Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

TIROID DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS
2.1 TIROID DALAM KEHAMILAN
A.
Pengertian
Hormon-hormon
tiroid yang terdapat di sirkulasi adalah tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3),
hanya bentuk bebasnya yang aktif (fT4 dan fT3). Hormon yang lebih penting
adalah fT3 karena lebih mempengaruhi metabolisme, dibentuk di
liver, ginjal, dan
otot dan diubah menjadi fT4 oleh
enzim deiodinase. Kebanyakan jaringan termasuk jantung, otak, dan otot memiliki
reseptor spesifik fT3 yang dapat mempengaruhi aktivitas metabolik dan seluler.
Pada keadaan normal, kelenjar hipofisis anterior memproduksi TSH sebagai umpan
balik negatif yang dikendalikan oleh konsentrasi fT3.
Iodin dari
sumber makanan penting dalam proses sintesis pembentukan hormon tiroid. Dalam
beberapa dekade terakhir disebutkan bahwa kelompok risiko tertinggi kurangnya
asupan iodin adalah wanita hamil dan menyusui, serta anak usia kurang dari 2
tahun yang tidak terimplementasi oleh strategi iodisasi garam universal.
Gangguan fungsi
tiroid selama periode reproduksi lebih banyak terjadi pada wanita, sehingga
tidak mengejutkan jika banyak gangguan tiroid ditemukan pada wanita hamil1.
Pada kehamilan, penyakit tiroid memiliki karakteristik
tersendiri dan penanganannya lebih kompleks pada kondisi tertentu. Kehamilan
dapat mempengaruhi perjalanan gangguan tiroid dan sebaliknya penyakit tiroid
dapat pula mempengaruhi kehamilan.2 Seorang klinisi hendaknya memahami
perubahan-perubahan fisiologis masa kehamilan dan patofisiologi penyakit
tiroid, dapat mengobati secara aman sekaligus menghindari pengobatan yang tidak
perlu selama kehamilan.3
B.
Hormon Tiroid Pada Kehamilan
Pada janin
iodin disuplai melalui plasenta. Saat awal gestasi, janin bergantung sepenuhnya
padahormontiroid(tiroksin) ibuyangmelewati plasenta karena fungsi tiroid janin
belum berfungsi sebelum 12-14 minggu kehamilan. Tiroksin dari ibu terikat pada
reseptor sel-sel otak janin, kemudian diubah secara intraseluler menjadi fT3
yang merupakan proses penting bagi perkembangan otak janin bahkan setelah
produksi hormon tiroid janin, janin masih bergantung pada hormon-hormon tiroid
ibu, asalkan asupan iodin ibu adekuat.3,6
Empat perubahan penting selama
kehamilan3 (Gambar 1):
1.
Waktu paruh tiroksin
yang terikat globulin bertambah dari 15 menit menjadi 3 hari dan konsentrasinya
menjadi 3 kali lipat saat usia gestasi 20 minggu akibat glikosilasi estrogen.
2.
Hormon hCG dan TSH
memiliki reseptor dan subunit alpha yang sama. Pada trimester pertama, sindrom
kelebihan hormon bisa muncul, hCG menstimulasi reseptor TSH dan memberi
gambaran biomekanik hipertiroid. Hal ini sering terjadi pada kehamilan
multipel, penyakit trofoblastik dan hiperemesis gravidarum, dimana konsentrasi
hCG total dan subtipe tirotropik meningkat.
3.
Peningkatan laju
filtrasi glomerulus dan peningkatan uptake iodin ke dalam kelenjar tiroid yang
dikendalikan oleh peningkatan konsentrasi tiroksin total dapat menyebabkan atau
memperburuk keadaan defisiensi iodin.
4.
Tiga hormon deiodinase
mengontrol metabolisme T4 menjadi fT3 yang lebih aktif dan pemecahannya menjadi
komponen inaktif. Konsentrasi deiodinase III meningkat di plasenta dengan
adanya kehamilan, melepaskan iodin jika perlu untuk transpor ke janin, dan jika
mungkin berperan dalam penurunan transfer tiroksin.
C.
Hipotiroid Dan Efeknya Pada Kehamilan
Hormon-hormon
tiroid berperan penting dalam perkembangan saraf selama awal kehamilan. Wanita
hamil dan menyusui memerlukan iodin tambahan. Beberapa makanan segar mengandung
iodin (Tabel 1). Dosis yang dianjurkan adalah 250 mikrogram per hari.
Defisiensi iodin berat, jika tidak diobati dengan baik, merupakan penyebab kerusakan
neurologis di seluruh dunia.2 Sejak tahun 1994, WHO dan UNICEF telah
merekomendasikan Iodisasi Garam Universal sebagai strategi yang aman, murah,
dan efektif untuk memastikan cakupan iodin yang diperlukan bagi semua
individu.1 Hipotiroid, baik bermakna
maupun subklinis (kadar TSH melebihi batas atas dengan kadar fT4 yang normal),
memiliki efek selama kehamilan dan juga pada perkembangan janin. Perbedaan
sedikit saja pada konsentrasi hormon tiroid selama kehamilan dapat menyebabkan
Gambar 1
Pengaruh hormon tiroid pada perkembangan neurologis janin dan waktu terjadinya
beberapa tingkat perkembangan yang penting perubahan signifikan kecerdasan
anak. Kadar hormon tiroid yang rendah selama kehamilan dapat menyebabkan
keterlambatan fungsi kognitif verbal dan nonverbal pada masa awal kanak-kanak,
defek psikomotorik, dan bahkan retardasi mental.
Hipotiroid yang
tidak terdiagnosis hingga trimester pertama, berisiko tinggi penurunan
fungsi intelektual dan
kognitif bagi anak2. Hipotiroid berat pada ibu berhubungan
dengan kerusakan perkembangan intelektual anak diduga akibat suplai
transplasenta yang tidak adekuat selama kehamilan. Hipotiroksinemia pada ibu
terbukti dapat meningkatkan risiko keterlambatan fungsi kognitif verbal dan
nonverbal pada saat usia awal anak-anak. Kadar TSH ibu pada awal kehamilan
tidak berhubungan dengan efek keterlambatan fungsi kognitif pada anak walaupun
merupakan indikator kurangnya fungsi tiroid ibu selama kehamilan.
Selain itu,
terdapat hubungan antara hipotiroid dengan penurunan fertilitas. Wanita hamil
yang hipotiroid memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi obstetrik
seperti abortus, lahir mati, anemia, hipertensi dalam kehamilan, solusio
plasenta, perdarahan post partum, dan hipertensi dalam kehamilan.6,8 Penelitian
menunjukkan bahwa preeklamsia pada nulipara berhubungan dengan risiko
hipotiroid subklinis pada kehamilan dan juga wanita dengan preeklamisa memiliki
risiko lebih tinggi mengalami gangguan fungsi hipotiroid beberapa tahun setelah
preeklamsia.9 Walaupun risiko hipotiroid subklinis belum pasti, terapi
pengganti dalam kondisi tersebut tetap dianjurkan. Dosis pengganti ditambahkan
pada awal kehamilan, dan kondisi eutiroid harus dipertahankan seterusnya. Jenis
makanan yang kaya iodin antara lain ikan air laut (memiliki kandungan iodin 6
kali lebih besar daripada ikan air tawar), produk susu, dan juga telur.
D.
Pengobatan Hipotiroid Pada Kehamilan
Levotiroksin
adalah terapi pilihan jika status nutrisi iodin tidak adekuat. Wanita hamil
hipotiroid memerlukan dosis tiroksin lebih besar, dan wanita yang sudah
menerima terapi tiroksin sebelum hamil memerlukan peningkatan dosis harian,
biasanya 30-50% di atas dosis sebelum konsepsi. Pengobatan sebaiknya dimulai
dengan dosis 100-150 mikrogram per hari atau 1,7-2,0 mikrogram per kg
beratbadan saat tidak hamil, dengan peningkatan dosis hingga 2,0-2,4 mikrogram
per kg beratbadan saat hamil. Kadar serum fT4 dan TSH sebaiknya diukur 1 bulan
setelah mulai terapi. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan kadar
fT4 dan TSH normal selama kehamilan.
Pengukuran TSH
dianjurkan pada wanita dengan faktor risiko gangguan fungsi tiroid, antara
lain:
1.
Riwayat hipo atau
hipertiroid, PPT (post
2.
partum tiroiditis),
atau lobektomi tiroid
3.
Riwayat keluarga
dengan penyakit tiroid
4.
Wanita dengan goiter
5.
Memiliki antibodi
tiroid
6.
Terdapat tanda dan
gejala yang mengarah pada kekurangan dan kelebihan hormon tiroid
7.
Diabetes melitus tipe
I
8.
Penyakit autoimun lain
9.
Infertilitas
10. Riwayat radiasi pada kepala dan leher
11. Riwayat keguguran atau melahirkan prematur
E.
Hipertiroid Dalam Kehamilan
Prevalensi
hipertiroid di Amerika Serikat diperkirakan sebesar 1%. Penyebab tersering
adalah penyakit Grave, yang 5-10 kali lebih sering dialami wanita dengan
puncaknya pada usia reproduktif. Prevalensi hipertiroid dalam kehamilan
0,1-0,4%, 85% dalam bentuk penyakit Grave. Sama halnya seperti penyakit
autoimun lain, tingkat aktivitas penyakit Grave dapat berfluktuasi saat
trimester pertama dan membaik perlahan setelahnya; dapat mengalami eksaserbasi
tidak lama setelah melahirkan. Walaupun jarang, persalinan, seksio sesarea, dan
infeksi dapat memicu hipertiroid atau bahkan badai tiroid (thyroid storm).
Kehamilan,
begitu juga hipertiroid adalah kondisi peningkatan laju metabolisme. Fakta ini
menyulitkan mengenali tanda dan gejala tipikal tirotoksikosis yang biasanya
mudah dikenali pada pasien tidak hamil. Misalnya, gejala seperti amenorea,
lemas, labilitas emosi, intoleransi terhadap panas, mual dan muntah dapat
terlihat baik pada pasien hamil dan juga hipertiroid. Begitu juga tanda-tanda
seperti kulit terasa hangat, takikardia, peningkatan tekanan darah, dan bahkan struma
kecil tidak bersifat pasti. Namun, ada menifestasi yang harus lebih
diperhatikan seperti kenaikan berat badan yang rendah selama hamil dengan nafsu
makan baik, adanya tremor, dan manuver Valsava tanpa akselerasi laju jantung.
Mengingat kebanyakan kasus disebabkan oleh penyakit Grave, dicari tanda- tanda
oftalmopati Grave (tatapan melotot, kelopak tertinggal saat menutup mata,
eksoftalmos) dan bengkak tungkai bawah (pretibial myxedema).10 Rendahnya
spesifisitas tanda dan gejala membuat tes laboratorium merupakan alat diagnosis
yang paling baik untuk penyakit tiroid pada ibu hamil.
Mual dan muntah
setelah kehamilan 20 minggu jarang ditemukan. Kondisi muntah harus dibedakan
dari kondisi lain yang juga dapat menyebabkan muntah persisten, seperti
hiperemesis gravidarum, gangguan gastrointestinal (appendisitis, hepatitis,
pankreatitis, dan gangguan saluran empedu), pielonephritis, dan gangguan
metabolik lain.
Pemeriksaan
laboratorium mencakup kadar keton urin, BUN, kreatinin, alanin
aminotransferase, aspartat aminotransferase, elektrolit, dan tirotropin
(termasuk tiroksin T4 bebas jika tirotropin rendah). Biasanya tirotropin
tertekan pada pasien-pasien hamil karena hCG bereaksi silang dengan tirotropin
dan menstimulasi kelenjar tiroid. Kondisi hipertiroid ini biasanya hilang
spontan dan tidak membutuhkan pengobatan. Kadar T4 dan tirotroponin pada
hiperemesis dapat mirip dengan pasien Grave, akan tetapi pasien hiperemesis
tidak memiliki gejala penyakit Grave ataupun antibodi tiroid. Jika kadar fT4
meningkat tanpa tanda dan gejala penyakit Grave, pemeriksaan sebaiknya diulang
setelah usia kehamilan 20
minggu. Pemeriksaan USG
sebaiknya dilakukan untuk mendeteksi kehamilan multipel atau mola hidatodosa.
Tirotoksikosis
ibu yang tidak diobati secara adekuat meningkatkan risiko kelahiran prematur,
IUGR, berat badan lahir rendah, preeklamsia, gagal jantung kongestif, dan IUFD.
Pada sebuah penelitian retrospektif, rata-rata komplikasi berat pada pasien
yang diobati dibandingkan dengan yang tidak adalah: preeklamsia - 7% banding
14-22%, gagal jantung kongestif - 3% banding 60%, thyroid storm - 2% banding
21%. Sebaliknya pengobatan thionamide berlebih dapat menyebabkan hipotiroid
iatrogenik pada janin.
Pasien dengan
kecurigaan hipertiroid membutuhkan pengukuran kadar TSH, T4, T3, dan antibodi
reseptor tiroid. Interpretasi fungsi tiroid harus memperhatikan hubungan dengan
hormon HCG yang dapat menurunkan kadar TSH dan meningkatkan kadar TBG selama
kehamilan; kadar serum TSH di bawah normal tidak boleh dijadikan interpretasi
diagnostik hipertiroid dalam kehamilan. Interpretasi terbaik adalah dengan
kadar T3 karena kadar fT4 juga meningkat pada separuh wanita hiperemesis
gravidarum tanpa hipertiroid.
Hipertiroid
subklinis (kadar TSH di bawah normal, kadar fT4 dan T4 dalam batas normal dan
tidak ada tanda-tanda hipertiroid) dapat ditemukan pada hiperemesis gravidarum.
Pengobatan kondisi ini tidak berhubungan dengan perbaikan hasil kehamilan dan
dapat memberikan risiko paparan obat anti tiroid yang tidak perlu terhadap
janin.
F.
Pengobatan Hipertiroid Dalam Kehamilan
Secara umum,
terdapat beberapa modalitas pengobatan hipertiroid antara lain pendekatan
farmakologis, pembedahan, dan juga iodin radioaktif, masing-masing dengan
risiko terhadap kehamilan (Tabel 2). Pada kondisi hamil, pengobatan iodin
radioaktif secara langsung merupakan kontraindikasi karena meningkatkan risiko
abortus spontan, kematian janin intra uterin, hipotiroid dan retardasi mental
pada neonatus.10
Tabel 1 Rata-rata kandungan iodine dalam sampel
makanan segar dengan rentang standar deviasinya (ng/g)4
No. |
Jenis Makanan |
Kandungan Iodin |
1 |
Ikan air laut |
486 (89-1593) |
2 |
Telur |
324 (247-428) |
3 |
Roti |
310 (20-815) |
4 |
Susu |
124 (59-199) |
5 |
Ikan air tawar |
98 (3-408) |
6 |
Gandum |
33 (11-47) |
7 |
Unggas |
18 (10-169) |
8 |
Daging |
17 (2-155) |
9 |
Sayur-sayuran |
5 (1-22) |
10 |
Buah-buahan |
3 (0,3-13) |
Tabel 2 Resiko dan komplikasi terapi hipertiroid
di dalam kehamilan10
Kondisi/pengobatan/ Prosedur |
Dampak Kehamilan |
Fetus |
Neonatus |
Hipertiroid yang tidak mendapat
pengobatan adekut |
Keguguran Solusio plasenta
Kelahiran preterm |
Hipertiroid takikardia
pertumbuhan terhambat |
Hipertiroid transien primer |
Thioamide |
|
Hipotiroid Embriopati
Methimazole |
Hipertiroid Transien |
Tindakan bedah dengan
suplementasi tiroksin |
Keguguran Kelahiran preterm |
Hipotiroid |
Hipotiroid Transien |
Propanolol |
Atrofi plasenta Kelahiran
preterm |
IUGR |
Hipoglikemia postpartum
Bradikardia |
Pada ibu hamil,
PTU masih merupakan obat pilihan utama yang direkomendasikan oleh banyak
penulis dan pedoman, dianggap lebih baik karena lebih sedikit melewati plasenta
dibandingkan methimazole. Tetapi telah terbukti efektivitas kedua obat dan
waktu rata-rata yang diperlukan untuk normalisasi fungsi tiroid sebenarnya sama
(sekitar 2 bulan), begitu juga kemampuan melalui plasenta. Penggunaan
methimazole pada ibu hamil berhubungan dengan sindrom teratogenik ‘embriopati
metimazole’yang ditandai dengan atresi esofagus atau koanal; anomali janin yang
membutuhkan pembedahan mayor lebih sering berkaitan dengan penggunaan
methimazole, sebaliknya tidak ada data hubungan antara anomali kongenital
dengan penggunaan PTU selama kehamilan. Namun kadang methimazole tetap harus
diberikan karena satu-satunya pengobatan anti tiroid yang tersedia.
Jika kondisi
hipertiroid sudah berkurang, dosis obat anti tiroid juga harus diturunkan untuk
mencegah hipotiroid pada janin. Pada trimester ketiga, hampir 30% ibu dapat
menghentikan pengobatan anti tiroid dan mempertahankan status eutiroid. Bagi
ibu menyusui, kedua jenis obat anti tiroid dinilai aman karena konsentrasinya
rendah di dalam airsusu. Bayiyangmenyusuiibupengkonsumsi obat anti tiroid
memiliki perkembangan dan fungsi intelektual yang normal.
Obat-obat
golongan beta bloker untuk mengurangi gejala akut hipertiroid dinilai aman dan
efektif pada usia gestasi lanjut, pernah dilaporkan memberikan efek buruk bagi
janin bila diberikan pada awal atau pertengahan gestasi. Propanolol pada
kehamilan akhir dapat menyebabkan hipoglikemia pada neonatus, apnea, dan
bradikardia yang biasanya bersifat transien dan tidak lebih dari 48 jam.
Propanolol sebaiknya dibatasi sesingkat mungkin dan dalam dosis rendah (10-15
mg per hari).
Tiroidektomi
subtotal dapat dilakukan saat kehamilan dan merupakan pengobatan lini kedua
penyakit Grave. Tiroidektomi sebaiknya dihindari pada kehamilan trimester
pertama dan ketiga karena efek teratogenik zat anestesi, peningkatan risiko
janin mati pada trimester pertama serta peningkatan risiko persalinan preterm
pada trimester ketiga. Paling optimal dilakukan pada akhir trimester kedua
meski- pun tetap memiliki risiko persalinan preterm sebesar 4,5%-5,5%. Tindakan
pembedahan harus didahului oleh pengobatan intensif dengan golongan thionamide,
iodida, dan beta bloker untuk menurunkan kadar hormon tiroid agar mengurangi
risiko thyroid storm selama anestesi dan juga mengoptimalkan kondisi operasi
dengan penyusutan struma dan mengurangi perdarahan.
Indikasi
pembedahan adalah dibutuhkannya obat anti tiroid dosis besar (PTU >450 mg
atau methimazole >300 mg), timbul efek samping serius penggunaan obat anti
tiroid, struma yang menimbulkan gejala disfagia atau obstruksi jalan napas, dan
tidak dapat memenuhi terapi medis (misalnya pada pasien gangguan jiwa).
G.
Simpulan
Hormon tiroid
berfungsi mengatur aktivitas metabolik dan seluler; memelihara keseimbangan
hormon tiroid dalam batas normal selama kehamilan sangat penting untuk mencegah
dampak buruk. Hipotiroid selama kehamilan walaupun ringan dapat menurunkan
fungsi intelektual anak.
Sedangkan
hipertiroid dalam kehamilan dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas
ibu dan janin. Diagnosis hipertiroid dalam kehamilan sulit karena gejala sering
tumpang tindih dengan gejala kehamilan pada umumnya dan pengobatannya
lebih rumit mengingat efek samping dan potensi merugikan janin. Sangat
dianjurkan memeriksa kadar hormon tiroid pada ibu hamil yang memiliki gejala
penyakit tiroid.
2.2 TIROID DALAM MASA NIFAS
A.
Pengertian
Tiroiditis
postpartum (postpartum thyroiditis) merupakan kondisi di mana
kelenjar tiroid (kelenjar yang berada di leher) mengalami peradangan dan
pembengkakan setelah melahirkan. Penyakit tiroid ini termasuk salah satu
komplikasi yang bisa terjadi setelah melahirkan. Mayo Clinic mengatakan,
tiroiditis pasca persalinan sering dialami selama beberapa minggu sampai
berbulan-bulan.
Sebagian besar
ibu yang baru melahirkan dan mengalami tiroiditis postpartum, fungsi tiroid
akan kembali normal dalam 12 hingga 18 bulan setelah adanya gejala. Tetapi
beberapa wanita ada pula yang mengalami komplikasi permanen. Sayangnya untuk
mengetahui gejalanya bisa sulit dikenali karena sering dianggap sebagai stres
biasa atau perubahan mood yang kerap dirasakan ibu pasca melahirkan.
B.
Gejala penyakit tiroid yang termasuk tiroiditis postpartum
Nyatanya,
tiroiditis postpartum bisa mengarah pada munculnya hipotiroidisme (tiroid yang
kurang aktif) ringan. Namun juga bisa mengarah pada penyakit tiroid
hipertiroidisme (tiroid yang terlalu aktif).
Gejala ringan
yang mengarah pada munculnya hipertiroidisme, bisa dilihat jika mengelami
beberapa tibu seperti di bawah ini:
1.
Kegelisahan
2.
Cepat marah
3.
Detak jantung berdebar
cepat
4.
Penurunan berat badan
yang wajar
5.
Lebih peka pada suhu
panas
6.
Kelelahan
7.
Getaran
8.
Insomnia
Tibu dan gejala
ini biasanya terjadi satu hingga empat bulan setelah melahirkan dan bertahan
satu hingga tiga bulan. Kemudian, ketika sel-sel tiroid mulai terganggu, tibu
dan gejala tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme) juga dapat berkembang,
seperti:
1.
Energi menurun
2.
Sensitivitas meningkat
terhadap dingin
3.
Sembelit
4.
Kulit kering
5.
Berat badan bertambah
6.
Depresi
Tibu-tibu atau
gejala ini biasanya mulai dirasakan empat sampai enam minggu setelah
gejala-gejala hipertiroidisme sembuh dan dapat bertahan enam sampai 12 bulan. Tapi,
beberapa perempuan hanya merasakan salah satu gejala dari hipertiroidisme dan
hipotirodisme.
C.
Penyebab tiroiditis postpartum
Sampai saat
penyebab tiroiditis postpartum masih belum diketahui secara pasti. Namun,
perempuan yang mengalami tiroiditis postpartum seringkali memiliki tingkat
antibodi anti-tiroid yang tinggi pada awal kehamilan dan setelah melahirkan. Akibatnya,
perempuan yang mengembangkan tiroiditis postpartum cenderung memiliki kondisi
tiroid autoimun yang mendasari setelah melahirkan setelah fluktuasi fungsi
kekebalan tubuh. Kondisi yang mendasari ini tampaknya sangat mirip dengan
tiroiditis hashimoto, di mana sistem kekebalan menyerang kelenjar tiroid.
D.
Faktor risiko tiroidisme postpartum
Ada beberapa
perempuan yang memang lebih rentan atau memiliki risiko lebih besar mengalami
tiroiditis pascapartum apabila mengalami beberapa kondisi seperti ini :
1.
Gangguan autoimun,
seperti diabetes tipe 1
2.
Riwayat tiroiditis
postpartum
3.
Antibodi anti-tiroid
konsentrasi tinggi
4.
Ada riwayat masalah
tiroid sebelumnya
5.
Riwayat keluarga
masalah tiroid
Sementara
penelitian lebih lanjut diperlukan, beberapa penelitian juga menunjukkan
hubungan antara tiroiditis postpartum dan depresi postpartum. Akibatnya, jika Ibu
mengalami depresi pascapersalinan, dokter kemungkinan akan memeriksa untuk
melihat bagaimana tiroid Ibu berfungsi.
E.
Komplikasi yang bisa terjadi
Bagi sebagian
besar perempuan yang mengalami tiroiditis postpartum, fungsi tiroid nantinya
kembali normal – umumnya dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan setelah
dimulainya gejala. Meskipun begitu, beberapa perempuan yang mengalami
tiroiditis postpartum tidak sembuh dari fase hipotiroid. Akibatnya, mereka
mengembangkan hipotiroidisme, suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak
menghasilkan cukup hormon-hormon tertentu yang penting bagi tubuh.
F.
Pencegahan tiroiditis postpartum
Meskipun
kondisi tiroiditis postpartum tidak bisa dicegah, namun Ibu bisa mengambil
langkah-langkah untuk merawat diri sendiri di bulan-bulan setelah melahirkan. Jika
memiliki tibu atau gejala yang tidak biasa setelah melahirkan, jangan anggap
sepele. Terlebih jika memang memiliki faktor risiko yang lebih tinggi untuk
mengalami tiroiditis postpastum, oleh karenanya jangan lupa untuk konsultasikan
dengan tenaga medis terkait tentang bagaimana cara memantau kesehatan setelah
melahirkan.
Comments
Post a Comment