
PERUBAHAN SISTEM INTEGUMEN PADA MASA NIFAS
Penurunan Sistem integumen umumnya setelah persalinan menyebabkan berkurangnya hyperpigmentasi kulit. Perubahan pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan dan akan
menghilang pada saat estrogen menurun.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................................................ 1
C.
Tujuan.......................................................................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Masa Nifas............................................................................................................... 3
B.
Definisi
Sistem Integumen............................................................................................... 3
C.
Struktur
anatomi................................................................................................................... 3
D.
Fisiologi
Sistem Integumen............................................................................................. 5
E.
Fungsi
Kulit............................................................................................................................... 5
F. Perubahan Sistem Integumen Masa Nifas........................................................... 8
BAB III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan............................................................................................................................... 10
B.
Saran ............................................................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah
plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan
hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali
merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat
dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal
dari bahasa Latin "integumentum", yang berarti
"penutup".
Penurunan Sistem integumen umumnya setelah persalinan menyebabkan berkurangnya hyperpigmentasi kulit. Perubahan pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan dan akan
menghilang pada saat estrogen menurun.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
Definisi Masa Nifas?
2.
Bagaimana
Definisi Sistem Integumen?
3.
Bagaimana
Struktur anatomi Sistem Integumen?
4.
Bagaimana
Fisiologi Sistem Integumen?
5.
Bagaimana
Fungsi Kulit?
6.
Bagaimana
Perubahan Sistem Integumen Masa Nifas?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui Definisi Masa Nifas
2.
Untuk
mengetahui Definisi Sistem Integumen
3.
Untuk
mengetahui Struktur anatomi Sistem Integumen
4.
Untuk
mengetahui Fisiologi Sistem Integumen
5.
Untuk
mengetahui Fungsi Kulit
6.
Untuk
mengetahui Perubahan Sistem Integumen
Masa Nifas
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah
plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Abdul Bari. S,
dkk, 2002).
Pembagian masa nifas.
Nifas dibagi dalam 3 periode:
1.
Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2.
Puerperium intermedial, yaitu
kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6 – 8 minggu.
3.
Remote puerperium, waktu yang diperlkan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
B.
Definisi Sistem
Integumen
Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan
menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali
merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat
dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal
dari bahasa Latin "integumentum", yang berarti
"penutup".
C.
Struktur anatomi
1.
Epidermis
Epidermis tersusun
atas lapisan tanduk (lapisan
korneum) dan lapisan
Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas
dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan
spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi
menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif
membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. Lapisan
Malpighi mengandung pigmen melanin
yang memberi warna pada kulit.
2.
Dermis
Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung saraf, kelenjar keringat,
dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Banyaknya
keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hari, tergantung pada
kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea.
Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan,
pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk
pengaturan suhu tubuh.
Pada suhu lingkungan tinggi (panas), kelenjar keringat
menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh
kapiler akan memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya
kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan
cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga
kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah,
kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada
keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan air, akibatnya penguapan
sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh
tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotalamus
D.
Fisiologi Sistem
Integumen
Kulit merupakan organ yang paling luas permukaannya
yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung
tubuh terhadap bahaya bahan kimia. Cahaya matahari mengandung sinar ultraviolet
dan melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh
terhadap lingkungan. Kulit merupakan indikator bagi seseorang untuk memperoleh
kesan umum dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit. Misalnya, menjadi
pucat, kekuning-kuningan kemerah-merahan atau suhu kulit meningkat,
memperlihatkan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh atau gangguan kulit
karena penyakit tertentu.
Gangguan psikis juga dapat menyebabkan kelainan atau
perubahan pada kulit. Misalnya, karena stres, ketakutan atau dalam keadaan
marah, akan terjadi perubahan pada kulit wajah. Perubahan struktur kulit dapat
menentukan apakah seseorang telah lanjut usia atau masih muda. Wanita atau pria
juga dapat membedakan penampilan kulit. Warna kulit juga dapat menentukan ras
atau suku bangsa misalnya kulit hitam suku bangsa negro, kulit kuning bangsa
Mongol, kulit putih dari Eropa dll.
E.
Fungsi Kulit
Kulit pada manusia mempunyai
fungsi yang sangat penting selain menjalin kelangsungan hidup secara umum
yaitu:
a.
Fungsi proteksi (melindungi). Kulit menjaga bagian
dalam tubuh terhadap gangguan fisik atau mekanis, misalnya terhadap gesekan,
tarikan, gangguan kimiawi yang dapat menimbulkan iritasi (lisol, karbol dan
asam kuat). Gangguan panas misalnya radiasi, sinar ultraviolet, gangguan
infeksi dari luar misalnya bakteri dan jamur. Karena adanya bantalan lemak,
tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang berperan sebagai
pelindung terhadap gangguan fisis. Melanosit turut berperan dalam melindungi
kulit terhadap sinar matahari dengan mengadakan tanning (pengobatan dengan asam
asetil).
b.
Proteksi rangsangan kimia dapat terjadi karena sifat
stratum korneum yang impermeabel terhadap berbagai zat kimia dan air. Di
samping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat kimia
dengan kulit. Lapisan keasaman kulit terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan
sebum yang menyebabkan keasaman kulit antara pH 5-6,5. Ini merupakan
perlindungan terhadap infeksi jamur dan sel-sel kulit yang telah mati
melepaskan diri secara teratur.
c.
Fungsi absorbsi (menyerap). Kulit yang sehat tidak
mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap
lebih mudah diserap, begitu juga yang larut dalam lemak. Permeabilitas kulit
terhadap O2, CO2 dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada
fungsi respirasi. Kemampuan absorbsi kulit dipengaruhi tebal tipisnya kulit,
hidrasi, kelembapan dan metabolisme. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah
di antara sel, menembus sel-sel epidermis, atau melalui saluran kelenjar dan
yang lebih banyak melalui sel-sel epidermis.
d.
Fungsi kulit sebagai pengatur panas (regulasi) Suhu
tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini karena
adanya penyesuaian antara panas yang dihasilkan oleh pusat pengatur panas,
medula oblongata. Suhu normal dalam tubuh yaitu suhu viseral 36-37,5 derajat
untuk suhu kulit lebih rendah. Pengendalian persarafan dan vasomotorik dari
arterial kutan ada dua cara yaitu vasodilatasi (kapiler melebar, kulit menjadi
panas dan kelebihan panas dipancarkan ke kelenjar keringat sehingga terjadi
penguapan cairan pada permukaan tubuh) dan vasokonstriksi (pembuluh darah
mengerut, kulit menjadi pucat dan dingin, hilangnya keringat dibatasi, dan
panas suhu tubuh tidak dikeluarkan).
Kulit melakukan peran
ini dengan cara mengeluarkan keringat, kontraksi otot, dan pembuluh darah
kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah sehingga memungkinkan kulit mendapat
nutrisi yang cukup baik. Tonus vaskular dipengaruhi oleh saraf simpatis
(asetilkolin). Pada bayi dinding pembuluh darah belum terbentuk sempurna
sehingga terjadi ekstra cairan karena itu kulit bayi tampak lebih edema karena
lebih banyak mengandung air dan natrium.
e.
Fungsi ekskresi. Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan
zat-zat yang tidak berguna lagi atau zat sisa metabolisme dalam tubuh berupa
NaCl, urea, asam urat, dan amonia. Sebum yang diproduksi oleh kulit berguna
untuk melindungi kulit karena lapisan sebum (bahan berminyak yang melindungi
kulit) ini menahan air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering.
Produksi kelenjar lemak dan keringat menyebabkan keasaman pada kulit.
f.
Fungsi persepsi. Kulit mengandung ujung-ujung saraf
sensorik di dermis dan subkutis. Respons terhadap rangsangan panas diperankan
oleh dermis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, perabaan
diperankan oleh papila dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan diperankan
oleh epidermis. Serabut saraf sensorik lebih banyak jumlahnya di daerah yang
erotik.
g.
Fungsi pembentukan pigmen. Set pembentuk pigmen
(melanosit) terletak pada lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf.
Melanosit membentuk warna kulit. Enzim melanosum dibentuk oleh alat golgi dengan
bantuan tirosinase, ion Cu, dan O2 terhadap sinar matahari
memengaruhi melanosum. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan
dendrit sedangkan lapisan di bawahnya dibawa oleh melanofag. Warna kulit tidak
selamanya dipengaruhi oleh pigmen kulit melainkan juga oleh tebal-tipisnya
kulit, reduksi Hb dan karoten.
h.
Fungsi keratinisasi. Keratinosit dimulai dari sel
basal yang mengadakan pembelahan. Sel basal yang lain akan berpindah ke atas
dan berubah bentuk menjadi sel spinosum. Makin ke atas sel ini semakin gepeng
dan bergranula menjadi sel granulosum. Semakin lama intinya menghilang dan
keratonosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus
menerus seumur hidup. Keratinosit melalui proses sintasis dan degenerasi
menjadi lapisan tanduk yang berlangsung kira-kira 14-21 hari dan memberikan
perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis-fisiologik.
i.
Fungsi pembentukan vitamin D. Dengan mengubah
dehidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tetapi kebutuhan
vitamin D tidak cukup dengan hanya dari proses tersebut. Pemberian vitamin D
sistemik masih tetap diperlukan.
F.
Perubahan Sistem
Integumen Masa Nifas
Perubahan
keseimbangan hormonal dan mekanisme peregangan bertanggung jawab terhadap
derajat perubahan sistem integumen selama kehamilan akan kembali berangsur
normal begitu memasuki masa nifas. Perubahan yang umum terjadi adalah
meningkatnya ketebalan kulit dan lemak subdermal hypopigmentasi, pertumbuhan
rambut dan kuku, kecepatan aktifitas kelenjar keringat dan kelenjar sebasea,
dan meningkatnya aktifitas sirkulasi dan vasomotor. Adanya kerapuhan/kelemahan
pada jaringan elastik cutaneus menyebabkan timbulnya striae gravidarum atau
tanda peregangan yang jelas.
a.
Pigmentasi disebabkan oleh hormon pituitary anterior ;
melanotropin, yang meningkat selama kehamilan akan berkurang pada masa nifas.
Facial Melama, disebut juga chloasma atau topeng kehamilan, adalah bentuk
seperti jerawat, merupakan hyperpigmentasi berwarna kecokelatan di atas pipi,
hidung dan kening.
b.
Linea nigra merupakan garis pigmentasi yang terentang
dari symphisis pubis sampai ke ujung atas fundus pada garis tengah, garis ini
dikenal dengan linea alba sebelum pigmentasi yang disebabkan faktor hormonal.
Pada masa nifas, linea nigra akan mulai berkurang.
c.
Striae gravidarum, atau garis peregangan, tampak pada
50% sampai 90% wanita hamil selama pertengahan kehamilan, mungkin disebabkan
oleh aksi adrenocorticoid. Namun pada masa nifas akan berkurang dan semakin
hilang.
d.
Angiomas atau telangiectasia adalah istilah yang
ditujukan pada bentuk vaskularisasi seperti jaring laba-laba. Bentuknya kecil
sekali, permukaannya seperti bintang atau bercabang-cabang, terlihat jelas pada
bagian akhir arteriola. Jaring laba-laba ini terbentuk sebagai akibat
meningkatnya sirkulasi estrogen, biasanya ditemukan pada leher thorax, muka dan
lengan. Angiomas dan teliangiestasia juga dijelaskan sebagai jaringan awal
dilatasi arteriola yang menyebar ke arah bagian tengah. Bentuk jaring-jaring
ini berwarna kebiruan dan tidak menjadi pucat bila dilakukan penekanan. Striae
mungkin tampak jelas pada mamae sebagai akibat peregangan pada mamae pada masa
nifas.
e.
Epulis (Gingival Granuloma Gravidarum) berwarna
kemerahan, berbentuk nodul dan mudah berdarah. Lesi ini mungkin berkembang
sekitar bulan ke 3 kehamilan. Namun biasanya ketika memasuki masa nifas akan
berkurang.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perubahan
keseimbangan hormonal dan mekanisme peregangan bertanggung jawab terhadap
derajat perubahan sistem integumen selama kehamilan akan kembali berangsur
normal begitu memasuki masa nifas. Penurunan melanin umumnya
setelam persalinan menyebabkan berkurangnya hyperpigmentasi kulit. Perubahan pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan dan akan
menghilang pada saat estrogen menurun.
B.
Saran
Perubahan sistem integumen masa nifas sangat jarang
untuk dibahas karena karena sifatnya yang tidak berbahaya. Untuk itu disarankan
kepada dosen pembimbing untuk memperbanyak materi tentang perubahan sistem
integumen masa nifas untuk menambah referensi.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, 2008. Asuhan
Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra
Cendikia.
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum
Surakarta.
Saleha, 2009. Asuhan
Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba
Medika
Comments
Post a Comment