Upaya kolaboratif dalam meningkatkan kesehatan maternal dan perinatal

ASFIKSIA NEONATORUM
A. Pengertian
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Sarwono, 2007).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang
tidak bisa bernafas secara spontan dan adekuat (Wroatmodjo,2004).
Asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak
dilakukan dengan sempurna, sehingga tindakan perawatan dilaksanakan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin
timbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, beberapa faktor perlu
dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia.
B. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Etiologi
dan predisposisi terjadinya asfiksia, antara lain sebagai berikut:
1.
Faktor
Ibu
Hipoksia
ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat
terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam
gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi
karena eklamsia, penyakit jantung dan lain-lain.
2.
Faktor
Plasenta
Yang
meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis,
plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.
3.
Faktor
Janin dan Neonatus
Meliputi
tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara
janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR, kelainan kongenital dan lain-lain.
4. Faktor Persalinan
Meliputi
partus lama, partus tindakan dan lain-lain.
C. Patofisiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah
rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi
lambat. Jika kekurangan O2 terus
berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini
rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya
ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila
kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru,
bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak
berkembang.
Apabila asfiksia
berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler
berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut,
bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun ,
tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama
makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder,
denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun.
Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan
upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan
pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.
D. Gejala Klinik
Gejala klinik Asfiksia neonatorum yang
khas meliputi :
a. Pernafasan
terganggu
b. Detik
jantung berkurang
c. Reflek
/ respon bayi melemah
d. Tonus
otot menurun
e. Warna
kulit biru atau pucat
E. Diagnosis
Asfiksia pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari
anoksia atau hipoksia janin. Diagnosa anoksia / hipoksia dapat dibuat dalam
persalinan dengan ditemukan
tanda-tanda gawat janin untuk menentukan bayi yang akan dilahirkan terjadi
asfiksia, maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatikan.
1.
Denyut
Jantung Janin
Frekuensi normal ialah 120 sampai 160 denyutan per menit,
selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada
keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyutan jantung umumnya tidak banyak
artinya, akan tetapi apabila frekuensinya turun sampai dibawah 100/menit, dan
lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
2.
Mekonium
Dalam Air Ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan
tetapi pada prosentase kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan terus
timbul kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada prosentase kepala dapat
merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan
dengan mudah.
3.
Pemeriksaan
pH Pada Janin
Dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin dan diambil contoh darah janin.
Darah ini diperiksa pH-nya adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH
itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya. Dengan
penilaian pH darah janin dapat ditemukan derajat asfiksia yaitu :
Tabel 1.1. Penilaian pH Darah Janin
NO |
Hasil Apgar Score |
Derajat Asfiksia |
Nilai pH |
1. |
0 – 3 |
Berat |
< 7,2 |
2. |
4 – 6 |
Sedang |
7,1 – 7,2 |
3. |
7 – 10 |
Ringan |
> 7,2 |
Sumber :
Wiroatmodjo, 1994
4.
Dengan
Menilai Apgar Skor
Cara yang digunakan untuk menentukan derajat asfiksia yaitu
dengan penilaian Apgar Skor. Apgar mengambil batas waktu 1 menit karena dari
hasil penyelidikan sebagian besar bayi baru lahir mempunyai Apgar terendah pada
umur tersebut dan perlu dipertimbangkan untuk melakukan tindakan resusitasi
aktif. Sedangkan nilai Apgar lima menit untuk menentukan prognosa dan
berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan neurologik di kemudian hari.
Ada lima tanda (sign) yang dinilai oleh Apgar, yaitu :
Tabel 1.2 Apgar Skor
Tanda-tanda
Vital |
Nilai
= 0 |
Nilai
= 1 |
Nilai
= 2 |
1. Appearance (warna kulit) |
Seluruh tubuh bayi berwarna
kebiru-biruan atau pucat |
Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan |
Warna kulit seluruh tubuh normal |
2. Pulse
(denyut jantung) |
Tidak ada |
<100 x/ menit |
>100 x/ menit |
3. Grimace
(Respons reflek) |
Tidak ada |
Menyeringai/ meringis |
Meringis, menarik, batuk, atau bersin saat stimulasiMeringis, menarik,
batuk, atau bersin saat stimulasi |
4. Activity (tonus otot) |
Lemah, tidak ada gerakan |
Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan |
Bergerak aktif dan spontan |
5. Respiration (usaha
bernafas) |
Tidak bernapas |
Menangis lemah, terdengar seperti merintih, pernapasan lambat dan tidak
teratur |
Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur |
Dari kelima tanda diatas yang paling penting bagi jantung
karena peninggian frekuensi jantung menandakan prognosis yang peka. Keadaan
akan memburuk bila frekuensi tidak bertambah atau melemah walaupun paru-paru
telah berkembang. Dalam hal ini pijatan jantung harus dilakukan. Usaha nafas
adalah nomor dua. Bila apnea berlangsung lama dan ventilasi yang dilakukan
tidak berhasil maka bayi menderita depresi hebat yang diikuti asidosis
metabolik yang hebat. Sedang ketiga tanda lain tergantung dari dua tanda
penting tersebut.
Ada
3 derajat Asfiksia dari hasil Apgar
Skor diatas yaitu :
a. Nilai
Apgar 7-10, Vigorous baby atau
asfiksia ringan.
Bayi
dalam keadaan merintih, adanya retraksi sela iga, dengan nafas takipnea (
>60x/menit), bayi tampak sianosis, adanya pernafasan cupping hidung, bayi
kurang aktifitas, pada pemeriksaan auskultasi terdapat .ronchi, rales, dan
wheezing.
b. Nilai
Apgar 4-6 Mild Moderat atau asfiksia
sedang.
Pada
pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi jantung menurun menjadi (60 –
80x/menit), usaha nafas lambat, tonus otot baik, bayi masih bereaksi terhadap
rangsangan, bayi sianosis, tidak terjadi kekurangan O2 yang bermakna selama
proses persalinan.
c. Nilai
Apgar 0-3, asfiksia berat
Pada
pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kecil ( <40x/menit),tidak ada usaha
nafas, tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada, bayi tidak dapat memberikan
reaksi jika diberikan rangsangan, bayi pucat, terjadi kekurangan O2 yang
berlanjut sebelum atau sesudah persalinan..
F. Pelaksanaan Resusitasi
Segera setelah bayi baru lahir perlu diidentifikasi atau
dikenal secara cepat supaya bisa dibedakan antara bayi yang perlu diresusitasi
atau tidak. Tindakan ini merupakan langkah awal resusitas bayi baru lahir.
Tujuannya supaya intervensi yang diberikan bisa dilaksanakan secara tepat dan
cepat (tidak terlambat).
1.
Membuka
Jalan Nafas
Tujuan
: Untuk memastikan terbuka tidaknya jalan nafas.
Metode
:
§
Meletakkan bayi pada posisi yang benar.
Ø
Letakkan bayi secara terlentang atau miring
dengan leher agak ekstensi/ tengadah. Perhatikan leher bayi agar tidak
mengalami ekstensi yang berlebihan atau kurang. Ekstensi karena keduanya akan
menyebabkan udara yang masuk ke paru-paru terhalangi.
Ø
Letakkan selimut atau handuk yang digulung
dibawah bahu sehingga terangkat 2-3 cm diatas matras.
Ø
Apabila cairan/lendir terdapat bar dalam mulut,
sebaiknya kepala bayi dimiringkan supaya lendir berkumpul di mulut (tidak
berkumpul di farings bagian belakang) sehingga mudah disingkirkan.
§
Membersihkan Jalan Nafas
Ø
Apabila air ketuban tidak bercampur mekonium,
hisap cairan dari mulut dan hidung, mulut dilakukan terlebih dahulu kemudian
hidung.
Ø
Apabila air ketuban tercampur mekonium, hanya
hisap cairan dari trakea, sebaiknya menggunakan alat pipa endotrakel (pipa ET).
Ø
Urutan kedua metode membuka jalan nafas ini bisa
dibalik, penghisapan terlebih dahulu baru meletakkan bayi dalam posisi yang
benar, pembersihan jalan nafas pada semua bayi yang sudah mengeluarkan
mekoneum, segera setelah lahir (sebelum baru dilahirkan) dilakukan dengan
menggunakan keteter penghisap no 10 F atau lebih. Cara pembersihannya dengan
menghisap mulut, farings dan hidung.
2.
Mencegah
Kehilangan Suhu Tubuh / Panas
Tujuan
: Mencegah komplikasi metabolisme akibat kehilangan panas.
Metode
:
§
Meletakkan bayi terlentang dibawah pemancar
panas (Infant warmer) dengan temperatur untuk bayi aterm 34°C, untuk bayi
preterm 35°C.
§
Tubuh dan kepala bayi dikeringkan dengan
menggunakan handuk dan selimut hangat, keuntungannya bayi bersih dari air
ketuban, mencegah kehilangan suhu tubuh melalui evaporosi serta dapat pula
sebagai pemberian rangsangan taktik yang dapat menimbulkan atau mempertahankan
pernafasan.
§
Untuk bayi sangat kecil (berat badan kurang dari
1500 gram) atau apabila suhu ruangan sangat dingin dianjurkan menutup bayi
dengan sehelai plastik tipis yang tembus pandang.
3.
Pemberian
Tindakan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
Tujuan
: untuk membantu bayi baru lahir memulai pernafasan.
Metode
:
§
Pastikan bayi diletakkan dalam posisi yang
benar.
§
Agar VTP efektif kecepatan memompa (Kecepatan Ventilasi
dan tekanan ventilasi harus sesuai, kecepatan ventilasi sebaiknya 40-60
kali/menit.
§
Tekanan ventilasi yang dibutuhkan sebagai
berikut :
Ø
Nafas pertama setelah lahir membutuhkan 30-40 cm
H2O.
Ø
Setelah nafas pertama membutuhkan 15-20 cm H2O.
Ø
Bayi dengan kondisi / penyakit paru-paru yang
berakibat turunnya compliance membutuhkan 20-40 cm H2O.
Ø
Tekanan ventilasi hanya dapat diukur apabila
digunakan balon yang mempunyai pengukur tekanan.
4.
Observasi
gerak dada bayi
Adanya
gerakan dada bayi naik turun merupakan bukti bahwa sungkup terpasang dengan
baik dan paru-paru mengembang. Bayi seperti menarik nafas dangkal. Apabila dada
bergerak maksimum, bayi seperti menarik nafas panjang, menunjukkan paru-paru
terlalu mengembang, yang berarti tekanan diberikan terlalu tinggi. Hal ini
dapat menyebabkan pneumotoraks.
5.
Observasi
gerak perut bayi
Gerak
perut tidak dapat dipakai sebagai pedoman ventilasi yang efektif. Gerak perut
mungkin disebabkan masuknya udara kedalam lambung.
6.
Penilaian
suara nafas bilateral
Suara
nafas didengar dengan menggunakan stetoskop. Adanya suara nafas di kedua
paru-paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang benar.
7.
Observasi
pengembangan dada bayi
Apabila
dada terlalu berkembang, kurangi tekanan dengan mengurangi meremas balon. Apabila
dada kurang berkembang, mungkin disebabkan oleh salah satu sebab berikut yakni
perlekatan sungkup kurang sempurna, arus udara terhambat, atau tidak cukup
tekanan.
8.
Pemberian
Obat-Obatan Penunjang
Obat-obatan
diperlukan apabila frekuensi jantung bayi tetap 80 per menit walaupun telah
dilakukan ventilasi adekuat (dengan oksigen 100%) dan kompresi dada untuk
paling sedikit 30 detik atau frekuensi jantung nol.
Obat-obatan yang diperlukan pada bayi asfiksia :
§
Beri adrenalin (larutan 1 : 10.000) dengan dosis
0,1-0,3 ml/kg berat badan, apabila bayi mengalami bradikardia menetap diberikan
sublingual atau diberikan intravena, sementara NaHCO3 tetap diberikan, disertai
pernafasan buatan.
§
Natrium bicarbonat (NaHCO3) diberikan dengan
dosis 2 ml/kg berat badan (cairan 7,5%) dilarutkan dengan Dextrose 10% dalam
perbandingan 1 : 1 disuntikkan perlahan-lahan kedalam Vena umbilikus dalam
waktu 5 menit.
§
Infus NaCl 0,9% atau Ringer laktat 10 ml/kg berat badan.
9.
Penatalaksanaan
Berdasarkan Penilaian Apgar Skor
a.
Apgar
skor menit I : 0-3
Ø
Jaga agar bayi tidak kedinginan, sebab dapat
menimbulkan hipotermis dengan segala akibatnya. Jangan diberi rangsangan
taktil, jangan diberi obat perangsang nafas lekukan resusitasi.
Ø
Lakukan segera intubasi dan lakukan mouth ke
tube atau pulmanator to tube ventilasi. Bila intubasi tidak dapat, lakukan
mouth to mouth respiration kemudian dibawa ke ICU.
Ø
Ventilasi Biokemial
Ø
Dengan melakukan pemeriksaan blood gas, kalau
perlu dikoreksi dengan Natrium Bicarbonat. Bila fasilitas Blood gas tidak ada,
berikan Natrium Bicarbonat pada asfiksia berat dengan dosis 2-4 mcg/kg BB,
maksimum 8 meg/kg BB / 24 jam. Ventilasi tetap dilakukan. Pada detik jantung
kurang dari 100/menit lakukan pijat jantung 120/menit, ventilasi diteruskan 40
x menit. Cara 3-4x pijat jantung disusul 1x ventilasi.
b.
Apgar
skor menit I : 4-6
Ø
Seperti yang diatas, jangan dimandikan,
keringkan seperti diatas.
Ø
Beri rangsangan taktil dengan tepukan pada
telapak kaki, maksimum 15-30 detik.
Ø
Bila belum berhasil, beri O2 dengan atau tanpa
corong (lebih baik O2 yang dihangatkan).
Ø
Skor apgar 4-6 dengan detik jantung kurang dari
100 kali permenit lakukan bag dan mask ventilation dan pijat jantung.
c.
Apgar
skor menit I : 7-10
Ø
Bersihkan jalan nafas dengan kateter dari lubang
hidung dahulu (karena bayi adalah bernafas dengan hidung) sambil melihat adakah
atresia choane, kemudian mulut, jangan terlalu dalam hanya sampai fasofaring.
Kecuali pada bayi asfiksia dengan ketuban mengandung mekonium, suction
dilakukan dari mulut kemudian hidung karena untuk menghindari aspirasi paru.
Ø
Bayi dibersihkan (boleh dimandikan) kemudian
dikeringkan, termasuk rambut kepala, karena kehilangan panas paling besar
terutama daerah kepala.
Ø
Observasi tanda vital sampai stabil, biasanya 2
jam sampai 4 jam.
G. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul akibat
asfiksia adalah:
1. Sembab
Otak
2. Pendarahan
Otak
3. Anuria
atau Oliguria
4. Hyperbilirubinemia
5. Obstruksi
usus yang fungsional
6. Kejang
sampai koma
7.
Komplikasi akibat resusitasinya sendiri :
Pneumothorax
Comments
Post a Comment