
MAKALAH
PERUBAHAN
SISTEM ENDOKRIN MASA NIFAS
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ
(kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah
menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah.
hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai
organ tubuh.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
................................................................................................................... i
DAFTAR
ISI ..................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah........................................................................................................ 2
C.
Tujuan.................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Masa Nifas............................................................................................... 3
B.
Pengertian Sistem Endokrin.................................................................................. 3
C.
Perubahan Sistem Endokrin
Pada Ibu Nifas............................................... 11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan ...................................................................................................................... 14
B.
Saran .................................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa nifas adalah suatu masa dimana tubuh menyesuaikan
baik fisik maupun psikologis terhadap proses melahirkan yang lamanya kurang lebih
6 minggu. Selain itu, pengertian masa nifas adalah masa mulainya persalinan sampai
pulihnya alat-alat dan anggota badan yang berhubungan dengan kehamilan / persalinan.
Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu setelah persalinan.
Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat
reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil sebagai akibat dari adanya perubahan
fisiologi dan psikologi karena proses persalinan.
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ
(kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah
menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah.
hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai
organ tubuh.
Organ utama dari sistem endokrin adalah :
1. Hipotalamus
2. Kelenjar hipofise
3. Kelenjar tiroid
4. Kelenjar paratiroid
5. Pulau-pulau Pankreas
6. Kelenjar adrenal
7. Buah zakar
8. Indung telur
1.
Apa yang dimaksud dengan masa nifas?
2.
Apa yang dimaksud dengan sistem endokrin?
3.
Bagaimana perubahan sistem endokrin pada masa nifas?
1.
Untuk mengetahui pengertian masa nifas
2.
Untuk mengetahui pengertian sistem endokrin
3.
Untuk mengetahui perubahan sistem endokrin pada masa nifas
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan seperti sebelum hamil. Lama masa nifas 6-8 minggu. (Diah
Wulandari dan Eny Retna Ambarwati. 2010)
Masa nifas adalah suatu masa dimana tubuh menyesuaikan baik fisik maupun
psikologis terhadap proses melahirkan yang lamanya kurang lebih 6 minggu. Selain
itu, pengertian masa nifas adalah masa mulainya persalinan sampai pulihnya alat-alat
dan anggota badan yang berhubungan dengan kehamilan / persalinan.
B. Pengertian Sistem Endokrin
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ
(kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah
menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah.
Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai
organ tubuh. Beberapa dari organ endokrin ada yang menghasilkan satu macam hormon
disamping itu juga ada yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon misalnya kelenjar
hipofise sebagai pengatur kelenjar yang lain.
Organ utama dari sistem endokrin adalah :
1. Hipotalamus
2. Kelenjar hipofise
3. Kelenjar tiroid
4. Kelenjar paratiroid
5. Pulau-pulau pankreas
6. Kelenjar adrenal
7. Skrotum
8. Indung telur
1.
Anatomi dan Fisiologi Sistem Endokrin
Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem
saraf, mengontrol dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja
untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan,
namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan
kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya
dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil
alih oleh sistem saraf.
Bila sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon,
maka sistem saraf bekerja melalui neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung
saraf.
Terdapat dua tipe kelenjar yaitu eksokrin dan
endokrin. Kelenjar eksokrin melepaskan sekresinya ke dalam duktus pada permukaan
tubuh, seperti kulit, atau organ internal, seperti lapisan traktus intestinal. Kelenjar
endokrin termasuk hepar, pankreas (kelenjar eksokrin dan endokrin), payudara, dan
kelenjar lakrimalis untuk air mata. Sebaliknya, kelenjar endokrin melepaskan sekresinya
langsung ke dalam darah. Kelenjar endokrin termasuk :
a. Pulau Langerhans pada Pankreas
b. Gonad (ovarium dan testis)
c. Kelenjar adrenal, hipofise, tiroid dan paratiroid,
serta timus
Sistem
endokrin mempunyai lima fungsi umum :
a. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif
pada janin yang sedang berkembang.
b. Menstimulasi urutan perkembangan
c. Mengkoordinasi sistem reproduktif
d. Memelihara lingkungan internal optimal
e. Melakukan respons korektif dan adaptif ketika
terjadi situasi darurat
Peran hipotalamus
dan kelenjar hipofise
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus
dan hipofise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh
hipotalamus, yang menghubungkan sistem persarafan dengan sistem endokrin. Dalam
berespons terhadap input dari area lain dalam otak dan dari hormon dalam darah,
neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon realising dan inhibiting. Hormon
ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pituitary yang mengatur pembentukan
dan sekresi hormon hipofise. Hipotalamus dan kelenjar hipofise dihubungkan oleh
infundibulum. Hormon yang disekresi dari setiap kelenjar endokrin dan kerja dari
masing-masing hormon. Perhatikan bahwa setiap hormon yang mempengaruhi organ dan
jaringan terletak jauh dari tempat kelenjar induknya. Misalnya oksitosin, yang dilepaskan
dari lobus posterior kelenjar hipofise, menyebabkan kontraksi uterus. Hormon hipofise
yang mengatur sekresi hormon dari kelenjar lain disebut hormon tropik. Kelenjar
yang dipengaruhi oleh hormon disebut kelenjar target.
a.
Struktur dan fungsi hipotalamus
Hipotalamus terletak di batang otak tepatnya di dienchepalon, dekat dengan
ventrikel otak ketiga (ventrikulus tertius). Hipotalamus sebagai pusat tertinggi
sistem kelenjar endokrin yang menjalankan fungsinya melalui humoral (hormonal) dan
saraf. Hormon yang dihasilkan hipotalamus sering disebut faktor R dan I mengontrol
sintesa dan sekresi hormon hipofise anterior sedangkan kontrol terhadap hipofise
posterior berlangsung melalui kerja saraf. Pembuluh darah kecil yang membawa sekret
hipotalamus ke hipofise disebut portal hipotalamik hipofise. Hormon-hormon hipotalamus
antara lain:a. ACTH : Adrenocortico Releasing Hormonb. ACIH : Adrenocortico Inhibiting
Hormonc. TRH : Tyroid Releasing Hormpnd. TIH : Tyroid Inhibiting Hormone. GnRH :
Gonadotropin Releasing Hormonf. GnIH : Gonadotropin Inhibiting Hormong. PTRH : Paratyroid
Releasing Hormonh. PTIH : Paratyroid Inhibiting Hormoni. PRH : Prolaktin Releasing
Hormonj. PIH : Prolaktin Inhibiting Hormonk. GRH : Growth Releasing Hormonl. GIH
: Growth Inhibiting Hormonm. MRH : Melanosit Releasing Hormonn. MIH : Melanosit
Inhibiting Hormon. Hipotalamus sebagai bagian dari sistem endokrin mengontrol sintesa
dan sekresi hormon-hormon hipofise. Hipofise anterior dikontrol oleh kerja hormonal
sedang bagian posterior dikontrol melalui kerja saraf.
b.
Struktur dan Fungsi Hipofise
Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis cranii.
Berbentuk oval dengan diameter kira-kira 1 cm dan dibagi atas dua lobus Lobus anterior,
merupakan bagian terbesar dari hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus
anterior ini juga disebut adenohipofise. Lobus posterior, merupakan 1/3 bagian hipofise
dan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga neurohipofise. Hipofise stalk
adalah struktur yang menghubungkan lobus posterior hipofise dengan hipotalamus.
Struktur ini merupakan jaringan saraf.
Selama kehamilan, plasenta juga bertindak sebagai suatu kelenjar endokrin.
Hipotalamus melepaskan sejumlah hormon yang merangsang hipofisa, beberapa diantaranya
memicu pelepasan hormon hipofisa dan yang lainnya menekan pelepasan hormon hipofisa.
Kelenjar hipofisa disebut kelenjar penguasa karena hipofisa mengkoordinasikan berbagai
fungsi dari kelenjar endokrin lainnya. Beberapa hormon hipofisa memiliki efek langsung,
beberapa lainnya secara sederhana mengendalikan kecepatan pelepasan hormon oleh
organ lainnya. Hipofisa mengendalikan kecepatan pelepasan hormonnya sendiri melalui
mekanisme umpan balik, dimana kadar hormon endokrin lainnya dalam darah memberikan
sinyal kepada hipofisa untuk memperlambat atau mempercepat pelepasan hormonnya.
Tidak semua kelenjar endokrin berada dibawah kendali hipofisa; beberapa diantaranya
memberikan respon, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap konsentrasi zat-zat
di dalam darah. Sel-sel penghasil insulin pada pankreas memberikan respon terhadap
gula dan asam lemak, sel-sel paratiroid memberikan respon terhadap kalsium dan fosfat
medulla adrenal (bagian dari kelenjar adrenal) memberikan respon terhadap perangsangan
langsung dari sistem saraf parasimpatis. Banyak organ yang melepaskan hormon atau
zat yang mirip hormon, tetapi biasanya tidak disebut sebagai bagian dari sistem
endokrin. Beberapa organ ini menghasilkan zat-zat yang hanya beraksi di tempat pelepasannya,
sedangkan yang lainnya tidak melepaskan produknya ke dalam aliran darah. Contohnya,
otak menghasilkan berbagai hormon yang efeknya terutama terbatas pada sistem saraf.
2.
HORMON
Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran
darah dari suatu kelenjar atau organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel.
Sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan
panjang yang berbeda-beda. Sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan
derivat dari kolesterol. Hormon dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon
tubuh yang sangat luas. Hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di
dalam sel. Ikatan antara hormon dan reseptor akan mempercepat, memperlambat atau
merubah fungsi sel. Pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara
keseluruhan. Hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan
dan ciri-ciri seksual. Hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan
energi. Hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam
darah.
Beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ,
sedangkan hormon yang lainnya mempengaruhi seluruh tubuh. Misalnya, TSH dihasilkan
oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid. Sedangkan hormon
tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di
seluruh tubuh. Insulin dihasilkan oleh sel-sel pankreas dan mempengaruhi metabolisme
gula, protein serta lemak di seluruh tubuh.
3.
PENGENDALIAN ENDOKRIN
Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi,
maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu
fungsi tubuh.
Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan
setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat. Tubuh perlu merasakan dari
waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon. Hipotalamus
dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika merasakan bahwa kadar hormon lainnya
yang di kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hormon hipofisa lalu masuk ke
dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target. Jika kadar hormon
kelenjar target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar hipofisa mengetahui
bahwa tidak diperlukan perangsangan lagi dan akhirnya berhenti melepaskan hormon.
Sistem umpan balik ini mengatur semua kelenjar yang berada di bawah kendali hipofisa.
Hormon tertentu yang berada dibawah kendali hipofisa
memiliki fungsi yang memiliki jadwal tertentu. Misalnya, suatu siklus menstruasi
wanita melibatkan peningkatan sekresi LH dan FSH oleh kelenjar hipofisa setiap bulannya.
Hormon estrogen dan progesteron pada indung telur juga kadarnya mengalami turun-naik
setiap bulannya. Faktor-faktor lainnya juga merangsang pembentukan hormon. Prolaktin
(hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisa) menyebabkan kelenjar susu di payudara
menghasilkan susu. Isapan bayi pada puting susu merangsang hipofisa untuk menghasilkan
lebih banyak prolaktin. Isapan bayi juga meningkatkan pelepasan oksitosin yang menyebabkan
mengkerutnya saluran susu sehingga susu bisa dialirkan ke mulut bayi. Kelenjar semacam
pulau pakreas dan kelenjar paratiroid, tidak berada dibawah kendali hipofisa. Mereka
memiliki sistem sendiri untuk merasakan apakah tubuh memerlukan lebih banyak atau
lebih sedikit hormon. Misalnya kadar insulin meningkat segera setelah makan karena
tubuh harus mengolah gula dari makanan. Jika kadar insulin terlalu tinggi, kadar
gula darah akan turun sampai sangat rendah. Kadar hormon lainnya bervariasi berdasarkan
alasan yang kurang jelas. Kadar kortikosteroid dan hormon pertumbuhan tertinggi
ditemukan pada pagi hari dan terendah pada senja hari. Alasan terjadinya hal ini
belum sepenuhnya dimengerti. Hormon yang menghasilkan fungsi aldosteron kelenjar
adrenal membantu mengatur keseimbangan garam dan air dengan cara menahan garam dan
air serta membuang kalium.
Hormon antidiuretik kelenjar hifosa menyebabkan
ginjal menahan air bersama dengan aldosteron, membantu mengendalikan tekanan darah.
Kortikosteroid Kelenjar adrenal Memiliki efek yg luas di seluruh tubuh, terutama
sebagai:
·
Anti peradangan
·
Mempertahankan kadar gula darah, tekanan darah
& kekuatan otot
·
Membantu mengendalikan keseimbangan garam dan
air. kortikotropin kelenjar hipofisa mengendalikan pembentukan dan pelepasan hormon
oleh korteks adrenal. Eritropoietin
Ginjal merangsang pembentukan sel darah merah. Estrogen indung telur mengendalikan
perkembangan ciri seksual dan sistem reproduksi wanita. Glukagon Pankreas Meningkatkan
kadar gula darah. Hormon pertumbuhan Kelenjar hipofisa Mengendalikan pertumbuhan
dan perkembangan.
·
Meningkatkan pembentukan protein insulin pankreas.
·
Menurunkan kadar gula darah
·
Mempengaruhi metabolisme glukosa, protein &
lemak di seluruh tubuh.
·
Mengendalikan fungsi reproduksi (pembentukan sperma
& sementum, pematangan sel telur, siklus menstruasi
·
Mengendalikan ciri seksual pria & wanita (penyebaran
rambut, pembentukan otot, tekstur dan ketebalan kulit). Oksitosin Kelenjar hipofisa
Menyebabkan kontraksi otot rahim & saluran susu di payudara. Hormon paratiroid
Kelenjar paratiroid Mengendalikan pembentukan tulang
·
Mengendalikan pelepasan kalsium dan fosfat. Progesteron
Indung telur Mempersiapkan lapisan rahim untuk penanaman sel telur yg telah dibuahi.
·
Mempersiapkan kelenjar susu untuk menghasilkan
susu
Polaktin Kelenjar hipofisa Memulai & mempertahankan pembentukan susu di kelenjar
susu. Renin & angiotensin Ginjal Mengendalikan tekanan darah. Hormon tiroid
Kelenjar tiroid Mengatur pertumbuhan, pematangan & kecepatan metabolisme
TSH (tyroid-stimulating hormone). Kelenjar hipofisa Merangsang pembentukan &
pelepasan hormon oleh kelenjar tiroid
C.
PERUBAHAN SISTEM ENDOKRIN PADA IBU NIFAS
Setelah melahirkan, sistem endokrin kembali kepada
kondisi seperti sebelum hamil. Hormon kehamilan mulai menurun segera setelah plasenta
keluar. Turunnya estrogen dan progesteron menyebabkan peningkatan prolaktin dan
menstimulasi air susu. Perubahan fisioligis yang terjadi pada wanita setelah melahirkan
melibatkan perubahan yang progresif atau pembentukan jaringan-jaringan baru. Selama
proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin, terutama
pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut.
Hormon
yang berperan dalam sistem endokrin sebagai berikut :
1.
Oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap kala III
persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan
kontraksi, sehingga mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI
dan sekresi oksitosin yang dapat membantu uterus kembali kebentuk normal.
2.
Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang
untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap
tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada
wanita yang tidak menyusui tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14 sampai 21
hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol
ovarium kearah permulan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan
folikel ovulasi dan menstruasi.
3.
Estrogen dan progesterone
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara penuh
belum dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon
antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Disamping itu, progesteron mempengaruhi
otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah yang sangat
mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum
dan vulva, serta vagina.
4.
Hormon plasenta
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Human chorionic
gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga
hari ke 7 postpartum dan sebagai omset pemenuhan mammae pada hari ke 3 postpatum.
Penurunan hormone human plecenta lactogen (Hpl), estrogen dan kortiosol, serta placenta
enzyme insulinasi membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah
menurun secara yang bermakna pada masa puerperium. Kadar estrogen dan progesterone
menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya di capai kira-kira
satu minggu pacapartum. Penurunan kadar ekstrogen berkaitan dengan pembekakan payudara
dan dieresis ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Pada wanita
yang tidak melahirkan tidak menyusui kadar ekstrogen mulai meningkat pada minggu
ke 2 setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita yang menyusui pada postpartum
hari ke 17.
5.
Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Waktu mulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui
berbeda. Kadar proklatin serum yang tinggi pada wanita menyusui berperan dalam menekan
ovulasi karena kadar hormone FSH terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui,
di simpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin
meningkat. Kadar prolaktin meningkat secara pogresif sepanjang masa hamil. Pada
wanita menyusui kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu ke 6 setelah melahirkan.
Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui
dan banyak makanan tambahan yang diberikan. Untuk wanita yang menyusui dan tidak
menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi. Sering kali menstruasi
pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progesteron.
Di antara wanita laktasi sekitar 15 % memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan
45% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi
pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin.
Hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut, antara lain:
1.
Hormon oksitosin
Hormon ini disekresikan dari kelenjar otak bagian
belakang, bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama kala III persalinan,
hormon ini berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga
mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin
yang dapat membantu uterus kembali ke bentuk normal atau involusi uteri.
2.
Hormon prolactin
Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat,
pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Hormon ini berperan dalam
pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase
konsentrasi folikuler pada minggu ke 3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
3.
Hormon estrogen dan progesterone
Volume darah normal selama kehamilan, akan meningkat.
Hormon estrogen yang tinggi memperbesar hormon anti diuretik yang dapat meningkatkan
volume darah. Sedangkan hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi
perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih,
ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.
4.
Hormon plasenta
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan
hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat
setelah persalinan. Penurunan hormon plasenta (Human Placental Lactogen)
menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa nifas. Human Chorionic
Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam
hingga hari ke 7 postpartum dan sebagai omset pemenuhan mammae pada hari ke 3
postpatum.
5.
Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Hipofisis dan fungsi ovarium akan
mempengaruhi lamanya mendaptkan menstruasi pada wanita yang menyusui maupun
yang tidak menyusui. Pada wanita manyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu
pasca melahirkan berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca melahirkan.
Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan menstruasi berkisar
40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.
B.
Saran
Pengetahuan akan perubahan sistem endokrin
sangat penting untuk dikuasai oleh mahasiswa kebidanan karena hal ini berkaitan
langsung ibu hamil yang nantinya akan menjadi pasien atau klien yang diberikan
asuhan oleh seorang bidan.
Widyasih Hesty, dkk. 2013. Perawatan Masa Nifas Cetakan 7. Fitramaya:
Yogyakarta
Saleha, Sitti.2009.Asuhan Kebidanan pada Masa
Nifas. Jakarta : Salemba Medika.
Suherni,dkk.2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta:
Fitramaya.
Diah Wulandari,dkk. 2010. Asuhan Ibu Nifas. Jakarta
: NuhaMedika
Comments
Post a Comment