa akan basah dan darah
keluar dari introitus vagina. Kontraktilitas uterus dijaga dengan pemberian
drip oksitosin paling tidak sampai dengan 6 jam kemudian. Diberikan antibiotika
tripel, Amoksisilin, Metronidazol dan Gentamisin. Kondom kateter dilepas 24 –
48 jam kemudian, pada kasus dengan perdarahan berat kondom dapat dipertahankan
lebih lama.
5.
Asuhan persalinan kala satu
Standar 10: Persalinan kala dua yang aman
Standar 11: Penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga
Standar 12: Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi
Comments
Post a Comment